Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Giring Nidji Siap Memberi Opini

Mas Giring - demikian orang-orang memanggilnya- melalui akun twitternya memberikan kabar baik kepada pimpinan redaksi majalah MAYAra bahwa dia siap memberi opini untuk majalah pesantren yang telah merambah berbagai belahan dunia ini.
Redaksi juga meminta ayah dari Zidane ini untuk memberikan komentar untuk cover majalah setelah sebelumnya ada beberapa tokoh internasional dan artis film yang memberi komentar. Semoga berkenan....

Ma'iyahkan Indonesia


"Perbedaan itu indah, bersama boleh beda."
Kebersamaan (ma’iyah) itulah sikap dan sekaligus perilaku yang harus menjadi habits baru buat Indonesia ke depan, baik sebagai bangsa maupun sebagai negara. Dan, tahun 1431 hijriah ini hendaknya menjadi awal dari perubahan tersebut. Sebab, hanya dengan kebersamaan, sebuah masyarakat –boleh dipahami sebagai umat atau rakyat—akan memiliki kekuatan jaringan sosial-budaya yang solid.
Ma`iyah adalah sifat kebersamaan. Sebuah penegasan, bahwa manusia diajak dan diteladani untuk memiliki kebersamaan dalam hidup di dunia yang singkat ini. Kebersamaan bukan berarti penyeragaman. Dalam penyeragaman tidak selalu yang diseragamkan itu dapat  bersama-sama. Karena manusia ditakdirkan oleh Allah ta’ala dengan segala keragaman yang dimiliki. Satu hal yang dikehendaki oleh Allah swt, sebagai Sang Penguasa kehidupan, manusia sebagai seorang hamba Allah, dia harus senantiasa “Meng-Allah-kan Allah” guna comitment and consistent (CC) dengan sikap mental dan perilaku “Menomor-satukan Allah”.
Sebaliknya, dalam ma’iyah (kebersamaan) terdapat kekuatan yang sinergi manakala dibangun dengan jejaring sosial-budaya dan agama. Artinya, manusia dalam bentuk yang bagaimana pun, atau yang bermodelkan apa pun, akan mampu bergaul dan hidup dengan suasana saling: memahami, memberi, dan melayani. Sebab, dalam sebuah kebersamaan (ma’iyah) perilaku yang kuat lagi menonjol secara sosio-anthropologis dan sosio-psikologis, adalah kuatnya dalam Berpikir Positif dan Memaafkan Orang lain.
Dapatlah dipahami pula, bahwa hidup manusia yang selalu berkomunitas ini harus benar-benar mampu menjadikan dirinya lebur dalam sebuah ma’iyah. Yaitu: Ma’iyatun billāh; Ma’iyatun fin-nās; dan Ma’iyatun ilal-‘ālam. Ketiga prinsip Trianggulasi Ma’iyah itu harus melebur dalam kehidupan bangsa Indonesia yang heterogen ini. Sehingga Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dapat berjalan tanpa harus terusik dengan kemodernan. Artinya, Indonesia yang modern ke depan tetap CC dengan Bhinneka Tunggal Ika tidak akan mengalami perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah. Sebaliknya, dengan ke-Bhinneka-an yang ada hal itu menjadi modal dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kehidupan yang serba modern. Semua itu terjadi karena masyarakat bangsa Indonesia CC dengan agamanya. Inilah sebuah konsep rahmatal lil alamin.
Ma’iyatun billāh. Kebersamaan seorang hamba dengan Allah. Ini sebuah potensi yang hebat lagi dahsyat, jika dikelola dengan baik dan benar. Seorang hamba secara terus-menerus senantiasa Berpikir Positif (husnudlan) dengan Allah ta’ala. Dan, ini jumbuh dengan firman Allah ta’ala, yang menyatakan bahwa Allah bersama hamba-Nya di mana pun. Sebagaimana dinyatakan dalam surat al-hadid ayat ke-4, “dan, Dia [Allah] bersama kalian di mana pun kalian berada; wa huwa ma’akum a’nama kuntum.”
Inilah sebuah Teologi Cinta yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-Allah-kan Allah.”
Ma’iyatun fin-nās. Kebersamaan dalam bermasyarakat. Sebuah potensi sosial-budaya dan agama yang hebat dan dahsyat, apabila dimenejemenkan dengan baik lagi benar. Di mana seorang manusia sebagai anggota masyarakat selalu Berpikir Positif (husnudlan) dengan sesama manusia (baca: orang lain). Dan, ini jumbuh dengan sabda Nabi saw, yang menyatakan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain; khairun nāsi anfa’uhum lin-nās.”
Inilah sebuah Teologi Perubahan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Me-manusia-kan manusia.”
Ma’iyatun ilal-‘ālam. Kebersamaan seorang hamba terhadap lingkungan. Seorang hamba yang menyatu dengan alam lingkungan di mana pun dia ditakdirkan hidup dan ada. Dia telah mampu dialog dengan lingkungannya. Sehingga lingkungannya pun “mau menerima”-nya.
Manusia yang merusak lingkungan. Dia pasti ditolak oleh lingkungan. Itu ditandai dengan lingkungan yang menjadikan manusia hidupnya tidak nyaman lagi aman.
Seorang hamba yang terus-menerus “dialog” dengan alam lingkungannya. Dia akan mampu melebur dengan alam lingkungannya. Ini yang alfaqir sebut dengan hablum minal-‘ālam (hubungan harmonis dengan alam lingkungan).
Inilah sebuah Teologi Lingkungan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-alam-kan alam.”
Indonesia adalah Indonesia. Indonesia bukan Arab, bukan pula AS. Indonesia di tahun 2010 masehi harus menjadi bangsa yang mampu membawa kehidupan rakyatnya menjadi lebih: mandiri, sehat, sejahtera, dan bahagia. Indonesia yang mampu menjadikan rakyatnya gemar: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM). Indonesia yang mengamalkan: Giving not taking; Producing not consuming; dan Working not talking (GPW).
Semua itu dapat berjalan manakala ma’iyah menjadi habits baru bangsa Indonesia. Saatnya sekarang ini Indonesia di-ma’iyah-kan. Dan, bagi jama’ah ma’iyah harus benar-benar mengamalkan segenap hal yang telah alfaqir tulis.
Kata kunci yang harus dipegang teguh, bahwa seorang manusia di kehidupan dunia akan selalu hidup bersama dengan komunitasnya. Inilah manhaj ma’iyah buat bangsa dan masyarakat Indonesia. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang memiliki kekuatan jejaring kebersamaan. Kebersamaan dalam arti “Bersama Boleh Beda” (3-B). [ ]

Redaksi

Penanggung Jawab: 
Ma’had TeeBee Indonesia (MTI)

Pimpinan Umum: Emmal Muhammad Pimpinan Redaksi:  Arif Khunaifi  Redaktur Utama: Muhammad Ben Kafa; Abdul Wachid B.S; Yusuf Ahmad; Mahsun Maftuhin. Sek. Redaksi/Humas: Ferry Fadly Staf Redaksi: Fathurrahman, Nurhadi Peliput: Semua shantri mukim,  Editor: Fillah Korektor :  Mrs. Amy, Cik Dausy Fotografer: Emmel Muhammad Sponsor Rubrik: Zaenal Abidin Keuangan: Abdillah Idrus Hasani  Ware House: Muhibbin Distribusi: Abu Hikam  Kor.Lap: Virman, Opick, Kalim, Lukman, Thoifur, Bin Muslih, Fahruddin, Hubaib, Sahlut, Rukun. Mr.Lap: Ma'in, Abd Azis, Yayan, Manteb, Imam Pos, Sadjam, Sueb, Riawan, Rodliyah. Lay Out & Setting: Syafiq & Halilintar  

KONTRIBUTOR: 

Muhammad Muhajir (Jakarta); Abdul Wahid BS (Jogjakarta); Arifin (Semarang); Nurwiyah (Manukwari); Imam Syafi’i (Kep.Natuna);  Muallif (Bandung); Helmy Bakri (Aceh); Albina (Sabang); Novario (Jakarta); Mahrus Abdullah (Kep.Seribu); Tri Karyaningsih (Magelang); Angga (Makassar); Nurbudianto (Jayapura); Abu Macel (Mataram).

LUAR NEGERI:

Anis Hambali (Makkah); Lokeman Hazli (Kuala Lumpur); Kate Skillman (Michighan); Yusuf Ariansyah (California);Kazuya Abe (Jepang); (Hisnindarsyah, Kedah).



Jaringan Dakwah

MAYAra Bisa Anda Dapatkan di:

AL-MARKAZ MAYAra (031-3727618); SURABAYA METROPOLIS: Ust.Ali (031-7669550); KH.Chusnul Arifin (031-8287882); SURABAYA SELATAN:  KH.M.Munawir (031-7884129/08563029224); SURABAYA BARAT: Abah Rukun (031-7499179); Mas Riawan (031-7521667); SURABAYA UTARA: Ust.Sueb (081553131487); SURABAYA TIMUR: Ust.Ibnu Qosim (081553378184); GRESIK: Bp.Fatkhur Rahman (031-7507466), Ibu Mamik  (031-3981815), Mas Zainuddin/Mbak Indah (031-3954877/081553199835); SIDOARJO: Ust.H.Maftuh Ihsan (031-8962686), H.A.Abdillah,(031-8687600,8687500,08123142200); LAMONGAN: Bp.M.Hubeb Abdullah (Jl.Kaliwungu Tumenggungan 39 Lamongan); MOJOKERTO: Mbak Wita (08121622821), Ust.Subhan (0321-7175415); PASURUAN: Mas Zainul (0343-443352/085648422153) Ibu Siti Fatimah (0343-7739853); MALANG: Mbak Fitri K/Mimin, Jl. Argopuro Gg. Kec. No 16 Rt. 03/ Rw. 08 Lawang-Malang, (65211); BOJONEGORO: Bu Nur (085655266563); TUBAN: Kampus BENZEN (Hp.085732543419), H.Muayyat, (0356-631025), Ust.Mawardi (0356-324451,323398, 081335723085); JOMBANG: Mas Rizki Iqbal (0815573439); NGANJUK: Bp.DR.KH.Kharisudin Aqib, M.Ag, (0358-792799, 081335465017), Ibu Nur Khadijah (SMK Nasional Jl.Diponegoro 72 Nganjuk);  NGAWI: Mbak Primitha Sesalina ( Jl. A. Yani Gg. Podong 40 Ngawi) MADIUN: Bp.Joko (08123400221), Bp.H.Kriswoto (0351-453504, 453518), PT.MPM (0351-493120,493121,493122);   BLITAR: Bu Isti Utami (081803844677); PONOROGO: Bp.Sangkrah Mujiono (0352311830); KEDIRI: Bp.Khoirul Huda (71376034/8985191), Hj.Ny.Mochtar, Jl.Pandan 6 Kediri; TULUNG AGUNG: Bp.Setiaji (081913004888); BANYUWANGI: Mbak Ika (08124976078); JEMBER: M.Syakir (0331-3444131), Miskum (0811351957); PAMEKASAN: Bp.Drs.H.Ghazali (08123545209); SUMENEP: KH.Zawawi (08164285291); REMBANG: Hj.Masjoedi (Bu lek Sus: 081326431856), Yayan Djunaidi (0852231873411), Bu Hidayatun (0295) 5692402; BLORA: Bp.Zainal Arifin (08886555963), H.Chamdan (0296-531676, 531677); YOGYAKARTA: H.Iskandar W (0274-388855); SOLO: Bp.Teguh Martono (08122815955); DENPASAR: Imam Basuki (081338351956) DEMAK:  Bp.Jasman. Bumirejo, Karang Anyar RT.02 No.5 PEMALANG: Ust.Subhan (081391720537); PURWOKERTO: Bp.Subagyo (08156982064); BANDUNG: Mas Wawan (022-6073405), Ibu Rima ( 08179217335), Bp.Prof. H. Ahmad Slamet (Jl.Dr. Setiabudi 229 Bandung); TANGERANG: Mbak Sri Utami (08158203941); BEKASI:  Mas Gawok (Taman Beverli Jl. Palem Hijau V-23 Lippo Cikarang-Bekasi, 0818517154); KARAWANG: Bp.Ery Erawan (0267-431533); SERANG; Bp.Muhtar (08180282125) DEPOK: Mbak Dwi Ina Safitri (28129328945);  JAKARTA PUSAT: DR.H.Mahally Qudsy (0811945991); JAKTIM: Mbak Triana Lukianti (0818391311); JAKSEL: Mas Ade Bagus Setiadi (08156443596) DR.KH.Manarul Hidayat: 021-7802436; Mas Nove Zein, Lab.Pramita Warung Buncit 150; KEP.NATUNA: Mas Imam Syafi’i (0811319674); PONTIANAK: Bp.Choirun (085252263086); BALIKPAPAN: Bp.Darmanto (081578744351) MAKASAR: Bp.Agus Yuniardi (0812300011158); SORONG: Ibu Hj.Eka Kardiningsih (08124886098); JAYAPURA: Mas Budi  (081344524270);  KALBAR: Sudarmawan (08565043587) MEDAN: Ibu dr. Etti Gatot (08788463580); BENGKULU: Ust.M.Aliyani (081367524624); PALEMBANG: Sultan Iskandar Mahmud (0811783355); ACEH: Mas Hilmy Bakri (085260609287); SABANG: Ustadz Albina (085277562669); KUPANG NTT: Bp.Yusriadi (0811383279); BALI: Mas Joko Waluyo, Taman Nasional Jembrana (+6236561060) MANOKWARI: Mbak Nurwiyah, Trikora Wosi 57 Manukwari; (081248484648); MAKKAH: (+966532855721); JEDDAH: (+966505691067); SINGAPURA: (65) 62966757, Fax. (65) 62960596; MATARAM: Gus Fairuz (081917304760); Kep.SERIBU (P.KELAPA): M. Mahrus (08159983101);

Kontak Kami

MAYAra adalah majalah keilmuan yang diterbitkan oleh PeNUS MTI al-ibadah al-islami atau yang populer disebut Ma’had TeeBee Indonesia (MTI). Untuk mendapatkan majalah ini cukup Anda mendaftar menjadi donatur. Ketik nama, alamat dan besar donasi kirim ke 085730084784. Majalah akan dikirim ke alamat. Dana donatur digunakan untuk biaya cetak sebanyak-banyaknya sesuai dengan uang yang masuk dan juga untuk biaya operasional, selebihnya untuk para fakir miskin dan dluafa’. Redaksi juga menerima tulisan para pembaca dan donatur, Insya Allah kami sediakan imbalan yang pantas. Silahkan kirim ke alamat Redaksi Majalah MAYAra; Jl. Tambak Raga, Tambak Bening II/ 18-20, Simokerto, Surabaya Pusat (60142). Wartawan yang bertugas dibekali kartu PERS resmi. Dilarang menerima imbalan dari narasumber. MAYAra tidak mengeluarkan proposal bantuan. Hati-hati dengan penipuan.


AL-MARKAZ MAJALAH MAYAra:

Jl. Tambak Bening II No. 18-20, Tambakrejo, Simokerto, Surabaya Pusat (60142)

Telp Al-MARKAZ:
 (031) 3710838 

FAX:
(031) 3727618 

KontakREDAKSI:
03181441481 (Ust. Arif Khunaifi)

SponsorRUBRIK:

08563335017 (Zaenal Abidin) 

Humas:
085732315053 (ferry)

Visi & Misi

VISI MAYAra


1.  Mentradisikan Ma’rifatul Qur’an, Ma’rifatus Sunnah, Ma’rifatus 
Shalah, dan Ma’rifatullah dalam hidup keseharian mulai bangun 
tidur hingga tidur kembali.

2.  Mentradisikan gemar membaca, menulis, meniliti, dan menguasai 
sejarah.

3.  Menjunjung tinggi “Indahnya Perbedaan”

4. Memberdayakan kaum mukmin melalui tradisi formalitas 
administratif syar’i, sains, skill, dan kompetensi sunnah nabawiah.

5. Membangun jaringan (network) dengan seluruh kaum muslimin 
melalui pembangunan Pusat Perpustakaan, Rumah Sakit, 
Laboratorium, dan antar unit-unit ekonomi kaum muslimin.

MISI MAYAra

Mengajak dan memberikan keteladanan kepada segenap umat manusia, khususnya kaum mukminin untuk mengapresiasi dan meyakini ke-Mahabesaran dan ke-Mahakuasaan Allah.

Tentang MAYAra

Majalah MAYAra adalah majalah keilmuan yang diterbitkan oleh Ma'hadul 'Ibadah al-Islami atau yang popular disebut Ma'had TeeBee Indonesia (MTI). Nama Ma'had TeeBee sendiri merupakan singkatan dari Tambak Bening dengan huruf "T" dan "B" yang diucapkan dalam ejaan bahasa Inggris (baca: tibi, red). Ma'had TeeBee Indonesia (MTI) berada di Jl. Tambak Bening II, No 18-20, Tambak Rejo, Simokerto, Surabaya Pusat (60142). Ma'had TeeBee Indonesia (MTI) menerbitkan berbagai media guna menunjang dakwah Islam. Seperti dengan menerbitkan Buletin al-Fath, yang hadir setiap Jum'at berisi kajian-kajian hadis yang mencerahkan. Begitu pula dengan menerbitkan Majalah Donasi MAYAra yang terbit setiap satu bulan sekali.
 MAYAra terbit pertamakali pada bulan Juli 2002, awalnya majalah ini untuk kalangan sendiri, akan tetapi seiring berjalannya waktu, MAYAra kini telah berubah menjadi majalah yang bisa diterima oleh semua pihak, termasuk kalangan non muslim sekaligus. Bahkan telah merambah ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Jepang dan juga Arab Saudi. Menurut Prof.Dr. Suparto Wijoyo guru besar Unair dan MTI, Keunikan dari Majalah MAYAra ini ada di cover dan isinya. Lebih jauh pakar hukum lingkungan hidup itu mengatakan bahwa, jarang ada majalah yang cover-nya berbau alam. Ini menandakan bahwa segenap elemen yang ada di MAYAra, masih ada kepedulian terhadap lingkungan hidup.
 Awal dari lahirnya Majalah MAYAra, bermula dari perenungan yang dilakukan oleh KH. Miftahul Luthfi Muhammad atau yang akrab disapa Abuya  Luthfi (Pelayan MTI yang juga pimpinan umum MAYAra), ketika beliau sering diundang ceramah di berbagai tempat, beliau berpikir bahwa jika berceramah yang mendengarkan sangat terbatas. Belum lagi rata-rata kemampuan mendengar manusia normal itu hanya sekitar 20 menit. Dari situlah kemudian beliau berpikir bagaimana caranya, supaya pesan dakwah yang disampaikan itu dapat bertahan dalam waktu yang lama, bahkan ketika materi dakwah itu diperlukan, bisa dibuka kembali.
 Akhirnya, setelah shalat istikharah beliau membulatkan tekad untuk membuat sebuah majalah. Majalah dengan sistem donasi. Sasarannya majalah ini dapat dibaca oleh semua orang tanpa pandang golongan. Tidak ada label harga dan harus dibuat dengan lux. Bagi kebanyakan orang mungkin mustahil hanya bermodalkan keyakinan kuat ingin berdakwah di jalan Allah, dan hanya bermodalkan 1 juta rupiah, Majalah MAYAra yang saat ini (April 2011) oplagnya mencapai 12.000 eksemplar lebih ini bisa terbit.
 Dengan pertolongan Allah, pada bulan Juli 2002 Majalah yang diberi nama MAYAra yang berarti tidak melihat ini akhirnya terbit juga, meskipun dengan tampilan sangat sederhana. Di edisi perdana tersebut, jumlah halamannya hanya 10 lembar termasuk cover. Dengan oplagnya 500 eksemplar dan masih sangat terbatas segmen pembacanya.
 Seiring berjalannya waktu, setelah melewati tahun-tahun pertama yang sulit, sampai sekarang (April 2011) Majalah MAYAra yang telah berusia 9 tahun ini, semakin menunjukkan eksistensinya sebagai media cetak yang berorientase di bidang  ilmu pengetahuan, baik diniah maupun umum. Hal ini dapat dilihat dari penambahan-penambahan Rubrik yang sebelumnya tidak ada, seperti Rubrik Sains dan al-Qur’an, Falsafah Keseharian, Jelajah, Sebaiknya Anda Tahu dan lain sebagainya. Majalah MAYAra selalu komitmen dan konsisten dengan niat awalnya yakni terbit untuk dibaca, tidak ada tendensi lain. Ini dibuktikan dengan pembagian majalah secara cuma-cuma ketika dalam forum pengajian, seminar atau pun ketika ada tamu yang datang ke Ma’had.
 Satu lagi yang membuat majalah ini dapat diterima di semua kalangan, adalah adanya Rubrik ASBAL. Rubrik yang di dalamnya berisi pengetahuan-pengetahuan tentang Sejarah, utamanya yang ada dalam al-Qur’an, Teknologi, Bahasa, Etika dan lain sebagainya yang diperuntukkan untuk anak-anak. Dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak salah jika ada orangtua yang tidak terlalu merespon keberadaan Majalah MAYAra, akhirnya harus membaca juga, sebab sang anak meminta supaya dibelikan Majalah ini.

Bangsa Maritim yang Kekurangan Kapal; Lucu!



Wakil Presiden Budiono pidato pada Hari Nusantara di Dumai, Riau, menegaskan bahwa laut adalah masa depan Indonesia. Semoga hal itu tidak menertawakan diri sendiri. Mengapa? Apabila sudah ditegaskan seoranwakil presiden. Berarti di lapangan benar-benar nyata ada upaya membangun matra laut ke dalam bentuk pengembangan dan pemberdayaan yang lebih strategis. Mana buktinya?!
Wong kecelakaan laut saja di mana-mana. Memang itu takdirNYA. Tetapi kan juga ada takdir ikhtiar, agar angka kecelakaan laut dapat ditekan serendah-rendahnya.
Coba, mana ada pelabuhan laut yang bagus. Jangan bilang ideal lah. Wong yang bagus saja tidak ada.
Jika pidato itu sungguh-sungguh. Sudah saatnya Angkatan Laut RI itu diperbaharui armadanya. Jika beli jangan yang bekas-bekas melulu. Bisa menjadi bahan ketawaan putra alfaqir yang umurnya 8 tahun. Ketika bertamasya bersama “eyang google”. Apa katanya, “Kok kapal selam negara kita cuma tiga. Butut lagi?”
Semakin jelas bahwa arah pembangunan pemerintah sekarang. Yang katanya era reformasi. Semakin tidak jelas. Tidak reformasi yang terjadi. Justru yang ada di lapangan dan di kehidupan masyarakat adalah “repot di sana-sini”.
Wilayah perairan laut yang seharusnya menjadi sarana strategis kehidupan bangsa. Tidak dijaga dan diberdayakan secara optimal.
Akibatnya, perairan laut “terkapling” di dalam berbagai kepentingan. Yang ujung-ujungnya untuk memenuhi nafsu syahwat kapitalisme. Apakah itu kapitalisme pengusaha. Apakah kapitalisme parpol. Atau, apakah kapitalisme yang secara sengaja hendak menghancurkan bangsa Indonesia dengan pelan-pelan. Di mana ditandai dengan terjadinya korporatokrasi internasional yang sejak lama mencengkeram kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia. Yang anehnya tidak ada keinginan yang kuat untuk melepaskannya.
Siapa pun tahu. Bangsa Indonesia merupakan bangsa maritim terbesar di dunia. Hampir ¾ luas Indonesia adalah perairan laut. Dapat dibayangkan betapa sangat kecilnya luas total daratan bangsa kita. Tetapi, mengapa yang digembar-gemborkan selalu pembangunan pertanian. Memang itu tidak salah. Namun tidak riil. Tidak strategis.
Sampai-sampai presiden sibuk menggagas pembangun jembatan di sana-sini. Guna menyambung pulau-pulau, seperti Madura-Jawa, dan Jawa-Sumatera, atau mungkin Jawa-Bali?
Mengapa tidak sibuk membangun pelabuhan sebanyak-banyaknya, dan membuat kapal sebagus-bagusnya. Harus diingat dong jumlah penduduk kita itu banyak. Jadi, kebijakan dan pembangunan juga harus berwawasan kerakyatan. Melibatkan rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat. Jangan dibalik. Banyak pembangunan buat memperbanyak duit. Yang kemudian duitnya dinikmati oleh segelintir pejabat, wakil rakyat, dan parpol tertentu.
Mana mungkin korupsi dapat diberantas. Wong otaknya sudah sebagian besar rusak semua begitu. Maka, tidak ada jalan keluar yang jitu, kecuali memahamkan kembali Pancasila ke dalam kehidupan rakyat Indonesia. Dengan membukakan kesadaran puncak kepada orang-orang yang duduk sebagai: eksekutif, legeslatif, dan yudikatif. Bahwa, bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang saat ini dirundung virus kangker yang namanya kesombongan.
Apabila mereka yang diamanahi rakyat masih tetap sombong. Maka, yang terjadi adalah keingkaran mereka di dalam melibatkan Tuhan di setiap kehidupan rakyat dan negara. Padahal sila ke-1 di dalam Pancasila jelas bunyinya, “Ke-Tuhan-an YME”. Tidak berbunyi “keuangan yang mahakuasa”.
Sangat lucu jika bangsa maritim kok sampai tidak punya kapal selam, misalnya. tiga saja sudah butut. Bagaimana untuk menjelajah segenap perairan laut yang demikian luas, dengan berbagai kedalaman yang berbeda-beda.
Apabila wakil presiden di dalam pidatonya tersebut dikeluarkan dari hati kecilnya. Maka, sebelum jabatan dia berakhir bangsa ini sudah memiliki segenap kapal yang menjadi kebutuhan mendesak bangsa maritim.
Coba perhatikan berapa besar duit rakyat yang digunakan main-main di dalam politik mereka yang tidak punya hati nurani itu. Coba kalau digunakan untuk membeli kapal, apakah itu buat armada militer, memperkuat PELNI atau memperbanyak armada ferry penyeberangan. Subhanallah. Luar biasa indahnya bangsa maritim ini.
Sadar atau tidak. Sudah banyak dari mereka yang berkuasa sudah tidak lagi memiliki kepekaan di dalam membangun bangsanya. Sehingga tidak tahu dengan detail dan benar apa-apa yang menjadi kepentingan rakyat. Sehingga kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan rakyat tidak pernah didahulukan. Tidak seperti dikala mereka para politisi itu mengobral janji dan manis mulut saat ada maunya. Seperti, ketika mau pemilu, pilkada, pilbub, dan pilpres.
Sangat mendesak sifatnya, bangsa ini membutuhkan semua sarana yang berkaitan dengan laut. Dan, yang tidak kalah pentingnya, lembaga-lembaga pendidikan yang berkaitan dengan laut dan kelautan harus cepat dimodernkan dan diprofesionalkan. Biar lucunya tidak bertambah-tambah [ ]

KARUNIA SESUAI KESIAPAN HATI


وُرُوْدُ اْلإِمْدَادِ بِحَسَبِ اْلإِسْتِعْدَادِ
“Datangnya karunia Allah kepada seorang hamba sesuai dengan kesiapannya.
(Syaikh Ibnu ‘Atha’illah al-Assakandari ra, Syarhul Hikam hal. 87 baris ke-21)



Merupakan sunnatullah bahwa keberadaan sesuatu pada tempat yang selayaknya. Lebah pasti mudah kita dapati di putik-putik bunga. Sementara lalat pasti berada di tempat-tempat yang kotor dan berbau. Tidaklah mungkin lalat menyukai tempat yang berbau harum, demikian pula lebah tidak akan tertarik dengan tempat yang berbau tidak sedap.
Hati manusia sebenarnya adalah tempat yang ideal untuk menerima berbagai karunia Allah. Selama hati tersebut dijaga dan disiapkan dengan baik dan benar. Yakni dijaga keharumannya dan dibersihkan dari berbagai perkara yang mengotorinya. Sebelum Muhammad saw diangkat sebagai Rasul, dada beliau mengalami pembedahan tiga kali. Puncaknya ialah saat beliau hendak di-Isra’-mi’rajkan. Semua itu adalah bentuk penyiapan agar beliau layak menerima berbagai karunia yang istimewa.
Dari sini dapat dipahami bahwa  anugerah Allah hanya akan diberikan kepada orang yang mempersiapkan hatinya. Semakin bersih nan bening hati seorang insan (sebab wirid yang dijalankannya), semakin mengucur pulalah berbagai karunia dan anugerah Allah (waridullah) kepadanya. Karenanya ke-muwadhabah-an wirid merupakan hal yang diinginkan jika seorang hamba mengharapkan waridullah yang berkesinambungan.
Sebaliknya jika seorang hamba lebih cenderung mengikuti hawa nafsu dan enggan menjalankan kewajiban, maka hatinya akan menjadi kotor. Sedang hati yang kotor secara otomatis akan mengundang berbagai perkara yang tidak baik, persis seperti bau kotoran mengundang kedatangan lalat. Akhirnya kebaikan sesempura apapun dengan sendirinya juga akan menjauh darinya.  Karena itulah tatkala Imam Malik merasa ta’jub terhadap kecerdasan dan kemampuan pemahaman Imam Syafi’i yang luar biasa, ia berkata: “Sungguh aku tahu bahwa Allah telah mengkaruniakan cahaya di hatimu. Karenanya jangan sampai engkau padamkan cahaya itu dengan kemaksiatan”. Dalam bait syair Imam Syafi’i bertutur:
Ku mengadu pada Syekh Waki’ akan buruknya hapalan
 Ia menunjuki diri ini agar meninggalkan kemaksiatan
Beliau pun bertutur: Ingatlah ilmu adalah cahaya Ilahi
Pelaku maksiat tak mungkin diberi
Wallahu A’lam.

Arti Huruf Ain, Simbol Ma'had TeeBee Indonesia




Awalnya alfaqir hanya mengajar membaca al-qur’an. Tepatnya di Kapas Madya. Mereka yang belajar sudah berumur yakni bapak-bapak yang tinggalnya tidak jauh dari kontrakan alfaqir. Pelopornya Pak Suparmin asal Nganjuk. Tepatnya akhir tahun 1995.
Lalu, berkembang menjadi Kajian Tafsir al-Qur’an. Satu dua ayat yang dikaji daripada cangkrukan ngalor-ngidul tidak ada yang dibahas.
Sesuai istikharah alfaqir akhirnya ditetapkan Kitab Tafsir al-Ibriz sebagai rujukan. Kitab itu karya Allahuyarham Syaikh Bisri Musthofa r.hu. Saat itu jamaah berkembang hingga keluar Kapas Madya. Utamanya, jamaah yang datang dari kampung Tambak Bening yang dipelopori oleh Pakde Kun (Kuncahyo Subianto, red). Yang kemudian berganti nama saat haji menjadi Musthofa Ahmad. Demikian nama indah itu hadiah dari alfaqir.
Hingga takdir menetapkan tanggal 10 Nopember 1996 alfaqir pindah kontrakan ke Tambak Bening II/20. Kajian rutin tafsir al-qur’an terus berjalan setiap hari Selasa pukul 20.00-21.30 wibb. Jamaah yang hadir terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Metode kajiannya sesuai dengan turunnya ayat. Tidak mengikuti surat demi surat yang ada di mus-haf. Sebab, alfaqir ber-azzam melakukan tranformasi kepada murid atau jamaah hal-hal yang terdapat di dalam al-qur’an. Mulai dari: mukjizat; mufrodat; asbabun nuzul; doa-doa; hadis-hadis pendukung; sejarah; ilmu jiwa; ilmu kemasyarakatan; ilmu administrasi; ilmu politik; sains & teknologi; kesehatan lingkungan; yang pembahasannya diselaraskan antara tekstual dengan kontekstual.

Healing Hailalah
Secara pribadi alfaqir memiliki kebiasaan dzikir pada Hari Jum’at sore. Yakni, setelah selesai sholat ashar. Biasa alfaqir menyebutnya “Hailalah Kubro”. Mengapa disebut kubro yang berarti banyak. Sebab, mengulang-ulang lafadz “lā ilāha illa-llāh” sebanyak-banyaknya sampai tenggelamnya matahari. Akhirnya, peminatnya cukup banyak hingga benar-benar diamalkan secara pribadi oleh mereka yang mencintai dzikrullah dan wirdullah. Kemudian, Hari Jum’at sore dijadikan hari silaturahmi di antara pelaku hailalah tersebut.
Hingga suatu waktu Allah ta’ala menakdirkan saat Hailalah di Bulan Ramadlan. Tahunnya lupa. Alfaqir dibisiki, “Keluarlah lihat langit di atasmu.” Alfaqir juga tidak tahu siapa yang berbisik itu, wa-llahu a’lam.
Sontak segenap jamaah yang hadir menjadi bertanya-tanya. Ada apa alfaqir mendadak keluar meninggalkan majelis? Namun majelis terus berjalan hingga rampung. Alfaqir melihat lama sekali huruf ‘ain warna kuning yang ada di langit. Dalam hati bertanya-tanya, “Kok lama sekali.”
Akhirnya mereka menjadi paham setelah mereka alfaqir ajak keluar untuk melihat ke langit di atas rumah kontrakan nomer 20. Tepatnya arah tenggara. Dengan jelas di langit itu terdapat huruf ‘ain warna kuning besar sekali. Dan, huruf ‘ain itu hampir 15 menit tidak menghilang. Sehingga jamaah yang hadir sekitar 30 orang dapat melihat semua.
Sayang saat itu kami belum ditakdirkan memiliki kamera atau handphone yang ada kameranya. Sehingga tidak dapat mengabadikan peristiwa yang sangat penting bagi perjalanan PeNUS MTI. Akan tetapi saksi mata yang masih hidup banyak. Terutama Pakde Kun dan Man Basyik (H.Abdurrozaq Wasi’ Ahmad, red).
Munculnya huruf ‘ain di langit akhirnya terus berlanjut. Antara tahun 1996-1997 berkali-kali muncul. Alfaqir sendiri menjumpainya empat kali. Belum jamaah yang lain ada juga yang menyaksikan hal itu. Takdir Allah ta’ala selalu menghadirkan huruf ‘ain berada di atas rumah kontrakan nomor 20 tersebut.
Bagaimana pun alfaqir tetap berpendapat bahwa prkatek tasawuf adalah urusan pribadi, bukan masuk pada wilayah publik. Itulah sebabnya, supaya praktek dzikir hailalah kubro tidak ekslusif. Maka, alfaqir menyebutnya “Hailing Hailalah” sehingga siapa pun dari saudara muslim-muslimah yang berkecenderungan dapat bergabung. Alfaqir tekankan pada aspek terapisnya. Yakni, bahwa di dalam lafadz: istighfar; shalawat Nabi; dan hailalah terdapat energi yang dapat menyembuhkan penyakit. Khususnya, penyakit jiwa.
Jadi, sifatnya sangat fluktuatif. Terkesan keluar-masuk jamaah yang mengikutinya. Tidak seperti umumnya pada thariqah-thariqah sufiah. Benar-benar yang alfaqir tekankan pada aspek terapi ruhaninya dibandingkan praktek tasawufnya.
Bagi yang secara khusus mendalami ilmu sekaligus laku tasawuf. Setelah istikharah alfaqir ajarkan “Ilmu Laku Hikam” dengan mereferensi pada dua buku alfaqir: Qolban Saliman; Syarah Hikam Syaikh Ibnu Atha’illah dan Jam’ul Hikam; Syarah Hikam Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. Dan, ada satu buku yang alfaqir tulis yang berjudul “Tashawwuf Implementatif” (persediaan habis belum cetak ulang, red). Semua itu membutuhkan akselerasi waktu yang cukup lama, agar jamaah dan shantri tidak mengalami kegoncangan kejiwaan dan intelektualnya.

Huruf ‘Ain
Setelah alfaqir istikharah, kemudian alfaqir tetapkan “Huruf ‘Ain” menjadi simbol “Majelis Cangkrukan” yang sering kami lakukan di Tambak Bening II/20 setiap Hari Selasa dan Hari Jum’at. Kami cetak stiker dengan dasar kuning. Huruf ‘ain berwarna hitam. Dengan tulisan melingkari huruf ‘ain “Jama’ah Iso Rumongso”.
Kemudian, kami mencetak stiker huruf ‘ain dengan sedikit perubahan, yakni tulisan yang melingkari huruf ‘ain ada dua model. Pertama, bertuliskan “Ma’had TeeBee Indonesia”. Dan, kedua, “Ma’hadul Ibadah al-Islami Surabawiyyi Indunisiy”. Selain itu tidak dibenarkan dan tidak sah kecuali telah mendapatkan ijin dari alfaqir sebagai pemilik HAKI huruf ‘ain yang sah di negeri ini.
Mulai saat itu stiker ‘ain menempel pada sepeda motor atau mobil yang berada di Kota Surabaya dan sekitarnya. Kemudian, muncul julukan “Jamaah ‘Ain”.
Penyebaran huruf ‘ain semakin menasional ketika alfaqir menerbitkan: Lembar Jum’at ALFATH; Majalah MAYAra; dan buku-buku yang sudah alfaqir luncurkan di tengah masyarakat Indonesia. Ditambah lagi dengan kehadiran blog, facebook, dan twitter.
                Huruf ‘ain tidak mewakili kelompok atau pun aliran. Huruf ‘ain lebih merupakan simbol biasa yang ber-azzam hendak mengamalkan segenap perintah dan larangan Allah ta’ala. Seperti telah menjadi ketetapan alfaqir, bahwa PeNUS MTI tidak bakal menjadi ormas agama, atau ormas apa pun, apalagi menjadi partai politik. Tidak!!!
                Segenap shantri dan jama’ah PeNUS MTI hendaknya CC dengan: al-Qur’an; al-Hadis; dan al-‘Ilmu. Prinsipnya, segenap shantri dan jama’ah PeNUS MTI dengan penuh sabar dan syukur, dan terus memohon pertolonganNYA mampu dan mau mengamalkan: Hablum minallāh (mengejawantahkan aspek teologis); Hablum minan-nās (mengejawantahkan aspek humanis); dan Hablum minal-‘alam (mengejawantahkan aspek ekologis). Yang secara strategis dipraktekkan dengan segenap laku amal: Tauhidullāh; Taqwallāh; Tawakkal ‘ala-llāh; dan Ikhlāsun niāt. Atau, dalam istilah alfaqir “Segitiga kekuatan”: Menomor-satukan Allah; Jujur; dan Ikhlas.
                Yang perlu diketahui di PeNUS MTI tidak ada alumni, kecuali dia mengundurkan diri, atau “pergi tanpa pamit”; maka sampai mati pun tetap tergabung dan tercatat ke dalam “Persaudaraan Tanpa Tepi PeNUS MTI”. Sehingga kami yang hidup pun mendoakan mereka semua yang telah mendahului kita.
                Karenanya, di dalam PeNUS MTI tidak ada istilah shantri lawas-baru atau jama’ah lawas-baru. Itu tidak penting. Yang terpenting mereka CC dengan dasar-dasar perjuangan dan nilai-nilai yang dijunjung oleh PeNUS MTI. Yakni, Qur’an; Hadis; dan Ilmu. Yang ditunjang oleh rekayasa teknologi dengan menguasai saintek.
Oleh sebab itu PeNUS MTI memberikan ruang gerak dan kreasi kepada segenap shantri dan jama’ah untuk berdikari dan berinovasi; dengan banyak melakukan latihan-latihan, diklat-diklat, outbond, enterprenuership, leadership, dan kepenulisan. Mengenai hikmah di balik huruf ‘ain alfaqir menerbitkan buku “Pesona Huruf ‘Ain; Menyingkap Tabir Hati” (belum dicetak untuk publik masih koleksi pribadi, red). [ ]

Pengendalian Diri: Pokok Kebaikan Meraih Sukses

“Langkah demi langkah meraih sukses harus disertai pengendalian diri yang kuat. Banyak orang gagal meraih sukses, sebab tidak mampu mengendalikan diri. Tinggal satu langkah sukses diraih namun gagal mengendalikan diri. Tergoda memilih langkah lain, sehingga meninggalkan langkah demi langkah yang sudah dirintis sejak awal. [Step by step to achieve success must be accompanied by strong self-control. Many people fail to achieve success, because not able to control themselves. Staying one step achieved success but failed to self-control. Tempted to choose another step, thus leaving a step by step that has been pioneered since the early]”  
_____Omda Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Ali al-Ya`quby al-Mutawakkily





Pengendalian Diri adalah padanan kata sabar. Orang yang mampu mengendalikan diri. Siapa pun dia. Niscaya mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan. Pengendalian Diri merupakan “panglima” kehidupan para manusia sukses. Apakah sukses di dunia maupun sukses di akhirat. Kemampuan dan potensi yang besar sekalipun tidak mampu menjadikan orang itu sukses, jikalau orang itu tidak memiliki sikap mental Pengendalian Diri yang kuat.
Karakteristik Pengendalian Diri adalah: Cinta pekerjaan; Bekerja keras; Berdoa; dan Yakin sukses.
Di kehidupan ini tidak ada yang tahu mengenai masa depan masing-masing. Perubahan demi perubahan yang terjadi hanya Tuhan YME yang Mahamengetahui. Akan tetapi setiap manusia dikaruniakan mempunyai “Langkah Demi Langkah”, guna menapaki perubahan itu hingga meraih sukses, baik sukses di dunia, utamanya sukses di akhiratnya.
Rugi sekali apabila Anda termasuk orang yang tidak memiliki sikap mental Pengendalian Diri. Sebab, apa pun yang Anda miliki menjadi tidak bermanfaat untuk mengubah diri Anda meraih karuniaNYA yang berupa kesuksesan di dua kehidupan.
Anda menjadi orang hebat dan luar biasa. Apabila mulai saat ini menetapi sikap mental Pengendalian Diri. Semata menuntun “Langkah Demi Langkah” guna “Meraih Sukses” yang sebenarnya.

Cinta Pekerjaan
Jika Anda termasuk orang yang mencintai pekerjaan Anda. Anda harus diberikan ucapan selamat. Sebab, Anda mengerjakan pekerjaan dengan enjoy. Cinta Anda terhadap pekerjaan menjadikan Anda rela berpeluh keringat dan bersusah-payah. Dikarenakan, Anda sangat menikmati apa-apa yang Anda kerjakan.
Sebab, cinta. Anda tidak lagi menargetkan sesuatu. Tetapi, karena cinta. Anda berkobar semangat karena menikmatinya. Langkah demi langkah Anda benar-benar mengalir tiada henti. Hingga akhirnya Anda berhak mendapatkan apa-apa yang sudah dicita-citakan mulai awal.
Dengan mencintai pekerjaan Anda. Anda memiliki sikap mental Pengendalian Diri. Tidak takut gagal. Juga, tidak pongah ketika telah mendapatkan yang sejak lama diimpikan. Sadar benar. Bahwa, segala sesuatu yang terjadi merupakan buah dari setiap jerih-payah dan perjuangan, yang dilandasi dengan keyakinan untuk sukses.
Untuk itu, pahami diri Anda sendiri dengan baik dan benar. Siapa sebenarnya diri Anda? Maka, Anda niscaya mampu mencintai pekerjaan Anda. Tanpa cinta. Siapa pun orangnya. Dia hidup dan beraktivitas seperti robot.
Ingat, Tuhan YME tidak pernah menciptakan manusia dalam duplikasi-duplikasi. Karenanya, setiap manusia harus menjadi diri sendiri (be yourself). “Siapa yang mengenal dirinya, niscaya mengenal Tuhan-nya. Siapa yang mengenal Tuhan-nya, niscaya mencintai pekerjaan yang dilakukan; who knows himself surely knows his Rabb. Who knows Rabb surely loves the job done”.

Bekerja Keras
Hanya manusia pengikut hawa nafsu yang tidak mau bekerja keras. Bekerja keras dalam semua aktivitas. Bekerja keras harus menjadi tradisi. Bekerja keras adalah milik setiap insan tanpa terkecuali. Sebab, orang yang suka bekerja keras dicintai Tuhan. Orang malas dibenci Tuhan. Orang malas adalah penghamba hawa nafsu bukan penghamba Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan dengan keras mengecam orang yang putus asa sebagai pengikut setan dan dia pengingkar Tuhan.
Orang yang memiliki sikap mental Pengendalian Diri. Niscaya komitmen lagi konsisten dengan bekerja keras. Apabila Anda sudah mempunyai sikap mental Pengendalian Diri yang kuat. Maka, Anda pasti komitmen lagi konsisten dengan bekerja keras. Apabila Anda masih bermalas-malasan. Menunggu jatuhnya durian dari langit. Berarti Anda tidak memiliki sikap mental Pengendalian Diri yang kuat.
Pengendalian Diri adalah sikap mental. Ia bersifat empiris, tidak normatif. Anda mesti menjalankannya, tidak sekadar mengakui bahwa Pengendalian Diri itu bagus. Tidak dibutuhkan wacana lagi. Sebaliknya, Pengendalian Diri harus dilaku-amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi tradisi kemanusiaan yang hakiki.
Apabila Anda “belajar berkepribadian baik” (learn a good personality) kepada para utusanNYA dan para nabiNYA. Tidak ada satu pun dari beliau yang tidak suka bekerja keras. Semuanya suka bekerja keras. Semuanya memiliki sikap mental Pengendalian Diri yang kuat. Mereka semua berhasil mengemban amanah dariNYA.
Setelah membaca buku ini. Niatkan dengan sebulat mungkin. Miliki tekad yang kuat dan seteguh mungkin. Maka, tidak lama lagi Anda diakruniai kesuksesan olehNYA. Sebab, kesuksesan selalu berpihak pada para hambaNYA yang suka bekerja keras.
                         
Berdoa
Berdoa kepada Tuhan YME adalah wujud tatakrama seorang hamba dengan penciptanya. Tuhan menyukai orang-orang yang memiliki tatakrama denganNYA. Meski Tuhan tidak menutup rahmatNYA buat orang-orang yang mengingkariNYA. Demikian tata pola dan tata kelola kehidupan di dunia. Secara merata Tuhan memberikan rahmatNYA. Ini ketetapanNYA. Laksana matahari. Dia menyinari siapa saja dan setiap apa saja yang bersedia menyerap dan menerima sinarnya.
Manusia yang beradab. Manusia yang memiliki tatakrama. Manusia yang berporos di kehidupan dunia ini dengan budi pekerti. Dia menjadi manusia yang santun. Manusia yang berhati lembut. Manusia yang memandang apa pun dengan energi cinta.
Berdoa kepada Tuhan. Setelah bekerja keras. Wujud berlabuhnya kerinduan. Yakni, rindu untuk menjadi manusia yang baik lagi benar. Manusia yang mempunyai poros cinta dengan penciptanya. Sebab, dia yakin bahwa segala sesuatu sudah jadi dalam ketetapanNYA.
Ini pula yang membedakan antara orang yang mengimani kejadiannya, bahwa ia diciptakan olehNYA. Dengan orang yang mengingkari kejadiannya, sebab ia berkesimpulan bahwa keberadaan dirinya merupakan wujud nalar alamiah dari sebuah eksistensi.

Yakin Sukses
          Keberadaan sebuah keyakinan menjadi sangat penting dalam hidup setiap manusia. Termasuk Anda. Orang yang tidak mempunyai keyakinan dalam hidupnya. Seperti buih di lautan yang mudah sekali terhempas dan hanyut ke sana kemari oleh arus dan gelombang air laut.
          Sikap mental yakin memegang peran sangat penting guna mendorong lahirnya kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Sikap mental hari ini adalah penentu masa depan seseorang. Keyakinan seseorang hari ini merupakan gambaran yang dapat dinikmati di masa yang akan datang. Bahkan, siapa yang menanam hari ini pasti memanen di masa mendatang. Tanaman yang baik hari ini niscaya membuahkan hasil yang baik pula di kemudian hari. Input yang baik niscaya melahirkan out put yang baik pula.
          “Hari ini adalah ladang masa depan. Dunia merupakan ladang akhirat; today is the future of farming. The world is  farming the hereafter”. Betapa kuat pengaruh keyakinan seseorang di dalam mengantar dirinya menjadi yang terbaik bagi dirinya. Ingat, setiap manusia fitrahnya menjadi dirinya sendiri. Maka, setiap manusia berkewajiban secara asasi bekerja keras guna menjadi dirinya sendiri. Sungguh sebuah kerugian yang mendasar, apabila ada orang yang berjuang dan berkeja keras untuk meniru orang lain.
          Dengan keyakinan yang kuat. Secara tidak langsung manusia telah diajari oleh Tuhan untuk melakukan lompatan-lompatan sejarah. Sehingga tidak terjadi pengulangan kesalahan dalam sejarah. Tidaklah menjadi manusia yang sukses, jikalau orang itu sering mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama dalam dua kali, apalagi mengulanginya yang sama berkali-kali. Sungguh bodoh orang tersebut.
          Orang yang yakin sukses. Tidak mau mengulangi setiap kesalahan yang pernah dilakukan. Dia pasti meninggalkan dan menarik diri dari kesalahan tersebut. Lalu, mengubah langkah demi langkah menuju penyelamatan yang menyejahterakan. Sehingga dirinya benar-benar bahagia. Sebab, dia yakin benar bahwa apa-apa yang ditanam hari ini niscaya dipetiknya kembali di masa-masa mendatang; apabila dia dianugerahi umur yang panjang. Setidaknya, dia juga yakin benar, bahwa apa-apa yang ditanamnya di dunia pasti dipetiknya kelak di kehidupan akherat.
Itulah sebabnya, ia yakin untuk selalu berbuat yang terbaik. Tidak yakin dengan sesuatu yang buruk lagi salah. Karenanya, ia CC dengan sikap mental Pengendalian Diri.
         
Renungan
·        Pengendalian Diri menjadikan seseorang hidup lebih bergairah.
·        Sikap mental Pengendalian Diri ditandai dengan kebiasaan: bekerja keras dan yakin bahwa yang dikerjakan menuai hasil.
·        Hari ini masa depan seseorang. Akhirat adalah masa depan yang hakiki dalam kehidupan.
·        Barangsiapa menanam niscaya mengetam.
·        Pengendalian Diri adalah panglima kehidupan sehingga manusia suspen dalam menjalaninya. Manusia yang suspen niscaya mampu meraih sukses. [ ]

Sereden


Melakukan perbuatan sesuatu bila dilaksanakan dengan tergesa-gesa dan tidak serius dalam menjalankanya, tentu akan berakibat tidak enak bahkan fatal. Walau terkadang perbuatan tersebut sangat enak dan mendesak untuk dilakukan sekalipun. Inilah yang dimaksud dengan sereden, yaitu nyantolnya makanan yang ditelan pada tenggorokan atau tersendatnya makanan di kerongkongan. Sereden ini bila tidak segera mendapatkan pertolongan yang berupa glontoran air, tentu akan manjadikan orang yang sereden tersebut bisa sesak nafas dan pendelikan, bahkan lebih jauh akan berakibat pada kematian. Penyebab sereden ini bisa pada factor jenis makanan, belum siapnya tenggorokan dibuat nelan jenis makanan, dilakukan dengan sendau gurau alias tidak serius dalam makan, dan kurangnya cairan dalam makanan. Memang sereden kelihatan sangat mudah penanggulanganya, cukup digelontor air minum, maka selesai sudah. Namun factor kecepatan dan kesegeraan penanganan inilah yang semestinya lebih penting, agar tidak berakibat lebih parah.
     Mungkin inilah yang dialami oleh bangsa tercinta ini, dimana banyak kalangan mulai dari rakyat sampai aparat, sereden berjama’ah. Bagaimana tidak, reformasi yang telah berjalan di negeri ini seakan nyantol atau tersendat sebatas tenggorokan ibu pertiwi. Penindakan koruptor serta prilaku korupsi malah tumbuh merajalela, mulai pengentitan raskin dari oknum pengurus RT sampai penyalah gunaan jabatan partai untuk minta jatah pada proyek-proyek Negara. Belum lagi pungli, hampir disetiap lini birokrasi masih saja berlangsung dan bahkan tumbuh subur ditiap-tiap penyelenggaraan lembaga Negara. Jargon dan semboyan reformasi masih sebatas enak didengar namun tidak enak untuk dilakukan. Artinya bahwa, bangsa ini ternyata masih belum siap untuk menelan makanan yang berbentuk reformasi. Sehingga yang terjadi, bukanya malah bertambah baik Negara ini, namun malah semakin saling mencari kesempatan untuk mengeruk kekayaan demi kepentingan pribadi dan kelompok. Kesempatan demi kesempatan seakan tidak mau dilepaskan begitu saja oleh para  pelaku pencari kesemptan untuk memanfaatkan pihak lain. Hal ini sama halnya dengan tenggorokan bayi dikasih makan salak sepet, tentu sang bayi akan sereden dan pendelikan sesak nafas. Belum siapnya komponen tenggorokan bangs inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa makanan reformasi tersendat.
     Selain sebab belum siapnya tenggorokan bangsa ini, ternyata makanan yang berupa reformasi perlu butuh air untuk menggelontornya agar lancer sampai masuk ke dalam perut ibu pertiwi. Gelontoran air semangat aparat birokrat dan penegak hukumlah yang seharusnya menjadi pelancar reformasi agar tidak tersendat lagi. Namun ternyata air yang dipakai gelontorpun mengandung lumpur Lapindo, sehingga bukanya menjadi lancar tapi malah pendelikan dengan bersitegang antara aparat dengan rakyat. Saling hantam dan pukul sudah menjadi pemandangan sehari-hari setiap terjadi aksi unjuk rasa, yang konyol lagi hal ini sudah dianggap biasa dan wajar. Sehingga kalau ada demonstrasi kok tidak ada saling pukulnya, maka dianggap kurang afdhol.
     Belum lagi ditambahi dengan kurang sabarnya masyarakat dalam menerima sesuatu, baik program atau tindakan aparat birokrasi. Bertindak ceroboh dan terburu-buru dalam menelan makanan reformasi agar cepat masuk dan bisa mengenyangkan perut ibu pertiwi. Walau reformasi itu dianggap sebuah makanan lezat sekalipun, namun kalau cara makan dan nelanya tergesa-gesa, maka yang terjadi bukanya masuk ke dalam perut, tapi malah nyantol di tenggorokan. Proses pengunyahan dan pelumatan sintem reformasi belum difahami dengan baik dan benar oleh komponen bangsa ini, maka seredenlah dampak yang ditimbulkanya. Satu sisi pihak pejabat birokrat ingin menikmati hasil kampanye lima tahunan, sedang sisi yang lain, masyarakat ingin segera mendapatkan hasil perubahan dari keterpurukan selama ini.
     Selain factor makanan dan kesiapan komponen bangsa, ada lagi waktu yang sangat mendadak juga bisa menjadi sebab seredenya reformasi ini. Bangsa ini sudah tidur selama kepemimpinan orba, sehingga baru bangun dari tidur dengan kesadaran belum pulih betul sudah dicekoki sarapan berupa reformasi. Makanan senikmat reformasi akhirnya hanya menjadi sebuah makanan yang bikin bangsa ini pendelikan dan pecicilan sebab kesulitan bernafas. Semoga sereden bangsa ini tidak terlalu lama lagi, sehingga bias bernafas dengan lega serta kenyang dengan makanan yang berupa reformasi tersebut.