Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Bukti Adanya Allah


Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil [dengan menunjukkan bukti adanya Allah dengan adanya alam] dan orang yang berdalil [adanya alam menjadi bukti adanya Allah]. Orang yang berdalil dengan menunjukkan bukti adanya Allah adanya alam. Dia mengerti kebenaran untuk pemiliknya. Maka, menetapkan perkara dari bukti asalnya. Orang yang berdalil adanya alam menjadi bukti adanya Allah karena tidak sambung sampai kepadaNYA. Kecuali keghaiban Allah sehingga menjadikan dalil atasNYA. Mungkinkah Allah yang jauh hingga memerlukan bukti keberadaan alam yang menyambungkan kepadaNYA

Polemik hebat mengenai keberadaan Allah ta’ala. Terus berjalan entah sampai kapan. Yang satu berdasarkan iman lebih dahulu untuk sampai mengenalNYA. Yang lain ragu-ragu dulu sehingga bukti pembuktian hingga sampai pada iman kepadaNYA.
Bagi kita. Iman menjadi dasar setiap totalitas kegiatan. Mulai ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Semua didasarkan pada iman kepadaNYA.
Tetapi rupanya. Atas nama kemodernan yang disutradarai Yahudi. Utamanya thariqat mason. Manusia digiring untuk ragu-ragu dahulu dalam menemukan kebenaran. Memang seolah-olah banyak menawarkan daya kritis dalam menalar. Merasa berbeda dengan keumuman dalam berpikir. Yang dampaknya juga berpengaruh, bahkan mengubah perilaku, orang-orang yang terbiasa berpikir skeptis tersebut.
Seorang mukmin tidak usah terpengaruh dengan pendapat-pendapat atau teori-teori yang dihasilkan oleh kerja akal manusia. Secara induksi hal itu merupakan pembuktian yang menguntungkan keimanan seorang muslim. Sebab, tanpa pembuktian pun seorang mukmin tetap beriman kepadaNYA secara total lagi mutlak.
Misalnya, ditemukan aura pada air oleh seorang guru besar asal Jepang. Itu menguntungkan iman kaum muslimin. Karena ditemukan aura atau tidak. Dengan mengacu kepada al-qur`an dan al-hadis tetap saja beriman kepada ke-Mahakuasaan Allah ta’ala. Justru hasil temuan itu membantu mengokoh-kuatkan dan menyebarkan kebenaran ajaran Islam.
Tapi lucunya. Yang terpengaruh orang-orang Islam sendiri dengan temuan itu. Hal ini menandakan bahwa otak dan cara berpikir sebagian besar umat Islam sudah terpengaruh dengan model induksi. Apabila ada bukti baru percaya dan mengimaniNYA. Betapa lemahnya sikap mental dan perilaku tauhid orang-orang Islam secara mayoritas.
Jika mau disadari dengan mendalam. Iman itu ada sejak ruh ditiupkan dalam janin manusia. Bayi lahir ke alam dunia sudah membawa iman. Seringkali iman dirusak oleh lingkungan terdekatnya, dengan dalih kasih-sayang. Akibatnya, bayi mengalami pertumbuhan yang tidak dibarengi dengan perkembangan dan pemberdayaan keimanan yang sudah dibawanya dari alam rahim.
Ditunjang pola pendidikan dan pembelajaran umat Islam yang tidak padu, karena mengikuti  --membebek secara latah dengan westernisasi—sehingga muncul pemandangan yang menggelikan sekaligus mengharukan. Di mana lahir banyak sarjana dan cerdik-pandai secara akademik. Tetapi tidak memiliki ilmu hikmah dalam aplikasi dan pengamalan di kehidupan sosial masyarakat. Praktis yang terjadi lahirnya pribadi-pribadi yang pecah dalam generasi muslim. Utamanya para generasi mudanya.
Seorang mukmin harus terus-menerus melakukan: kajian, pengajian, penelitian, kepustakaan, tindakan laboratoris, menulis, riset & metodologi, serta berperilaku dan memiliki mental ilmuwan. Tinggalkan jauh-jauh semangat kelompok, jamaah, dan organisatoris yang hanya berkutat pada like and dis-like. Jamaah kaum mukmin jelas, yakni Persaudaraan Tanpa Tepi. Tidak dibatasi oleh apa pun. Detail lagi menyeluruh. Semua itu guna membangun jejaring sosial tauhid. Sehingga lahir sosial administratif syar’i yang padu lagi seimbang.
Jangan menunggu bantuan dan uluran tangan siapa pun. Berkerja dan terus bekerja. Berjuang dan terus berjuang. Dengan terus disertai sikap mental dan perilaku: Cerdas-Ulet-Kreatif (Cuk). Sebab, inilah paramater yang bagus dalam rangka mengukur kecakapan seseorang.
Berpikir dengan model deduksi. Yang dilengkapi dengan model induksi. Akan melahirkan banyak kemanfaatan dan progres demi kemajuan umat Islam. Jangan dibalik berpikir model induksi yang dilengkapi dengan model deduksi.
Berpikir model yang pertama niscaya mampu melahirkan para ilmuwan handal. Seperti yang pernah terjadi pada masa-masa keemasan Islam. Justru sekarang akan lebih hebat. Karena ditunjang dengan kemajuan telekomunikasi dan informasi. Maka, yang paling penting setiap keluarga muslim hendaknya membangun anggota keluarganya menjadi penyumbang yang hebat, demi lahirnya social capital umat Islam ke depan [ ]

Kearifan Lokal

*Prof. Dr. Abdu A’la


Akhir-akhir ini degradasi moralitas sosial mewabah akut menjangkiti masyarakat bangsa. Kebiadaban nyaris melekat dalam hidup keseharian kita. Ambil contoh, kekerasan seakan-akan telah menjadi jalan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi.
Dalam konteks degradasi moral itu pula, kita melihat maraknya “tradisi” korupsi, aji mumpung dan sejenisnya yang dilakukan beberapa oknum pejabat dan pengusaha yang hingga saat ini belum mengalami penurunan berarti. Bancaan uang negara dan rakyat terus dilakukan oleh tikus-tikus penjahat berkrah putih ini. Memperkokoh kondisi ini, politik kekuasaan dalam beragam bentuknya menjadi model anutan banyak kalangan di sembarang lembaga dan organisasi. Dengan kekuasaan yang dibungkus berbagai label, mereka melakukan hampir segalanya; merugikan rakyat dan mengeruk keuntungan untuk diri sendiri.
Menyikapi kondisi Indonesia kekinian, kita mungkin agak berlebihan jika menganggap negara ini negara anarkis, negara keserakahan, dan negara kekuasaan. Namun realitas di sekitar kita hampir seutuhnya mengarah kepada anggapan itu. Persoalan ini yang seharusnya dibincang dengan serius untuk menata kembali keindonesiaan kita.

Indonesia Masa Lalu
Keragaman bangsa Indonesia dari sisi etnis, suku, budaya dan lainnya sejatinya juga menunjuk kepada karaktreristik masing-masing. Pada saat yang sama, kekhasan itu pada umumnya memiliki kearifan yang pada masa-masa lalu menjadi salah satu sumber nilai dan inspirasi dalam merajut dan menapaki kehidupan mereka.
Sejarah menunjukkan, masing-masing etnis dan suku memiliki kearifan lokal sendiri. Misalnya saja (untuk tidak menyebut yang ada pada seluruh suku dan etnis di Indonesia), suku Batak kental dengan keterbukaan, Jawa nyaris identik dengan kehalusan, suku Madura memiliki harga diri yang tinggi, dan etnis Cina terkenal dengan keuletan. Lebih dari itu, masing-masing memiliki keakraban dan keramahan dengan lingkungan alam yang mengitari mereka.
Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.
Namun dari waktu ke waktu, nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna substantifnya. Lalu yang tertinggal hanya kulit permukaan semata, menjadi simbol yang tanpa arti. Bahkan akhir-akhir ini budaya masyarakat hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, menampakkan diri sekadar pajangan yang sarat formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan.
Tentu banyak faktor yang membuat kearifan lokal dan budaya masyarakat secara umum, kehilangan geliat kekuatannya. Selain kekurangmampuan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal mereka, faktor lainnya adalah pragmatisme dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit masyarakat. Kepentingan subjektif diri mengantarkan mereka untuk “memanfaatkan” kearifan lokal. Mereka menggunakannya secara artifisial, tapi sekaligus menghancur-leburkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya.
Pada gilirannya, masyarakat luas yang struktur dan hubungannnya masih bersifat patron-client “meneladani” sikap dan perilaku elit mereka. Pada sisi itu bencana budaya mulai berkecambah dalam masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak mampu lagi melihat, apalagi menyelesaikan, secara arif hampir persoalan yang menimpa mereka. Krisis demi krisis lalu menjadi bagian hidup bangsa.

Rekonstruksi Kearifan Lokal
Kendati tidak menjamin persoalan akan selesai, rekonstruksi kearifan lokal sangat niscaya untuk dilakukan. Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya untuk kembali kepada jatidiri mereka melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya mereka.
Dalam kerangka itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal. Sebagai misal, keterbukaan dikembangkan dan kontekstualisasikan menjadi kejujuran dan seabreg nilai turunannya yang lain. Kehalusan diformulasi sebagai keramahtamahan yang tulus. Harga diri diletakkan dalam upaya pengembangan prestasi; dan demikian seterusnya. Pada saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu dibumikan dan disebarluaskan ke dalam seluruh masyarakat sehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan sekadar menjadi identitas suku atau masyarakat tertentu.
Untuk itu, sebuah ketulusan, memang, perlu dijadikan modal dasar bagi segenap unsur bangsa. Ketulusan untuk mengakui kelemahan diri masing-masing, dan ketulusan untuk membuang egoisme, keserakahan, serta mau berbagi dengan yang lain sebagai entitas dari bangsa yang sama. Para elit di berbagai tingkatan perlu menjadi garda depan, bukan dalam ucapan, tapi dalam praksis konkret untuk memulai.
Dari ketulusan, seluruh elemen bangsa, masing-masing lalu merajut kebhinnekaan, menjadikannya untaian yang kokoh dan indah. Dengan untaian yang menyatukan satu dengan yang lain, mereka  bersama-sama menyelami kehidupan secara arif dan bijak. Di sana pijar-pijar lampu kehidupan pasti akan menerangi menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai dan penuh keadilan. (MAYAra Geographic)

*Penulis adalah cendikiawan Muslim Indonesia

Jadilah Mukhlis

        Ikhlash yang terambil dari bahasa Arab mempunyai arti; bersih, murni (tidak terkontaminasi). Karenanya ikhlas merupakan bentuk dari cinta, bentuk kasih sayang dan pelayanan tanpa ikatan. Cinta yang putih adalah bentuk keikhlasan yang tidak ingin menjadi rusak karena tercampur hal lain selain terpenuhinya dahaga cinta. Takut bahwa sesuatu pekerjaan yang dilatarbelakangi motivasi atau pamrih selain melaksanakan amanah akan berubah menjadi komoditas semata-mata. Keikhlasan hanya menjadi label atau symbol dari pengesahan dirinya untuk berbuat munafik.
          Kebanyakan orang meyakini bahwa dalam hidup kita harus berjuang meraih semua keinginan dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan. Padahal tuntutan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Allah swt. Inilah kompetensi ikhlas. Ikhlas yang bukan hanya diucapkan di bibir atau dipikirkan di kepala, melainkan ketrampilan untuk menciptakan “peristiwa keikhlasan” di dasar hati yang terdalam. Oleh karena  hanya dengan kualitas keikhlasan yang benar-benar terasa di hati dan terukur secara objektif inilah kita mampu mengarungi kehidupan dengan penuh keyakinan.
        Mukhlis adalah mereka yang memandang sesuatu secara telanjang atau memang demikian seharusnya. Memandang tugasnya sebagai pengabdian, sebuah keterpangillan untuk menunaikan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk amanah yang seharusnya demikian kita lakukan. Seorang berbuat sesuatu memang demikianlah uraian tugas (job description) yang kita terima. Segala sesuatu yang akan mengotori tugas dirinya berarti mengkianati cinta dan karenanya berubah menjadi sebuah pengkianatan terhadap amanah. Karenanya, kita menjadi manusia yang bebas untuk memenuhi tugas tanpa beban atau motivasi lain yang akan menodai kemurnian pandangan terhadap tugas tersebut.
        Bagaikan seorang ibu yang menyusui putra atau putrinya, dia tidak memiliki motivasi lain kecuali memang demikian tugas seorang ibu. Kemudian, tugas yang dijalankannya secara murni dan suci tersebut membuahkan rasa tanggung jawab. Sang ibu tidak hanya menjalankan tugasnya menyusui, tetapi kemudian tumbuh rasa tanggung jawab yang lebih besar. Dia akan menjaganya, memberikannya perlindungan dan kasih sayang sehingga tugasnya yang murni tersebut semakin bedar dan melahirkan berbagai hasil sebagai akibat keterpanggilannya untuk menjaga putra-putrinya tersebut. Sebenarnya dalam hal keikhlasan itu, mungkin manusia harus belajar dari alam atau hewan yang berbuat apa adanya tanpa motivasi lain yang akan merusak anugerah Ilahiyah pada diri kita. Dalam nilai keikhlasan, tersimpan pula suasana hati yang “rela” dalam pengertian bahwa apa yang kita lakukan tidak mengaharapkan imbalan kecuali hanya satu pamrih yang ada di hati, “aku tunaikan amanah karena memang demikian seharusnya.” Maaf, untuk lebih memperjelas makna ikhlas, mungkin dapat disejajarkan pada saat kita buang hajat besar. Kita melepaskannya dan kita tidak pernah mengingat-ngingat apa yang kita lepaskan itu.
        Kita yang disebut mukhlis melaksanakan tugasnya secara professional tanpa motivasi lain kecualai bahwa pekerjaan itu merupakan amanat yang harus ditunaikannya sebaik-baiknya dan memang begitulah seharusnya. Motivasi unggul yang ada hanyalah pamrih pada hati nurani sendiri. Kalaupun ada reward atau imbalan, itu bukanlah tujuan utama, melainkan sekadar akibat sampingan dari pengabdian diri yang murni tersebut.
        Sikap ikhlas bukan hanya output dari cara diri kita melayani, melainkan juga input atau masukan yang membentuk kepibadian kita  didasarkan pada sikap yang bersih. Bahkan, cara  mencari rezeki, makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuh, adalah bersih semata-mata. Tidak mungkin pada tubuh seseorang mukhlis terdapat makanan atau minuman haram. Tidak mungkin seorang mukhlis mengotori tubuhnya dengan benda-benda yang terlarang. Mana mungkin seorang yang merintihkan doa dan menggelorakan amalnya, sedangkan dalam tubuhnya bersemayam berbagai makanan haram.
        Dengan demikian, ikhlas merupakan energi batin yang akan membentengi diri dari segala bentuk yang kotor. Semoga Allah swt memberikan petunjuk kepada kita memahami makna keutamaan sifat ikhlas dan bagaimana cara mengamalkan ikhlas secara praktis. Amin. Wallaahu a’lam.

        

Apa Musa'ah Membuat Ta'jub



عن عبد الله بْن عَمْرِورضي الله عنه َعَنْ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الأَشْرَارُ ويُوْضَعُ اْلأَخٍْيَارُ ويُقْبَحُ الْقَوْلُ وَيُحْسَنُ الْعَمَلُ وَتَفْرِي فِي الْقَوْمِ الْمُسَاءَةُ ؟ قُلْتُ: وَمَا الْمُسَاءَةُ قَالَ : مَا كُتِبَ سِوَى القُرْآنِ.
(رواه الطبراني ورجاله رجال الصحيح)
Dari Abdullah bin ‘Amr ra, dan Rasulullah saw, beliau bersabda: “Di antara tanda dekatnya hari kiamat ialah apabila orang-orang yang berprilaku buruk dimuliakan, orang-orang yang berprilaku baik direndahkan, ucapan dianggap buruk pekerjaan dianggap baik dan musa’ah mena’jubkan banyak orang”. Aku bertanya: “Apakah musa ‘ah itu?” Beliau menjawab: “Tulisan selain Kitabullah” (Hr. Thabrani, para perawinya adalah para perawi hadits Shahih; Majma’uz Zawa’id
III/340)

Bayan
Hadits di atas menyatakan bahwa termasuk tanda-tanda dekatnya hari kiamat ialah:
-Orang yang berprilaku buruk dimuliakan sedang yang berprilaku baik direndahkan; Sepertinya yang demikian itu sulit dipercaya. Tetapi jika kita amati dengan seksama, apa yang disabdakan oleh Nabi saw itu sekarang sudah menjadi kenyataan. Para pejuang yang gigib mempeijuangkan kemerdekaan negeri ini banyak yang lepas dari perhatian kita. Tetapi para pejabat artis dan da’i (bukan ulama’) yang belum tentu baik prilakunya dielu-elukan. Ulama yang berdakwah dengan ikhlas dianggap kampungan, sementara para ustadz dan muballigh dadakan yang menggunakan aji mumpung sering diundang untuk mengisi pengajian. Pemuda yang taat beribadah dan rajin bekerja dianggap kuper (kurang pergaulan) sementara pemuda yang tidak memperdulikan agama dan pekerjaannya hanya menghambur-hamburkan uang merupakan kebanggaan. Remaja putri yang menutup aurat dianggap kuno dan ketinggalan jaman sementara yang pamer aurat malah menjadi panutan. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.
 
-Ucapan dianggap buruk, sedang pekerjaan dianggap baik, Karena kecintaan terhadap dunia akhirnya banyak orang yang gila bekerja. Hingga tidak ada waktu yang terluang untuk sekedar berbicara. Artinya, jika berbicara dapat menghasilkan uang maka bicara dianggap penting. Namun jika pembicaraan itu tidak menghasilkan uang (walaupun berpahala, seperti memberi nasehat, mengucapkan salam dan bertegur-sapa dengan tetangga) maka tidak ada gunanya berbicara, lebih baik konsentrasi bekerja. Dan tanda dekatnya kiamat yang ini pun rasanya juga sering kitajumpai.

- Musa ‘ah (tulisan selain Al-Qur ‘an) mena‘jubkan banyak orang; Tanda dekatnya hari kiamat yang ini justru telah nyata di depan mata kita. Jangankan keluarga yang tidak taat beragama, keluarga yang taat beragama saja jarang yang cinta membaca apalagi gandrung terhadap AlQ ur’an dan buku-buku islami. Mereka lebih akrab dengan buku-buku bacaan yang tidak menambah keimanan dan wawasan keagamaan, seperti novel murahan, majalah cabul, koran yang tidak mendidik dsb. Bahkan ironisnya terkadang pemuda muslim atau muslimah merasa malu jika ketahuan oleh teman-temannya bahwa ia sedang membaca buku-buku relegius.
Karenanya marilah kita berhati-hati dan pandai-pandai memahami peringatan yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw agar selamat dari fitnah akhirjaman. Wallahu A’lam. 

Jangan Mengadu Domba

        Ketahuilah bahwa sifat ini merupakan sifat yang sangat jelek dan banyak beredar di antara manusia, sehingga sedikit sekali dari kita yang dapat selamat. Mengadu domba adalah menginformasikan perkataan manusia kepada orang lain dengan tujuan “merusak” atau tujuan jahat. Sifat mengadu domba sangat terkait dengan sifat menggunjing. Mengadu domba diharamkan berdasarkan ijma kaum muslimin. Dalil-dalil al-Qur’an  dan hadis telah banyak menyebutkan hal tersebut dengan gamblang, antara lain adalah sebagai berikut :
Allah swt berfirman,
“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah (Qs. al-Qalam : 11)
        Maksudnya, mereka adalah orang yang suka ghibah, yaitu melemparkan tuduhan-tuduhan palsu, membuka aib orang lain, dan suka mengadu domba antar sesama manusia, membuat-buat perkataan agar manusia terjebak dengannya dalam perangkap fitnah. Dalam sebuah hadis disebutkan.
        Hudzaifah ra mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang senang mengadu domba.” (Hr.Bukhari dan Muslim)
        Dari Ibn Abbas ra bahwa Rasulullah saw melewati dua kuburan kemudian beliau saw berkata, “Sesungguhnya dua orang tersebut sedang disiksa, mereka tidak disiksa karena suatu dosa bersar—dalam sebuah riwayat Bukhari disebutkan,’Ya dosa besar mereka’. Adapun salah satunya ia suka mengadu domba manusia dan yang lain ia tidak melakukan kebersihan dari buang airnya” (Hr. ash-Shahihain).
        Para ulama banyak berpendapat bahwa makna ungkapan tersebut adalah “mereka berdua tidak disiksa karena suatu dosa besar menurut pengakuannya atau dosa besar yang mereka lalaikan.
       Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seseorang muslim itu dengan seorang muslim yang lain bersaudara. Diharamkan baginya kehormatannya, hartanya, dan darahnya. Takwa itu ada disini (dalam riwayat yang lain Rasulullah menunjukkan dengan jari telunjuknya ke dada). Cukup buruk bagi seseorang muslim untuk mencela (merendahkan) saudaranya yang muslim.” (Hr. Tirmidzi)
        Seperti halnya dengan menggunjing, mengadu domba akan mendapat siksa yang pedih dan kehancuran bagi setiap orang yang mengadu domba manusia, ghibah terhadap mereka, menodai nama baiknya, atau menjulukinya dengan suatu julukan secara rahasia. Hukum ini berlaku untuk umum, karena pelajaran yang dapat diambil dari keumuman lafalnya bukan dari kekhususan kejadian.
        Sedangkan dalam hadis disebutkan, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. “Beliau saw berkata, “Engkau menceritakan tentang saudara kalian sesuatu yang tidak ia senangi”. Mereka bertanya, “Bagaimana jika yang kami ceritakan tentang saudara kami ia benar?” Beliau saw berkata, “jika yang kalian ceritakan tentang saudara kalian itu benar, maka berarti kalian telah menggunjingnya (ghibah). Dan jika yang kalian ceritakan tentang saudara saudara kalian itu salah, maka berarti kalian telah melakukan suatu kebohongan.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i)
         Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh ke dalam apa yang Allah saw larang. Dalam berbicara pun jangan sampai mengadu domba. Mengadu domba adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apabila dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, mengadu domba menjadi dosa yang besar.
        Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik dalam menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak bicara kebathilan. Boleh-boleh saja kita produktif bicara, tapi harus proporsional. Selalu berkata baik. Kita harus berbicara hal yang benar dan bisa berkata dengan akhlak tinggi. Jika tidak cukup diam saja. Sadarilah bahwa lidah ini amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Jadikan ucapan-ucapan kita untuk menggundang keridhaan Allah swt. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya  murka dan kebencian-Nya.
        Semoga Allah swt membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapapun yang mendengarkannya. Amin. Wallaahu a’lam.

Dakwah yang Bijak

Dakwah adalah ajakan kebaikan dengan cara yang terbaik. Ia adalah upaya memberi hidayah berupa petunjuk. Hidayah seakar dengan kata hadiah. Yakni sesuatu yang seyogianya baik atau bermanfaat, yang dikemas dengan indah dan diserahkan dengan lemah lembut. Sejak dini, Nabi Muhammad saw diingatkan al-qur’an bahwa “Sekiranya engkau berucap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Qs. Ali Imran [3]: 159).

Berucap kasar menggambarkan sisi luar manusia, dan berhati keras menunjuk sisi dalamnya. Keduanya, “berucap kasar” dan “berhati keras”, perlu disingkirkan secara bersamaan, karena boleh jadi ada yang berucap kasar tapi hatinya lembut, atau ucapannya manis tapi hatinya busuk. Yang berdakwah menggabungkan perilaku yang sopan, kata-kata yang indah, sekaligus hati yang luhur, penuh kasih, walau terhadap sasaran yang durhaka dan kejam.
Informasi yang diberikan bukan saja harus benar tapi juga bermanfaat bagi sasaran. Itulah cermin kasih dalam berdakwah. Sedang kata-kata yang indah, halus, dan lemah lembut merupakan kunci kesediaan sasaran mendengar ajakan.
Sekali lagi, ucapan harus bermanfaat bagi yang mendengarnya. Jika tidak, pengucap dan pendengarnya merugi dalam mengucapkan atau mendengarnya. Paling sedikit kerugian waktu dan energi. Bahkan boleh jadi kerugian berupa dampak yang dihasilkan apa yang didengar itu. Karena mungkin saja ucapan itu mengubah pikiran pendengarnya yang telah benar, atau memberi ide keliru padanya.
Terdapat sekian banyak tuntunan kitab suci menyangkut kriteria kata-kata yang diinformasikan, antara lain baligha (Qs.an-Nisa [4]: 63). Dari sini seorang da’iy dinamai juga mubaligh. Kata itu mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain dengan cukup. Seorang yang pandai menyusun kata, sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup, dinamai mubaligh. Ciri ini baru bisa terwujud bila seluruh pesan yang hendak disampaikannya tertampung dalam rangkaian kata-katanya. Tidak bertele-tele yang membosankan, tidak pula singkat yang mengaburkan. Tidak menggunakan kata yang asing di telinga pendengarnya, tidak juga berat di lidah pengucapnya.
Kata lain yang digunakan al-qur’an untuk menyampaikan informasi yang baik adalah sadida (Qs.al-Ahzab [33]: 70). Kata ini mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ini berarti kritik yang disampaikan hendaknya disertai dengan usul perbaikan, yakni kritik haruslah yang membangun. Kata sadida juga berarti tepat. Seseorang bukan saja dituntut untuk menyampaikan yang benar dan baik susunan kalimatnya, tetapi juga harus tepat waktu dan sasarannya.
“Apabila Anda berkata kepada teman Anda pada hari Jum’at saat khatib berkhutbah: ‘Diamlah! dengarkan khutbah’, maka Anda telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.” Ini bukan karena kandungan larangan itu salah, tetapi sasaran dan waktunya tidak tepat. Jika demikian, tidak semua harus disampaikan. Pilihlah yang bermanfaat dan perhatikan pula sasaran. Karena ada yang pandai, yang bodoh, atau anak kecil, dan dewasa. Karena itu paparkanlah masalah yang Anda akan informasikan kepada tuntunan agama. Kalau kandungannya sudah benar, maka perhatikanlah dampaknya berkaitan dengan waktu dan masyarakat. Kalau ia tidak menimbulkan dampak negatif, maka paparkan lagi masalah itu kepada pertimbangan nalar. Kalau nalar memperkenankannya, maka Anda boleh menyampaikannya, kepada umum–atau orang-orang tertentu saja, bila penyampaian kepada umum dapat menimbulkan dampak negatif atau kesalah pahaman.
Selanjutnya ketika Nabi Musa dan Harun as menghadapi penguasa kejam Fir’aun, mereka berdua dipesan Allah, agar menyampaikan dengan Qaulaa Layyina (Qs.Thaha [20]: 44) yakni lemah lembut. Ini bukan berarti tidak menyampaikan kebenaran atau menyembunyikannya. Tetapi kebenaran yang disampaikan, bahkan kritik yang dilontarkan, hendaknya tidak menyinggung perasaan, apalagi menimbulkan amarah. Demikian sekelumit tuntunan al-qur’an menyangkut dakwah yang baik. Wa-llahu a’lam.

Perang Agama

Jika membaca buku-buku semacam karya Sam Harris, The End of Faith; Richard Harris, The God Delusion; dan Christopher Hitchen, The God is not Great-How Religion Poisons Everything, agama terlihat segera mati ditinggalkan para penganutnya. Agama dalam perspektif para penulis ini tidak lebih dari racun yang membunuh para penganutnya. Buku-buku antiagama yang rata-rata best-sellers memang menyajikan gambaran yang serba negatif tentang agama. 
Buku-buku tersebut boleh dikatakan sebagai reaksi balik terhadap semakin meluasnya kebangkitan kembali agama. Sudah banyak penelitian dan penerbitan yang mengungkapkan gejala ini. Salah satu yang paling akhir adalah laporan khusus majalah The Economist, 3-9 November lalu dengan tajuk 'The New Wars of Religion'.
Laporan The Economist menyimpulkan, agama tidak surut apalagi mati karena modernisasi dan sekularisasi. Memang, di tengah deru modernisasi dan sekularisasi, agama sering dipandang banyak politisi, birokrat pemerintahan, dan bahkan akademisi Barat sebagai tidak relevan. Agama dalam perspektif mereka kian tidak relevan dengan kehidupan publik. Dalam istilah guru besar dan teolog Universitas Harvard, Harvey Cox, dalam bukunya yang terkenal The Secular City, agama tidak punya tempat sama sekali dalam kehidupan kota sekuler.
Tetapi, berbeda dengan pandangan tersebut, sejak 1970-an agama ternyata kembali ke pentas berbagai lapangan kehidupan termasuk politik, sosial, budaya, ekonomi, dan seterusnya. Sekali lagi meminjam istilah Harvey Cox yang terpaksa merevisi teorinya, agama telah kembali ke kota sekuler. Pada 2005 sekitar 73 persen umat manusia di seluruh dunia memeluk salah satu dari empat agama besar; Kristiani, Islam, Hindu, dan Budha; menurut prediksi jumlahnya meningkat mencapai sekitar 80 persen pada 2050.
Titik balik kebangkitan agama tersebut menurut Timothy Shah, seorang ahli pada The Council on Foreign Scholars, New York, adalah Perang Enam Hari antara negara-negara Arab dan Israel pada 1967. Perang ini menandai kekalahan total pan-Arabisme sekuler, yang pada gilirannya memberikan momentum bagi kebangkitan gerakan Islamis radikal yang mengerahkan segenap upaya untuk menumbangkan rezim-rezim sekuler di Dunia Arab; usaha yang sampai sekarang belum banyak berhasil.
Sebaliknya bagi penganut agama Yahudi, kemenangan Israel dalam Perang 1967 itu merupakan sebuah 'mukjizat' yang menunjukkan adanya campur tangan Tuhan untuk membantu mereka. Karena itu, menurut mereka, Tuhan dan agama sama sekali tidak lagi bisa dikesampingkan dalam mempertahankan eksistensi negara Israel. Pandangan dan anggapan eskatologis ini memberikan momentum bagi kebangkitan kelompok ortodoks, ultra-ortodoks, fundamentalis, dan radikal di kalangan penganut agama Yahudi.
Selanjutnya sejak 1970-an adalah masa-masa kebangkitan agama secara global. Amerika Serikat memilih Jimmy Carter sebagai Presiden yang dengan bangga menyatakan dirinya sebagai 'born-again Christian', yang diikuti Ronald Reagan yang dengan mengutip Perjanjian Baru menyatakan Amerika sebagai 'sebuah kota di puncak bukit, yang menerangi berbagai penjuru'. Dan terakhir sekali adalah George W Bush yang memercayai dirinya tidak lebih daripada sekadar menjalankan berbagai kebijakan Tuhan melalui dirinya.
Kebangkitan agama tersebut jelas menimbulkan berbagai dampak dan implikasi pula dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak hal positif dalam kebangkitan agama itu; tetapi juga terdapat banyak ekses, yang oleh The Economist disebut sebagai 'perang baru agama'. Sepanjang dua dasawarsa terakhir kian banyak terjadi kekerasan dan perang atas nama agama, sejak dari Nigeria ke Srilanka, Filipina Selatan dan Thailand Selatan; dari Serbia dan Bosnia terus Chechnya ke Palestina-Israel, Irak dan Afghanistan.
Memang, agama dalam banyak kasus tidak dengan sendirinya menjadi penyebab dan sumber dari 'perang baru agama' tersebut. Berkat dialog-dialog antaragama yang kian intens, 'perang baru agama' karena motif keagamaan sebagian besarnya dapat dicegah. Sebaliknya, apa yang disebut 'perang baru agama' tersebut lebih bersumber pada masalah politik dan ekonomi yang tidak pernah terselesaikan. Dan keadaannya menjadi lebih rumit, rawan, dan eksplosif ketika para politisi dalam menghadapi pertikaian-pertikaian politik tersebut mencampurbaurkan kebijakan politiknya dengan semangat keagamaan.
'Perang baru agama' bisa menjadi sangat eksplosif dan menjerumuskan masyarakat dunia ke ambang pertumpahan darah yang sulit diakhiri. Karena itulah penciptaan dan pemberdayaan tatanan dunia baru yang lebih berimbang dan adil menjadi kebutuhan mendesak. Reformasi PBB dan badan-badan internasional lainnya merupakan agenda dan tanggung jawab bersama, yang meski sangat sulit mesti diupayakan terus.

Derita

Selama kamu berada di dunia ini. Janganlah terkejut dengan adanya penderitaan. Maka, sungguh penderitaan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya atau karakter aslinya

Banyak orang beranggapan kalau derita itu tidak enak. Selamanya susah. Kebanyakan orang selalu berpandangan kecewa dengan derita. Khususnya, apabila derita itu menimpa dirinya. Padahal bagi orang mukmin-mukminah. Derita merupakan bagian dari uji kemampuan dan uji keimanannya. Guna meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan di sisi Allah ta’ala. Maka, jadikan derita sebagai peluang guna mendapatkan keberhasilan hidup di dunia dan di akhirat.

Adakalanya, Tuhan itu membangkitkan hamba-Nya. Dengan cara terlebih dahulu dibuatnya menderita. Belajarlah kepada para nabiullah, para rasulullah, para kekasih Allah, dan para hamba terpilih di sisi Allah. Semuanya pernah mengalami penderitaan.

Apabila Anda tetap mampu berpikir positif ketika ditimpa derita. Niscaya Anda menjadi orang yang tahan banting. Nikmati saja datangnya derita. Tidak usah curhat kepada sesama manusia. Tidak usah cerita kepada siapa pun. “Curhat”-lah kepada Allah ta’ala langsung. Dengan cara menambah kualitas dan kuantitas sujud Anda kepada Allah ta’ala.

Derita apa pun yang menimpa Anda diamkan saja. Nikmati sendiri. Mohon bantuan Allah ta’ala, agar diberikan jalan penyelesaian yang berkah. Tidak perlu cerita sana cerita sini. Apalah nama sebutan dan gelar manusia itu. Sekali manusia tetap manusia.

Lihat derita itu dengan kacamata iman. Rasakan derita itu dengan nikmatnya iman. Terima derita itu dengan penuh keimanan. Insya Allah, nanti kan indah semua. Boleh jadi. Anda malah ingin terus bersanding dengan penderitaan, supaya tetap dapat istiqamah dalam dzikrullah, misalnya.

Anda kenal Tsa’labah? Orang Arab yang tidak tahan menderita sebagai orang miskin. Hingga akhirnya merayu Nabi saw. Supaya Nabi saw mau mendoakan dirinya menjadi orang kaya. Takdir Allah ta’ala memang menghendaki demikian. Sampai akhirnya. Nabi saw mendoakan Tsa’labah menjadi kaya.

Apa yang terjadi? Tsa’labah benar-benar menjadi kaya. Namun apa yang menyerati kekayaan yang dimiliki Tsa’labah. Tsa’labah tidak pernah lagi aktif shalat berjama’ah di Masjid Nabi. Disebabkan, sibuk mengurus dan menghitung harta kekayaan yang dimiliki.

Yang paling nyata kerugian yang didapatkan Tsa’labah. Dia tidak lagi mendapatkan pahala shalat berjama’ah. Dia semakin jarang berjumpa dengan Nabi saw. Dia semakin sulit ditemui.

Menjadi berbeda apabila derita yang dialami Tsa’labah masih mendampinginya. Tsa’labah tidak bakal berubah menjadi manusia yang jauh dari jalan Tuhan. Lalu, menjauhi Rasulullah saw. Maka, berbahagialah jika saat ini Anda masih merasakan penderitaan. Atau, sedang didera oleh penderitaan. Bertawakallah. Yakinlah Allah ta’ala pasti menolong Anda. Pesan alfaqir. Anda harus tetap memelihara pikiran positif. Sehingga derita yang menimpa Anda, berubah menjadi roket peluncur, menuju keberhasilan dan kesuksesan Anda.

Sebesar dan seberat apa pun derita yang Anda alami. Semuanya terasa ringan, kecil, dan mudah. Apabila Anda memiliki “pisau bermata dua”. Yakni, mata satunya “takwa”. Adapun mata pisau yang lain, adalah “ihsan”. Yakinlah, orang yang beriman kepada Allah ta’ala dengan bulat lagi utuh tidak akan disentuh penderitaan dalam hidup ini. Jika hidup Anda masih berkelindan dengan derita. Tanyakan pada diri Anda. Sejauhmana iman Anda terhadap Tuhan yang Maha-esa. [ ]