Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Kata Berkesan Mengantar Kesuksesan


*Drs. Najib Sulhan, MA


Mereka itulah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas/berkesan pada jiwa mereka. (Q.S. 4/An-Nisa’:63)
Setiap kata yang terucap selalu mengandung sebuah makna. Ada yang bermakna positif dan ada yang bermakna negatif. Kata yang positif akan selalu teringat dan bisa menjadi dorongan yang cukup berarti bagi yang menerimanya. Begitu juga kata negatif akan menjadi virus penghalang menuju kesuksesan. Dengan kata lain bahwa kata-kata yang berkesan positif dapat mengantara kesuksesan. Sebaliknya, kata-kata negatif menghambat kesuksesan.
Kata-kata yang berkesan adalah ucapan yang berbekas sampai lubuk hati orang yang diajak bicara. Terkait dengan cara komunikasi, maka qoulan baligho diartikan sebagai cara mengungkapkan kata yang bisa menyentuh dan berpengaruh positif pada hati sanubari orang yang diajak bicara. Dilihat dari segi sasaran atau ranah yang disentuhnya dapat diartikan bahwa qoulan baligho adalah ucapan efektif.
            Kata yang berkesan mengandung pengertian kata-kata motivasi yang bisa menjadi dorongan atau semangat untuk menapaki hidup. Kata positif yang berkesan memiliki kekuatan yang dahsyat. Apapun akan bisa dilalui, jika kata-kata positif sudah merasuk dan menjadi bagian hidup. Seseorang akan berubah pandangan setelah menerima kata-kata motivasi yang kuat. Orang yang malas menjadi lebih giat. Orang yang putus asa menjadi gairah kembali. Orang yang lemah menjadi kuat. Orang yang pesimis bisa menjadi optimis.
            Masih ingat kisah di dalam film laskar pelangi. Bagaimana cara bu Muslimah menanamkan keyakinan kepada anak didiknya yang tergolong dari kalangan yang kurang mampu. Bukan merendahkan anak-anak di hadapan anak yang lain, tetapi memberikan kata-kata yang berbekas atau kata-kata yang berkesan. Kata-kata itu sampai tersimpan dalam memori yang cukup panjang. Itulah yang membuat anak-anaknya sukses.
            Begitu juga tentang kisah Andi F. Noya yang notabene adalah dari kalangan keluarga biasa. Akan tetapi kata-kata guru, Bu Ana,yang membuat diri Andi termotivasi untuk menjadi seorang wartawan seperti saat ini. Kata-kata semangat bu Ana menjadi magnetpenguat bagi Andi F. Noya untuk bisa menggapai sukses dalam dunia kewartawanan.
Dalam sebuah kisahnya, Andi F. Noya memiliki latar belakang yang agak unik. Ketika SD Andi tergolong anak yang cerdas, tetapi jarang masuk sekolah. Suatu ketika Andi diikutkan lomba antar kelas di tingkat kecamatan. Andi tahu diri, sehingga ia menolak tawaran itu. Namun Bu Ana tetap menunjuk Andi sebagai wakil dari kelas 4. Bu Ana pun rela setiap hari harus memberikan pelajaran tambahan.
            Melalui bu bimbingan bu Ana, Andi mengikutilomba itu. Akhirnya, ketika panitia mengumumkan pemenangnya, ternyata Andi urutan pertama dari belakang, alias gagal. Andi merasa bersalah karena belum bisa menjadi juara. Pada saat seperi itu, Andi minta maaf kepada Bu Ana. yang telah memberikan kepercayaan. Namun dengan saikap yang bijak dan bahasa yang baik, Bu Ana menyampaikan pesan kepada Andi,”Andi kamu bukan kalah. Kamu anak yang hebat. Dengan kepandaianmu membuat karangan, kamu akan menjadi wartawan yang sukses .”
            Kata-kata itu sederhana.namun kata-kata itu sangat berkesan bagi Andi F. Noya. Kata-kata itu selalu terbawa ketika masuk di SMP dan juga saat di STM. Bahkan Andi selalu menanyakan kepada guru yang ditemui tentang arti wartawan. Kata ”wartawan” dan kata ”sukses” itu menjadi kunci.
Karena cerdas, Andi pun mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi negeri yang sangat bergengsi. Beberapa waktu dijalani. Namun kata-kata Bu Anak selalu tersimpan dalam memori dan kata-kata itu membekas selamanya dan tak terhapuskan. Ia meyakini kata-kata gurunya bahwa kalau ia menjadi wartawan akan sukses. Maka keluarlah ia dan menekuni sebagai wartawan. Kini Andi F. Noya menjadi orang yang sukses di bidang kewartawanan. Menjadi pimpinan redaksi di Metro TV, bahkan acara Kick Andi adalah acara yang paling diminati.
            Sungguh, kekuatan kata sangat membekas dalam diri seseorang. Jika kata itu diucapkan dari hati nurani yang ikhlas dengan kata yang penuh dorongan positif, maka akan membekas untuk selamanya. Kemungkinan kita juga menyimpan banyak memori kata motivasi yang membuat diri semangat. Kebanyakan orang-orang yang mampu menggapai kesuksesan mempunyai dorongan kata-kata yang positif.
             

Belajar Pada Kucing dan Tikus

*Zaenal Abidin el-Jambey 
Sahabat, ada sebuah pembelajaran yang sangat menarik bagi kita semua. Pelajaran dari makhluk Allah yang bernama Kucing dan Semut. Suatu hari di tengah musim kemarau Tikus dan teman-temannya mengeluh. Hal ini disebabkan makanan yang menjadi jatahnya di tengah musim yang serba sulit ini selalu dirampas oleh Kucing. Hingga suatu hari para tikus ini sudah tidak tahan lagi dengan ulah yang dibuat oleh Kucing tersebut. Diadakanlah rapat guna mengambil langkah-langkah strategis dalam menanggulangi kedhaliman yang dilakukan oleh Kucing itu.
Satu persatu para tikus mengutarakan pendapatnya. Mereka mengutarakan argument-argumen terbaiknya guna mengatasi sikap semena-mena dari kucing yang selalu merampas jatah makanan mereka. Setelah mengadakan rapat yang panjang dan melelahkan akhirnya diambil satu keputusan yang mereka anggap paling tepat dalam menghadang perbuatan Kucing. Keputusan itu adalah bahwa jalan satu-satunya untuk mengamankan jatah makanan para tikus adalah mengalungkan klintingan ke leher Kucing. Para tikus yang hadir di situ begitu gembira dan antusias atas ide cemerlang itu. Setelah ide itu benar-benar disepakati bersama. Para tikus yang hadir dalam rapat besar itu pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan menuju rumah, mereka tampak gembira, sebab selama ini jatah makanan mereka yang selalu diambil oleh Kucing akan terlindungi dan aman. Kucing tidak akan bertindak seenak dan semaunya sendiri. Sampai di rumah, akhirnya para tikus itu bingung sendiri. Otaknya mulai berpikir. “Siapa yang mengalungkan klintingan itu di leher Kucing?????”.
Sahabat, membaca cerita Tikus dan Kucing di atas. Ada pembelajaran yang sangat menarik bagi kita. Di mana, mungkin kita sering mendengar banyak pihak-pihak yang berkeinginan menjadikan Indonesia menjadi negera Islam. Negara di bawah naungan khilafah. Bagus memang.  tapi ketika mereka ditanya negara islam yang seperti apa yang diharapkan. Jawabannya pasti negara islam  Madinah sebagaimana di jaman Rasulullah saw. Jika hal tersebut memang bisa diterapkan saya sungguh orang pertama yang akan mendukungnya. Masalahnya jika yang diinginkan model negara Islam Madinah di jaman Rasulullah seperti itu. Siapa yang harus menjadi Nabi? Siapa yang berhak atas tafsir al-Qur'an dan hadis?? Seperti kita tahu bahwa pemahaman orang mengenai islam itu berbeda-beda. Makannya ada NU, Muhammadiyah, HTI, dll. Itu tidak masalah, justru semakin menguatkan bahwa islam adalah agama yang kaya akan khazanah pemikiran. Tapi ketika ada kelompok-kelompok tertentu yang mengklaim bahwa merekalah yang paling berhak atas tafsir tunggal al-Qur'an dan hadis ini yang jadi masalaahnnya.
Maka hidup di negara Indonesia yang ditakdirkan oleh Allah swt menjadi negera yang plural ini kita harus bersyukur. Sebab para pendahulu-pendahulu kita bisa benar-benar membumikan ajaran islam. Islam Indonesia adalah islam yang santun, ramah dan rahmatan lil alamin. Dan memang seperti itulah sebenarnya agama kesayangan kita ini.
Sahabat, yang terpenting saat ini kita harus rukun. Kita rapatkan shaf persaudaraan kita karena Allah untuk izzul muslimin. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi bahan reungan kita bersama. 

*Penulis adalah Shantri PeNUS MTI, juga Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. 

Pendidikan Akhlak Lewat Kisah



Oleh: D. Zawawi Imron
Di Indonesia dulunya, dongeng merupakan cerita yang hidup di tengah-tengah masyarakat agraris. Bila bulan purnama datang dengan bentuknya yang bundar keemasan, anak-anak menggelar tikar di halaman rumah. Nenek atau kakek mendongeng di atas tikar dengan dikelilingi oleh cucunya. Kemudian angin sepoi bertiup mendesirkan daun-daunan. Sungguh, peristiwa yang romantis! Pada saat seperti ini, kerekatan dan kekerabatan menemukan bentuknya dengan berintikan jalinan kasih sayang antara generasi tua dan generasi penerusnya. Dongeng yang kadang-kadang berupa fable yang mengisahkan tentang satwa akan sangat membantu rasa sayang pada binatang dan juga cerita tentang manusia yang bisa menjadi contoh teladan bagi kehidupan. Tidak kurang pentingnya adalah cerita tentang para rasul dan nabi serta ketauladanan para sahabat yang mulia. Cerita-cerita yang mengandung ajaran akhlak mulia seperti itu sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian anak-anak dan para santri. Bahkan dalam pengajian-pengajian kisah teladan yang mengandung hikmah perlu disampaikan untuk memberi pencerahan.
Dalam penelitian, dongeng ternyata menyimpan banyak kearifan moral yang bisa mengetuk dunia rohani manusia, termasuk anak-anak, untuk melihat kehidupan di dunia ini dengan pandangan yang bertumpu pada hati nurani. Sebab, pada umumnya ajaran yang terdapat pada dongeng adalah kejujuran, kasih-sayang sesama manusia, dan kasih-sayang pada makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan.
Seorang pengamat Barat, Lewis Caroll mengatakan bahwa dongeng adalah “tanda kasih”. Berkisah dan mendongeng adalah memberi hadiah – tanda kepedulian dan keterbukaan. mendongeng adalah memberi kesadaran pada pendengar tentang pengertian dan perasaan takjub, misteri dan penghormatan pada kehidupan. Karena itu, saya sangat gembira pada usaha anak-anak muda yang berupaya menghidupkan kembali dongeng-dongeng dengan mengadakan lomba dongeng. Usaha seperti itu tidak lain adalah wujud dari kepeduliaan para warisan budaya yang sengaja diorientasikan kepada tantangan masa depan dengan mengetengahkan tema mencintai kemanusiaan, satwa dan tumbuh-tumbuhan.
Ketika banyak orang-orang yang sudah tidak peduli kepada budaya warisan leluhurnya, sementara kearifan dari luar juga tidak diraup, maka upaya melestarikan kearifan tradisional yang masih relefan dengan masa depan dan perkembangan jaman sudah tentu punya nilai yang sangat berharga, karena menunjukkan bangkitnya tanggung-jawab kebudayaan. Usaha ini saya nilai sebagai langkah pertama yang harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Saya berharap semoga generasi muda yang tampil hendak merevitalisasi warisan budaya itu tetap tegar dengan tanggung-jawabnya dan terus melangkah menuju hari esok dengan senyum optimis. Kata pepatah lama, biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu – berbantal ombak berselimut angin menuju cita-cita mulia. Semoga usaha kebudayan ini mendapat sambutan dari masyarakat terutama untuk kembali mengangkat dongeng sebagai salah satu bentuk sastra lisan yang nuansa-nuansanya akan sangat berguna dalam memperkokoh jati diri kebudayaan bangsa dalam era globalisasi yang penuh tantangan.
Dengan diupayakan dongeng sebagai ungkapan kasih-sayang tentu saja para ibu dan guru diharapkan bisa dengan senang menghadiahkan dongeng kepada anak-anak tercinta. Ungkapan kasih-sayang berupa dongeng nantinya akan membentuk watak dan karakter berdasarkan pesan-pesan budi pekerti yang terkandung di dalam dongeng. Tidak ada salahnya kalau anak-anak yang kini masih hijau dan senang dongeng nantinya menjadi teknolog dan teknolokrat yang berakhlak mulia, yang merasa berhutang budi kepada orang tua dan guru yang mendidiknya. Bukankan akhlak mulia itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tentram? Kita tidak ingin kehilangan warisan budaya yang berharga. Apalagi, kita memandangnya masih sangat relevan dengan pembangunan jati-diri bangsa yang menuju hidup mulia.

SENYUM & OPTIMIS

Oleh: Drs Nadjib Sulhan
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menikmati hidup ini. Tahun 2010 telah berlalu dan berganti tahun 2011. Pergantian tahun menunjukkan bahwa usia manusia telah bertambah. Ini artinya masa kehidupan di dunia semakin berkurang.
Banyak pengalaman yang dijumpai pada tahun 2010. Ada pengalaman yang menyedihkan ada pula yang membahagiakan. Berbagai bencana mendera bangsa hingga banyak yang tak berdaya. Begitu juga yang kita alami, kadang suka kadang duka. Apapun yang pernah terjadi adalah pengalaman dan pelajaran agar manusia terus memperbaiki diri.
Biarkan kesedihan dan ujian di masa lalu itu datang berantai.  Pelajari apa yang sudah terjadi. Kita masih mempunyai keyakinan bahwa waktu terus berjalan maju dan tidak akan surut ke belakang. Pandang hidup ini ke depan dengan penuh optimis. Tersenyum dengan penuh keyakinan.
Thomas Alfa Edison pernah berkata, ”Senyum itu cepat meresap masuk ke dalam diri Anda dan menjadikan Anda merasa senang dan dapat membangkitkan spirit.” Ini menunjukkan bahwa remaja yang optimis terpancar pada aura wajahnya. Wajah yang senantiasa tersenyum melambangkan remaja yang mempunyai masa depan. Sedangkan remaja yang selalu cemberut dalam dirinya ada belenggu untuk sukses.
Cobalah kita renungkan ajaran rasulullah setelah bangun tidur. Ketika bangun tidur kita diajari untuk selalu  berdoa kepada Allah. Doa yang mengandung nilai-nilai rasa syukur dan optimis dalam hidup ini.

     Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah mematikan kami dan hanya kepada-Nyalah kami kembali. (HR Muslim ).

        Doa yang kita baca ketika bangun tidur merupakan ungkapan rasa syukur. Setelah semalaman kita dimatikan sementara, dilupakan dengan urusan dunia, tiba-tiba di pagi hari itu dibangunkan kembali. Tidak sulit bagi Allah untuk membuat seseorang tidur selamanya, tetapi dengan kasih sayangnya, umur manusia ditambah dengan cara dibangunkan kembali.
        Orang-orang yang optimis, bangun tidur penuh dengan kegembiraan, penuh dengan keyakinan untuk melangkah. Di wajahnya pun tersungging senyum kemenangan. Sementara orang-orang yang pesimis, bangun tidur penuh dengan beban. Agenda yang ada di kepala justru membuat seseorang malas bangun. Takut menghadapi kenyataan di depan mata.
        Apa sebenarnya yang dirasakan saat bangun tidur? Apakah kita ini  tergolong yang ingin segera bangun atau justru yang malas? Bagi orang  yang ingin segera bangun, apa alasannya? Begitu pula, jika seseorang malas bangun apa alasannya? Diri sendiri yang tahu bagaimana sikap terhadap hari-hari yang dijalani.
        Awal yang indah saat bangun tidur akan membuka hati untuk melangkah selanjutya.           Orang-orang yang optimis  adalah orang-orang yang menyenangkan dan suka tersenyum. Untuk itu bukalah hari-harimu dengan senyum. Apa saja akan mudah didapatkan jika hatimu tentram dan senang. Itu semua ditandai dengan senyum ketulusan dan  kejujuran penuh optimis.
Senyum itu pekerjaan yang ringan dan bernilai ibadah, namun demikian perlu untuk dilatih. Tidak semua orang memiliki senyum yang tulus. Jika sejak masa kecil dan masa remajanya tidak terlatih untuk tersenyum, maka senyum menjadi barang yang mahal.
        Senyum sangat terkait dengan hati. Hanya hati yang menyimpan rasa cinta yang bisa senyum tulus. Hati yang penuh optimis yang memiliki senyum. Apa sih sebenarnya yang membuat orang enggan untuk tersenyum? Sebenarnya senyum menjadi cermin seseorang. Orang yang susah tersenyum adalah orang-orang yang sudah mulai kehilangan cinta, orang yang mulai kehilangan rasa empati, kehilangan rasa peduli pada sesama dan kedilangan rasa optimis dalam menapaki hidup.
                Senyum memberikan peluang seseorang untuk membangun citra diri. Aura senyum dapat mengungkap tabir hati. Batapa indahya orang yang membiasakan tersenyum. Karena senyum keramahan rasulullah Muhammad saw, beliau menjadi pemimpin yang dicintai. Tidak ada manusia yang senyumnya melebihi senyum rasulullah. beliau adalah manusia yang murah senyum. Dan senyum yang sitebar adalah senyum ketulusan, senyum kejujuran, senyum yang mampu membangun masa depan dengan penuh optimis.   

Bohong, Awal Kehancuran!

*Drs. Najib Sulhan, MA


Sore itu ada telepon berdering kencang sekali. Seorang anak menghampiri dan hendak mengangkatnya. Sebelum telepon diangkat, ibunya sempat titip pesan, ”Nak, kalau ada yang menanyakan ibu, bilang  kalau ibu tidak ada di rumah.” Ternyata dugaan ibu tidak salah. Telepon itu menanyakan ibu. Dengan santainya, anak ini menyampaikan kalau ibunya tidak ada di rumah.
Setelah telepon itu ditutup, si anak menyampaikan kepada ibunya, ”Bu, saya sudah menyampaikan kalau ibu tidak ada di rumah.” Ibu ini tersenyum dan memberikan dukungan atas apa yang dilakukan oleh anaknya.
Persoalan di atas kelihatan sepele, hanya persoalan telepon. Mungkin saja orang yang menelepon  tidak tahu, bahkan sudah tidak mau peduli. Justru yang menjadi persoalan besar adalah ketika orangtua dengan sengaja mengajarkan kebohongan kepada anaknya sendiri.
Mungkin bagi orangtua hal itu biasa, bukan persoalan besar. Namun bagi anak, ini adalah hal yang luar biasa. Anak telah mendapatkan pelajaran dari orangtuanya sendiri, bahwa bohong itu boleh, bohong itu tidak apa-apa. Bisa saja anak memiliki persepsi bahwa bohong perlu dilakukan.
Kadang kita sering berpikir, kapan kebohongan itu mulai bersemi pada diri anak. Padahal anak ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat al-A'raf ayat 172,  “Dan Ingatlah, ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman): Bukankan Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, Engkaulah Tuhan kami, kami menjadi saksi.”
Jawaban itu ada pada diri setiap orangtua. Sejak kapan kata-kata bohong itu diajarkan, saat itulah anak mengenal kebohongan. Justru anak mengenal kebohongan lebih banyak dari lingkungan yang paling dekat dengan dirinya, yaitu orangtua.
Dalam beberapa peristiwa, justru kebohongan adalah awal dari terjadinya kehancuran. Bahkan boleh dibilang bahwa kebohongan adalah salah satu sifat orang yang munafik. Sekali berbohong dan tidak diketahui, maka esoknya akan melakukan kebohongan yang lebih besar. Dalam urusan pekerjaan, ketika sudah mulai ada kebohongan, maka suasana tidak akan kondusif. Begitu juga di dalam rumah tangga, ketika kebohongan sudah mulai bersemi, maka akan berdampak pada kurangnya keharmonisan keluarga.
Orang yang biasa berbohong, ketika melakukan kesalahan, sulit untuk mengakui kesalahannya. Justru yang dilakukan untuk menutupi kesalahan adalah dengan mencari-cari alasan sebagai bentuk pembenaran.
Ada sebuah kata bijak yang perlu kita renungkan bersama, ”99% kegagalan berasal dari orang yang mempunyai kebiasaan membuat alasan”. Ini artinya, alasan adalah suatu kebohongan yang  menjadi belenggu seseorang. Semakin banyak berbohong, maka akan semakin lemah dan tidak berdaya.
Sebaliknya, kejujuran menjadi kunci sukses. Rasulullah Muhammad saw menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia adalah karena memiliki sifat siddiq, selalu benar. Apa yang ada di dalam hati, diucapkan, dan dilakukan selalu serasi. Tidak ada kebohongan.
Dalam beberapa penelitian tentang orang-orang sukses, jujur menempati urutan yang paling tinggi. Ini menunjukkan bahwa kunci sukses bukan pada kepandaian, nilai dalam ijazah, tetapi mental yang akan menentukan semua. Bahkan hasil penelitian di Harvard University menunjukkan bahwa 85% keberhasilan seseorang ditentukan oleh mentalnya. Sementara 15% ditentukan oleh kepandaian dan kemampuan mereka.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Majalah MAYAra


Anak Muda Yang Bersemangat

*Gus Mus
Semangat beribadah anak muda itu memang luar biasa. Baginya, tak ada hari tanpa puasa dan tak ada malam tanpa qiyaamullail. Siang puasa, malamnya membaca al-Quran.
Mendengar perihal anak muda-yang tidak lain adalah sahabat Nabi Abdullah Ibnu Amr itu-Nabi Muhammad saw pun bersabda, menanyainya: “Aku dengar kau selalu puasa di siang hari dan membaca al-Quran sepanjang malam, benar?”
“Benar, wahai Rasulullah, dan aku melakukan itu semata-mata menginginkan kebaikan.”
“Sesungguhnya cukup bagimu berpuasa 3 hari setiap bulan.”
“Ya Rasulallah, saya kuat berpuasa yang lebih afdol dari itu.”
“Isterimu punya hak yang wajib kamu penuhi, tamumu punya hak yang wajib kamu penuhi, dan jasmanimu juga punya hak yang wajib kamu penuhi. Maka puasa saja seperti puasanya Nabi Daud. Beliau itu orang yang paling kuat ibadahnya.”
“Ya Rasulallah, bagaimana itu puasa Nabi Daud?”
“Sehari berpuasa, sehari tidak. Dan bacalah al-Quran setiap bulan.”
“Ya Rasulallah, saya kuat melakukan yang lebih afdol daripada itu.”
“Kalau begitu, baca setiap 20 hari.”
“Ya Rasulallah, saya kuat melakukan yang lebih afdol daripada itu.”
“Ya baca setiap 10 hari.”
“Ya Rasulallah, saya kuat melakukan yang lebih afdol dari itu.”
“Oke, bacalah setiap 7 hari. Dan jangan lebih dari itu. Isterimu punya hak yang wajib kamu penuhi, tamumu punya hak yang wajib kamu penuhi, dan jasmanimu juga punya hak yang wajib kamu penuhi.”
Ketika Abdullah Ibnu Amr sudah tua, dengan nada agak menyesal, berkata,“Ah, seandainya dulu aku menerima kemurahan Rasulullah saw…”
Dalam suasana maraknya anak-anak muda bersemangat dalam beragama dan beribadah akhir-akhir ini, makna apa yang dapat kita ambil dari kisah dari Hadits sahih riwayat Imam Bukhari di atas?
Pertama-tama, kondisi itu perlu kita syukuri. Sebagai bentuk syukur kita, kita perlu menjaga semangat itu agar tetap menjadi faktor positif terutama dalam kehidupan keberagamaan kita. Beragama dan beribadah itu mudah. Yang sulit adalah terus beragama dan beribadah sesuai tuntunan yang diberikan oleh Sang Pembawa agama itu sendiri, dalam hal ini adalah Rasulullah saw.
Kisah nyata yang diceritakan sendiri oleh pelakunya, sayyidina Abdullah Ibnu Amr melalui antara lain riwayat Imam Bukhari di atas, memberikan gambaran yang menarik tentang “tawar-menawar” antara semangat keberagamaan yang menggebu dari anak muda dan kearifan Sang Pembawa agama. Semangat anak muda yang merasa memiliki kekuatan riil untuk melakukan amal kebaikan seoptimal mungkin, berhadapan dengan kearifan Sang Nabi yang tidak hanya melihat kebaikan amal semata, tapi juga terutama kelangsungan amaliah baik itu sendiri.
Orang arif mengatakan “Laa khaira fii khairin laa yaduumu bal syarrun laa yaduumu khairun min khairin laa yaduumu” yang artinya Tidak ada baiknya kebaikan yang tidak berlangsung terus, malahan keburukan yang tidak berlangsung terus, lebih baik daripada kebaikan yang tidak berlangsung terus. Ucapan sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Amr, di masa tuanya boleh jadi merupakan semacam “penyesalan” mengapa tidak mengikuti bimbingan Nabinya yang menawarkan sesuatu yang lebih ringan tampaknya, tapi dapat dilaksanakan dalam segala umur dengan semangat dan gairah yang sama.
Kisah sahabat Abdullah Ibnu Amr di atas hanya sebagian dari tuntunan Rasulullah SAW dalam hal bersikap tawassuth, tidak berlebihan, dan hikmahnya. Masih banyak Hadits yang menganjurkan kita untuk bersikap sedang-sedang atau sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.
Kenyataan juga membuktikan bahwa keberlebih-lebihan hampir selalu menimbulkan masalah. Berlebih-lebihan mencintai maupun membenci, misalnya, sama-sama berakibat buruk. Berlebih-lebihan dalam mencintai dunia menimbulkan malapetaka. Berlebih-lebihan menilai kehebatan diri sendiri juga terbukti merusak diri sendiri dan lingkungan. Orang yang berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti tidak bisa berlaku adil dan istiqamah.
Biasanya, ketika sedang bersemangat, kita memang sering lupa akan keburukan sikap berlebih-lebihan itu. Sementara, sudah merupakan kewajaran bahwa kaum muda memiliki semangat yang berkobar-kobar. Ini merupakan hal yang positif. Apalagi, semangat itu merupakan semangat beragama. Yang perlu dijaga ialah bagaimana semangat itu tidak seperti ungkapan, “panas-panas tai ayam” dan tidak menjerumuskan kepada sikap berlebih-lebihan. Untuk itu, semangat beragama mesti diikuti dengan semangat terus memperdalam pengetahuan tentang agama.
Kalau tidak-kalau semangat beragama jauh lebih besar daripada pemahaman tentang agama-justru malah bisa menimbulkan masalah seperti yang sering terjadi di sekitar kita dewasa ini.

Manusia & Agama

*D. Zawawi Imrom
Memahami orang lain adalah sebuah cara untuk mendekati anak cucu Nabi Adam secara lebih manusiawi, tidak memahami orang lain akan menyulitkan kita untuk melakukan hubungan{interaksi}sebagai makhluk sosial. Tidak adanya upaya untuk memahami orang lain akan mengakibatkan salah paham dan tidak adanya saling mengerti.
    Dengan demikian, upaya memahami orang lain adalah bagian penting untuk menggalang kebersamaan,saling menghormati,bahkan saling melindungi satu sama lain
    Setelah kita tahu manusia sebagai makhluk sosial yang beradab tentu perlu ditingkatkan memahami orang lain sebagai makhluk religius, yaitu manusia yang punya kesadaran tentang adanya Dzat yang sangat dekat dengan dirinya,yang memberi hidup,memberi rizqi,yang mengatur peredaran darah keseluruh tubuh serta menjaga detak jantung baik ketika kita jaga maupun ketika diri kita sedang tidur.
Nah, kedekatan jiwa seorang manusia dengan Sang pencipta itu tak lain merupakan kecerdasan yang menuju kemulian jiwa dan ketinggian martabat manusia sebagai “insan religius” dan lebih dari itu sebagai insan agama yang dengan kedekatanya dengan Sang Kholiq {Allah} ia selalu enjoy melaksanakan syariat agama.
Artinya ia melaksanakan syariat agama bukan karena dipaksa,diancam dan ditakut-takuti- karena tidak ada paksaan dalam agama tapi benar-benar karena Allah sekaligus ingin selalu bersyukur kepada Allah.
Orang beragama seperti itu tentu sangat menikmati agama serta selalu berusaha agar selalu dalam tindak lakunya serta perbuatan sehari-harinya selalu selaras dengan agamanya .Bahkan orang seperti itu bisa menemukan dan menghisap nikmatnya beribadah kepada Allah.
Kesadaran dan kecerdasan seperti itu dapat dikategorikan sebagai kesadaran tertinggi,puncak akal yang telah merasa pas bertuhankan Allah SWT Robbul alaamiin.Itulah kekayaan hati manusia yang selalu dalam wilayah pencerahan.
Berada dalam masjid seperti merasa berada di dalam majlis yang penuh dengan pencerahan hidayah Allah.Pergi ke majlis pengajian seperti mersa mengisi dada dengan ilmu Rasulullah dan ajaran-ajaran Allah,mencari nafkah di pasar atau di sawah tidak hanya sekedar mencari makan,tetapi merasa sedang mencari rahmat Allah yang diupayakan dengan penuh doa dan pengharapan terhadap ni’mat Allah.Datang bersilaturrohim kerumah famili atau teman dirasakan sebagai upaya menguatkan ukhuah islamiyah seta memantapkan rasa kasih sayang di bawah panduan hidayah Allah.
Beragama seperti itu tentu akan banyak mengandung hikmah,sehingga manusia yang mampu melaksanakanya akan bisa memaknai hidupnya bukan hanya dalam bentuk pengertian tetapi lebih dari itu memaknai hidup dengan amal sholeh yang nyata, berupa perbuatan yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain .Ingat! sabda Rasulullah SAW ” Khoirunnas Anfauhum Linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.
Memandang orang lain dengan kaca mata agama akan menghasilkan pandangan yang indah, bahwa manusialain itu tidak lain adalah saudara kita sesama anak cucu Nabi Adam.Kalau mereka sakit tugas kita untuk menolong dan membantu penyembuhannya.Kalau mereka jujur,pandai,adil serta amanah akan kita pilih sebagai pemimpin kita.Kalau satu ketika ia berbuat keliru kita tegur dengan bahasa yang santun  sehingga ia sadar akan kesalahannya.
Seorang yang telah memeluk agama dengan penuh yakin dan patuh, tidak lain adalah guru dan teladan kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu setiap orang yang ingin bergama secaara benar tidak dapat hidup sendirian tanpa pergaulan dan persaudaraan kepada tetangga dan seluruh manusia. Dalam pegaulan itu kita membuka mata dan akal pikiran untuk melihat kehidupan serta berkaca pada perilaku orang-orang sholeh dan kemudian kita berteladan pada kesholehannya, tak kalah pentingnya bersahabat,berguru pada orang shaleh, ikut pengajianya agar pelaksanaan hidup dan keagamaan ada yang membimbing dan tidak berjalan dalam kebingungan.
Dalam persaudaran yang berdasar iman,Allah menjadi milik bersama kaerena Allah milik bersama, menjadi tidak ada alasan  bagi kita untuk menyakiti sesama orang yang beriman.Nabi Muhammad SAW bersabda”Orang mukmin satu dengan yang lainya bagaikan satu bangunan yang satu akan menguatkan yang lainya” Karena itu sesam orang mukmin jangan sampai bercerai-berai.       

Kekerasan

Oleh: K.H Musthofa Bisyri
Lagi-lagi kita disuguhi tontonan yang sulit dimengerti oleh pikiran waras kaum beriman yang berpancasila. Sekelompok orang brutal memamerkan kebengisan dan kekerasannya kepada sesama bangsanya. Kali ini yang menjadi sasaran adalah kelompok Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
Yang lebih memprihatinkan, terutama bagi kaum muslimin yang memiliki nurani, mereka yang memamerkan keangkuhan dan keganasannya itu berpakaian busana Nabi agung Muhammad saw dan menggunakan label Pembela Islam. Allahummahdihim. Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka dan terutama kepada imam-imam mereka.
Mereka yang seperti kalap itu pastilah orang-orang awam yang tidak begitu mengerti tentang Islam dan tidak mengenal kanjeng Nabi Muhammad saw. Tidak mengerti bahwa Islam adalah agama damai dan kasih sayang. Agama yang mengecam kezaliman dan kekerasan. Tidak mengerti bahwa kanjeng Nabi Muhammad saw adalah seorang pemimpin yang bassaam, ramah dan murah senyum.
Seperti sudah diketahui –kecuali oleh mereka yang tidak mengerti dan mereka yang tertutup hatinya karena takabur—Islam adalah agama rahmatan lil ‘aalamiin. Yang diutus membawanya adalah seorang manusia pilihan yang paling beradab dan penuh kasih sayang. Nabi Muhammad saw. Seorang nabi yang menurut penuturan shahabat Abdullah Ibn ‘Umar (diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan imam Muslim), tidak kasar dan tidak pernah melampaui batas; nabi yang bersabda: “ Inna khiyaarakum ahsanukum akhlaaqan.” (Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian ialah mereka yang berakhlak paling baik). Shahabat Ibn ‘Umar juga menuturkan (riwayat Imam Bukhari) bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw tidak kaku, tidak bengis, tidak suka bersuara keras di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan melainkan memaafkan dan mengampuni.
Tentang orang Islam, Nabi Muhammad saw bersabda: “Almuslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.” (H.R. Imam Muslim dari shahabat Jabir) “Muslim sejati ialah orang yang menjaga lisan dan tangannya sehingga orang-orang muslim lain selamat dari padanya.”
Mungkin mereka yang melakukan kekerasan itu sekedar wayang-wayang yang terbakar oleh provokasi imam-imam mereka. Mereka diyakinkan, misalnya, bahwa kelompok AKKBB itu pembela kaum sesat Ahmadiyah atau antek-antek Yahudi dan Amerika. Tapi apapun alasannya tindakan anarki dan kekerasan tidak dibenarkan baik oleh akal sehat, oleh Islam, dan oleh Negara.
Negara ini adalah negara hukum. Saya sungguh khawatir kekerasan-kekerasan yang terjadi seperti kemarin itu justru akan membuat konflik horizontal berkepanjangan yang ujung-ujungnya akan merugikan umat Islam sendiri, Islam, dan Indonesia. Apalagi saat ini ‘tensi masyarakat’ sedang sangat tinggi. Karena itu pemerintah --sebagai pihak yang paling utama bertanggungjawab yang mengemban amanat dan memiliki perangkat untuk menyelesaikan permasalahan seperti konflik horizontal ini— hendaknya segera bertindak sesuai kewenangannya serta sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku di negeri ini.
Sementara itu kaum muslimin sebagai mayoritas di negeri ini, terutama para pimpinan mereka –termasuk dalam rangka memperjuangkan prinsip mulia apapun-- hendaklah tetap mengedepankan sikap tidak berlebih-lebihan, sikap kearifan dan kesantunan seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Pemimpin agung kita, Nabi Muhammad saw. Tidak justru mengikuti cara-cara munkar yang seharusnya kita cegah. Semangat membela Islam dan amar makruf nahi munkar, mestilah dilakukan dengan cara-cara Islami.
Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang benar yang Ia ridhai. Amin.

Manusia Makhluk Sosial

Oleh: Redi Panuju
Meskipun secara ragawi manusia itu adalah pribadi-pribadi yang independent, namun bukan berarti ia dapat lepas tanggung jawab kepada lingkungannnya. Tanggung jawab individu tidak hanya pada ruang lingkup dirinya sendiri, namun juga kepada orang lain. Anak, istri, famili, komunitas, dan bahkan bangsa. Dan karena itulah, manusia itu mutlak disebut sebagai mahluk sosial.
      Apakah agama kita mengakomodir konsep ini? Jawabannya sangat iya. Agama kita misalnya mengenal konsep tanggung jawab dalam keluarga. Itu sudah dasar yang menandai bahwa orang mukmin pastilah mahluk social. Seorang suami diwajibkan menafkahi anak dan istri serta keluarga yang kurang mampu. Orang tua diberi amanah untuk mendidik anaknya dengan baik, sebab kata Allah dalam al-Qur’an seorang anak kelak akan menjadi Nasrani, Yahudi, atau Majusi, sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Demikian sebaliknya, seorang anak juga memiliki kewajiban untuk menghormati kedua orang tuanya. Jadi, dalam satu keluarga saja, masing-masing anggota sudah terikat dengan konsep kesosialan.
       Selanjutnya, keluar dari unit keluarga, individu sudah terkait dengan lingkungan yang lebih luas lagi. Dalam bertetangga, Rasulullah SAW memberi teladan persaudaraan yang baik dengan sesama tetangga. Bahkan sampai sedetil-detilnya. Bila seseorang masak makanan yang aromanya tercium oleh tetangganya, maka wajib baginya untuk membagi makanan itu hingga sang tetangga bukan hanya merasakan aromanya namun juga ikut menikmatinya.
      Latar belakang mengapa seorang mukmin wajib membayar zakat, tak lain dimaksudkan sebagai mekanisme transformasi sosial dan ekonomi supaya tidak terjadi kesenjangan di antara umat. Di dalamnya terkandung semangat saling tolong-menolong. Yang kaya menolong yang lemah dengan hartanya dan si miskin menolong si kaya dengan memberi sarana beramal shalih. Itulah bukti bahwa islam sebagai agama bukan hanya mengakomodir konsep tersebut, namun sekaligus justru mengimplementasikannya.
     Keberadaan individu mengimplentasikan karakter sosialnya itu hanya mungkin terjadi bila seseorang mampu mengatasi keegoisannya. Seseorang punya spirit sosial bila sudah mampu menganggap bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan lingkungannya. Spirit ini dapat otomatis mengejawantah bila seseorang punya jiwa berkorban untuk orang lain. Peduli pada orang lain itu artinya sebuah pengorbanan; pengorbanan waktu, materi, pikiran, perasaan, kesabaran, dan sebagainya. Jadi, bila berkorban belum menjadi satu dengan jiwanya, orang pasti akan cenderung tersiksa.
      Keadaan psikologis dimana berkorban justru menjadi sumber kebahagiaan bukanlah sesuatu yang terbentuk tanpa proses. Awalnya pasti butuh latihan. Dari yang semula punya kebiasaan bersedekah seribu sehari, lantas meningkat menjadi sepuluh ribu, meningkat menjadi seratus ribu, dan seterusnya. Kelak bila sedekah sudah menjadi kebiasaan (habit), maka tak ada yang berat dalam berkorban. Bahkan, ketika keadaan membuat dirinya tak mampu berkorban untuk orang lain, ia justru merasa tersiksa dan merasa berdosa. Itulah karakteristik jiwa kesosialan.
      Karena jiwa sosial itu sebuah proses, maka tidak mungkin juga langsung dalam bentuknya yang murni. Mungkin awalnya hanya sekedar balas budi kepada orang yang pernah berbuat baik kepada kita. Mungkin pada awalnya hanya karena tak enak sama tetangga. Atau bisa jadi pada awalnya hanya karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Pada babakan awal seperti ini, biarlah berlangsung.
      Kalau kebetulan diantara kita sedang berada dalam proses itu, maka kita menyadari bahwa berkorban demi pamrih seperti belumlah sampai pada tataran kesejatian jiwa mahluk sosial. Kesejatian baru terwujud bila mampu meruntuhkan atribut-atribut yang berbau riy’a dalam interaksi tersebut.
       Orang cenderung menjadi individualistis acapkali disebabkan takut akan mengalami kerugian dan menghadapi kefatalan ketika berkorban untuk orang lain. Padahal kenyataannya, belum pernah terjadi orang jatuh miskin hanya gara-gara bersedekah. Allah justru menjanjikan akan membalas dengan pahala yang berlipat bagi orang yang bersedekah. Balasan tersebut dapat ditunaikan ketika masih hidup di dunia maupun setelah di akherat. Secara ilmiah pun janji Allah ini dapat dipertanggung jawabkan. Orang yang suka berderma pasti disenangi orang. Karena disenangi orang maka jaringan sosialnya menjadi luas. Nah, jaringan social ini dapat menjadi peluang untuk pelbagai macam kegiatanya, baik itu yang bersifat politis, ekonomi, maupun psikologis.
      Kalau ada hadist yang mengatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan mendatangkan rejeki, maka penjelasan ilmiahnya ada pada fungsi social networking itu.
      Memang menjadi aneh, bila banyak orang yang justru menjadikan lingkungan sosialnya sebagai musuh. Dimana-mana dan kapan saja yang dicari adalah lawan. Penipuan, penggelapan, pengkianatan, fitnah, intrik, penyerobotan atas hak orang lain, dan semacamnya itu adalah modus operandi yang sering dipakai oleh mahluk individualis yang anti social. Tak ada kamus tolong menolong, kasih-mengasihi, ingat-mengingatkan. Tidak ada. Dalam kamus manusia individualis: “di dunia ini tak ada yang gratis. Semua ada harganya, semua ada kalkulasinya!”
      Jadi, mengapa mesti kita menunda untuk mengoptimalkan spirit sosial dalam diri, toh manfaatnya akan kembali juga kepada yang bersangkutan. Sedangkan dari segi agama merupakan investasi jangka panjang, yang pasti tak ada ruginya, sebab semuanya akan diklaim saat di akherat kelak. Allah tak akan menelip amal kebaikan seseorang, sebab telah dijanjikan sebiji sawi saja amal itu Allah mencatatnya dengan baik.  **** 




Birrul Walidain

Oleh: D. Zawawi Imron


Salah satu nilai yan menunjukkan kecintaan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan rasulNya ialah sikap baiknya kepada ayah bundanya. Hal ini penting untuk disampaikan kepada kaum muslimin, mengingat Allah sangat menekankan dengan sikap dan akhlak “Birrul Walidain” memuliakan kedua orang tua. Artinya selalu bersikap hormat kepada ayah dan ibu. Memuliakan kedua orang tua tidak cukup hanya dengan hati. Memuliakan kedua orang tua selain dengan sikap cinta dan hormat juga harus disempurnakan dengan perlakuan baik kepada kedua orang tua.

Untuk bisa menghormati ibu dan ayah, seorang anak manusia perlu mengenang serta menghayati cinta kasih serta perlakuan ayah dan ibu kapada sang putera. Bagaimana seorang anak selama 9 bulan berada dalam kandungan ibunda. Bila tiba saatnya melahirkan sang ibu berjuang dengan penuh kesungguhan untuk melahirkan sang anak, setelah anak lahir lalu disusuinya dengan penuh rasa kasih sayang sampai tiba saatnya untuk disapih.
Sang anak kencing di haribaan ibunda, sang ibu tidak marah bahkan si anak yang masih bayi, sang  ibu tidak jijik membersihkan dan membunag kotoran sang anak. Ditambah lagi ketekunan ibu dan ayah mengasuh mulai dari ayah yang mencarikan nafkah serta biaya belajar dan lain-lain. Juga ibu yang setiap hari memasak untuk sang anak tanpa mengharapkan balasan. Jadi, kalau ada hutang yang tidak mampu aku bayar adalah hutangku, wahai ibu. Kalau ada hutang yan gtak mampu aku bayar, hutangku wahai ayah.
Penghayatan seperti itu kepada jasa-jasa ibu dan ayah perlu menjadi kenangan indah, dan labih dari itu menjadi bahan renungan agar hati ini tidak kering. Menghayati dan merenungkan jasa dan kasih sayang ibu dan ayah yang dilakukan oleh akal sehat dan hati yang jernih akan menumbuhkan pencerahan di dalam kalbu.
Pencerahan itu berupa kecerdasan bahwa diri ini puteranya ibu dan puteranya ayah. Ada kata-kata mutiara yang berbunyi “sesekali manusia itu perlu merenung dengan cerdas siapa dirinya. Kemudian ia mengaku kepada Allah bahwa ia putera ibunya dan putera ayahnya. Dalam melapor itu ia berbisik (berdoa) dengan hati yang dalam agar Allah mengampuni ayah bundanya, serta mohon kepada Allah agar Allah memberikan kasih sayangNya kepada ibu dan ayah kepada sebagaiman ayah bunda dulu mencurahkan kasih sayangnya yang utuh pada waktu sang putera masih kecil.
Renungan seperti itu kalau sering-sering dilakukan akan membuat sang putera akan mendapat kenikmatan “hakiki” karena ia merasa puteranya ibu dan merasa puteranya ayah. Itulah nikmat dan kalau dihayati secara mendalam akan membuahkan kebahagiaan.
Untuk itu kita baca dengan hati yang khusuk doa “rabbighfirli wa liwalidaiya warham huma kama rabbayaani shaghiira”. Dibaca dan ditunjukkna kepada Allah dengan kesadaran kepada diri puteranya ibu dan puteranya ayah.
Hal ini pentiang menjadi bahan renungan agar kita sebagai putera dapat memberikan segala yang bernilai kepada ibu dan ayah.
Bahkan ada seorang anak yang biasa tampil di atas mimbar, lebih merasa percaya diri ketika ia tampil dengan yakin bahwa dirinya putera ibunya dan putera ayahnya. Bahwa diri adalah kelanjutan denyut darah dari ibu dan ayah. Perasaan-perasaan merasa bahwa diri ini seorang hamba Allah yang merupakan kelangsungan dari sejarahnya ayah dan ibu akan membuat sesibilitas dan penghayatan benar-benar menemukan hidup yang nikmat dan pada puncaknya menemukan “madunya kebahagiaan” bahagia karena sadar bahwa diri ini puteranya ibu dan puteranya ayah.
Kecerdasan merasa berhutang budi kepada ayah bunda itu akan lebih cerdas lagi kalau bisa menumbuhkan ras “terima kasih” yang dalam. Rasa terima kasih itulah yang seharusnya menimbulkan sikap akan melakukan yang terbaik kepada ayah dan ibu.
Ada anak ingin memperlakukan ibu dan ayahnya dengan total sebagaiman ia “ingin melakukannya”.  Itu memang bak. Perlakuan yang terbaik “menurut ia” benar-benar ia lakukan. Tapi itu sebenarnya belum cukup, masih ada yang lebih baik daripada itu. Yaitu seorang anak berbuat bukan sekeda melakukan “apa yang ingin ia persembahkan” lebih dari itu ia berbuat sesuai dnegan apa yang ibu dan ayah inginkan dari kita.
Kadang seorang anak merasa berbuat yang terbaik padahal itu tidak diinginkan oleh ibu dan ayah. Itu perakuan yang kurang bermakna. Yang baik, seorang anak harus pandai membaca hati kedua orang tua. Kalau tidak, lebih baik ditanyakan langsung, apa yang ibu dan ayah inginkan dari kita.

Ruh Pendidikan

*Drs. Nadjib Sulhan, MA

Setiap tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ada momen penting yang selalu ditunggu dari peringatan ini, yaitu kebijakan pemerintah yang biasanya disampaikan lewat pidato kenegaraan. Maklum yang namanya pendidikan selalu dinamis, terjadi perubahan begitu cepat sesuai dengan perkembangan zaman.
            Pada peringatan hardiknas tahun 2010, pemerintah telah mencanangkan pendidikan karakter. Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Bapak Wakil Presiden Budiyono, dan Bapak Mendikina, M. Nuh menyampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter dalam berbagai kesempatan. Bahkan pendidikan karakter ini menjadi program unggulan pemerintah.  Sampai-sampai untuk pendidikan karakter ini pemerintah melibatkan 16 kemeterian.
Banyak persoalan yang terjadi di negeri tercinta ini. Berdasarkan data dari survey  Komnas Perlindungan Anak, PKBI, BKKBN tentang perilaku remaja yang telah melakukan hubungan seks pranikah di perkotanaan sebagai berkut: 62,7% siswi SMP pernah melakukan, 21,2% remaja pernah aborsi, 93,7% remaja pernah ciuman lawan jenis, dan 97,0% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. (Media Indonesia, 18 januari 2009)
Begitu juga di dalam penyalahgunaan narkoba, cukup menghawatirkan. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009 tercatat adanya 3,6 juta pengguna narkoba di Indonesia. Dari jumlah itu, 42% diantara mereka pertama kali mencoba narkoba di usia 16 sampai 18 tahun, yakni usia remaja SMP-SMA (Republika online, 26/06/2009).
Begitu juga terkait dengan korupsi, dari hasil riset yang dilakukan dalam Transparency International Corruption Perceptions Index 2009, Indonesia menempati peringkat yang sangat memprihatinkan. Indonesia selalu berkutat pada urutan 4, 5, atau 6. Ini adalah fakta yang dihadapi bangsa kita. Untuk itu perlu ada perubahan.
Program pendidikan karakter merupakan jawaban atas hilangnya ruh dalam dunia pendidikan. Sekolah lebih mengejar prestasi akademik daripada membangun moral. Memang, masih banyak remaja kita yang memiliki prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Banyak pelajar atau mahasiswa yang mengharumkan nama baik negeri ini dengan memenangkan berbagai lomba. Namun jika dibanding dengan kondisi yang terjadi saat ini,  tampaknya pemerintah tanggap dan segera melakukan revitalisasi dalam dunia pendidikan.
Ketika pendidikan lebih mementingkan nilai akhir atau Ujian Nasional, semua pemangku kepentingan fokus pada UN. Tidak sedikit yang berusaha menggadaikan kejujuran untuk kepentingan UN. Guru yang mestinya memiliki idealisme tinggi dalam mengawal potensi anak, ikut terjebak dalam mengotori jiwa-jiwa yang masih bersih.
Syukur, peristiwa itu telah berlalu, mulai tahun ini UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Kini yang menjadi pertanyaan, ”Mampukah pendidikan karakter memperbaiki kondisi bangsa yang carut-marut ini?” Insya-Allah dengan kepedulian dan kesungguhan semua pemangku kepentingan, mulai dari pengambil kebijakan hingga anak dan orang tua, semua akan mampu meminimalisir persoalan yang mendera bangsa. Selanjunya mengangkat citra bangsa di mata dunia.
Dalam pendidikan karakter ini, minimal ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sekolah memiliki budaya yang mulia. Budaya sekolah ini dilakukan oleh semua warga sekolah. Budaya yang mulia ini diikuti dengan budaya di rumah. Kedua, sekolah mengintegrasikan pendidikan karakter dalam semua mata pelajaran. Semua guru ikut bertanggung jawab di dalam pembentukan perilaku yang baik pada anak. Tentunya guru menjadi teladan bagi anak-anak. Ketiga, pembentukan karakter melalui kegiatan ekstra kurikuler. Semua kegiatan ekstra kurikuler dalam rangka membangun pribadi yang mulia pada diri anak. Keempat, selalu ada pesan moral dari semua warga sekolah. Pesan moral bisa dalam bentuk pesan terucap maupun pesan tertulis berupa slogan-slogan.
Betapa indahnya pendidikan di Indonesia jika mampu menerapkan pendidikan karakter dengan baik. Kita semua berharap semoga karakter menjadi ruh dalam pendidikan. Mari bersama-sama membangun negeri yang kita cintai ini.