Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Bukti Adanya Allah


Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil [dengan menunjukkan bukti adanya Allah dengan adanya alam] dan orang yang berdalil [adanya alam menjadi bukti adanya Allah]. Orang yang berdalil dengan menunjukkan bukti adanya Allah adanya alam. Dia mengerti kebenaran untuk pemiliknya. Maka, menetapkan perkara dari bukti asalnya. Orang yang berdalil adanya alam menjadi bukti adanya Allah karena tidak sambung sampai kepadaNYA. Kecuali keghaiban Allah sehingga menjadikan dalil atasNYA. Mungkinkah Allah yang jauh hingga memerlukan bukti keberadaan alam yang menyambungkan kepadaNYA

Polemik hebat mengenai keberadaan Allah ta’ala. Terus berjalan entah sampai kapan. Yang satu berdasarkan iman lebih dahulu untuk sampai mengenalNYA. Yang lain ragu-ragu dulu sehingga bukti pembuktian hingga sampai pada iman kepadaNYA.
Bagi kita. Iman menjadi dasar setiap totalitas kegiatan. Mulai ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Semua didasarkan pada iman kepadaNYA.
Tetapi rupanya. Atas nama kemodernan yang disutradarai Yahudi. Utamanya thariqat mason. Manusia digiring untuk ragu-ragu dahulu dalam menemukan kebenaran. Memang seolah-olah banyak menawarkan daya kritis dalam menalar. Merasa berbeda dengan keumuman dalam berpikir. Yang dampaknya juga berpengaruh, bahkan mengubah perilaku, orang-orang yang terbiasa berpikir skeptis tersebut.
Seorang mukmin tidak usah terpengaruh dengan pendapat-pendapat atau teori-teori yang dihasilkan oleh kerja akal manusia. Secara induksi hal itu merupakan pembuktian yang menguntungkan keimanan seorang muslim. Sebab, tanpa pembuktian pun seorang mukmin tetap beriman kepadaNYA secara total lagi mutlak.
Misalnya, ditemukan aura pada air oleh seorang guru besar asal Jepang. Itu menguntungkan iman kaum muslimin. Karena ditemukan aura atau tidak. Dengan mengacu kepada al-qur`an dan al-hadis tetap saja beriman kepada ke-Mahakuasaan Allah ta’ala. Justru hasil temuan itu membantu mengokoh-kuatkan dan menyebarkan kebenaran ajaran Islam.
Tapi lucunya. Yang terpengaruh orang-orang Islam sendiri dengan temuan itu. Hal ini menandakan bahwa otak dan cara berpikir sebagian besar umat Islam sudah terpengaruh dengan model induksi. Apabila ada bukti baru percaya dan mengimaniNYA. Betapa lemahnya sikap mental dan perilaku tauhid orang-orang Islam secara mayoritas.
Jika mau disadari dengan mendalam. Iman itu ada sejak ruh ditiupkan dalam janin manusia. Bayi lahir ke alam dunia sudah membawa iman. Seringkali iman dirusak oleh lingkungan terdekatnya, dengan dalih kasih-sayang. Akibatnya, bayi mengalami pertumbuhan yang tidak dibarengi dengan perkembangan dan pemberdayaan keimanan yang sudah dibawanya dari alam rahim.
Ditunjang pola pendidikan dan pembelajaran umat Islam yang tidak padu, karena mengikuti  --membebek secara latah dengan westernisasi—sehingga muncul pemandangan yang menggelikan sekaligus mengharukan. Di mana lahir banyak sarjana dan cerdik-pandai secara akademik. Tetapi tidak memiliki ilmu hikmah dalam aplikasi dan pengamalan di kehidupan sosial masyarakat. Praktis yang terjadi lahirnya pribadi-pribadi yang pecah dalam generasi muslim. Utamanya para generasi mudanya.
Seorang mukmin harus terus-menerus melakukan: kajian, pengajian, penelitian, kepustakaan, tindakan laboratoris, menulis, riset & metodologi, serta berperilaku dan memiliki mental ilmuwan. Tinggalkan jauh-jauh semangat kelompok, jamaah, dan organisatoris yang hanya berkutat pada like and dis-like. Jamaah kaum mukmin jelas, yakni Persaudaraan Tanpa Tepi. Tidak dibatasi oleh apa pun. Detail lagi menyeluruh. Semua itu guna membangun jejaring sosial tauhid. Sehingga lahir sosial administratif syar’i yang padu lagi seimbang.
Jangan menunggu bantuan dan uluran tangan siapa pun. Berkerja dan terus bekerja. Berjuang dan terus berjuang. Dengan terus disertai sikap mental dan perilaku: Cerdas-Ulet-Kreatif (Cuk). Sebab, inilah paramater yang bagus dalam rangka mengukur kecakapan seseorang.
Berpikir dengan model deduksi. Yang dilengkapi dengan model induksi. Akan melahirkan banyak kemanfaatan dan progres demi kemajuan umat Islam. Jangan dibalik berpikir model induksi yang dilengkapi dengan model deduksi.
Berpikir model yang pertama niscaya mampu melahirkan para ilmuwan handal. Seperti yang pernah terjadi pada masa-masa keemasan Islam. Justru sekarang akan lebih hebat. Karena ditunjang dengan kemajuan telekomunikasi dan informasi. Maka, yang paling penting setiap keluarga muslim hendaknya membangun anggota keluarganya menjadi penyumbang yang hebat, demi lahirnya social capital umat Islam ke depan [ ]

Cak dan Cuk

Sementara orang menganggap “Cak & Cuk” sesuatu yang biasa-biasa saja. Tapi bagi kami. “Cak & Cuk” memiliki dasar pemikiran yang hebat. Sehingga dijadikan landasan perjuangan dan dakwah model PeNUS MTI, baik yang di Surabaya maupun yang di Tuban. Bagi PeNUS MTI “Cak & Cuk” merupakan inspirasi sejarah yang progres. Berporos pada sejarah Bangsa Jawa di periode peradaban dunia. Sebelum peradaban Jews memimpin dunia mulai era Nabi Musa as hingga hari ini. Menjadi semangat yang mendorong terus lahirnya pikiran-pikiran segar yang memberdayakan, khususnya buat para shantri dan jamaah PeNUS MTI di mana saja berada.
Cak” adalah kependekan dari “Cakap-Agama-Komitmen”. Artinya, seorang shantri atau jamaah PeNUS MTI, utamanya shantri mukim PeNUS MTI. Harus benar-benar komitmen dengan agama, akhlak, dan adab. Puncaknya mereka menjadi orang-orang yang cakap. Adapun cakap di dalam PeNUS terukur dengan “Cuk”.
Cuk” kependekan dari “Cerdas-Ulet-Kreatif”. Setiap shantri dan jamaah PeNUS MTI dengan sesadar-sadarnya dimotivasi untuk menjadi dirinya sendiri, yang “cuk” tersebut.
Shantri atau jamaah PeNUS MTI dikatakan alim. Apabila mereka memiliki daya komitmen terhadap: agama-akhlak-adab Islam. Sehingga lahir kecakapan-kecakapan yang memberdayakan mereka. Guna menjadikan mereka pribadi-pribadi yang bermanfaat buat: Allah-rasulNYA-orang tuanya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Semua itu diwujud-nyatakan dengan kehidupan yang mandiri setelah terjun di masyarakat. Menjadi apa saja silahkan. Yang penting semua didasarkan pada aspek keilmuan yang mapan. Yang menjadikan diri mereka mandiri lagi berdaya. Pokoknya harus benar-benar “cuk.
Semua pegangan shantri dan jamaah sudah Omda tulis dalam buku-buku yang diterbitkan oleh DiS MTI. Seperti: Become Winner; Focus Power; Big Shot; Step by Step; Dakwah Kita; dan masih banyak yang lain. Di samping terdapat rujukan-rujukan tambahan, semisal: al-Adzkar; Riadlush Shalihin; Bulughul Maram; Umdatul Ahkam; Matjarur Rabih; Mukhtarul Ahadis; dan Hikam.
Semua itu diharapkan dengan menguasai yang normatif. Terdorong untuk mengamalkan yang empiris. Sehingga seorang shantri atau jamaah menjadi lebih berdaya. Shantri dan jamaah bakal mengalami dan merasakan quantumBELIEVING.
Antara teori dan praktek benar-benar menyatu dalam sebuah sikap mental dan perilaku yang indah yang dimiliki oleh setiap shantri dan jamaah. Sehingga pesan langit yang bersifat: legal, normatif, dan nilai mampu diamalkan dalam bentuk perilaku nyata. Yang kemudian melahirkan sikap mental: kultural, tradisonal, emosional, intelektual, dan intuisional. Maka, sebuah peradaban umat manusia terbangun secara mandiri.
Dengan paradigma “Cak & Cuk”. PeNUS MTI menjadikan era globalisasi sebuah peluangbagi pengembangan dan pemberdayaan: ilmu-leadership-enterprenuership-dakwah-tarbiah-jihad. Semua tetap berpijak pada semangat: Pancasila-UUD 1945 (sebelum diamandemen)-NKRI-Bhinneka Tunggal Ika. Dengan wawasan Nusantara tersebut PeNUS MTI satu kaki berpijak ke-Indonesia-an. Adapun kaki yang lain melangkah menuju kesejagatan.
Lahirnya rasa cinta kepada bumi pertiwi. Dikarenakan rasa syukur yang mendalam kepadaNYA. Di mana ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Nasional dalam konteks yang demikian tidak bakal melahirkan sikap mental dan perilaku yang membabi-buta dalam jebakan chauvinisme. Sebaliknya, justru menjadi potensi yang hebat guna melahirkan jejaring Persaudaraan Tanpa Tepi keluarga mukmin sejagat. Dengan mengacu pada nilai luhur “Bersama Boleh Beda”. Jauh dari doktrin yang menghendaki keseragaman bersama.
Itulah sebabnya, PeNUS MTI senantiasa mendorong kepada segenap shantri dan jamaah, agar segera menjadi dirinya sendiri. Hanya dengan memahami dan menjadi diri sendiri seorang hamba dengan quantum memiliki energi: hablum minallāh-hablum mannās-hablum manal-‘alam. Yang refleksinya diejawantahkan ke dalam perilaku: Teologis-Humanis-Ekologis. Maka, didasarkan dengan: Iman-Islam-Ihsan. Lahirlah sosok Manusia Mulia (Human Elyon) di segenap persada Nusantara [ ]




Kelenturan: Menjadikan Diri Tahan Banting

Banyak jalan untuk berhasil dalam hidup ini. Jangan paksakan kehendak untuk mencapai tujuan. Sesuatu yang dipaksa pasti menolak. Sesuatu yang ditekan pasti melawan. Gagal yang satu. Coba yang lain. Terus buka pintu itu maka terbuka pintu itu. Pemilihan cara yang tepat untuk sebuah keberhasilan adalah seni kelenturan yang menunjukkan bahwa seseorang itu benar-benar tahan banting. [Many roads to succeed in life. Do not force the will to achieve goals. Something definitely was forced to reject. Something definitely is pressed against. Failed that one. Try another. Continue to open the door then open door. Selection of the proper way for an artistic success is the flexibility which suggests that someone is really resilient]
_____Omda Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Ali al-Ya`quby al-Mutawakkily



Lentur itulah kata yang tepat buat bekal seseorang untuk memiliki hidup yang bermanfaat. Keberhasilan dakwah Nabi saw, di antaranya disebabkan daya lenturnya yang hebat. Dengan daya lentur seseorang menjadi suspen, atau memiliki daya kenyal yang tangguh di dalam survival. Inilah yang sangat dibutuhkan dalam mengarungi hidup di dunia ini. Seseorang yang tidak memiliki daya lentur. Ia akan mati dengan konyol. Ia banyak gagalnya ketimbang berhasilnya.
Apabila Anda mau belajar kepada orang-orang yang berhasil dalam hidup ini. Buktikan mereka niscaya memiliki daya lentur sebagai salah satu langkah yang populer dalam hidupnya.
Seseorang yang ilmunya tambah mapan, niscaya memiliki daya lentur yang tinggi. Anak-anak belajar. Banyak orang menuntut ilmu. Sebenarnya, yang mereka kehendaki adalah kepemilikan atas daya lentur di kelak kehidupan sehari-harinya. Siapa pun mereka apabila hidupnya tidak lentur. Jangan harap dapat menjalani takdir kehidupan sosial di dunia ini dengan sejahtera. Maju. Lagi sukses.
Orang yang banyak bergaul. Akan memiliki daya lentur yang tangguh. Kepemilikan atas daya lentur menjadikan dirinya mudah bersosialisasi dengan siapa saja. Ia mudah menyesuaikan diri. Mudah mengerti. Mudah memahami. Sehingga dia dicintai banyak orang karena daya lentur yang dimiliki.
Wal hasil. Seseorang yang dianugerahi daya lentur oleh Tuhan. Berarti dia ditakdirkan Tuhan memiliki jejaring sosial dan talenta yang mengangkat derajatnya dalam hidup ini.

Berganti-Ganti Cara
Apabila cara yang satu gagal. Gantilah dengan cara yang lain. Hingga Anda menemukan cara yang tepat guna mendapatkan cita-cita, atau azzam Anda.
Berganti-ganti cara bukan berarti tidak konsisten. Sebaliknya, menunjukkan bahwa model yang dilakukan merupakan bagian perjuangan dan usahanya yang gigih, guna memperoleh apa-apa yang dicita-citakan.
Berganti-ganti cara menunjukkan pula. Bahwa, dia memiliki daya lentur yang hebat. Kerja keras. Giat berusaha. Terus-menerus tidak mengenal menyerah, sebelum keinginan terpenuhi. Apabila Anda dengan cermat mengamati sepak terjang para nabi dan utusanNYA. Mereka semua memiliki daya lentur yang luar biasa tangguh ketika menyampaikan ajaranNYA.
Cara yang berganti-ganti. Menjadikan seseorang mempunyai daya lentur yang hakiki. Sebab, ia yakin benar dengan berganti-ganti cara guna mendapatkan keinginan-keinginan yang dimimpikan, adalah bagian dari daya tahan dalam mempertahankan dan mengisi kehidupannya dengan daya lentur.
Itulah sebabnya, orang-orang yang memiliki daya lentur. Mereka jauh lebih tahan banting. Dibandingkan dengan orang-orang yang hanya memaksakan kehendak guna mendapatkan segenap keinginannya. Di samping tidak disukai banyak orang. Alam juga menolak orang-orang yang hidupnya menanggalkan daya lenturnya.

Jangan Putus Asa
Daya lentur yang dimiliki seseorang. Bagian langkah demi langkah untuk menjadi orang yang sukses di kehidupan ini. Demikian sosok manusia Indonesia yang tidak pernah putus asa dalam usahanya.
Berbeda sekali dengan perilaku memaksakan kehendak. Siapa pun yang memiliki tidak bakal pernah sukses. Tidak bakal berhasil. Ia pasti mendapatkan kegagalan demi kegagalan. Ujung-ujungnya orang tersebut menjadi putus asa.
Jika Anda mau belajar di lingkungan sekitar. Seekor lalat mati sia-sia karena lalat itu memaksakan diri hendak menerobos jendela kaca. Itu sangat berbeda dengan seekor tikus. Untuk mendapatkan sekerat keju. Ia rela melalui banyak rintangan. Hambatan. Bahkan jebagan. Hingga akhirnya tikus itu mendapatkan keju yang diharapkan.
Mengisi hidup ini harus dengan kegigihan. Bekerja keras. Perjuangan yang tak mengenal lelah. Terus dan terus berusaha sekuat tenaga guna menjadi yang bermanfaat buat orang lain dan lingkungan sekitar. Semua itu pasti didapatkan jika Anda memiliki daya lentur.
Daya lentur Anda ikut serta dalam menjaga keseimbangan hidup. Orang yang hidupnya mokong. Mau menangnya sendiri. Orang lain salah. Di luar kelompoknya salah. Pasti orang yang modelnya demikian terjerembab pada kehidupan yang mudah putus asa. Bagaimana pun dan siapa pun dia. Yang namanya manusia pasti mempunyai titik jenuh dari laku usaha dan laku amal yang dilakukan.
                         
Cepat Beradaptasi
Jika Anda sangat menghendaki kepemilikan atas daya lentur dalam hidup ini. Lakukan dengan cepat yang namanya adaptasi. Penyelarasan. Penyesuaian. Sehingga dengan akselerasi yang cepat tersebut tidak ada waktu yang kosong. Sedikit waktu yang dimiliki dimaksimalkan secara optimal. Yang kemudian diisi dengan banyak hal yang bermanfaat. Itu pula yang mendasari orang-orang suses senantiasa berjalan dengan step by step.
Semua itu dikerjakan dalam rangka beradaptasi. Sebab, yang namanya manusia hidup. Cepat atau lambat. Pasti mengalami perubahan demi perubahan. Sudah menjadi sunnatullah apabila setiap perubahan terjadi. Senantiasa menimbulkan banyak reaksi. Benturan. Bahkan, konflik.
Semua itu menjadi lain, jika memiliki sikap mental dan perilaku adaptasi dengan lingkungan di mana seseorang itu berada. Seandainya seseorang itu 24 jam 5 kali berganti komunitas. Maka, 5 kali pula dia hendaknya melakukan adaptasi dengan lingkungan tersebut. Niscaya dia sukses. Ini berbeda dengan orang yang memaksakan kehendaknya. 5 kali bertemu komunitas yang berbeda. Ia tetap dalam status quo yang mapan. Akibatnya, dia menjadikan orang lain lari dari dirinya. Jika orang lain lari dari dirinya itu pertanda ia gagal sebagai makhluk sosial.

Praktekkan Ajaran Omda
          Salam. Lakukan bertemu dengan siapa pun ucapkan salam lebih dahulu. Sesuai dengan kearifan lokal dengan menyampaikan salam. Mendahuli ucapan dan pemberian salam. Menandakan bahwa orang lain mendapatkan penghormatan darinya. Sudah menjadi sunnatullah orang itu suka apabila dihormati oleh orang lain.
          Terima Kasih. Kehidupan sosial seseorang menjadi hebat. Apabila memiliki prilaku sebagai ahli derma. Seorang dermawan niscaya banyak disukai. Dibandingkan dengan orang yang pandai tetapi pelitnya luar biasa. Model “terima” kemudian “kasih”-kan kepada orang yang membutuhkan. Sungguh dalam waktu singkat pasti dicintai banyak orang.
          Da’su’. Dalam hidup sehari-hari Anda. Biasakan berperilaku yang bagus. Tinggalkan segenap perilaku yang buruk-buruk. Perilaku buruk adalah perilaku yang tidak produktif. Ia cenderung statis. Bahkan, jumud. Maka, dengan memiliki kebiasaan meninggalkan yang buruk-buruk. Bakal disayang banyak orang. Karena memang perilaku hariannya selalu bagus.
          Jangan Campuri Urusan Orang Lain. Jangan biasakan menilai orang lain. Nilai itu wilayah normatif. Hak setiap hamba untuk berbuat apa saja. Biarkan itu urusan Tuhan dengan hamba tersebut. Apabila Anda komitmen dengan akhlak yang mulia dan adab Islam. Anda harus kuat dalam berketeladanan. Tidak ada keberhasilan kecuali dengan keteladanan yang kuat.
          Banyak Memberi. Salah satu cara yang sangat sederhana. Apakah seseorang itu mengidap penyakit jiwa. Atau, tidak. Perhatikan dalam hidup kesehariannya. Lebih banyak memberi karenaNYA. Atau sebaliknya, lebih sering meminta-minta dengan berbagai model supaya terkabulkan permintaannya. Prinsipnya, siapa pun dia asal banyak memberi karenaNYA, niscaya sehat jiwanya. Bagi siapa saja yang hidupnya banyak meminta-minta kepada makhluk, dialah orang yang mengidap penyakit jiwa awal.
         
Renungan
·        Kelenturan yang dimiliki oleh seseorang menandakan, bahwa orang itu benar-benar tahan banting.
·        Barangsiapa tidak berani melakukan perubahan demi perubahan. Manusia pasti terjebak dengan sikap arogansi dan takaburnya.
·        Penyesuaian dengan memahami perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Pertanda jika orang itu memiliki daya lentur yang hebat.
·        Penyelarasan antara yang normatif dengan yang empiris, adalah bagian daya lentur yang dimiliki seorang manusia.
·        Daya lentur seseorang niscaya menemani orang tersebut menjadi orang yang sukses. [ ]

Keajegan: Merubah Impian Menjadi Kenyataan

Banyak harta tidak menjamin sukses. Pandai saja juga tidak menjamin orang sukses. Hebat saja juga tidak cukup untuk menjadikan seseorang sukses. Orang gagal bukan karena dia tidak memenuhi syarat untuk menjadi orang sukses. Akan tetapi kegagalan seseorang disebabkan dia tidak ajeg di dalam menekuni jalan kesuksesannya. [many of the property does not guarantee success. Clever people alone does not guarantee success. Superb is not enough to make someone successful. People fail not because he was not qualified to be a successful person. But the failure of a person because he was not steady on the road to his success]
_____Omda Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Ali al-Ya`quby al-Mutawakkily



Perhatikan air yang menetes pada dinding-dinding goa. Air itu merubah struktur dinding goa. Padahal tetesan air itu sangat lembut. Pelan. Lambat. Namun yang patut dicatat. Air itu terus berubah dan bergerak. Sehingga mampu mempengaruhi keadaan sekitarnya. Sekalipun batu. Pasti berubah sebab tetesan air yang terus-menerus. Ajeg.
Dapat dijadikan Pembelajaran Sifat. Ada seorang hamba Tuhan. Dulunya bebal. Bodoh. Tidak paham tujuan hidup. Sama sekali tidak mengerti untuk apa menuntut ilmu. Setelah dia belajar tetesan demi tetesan air yang berada di dalam goa. Dia menjadi dirinya sendiri. Dia menjadi paham dengan tetesan air yang dia amati. Mengapa batu menjadi berlubang? Mengapa batu menjadi berubah? Mengapa alam sekitar menjadi terpengaruh? Dia menemukan jawabannya. Jawaban yang saat itu mampu merubah dirinya. Dia tidak lagi bodoh. Tidak lagi bebal. Dia menjadi paham dengan kehidupan. Dia menjadi paham untuk apa seseorang perlu menuntut ilmu.
Hingga akhirnya. Hamba Tuhan yang beruntung itu menjadi orang besar di dunia ini. Dia adalah Ibnu Hajar al-Asqalani r.hu. Sampai-sampai wujud syukurnya kepada Tuhan YME. Ia lekatkan pada julukan namanya, “Putra Batu” (Ibnu Hajar).
Dari batu yang berlubang. Dari tetesan air yang terdapat di dalam goa. Ibnu Hajar belajar. Dia merenung. Dia pahamkan hatinya. Dia pahamkan akalnya. Dia pahamkan pikirannya. Dengan bimbingan Tuhan. Dia menemukan jawabannya. Bahwa, kunci perubahan dalam hidup agar menjadi apa saja harus “ajeg”. Bahkan, impian pun dapat menjadi kenyataan asalkan seseorang itu “ajeg”. Niscaya apa-apa yang menjadi mindSET bakal direalitaskan olehNYA.
Di banyak kesempatan, Tuhan YME menyampaikan kalam, “Tuhan mengajarkan kepada manusia yang tidak diketahuinya” (Qs.96: 5). “Tuhan mengabulkan apa-apa yang menjadi maksud baik hambaNYA” (Qs.65: 3). “Tuhan tergantung praduga para hambaNYA” (Hadis Qudsi).

Jangan Bosan
Seseorang yang memiliki kebiasaan cepat bosan. Atau, mudah bosan. Dia tidak akan pernah mendapatkan keberhasilan. Apalagi kesuksesan. Tidak akan pernah. Sebab, berhasil dan sukses tidak datang tiba-tiba. Tidak kun fakun. Kun fayakun adalah milikNYA. Wilayah manusia adalah proses. Proses untuk menjadi. Yang di dalam proses tersebut sangat terkait dengan sunnatullah. Apa pun tidak akan pernah berhasil dan sukses bagi yang menyalahi sunnatullah. Adapun salah satu proses seorang manusia untuk “menjadi”, adalah dengan keajegannya.
Apabila Anda termasuk orang yang mudah bosan. Mulai saat ini. Setelah membaca tulisan ini. Lawan sifat bosan Anda. Katakan pada alam bawah sadar Anda. “Diriku tidak mudah bosan”. “Saya harus dapat menjadi hamba Tuhan yang ajeg dalam amal laku”.
Memang tidak mudah melawan sifat mudah bosan. Namun bagaimana pun berat dan sulitnya. Sifat mudah bosan harus dilawan. Harus segera dihilangkan dari dalam diri Anda. Ganti dengan cepat sifat mudah bosan yang Anda miliki dengan kemauan dan kemampuan untuk ajeg.
Sifat ajeg. Siapa pun dapat melakukan. Tidak harus sarjana. Tidak harus shantri. Setiap orang pasti punya sifat ajeg tersebut. Sayang lingkungan pendidikan dalam keluarga. Sehingga kekuatan untuk sukses dan berhasil yang namanya ajeg itu menjadi lemah. Boleh jadi. Menjadi hilang sama sekali.
Padahal secara teologis. Tuhan YME sangat mencintai hambaNYA yang memiliki laku amal ajeg meski sedikit dari segi kuantitas. Artinya, Tuhan sangat menyukai apabila seorang manusia memiliki kualitas laku amal. Adapun kualitas laku amal hanya dapat diraih jika seorang hamba itu ajeg dalam menunaikan laku amalnya.

Jaga Kebugaran
Menjaga jebugaran tubuh sangat penting. Tubuh sehat itu penting. Akan tetapi tubuh yang bugar jauh lebih penting. Sehat belum tentu bugar. Namun tubuh yang bugar niscaya sehat. Di dalam tubuh yang bugar. Berarti pula secara fisik dan psikis sehat.
Dengan kebugaran rasa bosan dapat diminimalkan. Orang yang sakit-sakitan mudah sekali memiliki sifat mudah bosan. Orang capek mudah sekali bosan.
Karenanya, untuk mendapatkan sifat dan sikap ajeg. Anda harus sehat dan tidak boleh capek. Dengan kata lain, hindari segenap hal yang dapat menjadikan mudah sakit dan mudah capek.
Maka, menejemen memelihara kesehatan diri sangat penting untuk segera Anda kuasai. Pola pikir, pola hidup, makan, minum, istirahat, dan oleh raga; harus benar-benar Anda lakukan secara seimbang.
Apalah arti harta kekayaan yang menumpuk, jika hidup Anda sakit-sakitan? Apa artinya uang Anda yang menggunung, jikalau tubuh Anda digerogoti penyakit?
Sifat bosan. Lambat laun dapat merusak hubungan harmonis Anda dengan Tuhan. Dengan manusia. Dan, dengan alam lingkungan.
Dekadennya masyarakat modern akibat langsung dari tidak bugarnya masyarakat modern. Masyarakat modern hidup serba suplemen. Semuanya minta cepat. Akibatnya, mereka jatuh pada kehidupan yang memprihatinkan, yaitu hidup serba cepat. Dan, celakanya serba cepat tersebut menjadikan orang yang teracuni kapitalisme, materilaisme, dan neo-liberalisme menghalalkan segala cara. Apa jadinya? Tidak lagi memperhatikan faktor kesehatan masyarakat. Sebab, prinsip mereka “yang penting untung”.
Ini yang menjadikan masyarakat modern kehilangan sifat ajeg. Dengan kata lain, kalau sifat ajeg tidak ada, maka tidak dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan atau kesuksesan dalam hidup seseorang.
Ingat Tuhan tidak menyukai sifat ketergesa-gesaan. Coba pahami. Masyarakat modern selalu minta serba cepat. Yang notabene-nya ya ketergesa-gesaan tersebut. Akibatnya, muncul banyak kepalsuan dalam segala hal.
                         
Beningkan Hati
Hati yang bening itu sangat penting. Supaya dapat melihat segala sesuatu dengan jernih. Seseorang dapat melakukan laku amal ajeg karena hatinya bening. Hati yang tidak terbebani menjadikan hati jernih. Hati yang jernih pangkal keajegan. Mengapa demikian? Sebab, hati yang jernih mampu mengindera dengan apa adanya.
Ini sangat berbeda dengan hati yang terbebani. Hati tidak bakal mampu mengindera dengan baik dan benar. Hati sangat berpotensi dibisik oleh hawa nafsu. Sifatnya merusak. Destruktif. Ini merugikan pemiliknya.
Hati yang terbebani hidupnya lebih banyak pesimisme. Tidak lagi memiliki gairah optimisme. Padahal pikiran seseorang sangat menentukan masa depan seseorang.
Apabila Anda pesimis. Maka, masa depan Anda pasti suram. Sebaliknya, jika Anda memiliki optimime. Niscaya masa depan Anda lebih dapat diharapkan
Banyak orang bergelar sarjana. Tetapi hidupnya dirundung pesimisme. Coba perhatikan di sekeliling Anda. Dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Dia tidak bakal pernah dapat menunaikan laku amal ajeg. Dengan kata lain, dia menjadi orang yang terpinggirkan akibat pikirannya sendiri. Dia terbuang dari masyarakat sebab pikiran-pikirannya sendiri.

Harus Terus Berubah
          Di dunia ini yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Artinya, dalam kehidupan dunia akan selalu mengalami perubahan. Perubahan itu pasti terjadi. Selagi dunia ini berputar pada porosnya. Jika dunia saja ajeg berputar pada porosnya. Bagaimana manusia tidak mau berubah? Manusia yang tidak mengikuti ritme keajegan dunia yang terus berubah. Pasti hidupnya berada di persimpangan jalan. Manusia itu akan mengalami kebingungan. Kebimbangan. Kekhawatiran. Dan, kecemasan.
          Itu semua adalah awal dari munculnya penyakit jiwa. Di mana jiwa-jiwa manusia modern mengalami kegersangan nilai (anomali). Maka, umat manusia harus sujud syukur dengan pengajaran Tuhan. Yang memberikan umat manusia tiga pegangan pokok. Yaitu: Keyakinan; Berserah diri; dan Moral.
          Apabila ada pertanyaan. Siapa orang yang mampu terus mengikuti perubahan dunia? Jawabannya, dia adalah manusia yang memiliki: keyakinan, selalu berserah diri pada Tuhan, dan memiliki kekuatan moral yang tangguh. Inilah manusia yang hidupnya dapat ajeg. Berarti dialah orang yang berhasil dan sukses di dalam mengarungi dunia yang fana yang terus berubah-ubah ini.
          Itulah sebabnya, Tuhan YME mewariskan dunia ini hanya kepada orang-orang yang berkeyakinan, senantiasa berserah diri kepadaNYA, dan memiliki ketangguhan moral (Qs.24: 55).
          Dengan kata lain, ajeg untuk berubah. Dikarenakan, perubahan hanya didapatkan dengan keajegan seseorang. Bakan, impian apa pun dapat menjadi kenyataan karena sang pemimpi itu memiliki kemauan dan kemampuan sifat dan perilaku ajeg.
         
Renungan
·        Semua impian dapat menjadi kenyataan. Jika seseorang yang mimpi itu menyertai mimpinya dengan perilaku ajeg.
·        Perubahan terjadi karena laku amal ajeg.
·        Apa pun yang menjadikan Anda mudah bosan. Tinggalkan. Demikian pula yang menjadikan diri Anda mudah capek.
·        Orang gagal karena dia mengiran bahwa dirinya sudah berhasil.
Orang yang ajeg dalam laku amal benar-benar merasakan bahwa dirinya telah dikaruniaiNYA berhasil lagi sukses.

Kecerdasan Mimpi

Mimpi setiap orang yang akalnya sehat pasti pernah mengalami. Mimpi bukan wilayah takhayyul seperti yang dituduhkan orang yang sok modern. Padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menjadi kelinci percobaan para musuh Islam, agar mereka berani menolak dengan halus sabda Nabi saw mengenai eksistensi mimpi. Berani pula menolak kalam Ilahi yang menerangkan mengenai Kecerdasan Mimpi yang pernah dilakonkan oleh Nabi Yusuf as.
Setiap mukmin sepakat. Bahwa, mimpi memang ada yang datangnya dariNYA, ada pula yang datang dari bisikan setan atau iblis, bahkan nafsu syahwat. Semua itu sangat tergantung kondisi ruhani dan kemampuan nalar orang yang bermimpi. Sebagai mukmin hendaknya terus melakukan detail-detail Kecerdasan Mimpi. Sehingga secara signifikan mimpi dapat menjadi bagian terpenting dalam membangun kecerdasan umat Islam.
Sungguh telah menjadi rahasiaNYA. Orangnya tidur. Telinga tidak mendengar orang yang berada di sekitar. Tetapi dia dapat mengerti, bahkan memahami detail-detail mimpinya. Mulai dari: warna, bentuk, isi, aktivitas, bahkan mampu merasakan apa-apa yang dialami dalam mimpinya. Tidak hanya itu, setelah bangun tidur. Orang yang bermimpi banyak yang dapat menerangkan cerita dan kisah atau kejadian di dalam mimpi yang telah dialami.
Sungguh luar biasa. Banyak juga orang yang mimpi. Mimpinya dapat menjadi kenyataan. Atau, pesan yang didapatkan dalam mimpi benar-benar ada dalam kehidupan yang nyata.

Mimpi Itu Sinyal Pribadi
Manusia memiliki tiga piranti kecerdasan. Yakni: kecerdasan intelektual, kecerdasan alam bawah sadar, dan kecerdasan jantung. Masing-masing kecerdasan itu bersumber pada akalnya masing-masing. Yaitu: akal intelektual, akal albasa, dan akal jantung. Sudah barangtentu hal ini menjadikan seseorang dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan dalam hidupnya.
Akal intelektualitas adalah akal yang mengerti, bahwa 1 + 1= 2. Benar-benar hitam-putih. Benar-salah. Surga-neraka. Cinta-benci. Sifatnya sangat materialistik, kapitalistik, dan transaksional.
Akal alam bawah sadar (albasa). Berbeda lagi. 1 + 1 hasilnya tergantung penyifatannya. Angka satu mewakili apa dulu? Dengan demikian hasilnya pun berubah-ubah tergantung dengan sifat yang terjadi pada kondisinya. Misalnya, 1 ekor kucing ditambah satu ekor tikus dalam ruang yang tertutup. Hasilnya hanya seekor kucing. Sebab, seekor tikus telah dimakan oleh seekor kucing. 1+1=1.
Akal jantung. Ini merupakan sumber Kecerdasan Intuisional. Jantung yang dalam bahasa Nabi saw disebut al-aql. Menjadi sumber dari totalitas penghambaan kepadaNya. Apabila mau mengalisa dengan mendalam. 5 rukun dalam rukun Islam, dan 6 rukun dalam rukun iman. Semuanya memberikan pendidikan dan pembelajaran pada akal jantung umat manusia. Sehingga seseorang dengan Kecerdasan Intuisional tersebut mampu menerima kasih-sayang Tuhan.
Ketiga akal yang dianugerahkanNYA tersebut memiliki Kecerdasan Mimpi masing-masing. Namun yang paling dahsyat, jika yang menerima pesan mimpin itu adalah akal jantung. Inilah mimpi yang benar lagi nyata. Namun demikian penafsirannya tergantung kepada orang-orang yang diberikan kemampuan khusus olehNYA. Tidak sembarang orang dapat melakukan tafsir mimpi. Maka, berhati-hatilah ketika menafsirkan mimpi.
Pahamilah mimpi itu merupakan sinyal pribadi. Dengan mimpi seseorang dapat terlihat dengan jelas. Akal mana yang sering diasah dan diberi muatan yang positif.

Akhlak Bagus Mimpinya Bermanfaat
Orang-orang yang akhlaknya bagus. Mimpinya selalu bagus. Akhlak yang bagus identik dengan cara berpikir dan totalitas kehidupan yang sejalan dengan hati nurani. Maka, mimpinya siapa pun asal akhlak orang yang bermimpi itu bagus niscaya mimpinya bermanfaat.
Sebut saja: Nabi Yusuf as, Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad saw, atau kakek Rasulullah saw. Mimpi mereka bermanfaat. Bahkan, dampak mimpi itu masih dapat dirasakan hingga saat ini. Sekali lagi mimpi benar-benar rahasia keghaiban yang diberikanNYA kepada orang-orang yang dipilihNYA.
Mulai Nabi Adam as hingga saat ini. Banyak sudah orang-orang terpilih yang telah mendapatkan sinyal pribadinya melalui mimpi-mimpinya.
Hanya para penentang Tuhan yang tidak mempercayai Kecerdasan Mimpi. Apa pun mimpiya. Siapa pun yang mimpi. Ukurlah mimpi itu dengan: qur`an, hadis, dan ilmu pengetahuan. Sehingga kecerdasan dalam melakukan tafsir dan takwil mimpi menjadi terukur, tidak sesat lagi menyesatkan.

Mimpi Itu RahasiaNYA
          Wilayah ghaib mutlak milikNYA. Tidak banyak para hambaNYA yang dianugerahi dapat melakukan tafsir dan takwil atas mimpi. Bagi mukmin mimpi yang dilakonkan dapat diukur dengan: qur`an, hadis, dan ilmu pengetahuan.
          Di dalam menakwilkan atau menafsirkan mimpi. Cari yang paling dekat dengan al-qur`an atau al-hadis. Dengan bantuan ilmu pengetahuan diniah di dalam proses penafsiran atas mimpi menjadi lebih dapat dipertanggung-jawabkan.
          Rahasia tafsir mimpi adalah diawal mengungkapkan pesan yang ada dalam sebuah mimpi. Salah diawal pengungkapan tabirnya. Maka, berakibat fatal di dalam menafsirkan atau menakwilkan mimpi tersebut. Ingat wilayah ghaib sangat dekat dengan kekufuran. Apabila tidak hati-hati. Seorang mukmin dapat jatuh dalam kubangan kekafiran. Hanya gara-gara mimpi.
Berbahagialah ditakdirkanNYA menjadi mukmin atau mukminah yang dianugerahkan selalu memiliki mimpi yang benar. Mimpi yang menjadikan semakin dekat di dalam mengabdi denganNYA. [ ]

Mengenal Pesantren Nusantara MTI

Tanggal 17 Agustus 2011. Atau, tanggal 17 Ramadlan 1432. Ma’had TeeBee Indonesia (MTI) membulatkan tekad menjadi Pesantren Nusantara. Yang selanjutnya disingkat PeNUS. Perubahan yang terus terjadi merupakan tuntutan jaman. Bahwa, MTI harus terus berkembang menjadi sebuah lembaga pendidikan non profit. Yang mampu melahirkan generasi Indonesia terdidik keagamaan dan keberagamaannya. Sehingga nanti bakal lahir para pemimpin muda dan usahawan muda. Yang siap meneruskan estafeta kepemimpinan negeri ini. Di samping menjadi para ulama yang mandiri. Bukan sekadar tokoh agama yang pandai bercuap-cuap dan pandai mengajukan proposal. Atau, yang mengikuti “angin pasar”.
MTI ada dua –sementara ini. Satu di Surabaya. Yang lain di Tuban. Yang di Surabaya memfokuskan diri pada pemberdayaan intelektual, leadership, dan enterprenuership. Adapun yang di Tuban. Memfokuskan pada keilmuan dan keahlian. Baik yang di Surabaya dan yang di Tuban basis pendidikan dan pembelajaran berbasis pada akhlak dan adab Islam. Namun demikian juga berketetapan hati pada quantum dan kompetensi. Guna mendapatkan percepatan dalam penguasaan dan pemahamaan keilmuan.
Satu hal yang membedakan dengan yang lain. PeNUS MTI sejak awal berdirinya sudah menetapkan kebijakan. Semua shantri mukim harus dapat menulis dan menyusun sebuah buka. Bukan maksud apa-apa. Hal itu guna menjawab krisisnya ulama yang dapat menulis. Sebuah kenyataan di negeri ini. Mereka yang dikategorikan ulama  --entah apa saja sebutannya--  rata-rata pandai berbicara (berpidato). Namun tidak dapat menulis. Padahal kekuatan menulis dapat menjadi sarana: dakwah, tarbiah, dan jihad yang hebat.
Logikanya sederhana. Untuk dapat menulis. Seseorang harus dapat berbahasa Indonesia secara baik lagi benar. Penguasaan bahasa Indonesia bakal mendorong untuk mempelajari bahasa asing, utamanya bahasa Arab dan Inggris.
Selama ini untuk yang mengampu bahasa Arab diamanahkan kepada Guru Muda al-Ustadz Muhammad Mahsun Maftuhin at-Tubany. Sedangkan untuk bahasa Inggris diampu oleh Guru Muda al-Ustadz Yusuf. Adapun untuk penulisan bahasa Indonesia diampu oleh al-Ustadz Wadud.
Prinsip di MTI. Shantri yang sebenarnya adalah setelah hidup di masyarakat. Bukan ketika di pondok (ma’had). Mampukah seorang shantri di masyarakat menjadi “agen perubahan” atau menjadi “blantik budaya”. Semua itu sangat ditentukan oleh: akhlak, adab, ilmu, keahlian, dan keyakinan.
Sudah menjadi kelaziman, bahwa seorang shantri harus paham benar ilmu pengetahuan. Di samping harus menguasai alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ukuran pandai bukan sekadar dia pinter bercakap bahasa asing, atau menerjemah bahasa asing. Tetapi sejauhmana dia berperilaku dan bersikap sesuai dengan tata nilai Islam dan ilmu yang dikuasainya. Sebab, disebut orang alim apabila dia beramal sesuai dengan ilmunya.
Demikian halnya dengan para jamaah MTI. Mereka juga dituntut secara sadar untuk komitmen dan konsisten dengan segenap garis perjuangan MTI. Yakni, melakukan pribumisasi Islam dengan rahmatal lil alamin yang berwawasan Nusantara. Komitmen untuk melahirkan generasi Islam yang mencintai bangsa dan negaranya. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME. Karena telah ditakdirkan menjadi orang Islam Indonesia.
MTI Tuban fokus kegiatan pada pendidikan dasar, menengah, dan umum. Itulah sebabnya, MTI bergandeng tangan dengan lembaga pendidikan yang lain.
MTI Surabaya fokus pada perjuangan pribumisasi nilai-nilai dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai kajian, diklat, out bond, kepenulisan, dan kewirausahaan.
Kajian. Secara rutin di MTI Surabaya diselenggarakan kajian rutin setiap hari: Senin pagi (05.00-06.15 wibb); Rabu pagi (05.00-06.15 wibb); Jum’at pagi (05.00-06.15 wibb); Sabtu pagi (shalat subuh berjamaah sampai 07.00 wibb); Ahad pagi, sementara ini, khusus buat para ibu dan remaja putri (09.00-10.30 wibb); dan Selasa malam, sementara ini, khusus buat remaja putra dan bapak-bapak (20.00-21.30 wibb).
Adapun yang dikaji meliputi: Iman, Islam, dan Ihsan. Dengan fokus bahasan: Hablum minallāh (aspek teologis); Hablum minan-nās (aspek humanis); dan Hablum minal ‘alam (aspek ekologis).
Sedangkan referensi wajib: al-Qur`an; Kitab Riadlush Shalihin; Kitab al-Adzkar; Kitab Mukhtarul Ahadis; Kitab Matjarur Rabih; Kitab Bulughul Maram; Kitab Umdatul Ahkam; Kitab Hikam; semua buku yang ditulis alfaqir; dan semua buku yang terdapat di Perpustakaan MTI.
Untuk menambah Wawasan Kebangsaan shantri dan jamaah. Sebulan sekali pengajian “Bening Hati Untuk Indonesia” (BHI). Dengan bahasan Ngaji: Tauhid; Pendidikan; Kesehatan; Kebangsaan; dan Lingkungan Hidup.
Diklat. Guna menambah kemampuan dan keahlian shantri dan jamaah. Di waktu-waktu tertentu diselenggarakan diklat: Pekubur; Pra-Wedding; Jurnalistik; Dai & Khatib.
Out bond. Pendidikan di alam terbuka juga dilakukan, agar shantri dan jamaah semakin mencintai alam Indonesia. Di samping antara shantri dengan jamaah semakin menyaudara. Perlu diketahui, prinsip persaudaran dalam MTI adalah “Persaudaraan Tanpa Tepi”.
Kepenulisan. Shantri dan jamaah diajak untuk berdaya dengan melakukan dakwah, tarbiah, dan jihad dengan menulis dan menerbitkan secara berkala. Seminggu sekali menerbitkan Lembar Jum’at Nasional al-Fath. Sebulan sekali menerbitkan Majalah MAYAra dengan sistem donasi. Di samping buku-buku karya shantri dan jamaah yang telah lolos uji di depan para guru besar dan guru muda MTI.
Kewirausahaan. MTI mengajak bersinergi dalam usaha dan dagang. MTI memiliki cabang usaha air benOmari dan Toko BENZEN. Di samping mengoordinir usaha para shantri dan jamaah MTI yang tersebar di mana pun berada. Asal dia mendaftarkan diri. Maka, MTI melakukan pengenalan pada segenap jamaah dan publik.
Healing. Dua kali healing umum dan setiap pagi healing dengan shantri mukim. Adapun yang bersifat umum. Siapa pun boleh datang. Tidak ada sragam tertentu. Harinya Jum’at. Waktunya jam 16.30 wibb. Juga, pada hari Sabtu yang dimulai dengan shalat subuh berjamaah.
Keyakinan yang alfaqir ajarkan, “Pantang untuk meminta kepada manusia. Meminta hanya kepadaNYA.”
Ini wujud jawaban dari kenyataan sosial. Yang mana masyarakat Islam Indonesia masih banyak yang berperilaku dan bermental mistik. Tanpa dibarengi ilmu pengetahuan. Sesuatu yang diyakini langsung ditelan mentah-mentah. Akibatnya, mereka banyak yang lupa diri. Mengapa mereka lupa diri. Dikarenakan mereka lupa dengan Allah ta’ala. Mereka lebih gandrung dengan dengan mistik akal, mistik hawa nafsu, dan misik alam ghaib.
Fenomena sosial yang tampak nyata. Perpustakaan menjadi sepi pengunjung. Membaca tidak lagi menjadi hobby. Sehingga tidak ada bedanya. Apakah dia shalat atau tidak shalat. Pernah haji atau belum. Pernah umrah atau belum.
Sekali lagi dengan UmrahMAQ. Azzam alfaqir jama’ah dan peserta yang mengikutinya menjadi lebih kokoh kuat akidah islamiahnya. Disebabkan, mereka memiliki Kecerdasan Motivasi dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan (MAQ). Yang istilah Inggrisnya “Motivation and Adversity Quotient”.
Itulah sebabnya, para jama’ah dan peserta setelah mengikuti UmrahMAQ diarahkan untuk dapat dengan istiqamah dan mudawwamah mengikuti beberapa program di MTI.
Tujuannya, tidak lain adalah menjaga nilai-nilai bagus yang sudah di dapat selama ibadah umrah. Sehingga dapat dikembangkan menjadi investasi akhirat yang membahagiakan. Dengan tetap membangun kehidupan dunia yang: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Insya Allah.
Titik tekan dalam manasik dan dalam pelaksanaan umrah. Fokus pada penyadaran-penyadaran pentingnya seorang hamba Allah untuk tidak berkeluh-kesah (ngresulo). Yakin dengan seyakin-yakinnya. Bahwa, Allah ta’ala yang mampu menyelesaikan setiap persoalan yang datang menghampiri dirinya. Disamping terus berpikir positif dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan sesama makhluk. Sadar benar jika hidup di dunia selalu dibarengi dengan ujian demi ujian. Ujian yang dapat menjadikan seorang hamba mendapatkan cinta dan ridlaNYA.
Maka, selama perjalanan ibadah umrah. Jama’ah dan peserta ditanamkan keyakinan, agar komitmen dan disiplin dalam: Menomor-satukan Allah; Jujur; dan Ikhlas (Triangel Force). Hanya dengan Segitiga Kekuatan (Triangel Force) seseorang, tak terkecuali, para jama’ah dan peserta UmrahMAQ dapat mengamalkan Prinsip Trianggulasi (Meng-Allah-kan Allah/Teologis; Me-manusia-kan Manusia/Humanis; Meng-alam-kan Alam/Ekologis, red).
Adapun mengenai detailnya UmrahMAQ? Silahkan bergabung dengan kami. Semoga Allah ta’ala mengabulkan azzam kita guna menjadi mukmin sejati. Amin

Hijrah Ke Habasyah


Tekanan kafir Quraisy semakin hari. Semakin keras. Semakin menjadi-jadi. Malah cenderung brutal dan tidak manusiawi. Banyak kaum mukminin muslim yang disiksa dan dibunuh. Mereka diburu layaknya binatang. Di mata-matai ketika beraktivitas. Sungguh tidak enak. Dan, Rasulullah saw merasakan apa yang dirasakan para sahabat dan kaum mukminin awal tersebut. Diputuskan oleh beliau saw hijrah ke Habasyah. Hanya di negeri Habasyah kaum mukminin dapat mengamalkan dinul Islam dengan aman dan nyaman.

Hijrah Ke Habasyah
Tepat pada malam hari bulan Rajab pada tahun ke-5 bi’tsah. Rasulullah saw memutuskan hijrah ke Habasyah. Segenap sahabat yang sudah bertekad bulat ikut hijrah berkumpul. Lalu, menuju pelabuhan Jeddah. Dengan sembunyi-sembunyi kafilah hijrah sampai di pelabuhan Jeddah. Takdir Allah ta’ala. Di pelabuhan Jeddah ada sebuah kapal yang sudah siap menuju Habsyah.
Mereka saling berurunan. Mereka senasib sepenanggungan. Tiket ke Habasyah sebesar setengah dinar. Mereka semua terangkut. Malam itu juga berlayar menuju Habasyah.
Orang-orang kafir Quraisy mengetahui hijrah kaum mukminin keesokan harinya. Mereka berusaha sekuat tenaga menyusul ke pelabuhan Jeddah. Namun mereka kecewa. Sebab, rombongan hijrah kaum mukminin sudah berangkat pada malam hari. Sial bagi mereka tidak ada lagi kapal yang ke Habasyah, kecuali harus menunggu berhari-hari yang tidak menentu.
Mereka balik ke Makkah dengan sangat kecewa. Mereka marah besar. Mereka saling menyalahkan. Sebab, sampai kecolongan sampai kaum mukminin dapat lolos meninggalkan Makkah. Mereka sangat takut jika di Habasyah dinul Islam dapat berkembang dengan baik. Sebab, mereka mengetahui kalau Raja Habsyah itu orangnya sangat bijaksana. Mereka berkeyakinan jika dinul Islam bakal dibiarkan berkembang di Habsyah.

Diterima Raja Najasyi
Sejarah mencatat nama-nama sahabat yang ikut hijrah ke Habasyah. Yakni: Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Mus’ab bin Umair, Usman bin Madz’un, Suhail bin Baidha, Hathib bin ‘Any, Abdullah bin Mas’ud, Ruqayyah binta Muhammad, Ummu Salamah, Suhailah binta Suhail, dan Laila al-Adwiyah.
Ada juga yang hijrah dengan istrinya: Usman bin Affan, Abu Salamah bin Abdulasad, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, dan Amir bin Abi Rabi’ah.
Kurang lebih tiga bulan. Kaum mukminin yang hijrah di negeri Habasyah mengalami hidup yang aman, tenram, dan nyaman. Mereka dapat beribadah tanpa ada gangguan. Mereka benar-benar mendapatkan jaminan dari Raja Najasyi.
Meski dijamin kebebasan memeluk dinul Islam. Namun mereka tetap merindukan tanah kelahiran. Apa enaknya di negeri rantau. Tetap tidak seperti hidup di negeri sendiri. Terlebih berkumpul bersama dengan orang yang mereka cintai, Rasulullah saw.
Setelah mendapatkan kabar, bahwa di Makkah keadaan sudah stabil dan aman. Orang-orang kafir Quraisy tidak lagi memusuhi Nabi saw dan kaum mukminin. Akhirnya, mereka putuskan kembali ke Makkah. Tanah kelahiran. Tanah seribu harapan. Mereka pamit dengan Raja Najasyi. Mereka hendak kembali ke Makkah. Meski sebenarnya Raja Najasyi begitu berat melepaskan mereka.

Kembali Ke Makkah
Keputusan kembali ke Makkah sudah bulat dilakukan. Berlayarlah mereka menuju Jeddah. Sesampainya di pelabuhan Jeddah. Saat kaki melangkah pasti menuju Makkah. Kabar tidak enak datang menerpa. Yang mana informasi yang menerangkan, bahwa orang-orang kafir Quraisy tidak lagi menyerang Nabi saw dan kaum mukmin, adalah kabar bohong.
Mendengar berita yang tidak mengenakkan tersebut. Rombongan pecah menjadi dua. Yang satu tetap balik ke Makkah. Yang lain, hendak ke Habasyah lagi.
Yang tetap meneruskan perjalanan ke Makkah. Mereka memasuki Makkah secara diam-diam. Mereka mendapatkan jaminan dari sanak familinya. Misalnya, Usman bin Madz’um mendapatkan jaminan dari Walid bin Mughirah; Abu Salamah bin Abdulasad mendapatkan jaminan dari paman pihak ibunya, Abu Thalib.
Sementara, yang memutuskan untuk kembali ke Habasyah justru mendapatkan dukungan lebih banyak lagi. Jika hijrah yang pertama hanya diikuti belasan orang sahabat baik pria maupun perempuan. Untuk yang kedua kalinya yang mengikuti 83 pria dan 19 perempuan. Termasuk sahabat Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya, Asma binta Urmis. Juga para tokoh dari kabilah-kabilah sekitar Makkah.
Untuk yang kedua kalinya. Kaum mukminin diterima Raja Najasyi. Mereka diperlakukan dengan sangat baik. Mereka dijamin mengamalkan keyakinannya.

Dijamin Raja Najasyi
          Rasa hasud, iri, dan dengki para pembesar kafir Quraisy semakin menjadi-jadi. Mendengar berita. Jika kaum mukminin yang hijrah ke Habasyah mendapatkan perlakukan sekaligus perlindungan dari Raja Najasyi. Mereka sangat gusar. Mereka khawatir kaum mukminin menyusun kekuatan di luar negeri.
Setelah melakukan rembugan. Para tokoh kafir Quraisy mendelegasikan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi rabi’ah menghadap Raja Najasyi. Tujuannya, cuma satu menghendaki kaum muhajirin di kembalikan ke Makkah.
Segenap tipu muslihat dipersiapkan. Upeti dan hadiah yang terbaik dibawa untuk membujuk para pejabat Kerajaan Habasyah. Sehingga para pejabat itu dapat membujuk rayu Raja Najasyi. Setibanya dua utusan di Habasyah. Langsung menemui para pejabat tinggi negara. Pejabat yang memiliki wewenang untuk menasehati Raja Najasyi.
Suap dilakukan kepada dua orang pejabat. Keduanya siap merayu dan membujuk Raja Najasyi. Tetapi takdirNYA menentukan lain. Setelah diadakan sidang agung, antara Raja Najasyi, dua orang duta Quraisy, dua orang penasehat raja, dan segenap muhajirin  --dalam hal ini juru bicara muhajirin adalah sahabat Ja’far bin Abi Thalib r.hu. Semua menjadi mentah. Sebab, Raja Najasyi setelah mendengar penuturan Ja’far, justru memberikan jaminan dan perlindungan kepada segenap kaum muhajirin. Kaum muhajirin diberikan kebebasan untuk tetap tinggal dan menjalankan keyakinan mereka, di bawah perlindungan langsung dari Raja Najasyi.
Bahkan, permintaan Raja Najasyi kepada Ja’far agar menerangkan ajaran Islam yang disampaikan Nabi saw, dia bacakan surat maryam ayat 1-28,
üÈÿèg!2 ÇÊÈ ãø.ÏŒ ÏMuH÷qu y7În/u ¼çnyö7tã !$­ƒÌŸ2y ÇËÈ øŒÎ) 2yŠ$tR ¼çm­/u ¹ä!#yÏR $wŠÏÿyz ÇÌÈ tA$s% Éb>u ÎoTÎ) z`ydur ãNôàyèø9$# ÓÍh_ÏB Ÿ@yètGô©$#ur â¨ù&§9$# $Y6øŠx© öNs9ur .`à2r& šÍ¬!%tæßÎ/ Éb>u $wŠÉ)x© ÇÍÈ ÎoTÎ)ur àMøÿÅz uÍ<ºuqyJø9$# `ÏB Ïä!#uur ÏMtR$Ÿ2ur ÎAr&tøB$# #\Ï%%tæ ó=ygsù Í< `ÏB šRà$©! $wŠÏ9ur ÇÎÈ ÓÍ_èO̍tƒ ß^̍tƒur ô`ÏB ÉA#uä z>qà)÷ètƒ ( ã&ù#yèô_$#ur Éb>u $|ÅÊu ÇÏÈ !$­ƒÌŸ2t»tƒ $¯RÎ) x8çŽÅe³u;çR AO»n=äóÎ/ ¼çmßJó$# 4Ózøts öNs9 @yèøgwU ¼ã&©! `ÏB ã@ö6s% $wŠÏJy ÇÐÈ tA$s% Éb>u 4¯Tr& Ücqä3tƒ Í< ÖN»n=äî ÏMtR$Ÿ2ur ÎAr&tøB$# #\Ï%%tæ ôs%ur àMøón=t/ z`ÏB ÎŽy9Å6ø9$# $|ÏFÏã ÇÑÈ
Kāf Hā Yā 'Ain Shād.1 [Yang dibacakan ini adalah] penjelasan tentang rahmat Rabb kamu kepada hambaNYA, Zakaria.2   Yaitu, tatkala ia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut.3 Ia Berkata, “Wahai Rabb-ku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabb-ku.4 Dan, sungguh aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul. Maka, anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera.5 Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub. Jadikanlah ia, wahai Rabb-ku, seorang yang diridhai6”. Hai Zakaria, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu akan [beroleh] seorang anak yang namanya Yahya. Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.7 Zakaria berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku [sendiri] sungguh sudah mencapai umur yang sangat tua8”…..(Qs.Maryam [19]: 1-28).
         
          Setelah mendengarkan kalamullah yang dibacakan oleh sahabat Ja’far. Semakin yakin Raja Najasyi, bahwa yang salah adalah dua utusan dan para kafir Quraisy itu. Sekalipun kaum muslimin tidak sekeyakinan dengannya. Raja Najasyi memiliki keyakinan, bahwa sumbernya adalah sama. Yakni, wahyu Allah ta’ala dan Muhammad sama seperti Isa yang menjadi utusanNYA. [ ]