Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.




LAPAR, DAHAGA, BIANGLALA

Selain lapar dan dahaga
Selain derita dan nestapa
Apa yang kuperoleh dari masokisme ini
Apa yang kuraih selain perih ini?

Aku tarawih tak berasa tarawih
Aku tadarus tak menggerus rakus yang lebih
Aku jamaah subuh tak ngurangi maksiat kambuh
Aku dengan keakuan yang tak sembuh-sembuh

Aku shalat lalu sujud
Tapi pikiran dan perasaanku saling berebut
Meminta ruang untuk dimanjakan
Meminta waktu untuk pesta perayaan

Aku begitu gembira
Lebaran sebentar lagi tiba
Kesakitan-kesakitan badan dan jiwa
Akan jadi merdeka

Tetapi, tetapi di sudut sunyi ruhani
Di dalam lapis hati yang paling inti
Ada seorang ibu tua serba putih
Kepadaku ibu itu menagih

"Anakku, betapa gerimis senja
Tatkala engkau berdiri di jendela
Tubuh mungilmu kuseka dengan airmata
Engkau pernah bertanya

"Ibu, kenapa aku harus lapar dan dahaga
Sedang gerimis senja itu tak pernah dahaga
Sedang tanah ini tak pernah lapar
Sedang hujan siapkan makanan air menghantar?

"Anakku, dalam lapar dan dahaga yang sempurna
Kelak engkau akan mampu terbang ke sana
Meniti tangga-tangga bianglala
Dan bidadari yang berterbangan itu akan menyambutmu di surga."

Dan kini barulah kungerti
Di tiap lapis-lapis bianglala hidup ini
Ada lapar dan dahaganya sendiri
Yang meminta diri untuk menahan diri

Hingga kelak
Aku tersungkur
Dan hanya
Memeluk bianglala

Yogyakarta, 7 September 2010


BERGANTUNG

Ketika kuangkat tanganku dalam takbiratul ikhram
Betapa aku ngrasa tak pantas
Berharap meminta yang pas
Tersebab aku telah tenggelam

Ketika hadir di pengajian-pengajian
Betapa semua dan segala kata
Menghunjam ke dalam lubuk hati yang jelaga
Tersebab aku tersindir sendirian

Tetapi, tetapi, kepada siapa lagi
Aku berharap keselamatan
Tengadahkan tangan akan rejeki
Jika bukan kepada-Mu, Tuhan?



Yogyakarta, 27 Agustus 2010



Rindu Ibu


Ibu,
di ambang bulan, di ramadhan ini
di dini hari di saat subuh menanti
kulayangkan fatihah berkali kepadamu
mataair airmata bermuara
                                       diharubiru rindu

Ibu,
di pintu bulan, di ramadhan ini
di pagi di saat subuh berganti mentari
kutelponkan ungkapan ampun nurani kepadamu
batu-batu kali batu-batu hati terkikis
                                       tersedu airmata rindu



Yogyakarta, 21  Agustus 2009

Pendidikan Akhlak Lewat Kisah



Oleh: D. Zawawi Imron
Di Indonesia dulunya, dongeng merupakan cerita yang hidup di tengah-tengah masyarakat agraris. Bila bulan purnama datang dengan bentuknya yang bundar keemasan, anak-anak menggelar tikar di halaman rumah. Nenek atau kakek mendongeng di atas tikar dengan dikelilingi oleh cucunya. Kemudian angin sepoi bertiup mendesirkan daun-daunan. Sungguh, peristiwa yang romantis! Pada saat seperti ini, kerekatan dan kekerabatan menemukan bentuknya dengan berintikan jalinan kasih sayang antara generasi tua dan generasi penerusnya. Dongeng yang kadang-kadang berupa fable yang mengisahkan tentang satwa akan sangat membantu rasa sayang pada binatang dan juga cerita tentang manusia yang bisa menjadi contoh teladan bagi kehidupan. Tidak kurang pentingnya adalah cerita tentang para rasul dan nabi serta ketauladanan para sahabat yang mulia. Cerita-cerita yang mengandung ajaran akhlak mulia seperti itu sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian anak-anak dan para santri. Bahkan dalam pengajian-pengajian kisah teladan yang mengandung hikmah perlu disampaikan untuk memberi pencerahan.
Dalam penelitian, dongeng ternyata menyimpan banyak kearifan moral yang bisa mengetuk dunia rohani manusia, termasuk anak-anak, untuk melihat kehidupan di dunia ini dengan pandangan yang bertumpu pada hati nurani. Sebab, pada umumnya ajaran yang terdapat pada dongeng adalah kejujuran, kasih-sayang sesama manusia, dan kasih-sayang pada makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan.
Seorang pengamat Barat, Lewis Caroll mengatakan bahwa dongeng adalah “tanda kasih”. Berkisah dan mendongeng adalah memberi hadiah – tanda kepedulian dan keterbukaan. mendongeng adalah memberi kesadaran pada pendengar tentang pengertian dan perasaan takjub, misteri dan penghormatan pada kehidupan. Karena itu, saya sangat gembira pada usaha anak-anak muda yang berupaya menghidupkan kembali dongeng-dongeng dengan mengadakan lomba dongeng. Usaha seperti itu tidak lain adalah wujud dari kepeduliaan para warisan budaya yang sengaja diorientasikan kepada tantangan masa depan dengan mengetengahkan tema mencintai kemanusiaan, satwa dan tumbuh-tumbuhan.
Ketika banyak orang-orang yang sudah tidak peduli kepada budaya warisan leluhurnya, sementara kearifan dari luar juga tidak diraup, maka upaya melestarikan kearifan tradisional yang masih relefan dengan masa depan dan perkembangan jaman sudah tentu punya nilai yang sangat berharga, karena menunjukkan bangkitnya tanggung-jawab kebudayaan. Usaha ini saya nilai sebagai langkah pertama yang harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Saya berharap semoga generasi muda yang tampil hendak merevitalisasi warisan budaya itu tetap tegar dengan tanggung-jawabnya dan terus melangkah menuju hari esok dengan senyum optimis. Kata pepatah lama, biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu – berbantal ombak berselimut angin menuju cita-cita mulia. Semoga usaha kebudayan ini mendapat sambutan dari masyarakat terutama untuk kembali mengangkat dongeng sebagai salah satu bentuk sastra lisan yang nuansa-nuansanya akan sangat berguna dalam memperkokoh jati diri kebudayaan bangsa dalam era globalisasi yang penuh tantangan.
Dengan diupayakan dongeng sebagai ungkapan kasih-sayang tentu saja para ibu dan guru diharapkan bisa dengan senang menghadiahkan dongeng kepada anak-anak tercinta. Ungkapan kasih-sayang berupa dongeng nantinya akan membentuk watak dan karakter berdasarkan pesan-pesan budi pekerti yang terkandung di dalam dongeng. Tidak ada salahnya kalau anak-anak yang kini masih hijau dan senang dongeng nantinya menjadi teknolog dan teknolokrat yang berakhlak mulia, yang merasa berhutang budi kepada orang tua dan guru yang mendidiknya. Bukankan akhlak mulia itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tentram? Kita tidak ingin kehilangan warisan budaya yang berharga. Apalagi, kita memandangnya masih sangat relevan dengan pembangunan jati-diri bangsa yang menuju hidup mulia.

SALAFI WAHABI DIGUGAT ULAMA SEJAGAD



Rasanya tak ada kata jera buat salafi wahabi untuk selalu mengklaim sebagai aliran islam paling baik dan benar dalam mendakwahkan islam. Merasa paling sesuai dengan alqur'an dan as-sunnah yang diteladankan oleh gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw. Bahkan, tak jarang menyerang segala bentuk pemahaman yang dianggap tidak sejalan.
Dalam praktek keagamaan dan keberagamaannya golongan ini sangat mudah membid'ah dan mengafirkan. Tak heran jika kemudian perjuangan dakwah Salafi Wahabi di masyarakat selama ini, selalu mendapat kecaman dimana-mana. Kalau suatu faham atau aliran dibantah satu-dua orang, itu biasa. Mungkin atas dasar iri, tidak suka, atau sentiment. Tapi jika yang membantahnya adalah ribuan ulama dan itu mayoritas, apalagi dari berbagai negara, madzhab dari masa ke masa, maka ada tanda tanya besar yang perlu dipertanyakan. Ada apa dengan Salafi Wahabi? Kenapa digugat ulama sejagad?
Perlu anda ketahui, bahwasanya selain kerasnya yang menonjol golongan ini terkenal dengan pemahamannya terhadap al-qur'an dan hadis yang letterleg (tekstual) dan menafikan arti majazi (makna kiasan). Padahal al-qur'an dan hadis itu mengandung makna tersurat dan tersirat. Sehingga, banyak ayat atau hadis yang artinya mereka serupakan (tasybih) secara hakiki antara Allah dengan makhluk-Nya. Kemudian, kalau diamati lebih mendalam aliran ini sangat keras melawan yang namanya ajaran tashawwuf, tawassul, tabarruk (pengambilan berkah), permohonan syafaat, ziarah kubur, majelis-majelis dzikir dan masih banyak lagi yang lainnya.
Islam itu terlalu luas untuk dipahami oleh segelintir orang. Islam sangat toleran, dan moderat. Penyampainya sendiri harus memiliki kadar keilmuan yang luas, luwes lagi mendalam. Tidak bisa kalau hanya berpandu terhadap satu ulama saja. Berbagai referensi ulama harus kita pelajari agar dalam praktek keagamaan dan keberagamaan kita tidak bermata kuda. Hal ini  yang tidak di ajarkan oleh kaum Salafi Wahabi terhadap pengikutnya. Pengikut Salafi Wahabi hanya di doktrin untuk berpegang terhadap fatwa ulama sesama Salafi Wahabi. Ini yang menyebabkan kaum salafi berislam layaknya robot tanpa ada unsur hati. Naudzubillah
Menyaksikan rentetan fenomena ini membuat Syaikh Idahram bergejolak hatinya. Dengan latar keilmuan yang mumpuni ia berusaha untuk mengupas tuntas apa itu Salafi Wahabi? dan bagaimana sepak terjangnya? Maka lahirlah buku fenomenal ke tiga dari Trilogi tentang Salafi Wahabi “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, Mengenal dan mengkritisi penyimpangan tokoh-tokoh utama mereka” sebagai kelanjutan dari 2 buku sebelumnya yang laris manis dipasaran. Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren dengan ketebalan 338 halaman. Ditulis secara ringkas, jelas dan lugas serta pedas karena mengkritisi semua kerancuan dan penyimpangan-penyimpangan aliran Salafi Wahabi dan ulama-ulamanya, disertai pula gugatan ulama dunia dari berbagai generasi dengan bidang keilmuan yang berbeda.

Puisi-Puisi L.K. Ara





SUDUT JAKARTA


Masih ada sudut Jakarta
Yang sukar dilupa
Saat sinar senja
Berpendar diatas laut Jakarta
Dan kau tergesa berlari kesana
Menyaksikan keindahan tak terperikan

Lihatlah baris syair
Mengalir di atas  warna keemasan senja
Rasakan getar
Menggantikan gelisah dan risau
Melembutkan
Menyejukkan
Di suatu sudut Jakarta
Yang sukar dilupa

Setelah aku pergi
Kubayangkan kau masih disana
Menyulam syair diatas permadani emas
Merapikan yang terbengkalai
Sebelum hari usai

Sekali waktu bila kita ketemu
Kau sudah siap dengan sulaman itu
Dan aku mungkin masih termangu
Pada sudut yang sukar dilupakan itu


Banda Aceh, 15 Feb 2011

RENCONG TAK BERSARONG


Puisi dengan ratusan rencong tak bersarong
Telah digelar di ruang pameran
Orang-orang memandang heran
Seorang anak bertanya
Apakah rencong
Selalu tak bersarong

Disebuah dinding
Ada gambar mata air
Kerbau dan padi
Serta ada juga berdesakan
Pedagang dengan perut buncit

Didinding itu juga
Ada rakyat kecil
ada sawah kering
semua mati
ada sumur kering
mati
air susunya dihabisi

Puisi dengan ratusan rencong tak bersarong
Dengan mata berkilau
Mendekat gambar-gambar
Apakah ia dapat menahan sabar


Banda Aceh, 9/3/2011



PENYEBAR WANGI

Seorang yang kerjanya menyebar wangi
Di tanya mengapa ia menyebar wangi
Yang ditanya hanya diam

Dari hari ke hari
Ia menyebar wangi
Dari kampung ke kota
Kerjanya hanya menyebar wangi
Dari rumah kerumah
Ia menyebar wangi
Kepada anak dan orang dewasa
Ia menitipkan wangi

Dari mana kau mendapat wangi
Tanya seseorang
Yang ditanya hanya diam

Diambilnya daun
Dipetiknya bunga
Dikupasnya kulit kayu
Digalinya akar
Wangipun tersebar
Wangi  betambah tambah
Ketika diperciki embun
Wangi harum wangi harum

Esoknya ketika seseorang
Akan memberi hadiah kepada penyebar wangi
Atas jasanya selama ini
Seseorang menunjuk
Kearah orang ramai
Yang mengusung jenazah
Penyebar wangi
Ke kuburan

Seorang yang kerjanya menyebar wangi
Sudah memenuhi panggilan  Illahi

Banda Aceh, 2/3/2011

 L.K.Ara adalah sastrawan Asal Aceh


Tamak Sumber Keburukan


Ù…َا بَسَÙ‚َتْ Ø£َغْصَانُ دُÙ„ٍّ Ø¥ِلاَّ عَلىَ بِدْرٍ Ø·َÙ…َعٍ
“Tidak bertunas dahan-dahan kehinaan, kecuali karena benih-benih ketamakan”

Dinul Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya menjadi hina. Tidak satu pun kalamullah dan hadis Nabi saw yang mewartakan mengenai hal itu. Sebaliknya, Allah dan rasulNYA hendak mengangkat manusia dari kehinaan. Pun pula, al-qur`an dan al-hadis memberikan banyak pedoman dan tips yang sangat strategis, agar siapa saja yang mengamalkan dengan benar lagi lurus hidupnya tidak hina.
Guru kita, Syaikh Ibnu Atha`illah asy-Syakandari r.hu, melalui nasehatnya di atas mengingatkan kita. Demikian hal itu pernah diingatkan Allah dan rasulNYA. Supaya kita tidak menjadi manusia yang tamak. Rakus. Merebut hak orang lain. Lalu, diambil begitu saja secara sombong lagi penuh arogan. Orang yang berperilaku seperti itu hidupnya tidak akan merasakan kemuliaan. Justru yang didapatkan adalah kehinaan. Hidup serba terhina.
Tamak. Sungguh penyakit hati yang sangat membahayakan pemiliknya. Orang yang berhati tamak. Pasti memiliki perilaku tamak. Rumah tangganya pasti rusak. Bahkan, negara menjadi rusak karena dipegang dan dijalankan pemerintahan oleh orang-orang yang berhati tamak.
Perhatikan kehidupan di sekeliling Anda. Rusaknya darat, laut, dan udara. Hancurnya pendidikan. Carut-marutnya perpolitikan. Terjadinya monopoli dalam perdagangan. Dan, masih banyak yang lain, yang menjadikan kehidupan masyarakat tidak: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Semua itu akibat lahirnya perilaku tamak.
Korupsi merajalela. Disebabkan, ketamakan para koruptor. Akibatnya, bangsa tersebut menjadi hina di mata bangsa-bangsa lain.
Kapitalisme dan materialisme adalah dua benih yang dapat melahirkan seseorang yang meyakininya menjadi tamak. Yang pasti orang yang mengidap penyakit kapitalisme dan materialisme. Seenaknya sendiri dalam mengumpulkan modal dan materi. Hanya berpikir buat diri sendiri. Egoisme. Ananiah. Tidak menghiraukan orang lain.
Celakanya lagi. Sekarang ada penyakit baru, yaitu neo-liberalisme. Bagi orang yang terkena penyakit sadis ini. Dia berpaham, bahwa hidup ini harus selalu beruntung secara materi dan modal semakin menumpuk, sekalipun tidak memiliki modal. Pokoknya maunya untung terus. Cara apapun ditempuhnya. Persis seperti yang dilakukan bangsa Cromagnon dan keturunannya hingga detik ini.
Bagi seorang mukmin muslim. Apabila bibit-bibit tamak terasa mulai ada. Cepat-cepatlah melakukan riadlah. Olah batin. Latihan jiwa. Jiwanya dilatih. Latihan yang terpusat pada kesehatan dan kekuatan jantung. Di samping secepat kilat mencari nasab darahnya. Sehingga dapat belajar sejarah dan perjuangan para leluhur. Yang salah ditinggal dan dibuang jauh-jauh. Yang baik lagi benar. Cocok dengan qur`an, hadis, dan ilmu pengetahuan. Diamalkan dengan semangat: Triple I: Rukun Iman; Rukun Islam; dan Laku Ihsan.
Semangat pengamalan Triple I dengan dasar bermurah hati dan cinta. Semata mengharapkan ridlaNYA [ ]

Giring Ganesha Djumaryo

Seniman

Mas Giring –demikian panggilan akrabnya- adalah seorang seniman sekaligus vokalis Band Nidji. Pria kelahiran Jakarta 14 Juli 1983 ini, selain hobi dalam bidang seni dan olahraga,  juga sangat antusias dalam bidang agama. Dia menunaikan ibadah haji pada tahun 2008, rajin membaca buku dan majalah, termasuk Majalah MAYAra di basecampnya Jl. Pengandegan Barat Raya No. 2, Pancoran, Jakarta Selatan.
Pria dua putra yang ulang tahunnya bertepatan dengan ulang tahun Majalah MAYAra ini berkomentar, “Majalah ini pastinya positif bagi generasi muda. Isinya tidak melulu agama, tetapi universal dan mengajak cinta Indonesia. Semoga semakin bermanfaat dan sampaikan salam saya untuk teman-teman Ma'had TeeBee Indonesia, serta para pembaca MAYAra.” (Ak)

Sulistyanto Soejoso

Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur


Berpenampilan sederhana dan ramah seolah menjadi dua hal yang melekat pada pribadi penganjur tetap BHI (Bening Hati untuk Indonesia) ini. Cak Sulis demikian dia akrab dipanggil, merupakan salah satu anggota dewan pendidikan Jawa Timur. Selain itu dia juga merupakan penganjur di kajian BHI yang diadakan setiap bulan.
Mengenai Majalah MAYAra pemilik nama lengkap Sulistyanto Soejoso ini mengatakan, “MAYAra itu majalah yang unik, sarat dengan pengetahuan yang disajikan secara apik dan ringan, MAYAra adalah bacaan sekaligus tuntunan yang menyisipkan tatanan bagi masyarakat yang membacanya.”
Cak Sulis juga menyarankan kepada MAYAra supaya meningkatkan kualitas layout, konsistensi besarnya huruf dan spasi, meminimalkan kesalahan dan juga Rubrik Fans MAYAra agar ditambah dari tiga menjadi empat orang. Harapannya tentu saja supaya ke depannya MAYAra bisa lebih baik lagi. (Zein)

Sujiwo Tejo

Agus Hadi Sudjiwo atau yang lebih akrab dengan nama Sujiwo Tejo dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut sebagai seorang budayawan. Karya dan pentasnya mengajak para penikmatnya untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang.
Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya asli Indonesia, yang  diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolisme itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, Indonesia akan dikenali sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern tapi tetap tidak menghilangkan karakter asli budayanya.
Pria kelahiran Jember 31 Agustus 1962 ini menyarankan kepada Majalah MAYAra sebagai media pesantren, agar mampu mengkodisikan Islam yang ramah dan damai serta mencoba untuk memformulasikan conditioner anti 'ketombe' Islam radikal.(Ak)

Gadelisme

Ontran-ontran kejujuran dari timur. Apabila di jaman kemerdekaan ada bang wetan. Yakni, putra fajar, Bung Karno. Sekarang tiupan lengking kejujuran itu disampaikan seorang bocah SD yang baru saja tamat. Namanya AAM (Alifah Ahmad Maulana) 13 tahun. Yang mendapatkan dukungan penuh dari ibunda tercinta, Siami. Ibu muda yang sangat gigih membela kejujuran. Meski harus menelan pil pahit berupa pengusiran warga. Sebab, keluarga ibu Siami dianggap berperilaku memalukan. Sikap warga Gadel mengusir ibu Siami itulah. Sebagai bentuk arogansi jahiliah baru. Yang layak dengan sebutan “Gadelisme”. Yaitu, paham yang menerima kebohongan demi tujuan sesaat, baik yang menguntung secara pribadi maupun kelompok. Di mana masyarakat sangat mendukung kebohongan tersebut. Kebohongan yang sitematis lagi.
Guru yang semestinya digugu lan ditiru. Di era kliptokrasi dan partokrasi ini. Ternyata guru “melegalkan” tindak asusila dalam dunia pendidikan.
Pepatah yang mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Rupanya tepatlah dialamatkan buat para oknum guru yang akhlak dan adabnya tercela. Seperti guru mengajarkan AAM buat menyontek berjama’ah. Ternyata tidak hanya korupsi berjama’ah. Tetapi ada juga menyontek berjama’ah. Lantas pertanyaannya, siapa ya imamnya?  
“Gadelisme” sebuah paham baru yang muncul menyeruak dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Seperti mengamini kesalahan. Mengamini kebohongan. Ketidak-berdayaan rakyat miskin terhadap struktur yang membuatnya jatuh miskin. Ketidak-berdayaan ulama menyuarakan kebenaran. Akibat struktur negara yang mencengkeram orang-orang jujur. Semua itu akibat bangsa ini tidak menjalankan Pancasila dan UUD 1945 dengan murni dan konsekuen.
Sirnanya pemahaman terhadap Pancasila dan UUD 1945. Menjadikan bangsa ini lambat tetapi dapat dirasakan akibatnya. Yaitu, bangsa Indonesia jatuh pada model negara kliptokrasi dan partokrasi.
Kliptokrasi yaitu negara dipimpin para maling. Sedangkan, partokrasi yaitu negara dikendalikan oleh kekuatan partai politik. Kedua model negara ini saling melengkapi. Karena boleh jadi para maling itu diusung oleh partai politik. Buktinya sangat sederhana. Rakyat memiliki hak politik hanya ketika nyontreng. Setelah itu habis manis sepah dibuang. Anehnya rakyat selalu dinina-bobokan lalu ditipu dengan bahasa-bahasa agama.
Misalnya, termasuk paham “Gadelisme”. Setiap pemilihan kepala daerah, termasuk pemilihan presiden dan pemilihan umum, atau pemilihan calon DPR. Selalu ada yang namanya “bagi-bagi uang”. Yang sering diistilahkan dengan “serangan fajar”. Semua tahu perilaku bejat tersebut. Tapi mengapa bangsa yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Minat ibadah haji dan ibadah umrohnya sangat tinggi. Begitu ahlan wa sahlan dengan: suap, sogok, pungli, mark up dana, nyatut, mencuri timbangan, dan menipu??
Mencari siapa yang salah. Seperti mengurai benang ruwet. Tidak ada ujung pangkalnya. Kuncinya, kita semua harus menolak setiap bentuk amoral seperti korupsi dalam berbagai bentuk dan modelnya. Dengan kata lain, “Gadelisme” harus ditolak. Siapa pun yang melawan kejujuran. Harus dilawan. Harus disadarkan. Harus diluruskan. Jika tidak dapat? Terpaksa harus dilenyapkan dari muka bumi Indonesia untuk selamanya. Ini jawaba kongkritnya.
Guna melawan paham “Gadelisme”. Setiap manusia Indonesia tidak boleh bangga dengan banyaknya harta, kekayaan, dan tingginya jabatan. Yang kesemuanya didapatkan dengan cara salah. Baik salah menurut agama maupun adat bangsa kita. Kita harus komitmen dengan kearifan budaya dan kearifan nilai yang ada di negeri ini.
Kita tidak boleh latah dengan istilah modern. Modern harus diterjemahkan dengan rahmatal lil alamin. Modern harus memberkahi kehidupan segenap umat manusia. Jadi, kapitalisme, materialisme, dan permisifisme itu sangat tidak modern. Justru tindakan AAM dan ibu Siami itulah yang menunjukkan, bahwa keduanya sangat modernis, islamis, dan pancasilais. Maka, yang menolak cara berpikir AAM dan ibu Siami itu boleh jadi mereka mengidap penyakit: jahiliah. Yakni, anti kejujuran, anti keikhlasan, dan anti tauhid. Dengan demikian mereka tidak modernis, tidak islamis, dan tidak pancasilais.
Apabila itu dikatakan ektrim. Maka, masih adakah kata yang baik buat mereka yang menolak kejujuran, menolak keikhlasan, dan menolak tauhid. Kejujuran itu landasan agama. Hilangnya kejujuran berarti matinya peran agama dalam kehidupan masyarakat. Agama sudah tidak lagi berdaya melakukan “perubahan sosial”. Sebaliknya, agama menjadi market (pasar). Pesan-pesan agama disesuaikan dengan kemauan para “pemesannya”. Bahkan, banyak dijumpai agama sekadar menjadi bemper kepentingan sesaat. Ketika mau khitanan butuh agama. Ketika mau menikah butuh agama. Ketika ada kematian butuh agama. Tetapi di luar ketiga acara itu agama tersimpan dalam almari besi. Yang membukanya saja harus menggunakan kode-kode terentu.
Inilah akibat apabila masyarakat sebuah bangsa itu kufur nikmat. Maka, krisis yang terjadi tidak dapat diurai. Sebaliknya, tambah mbulet tidak jelas ujung pangkalnya. Ingat negeri Saba`???
Itulah sebabnya, alfaqir mengajak kepada segenap pembaca yang memiliki akhlak mulia dan tatakrama terpilih, untuk senantiasa syukur nikmat. Bersyukur atas segenap nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah ta’ala. Sehingga Allah swt menambah banyak kenikmatan buat bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. Amin. [ ]

Keyakinan: Kekuatan Manusia Untuk Menjadi Sesuatu

Keyakinan Anda buah dari cara berpikir Anda. Keyakinan yang Anda milik yang menjadikan hidup Anda yang sebenarnya. Keyakinan yang Anda miliki menjadikan Anda optimis. Optimisme dengan yang baik-baik. Niscaya hidup Anda akan menjadi baik. [Your beliefs are the result of the way you think. The belief that you belong to that make your life real. The belief that you have makes you optimistic. Optimism with a fine. Surely your life would be a good]”
Omda Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Ali al-Ya`quby al-Mutawakkily

Dalam kehidupan seorang manusia. Keyakinan menjadi sangat penting. Manusia yang memiliki keyakinan. Hidupnya lebih baik. Dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keyakinan. Hilangnya keyakinan dari dalam diri seseorang. Menjadikan orang itu lemah. Tidak optimis. Tak jarang orang tersebut jatuh dalam keputus-asaan.
Merupakan ketetapan Tuhan YME. Seseorang yang mau optimis dalam hidupnya. Dia bakal dikaruniai dengan apa yang menjadi optimismenya tersebut. Karena memang Tuhan bergantung dari persangkaan para hamba.
Apabila persangkaan hamba itu positif. Pasti hamba itu mendapatkan serba postifi dariNYA. Sebaliknya, jika hamba itu berprasangka negatif. Niscaya hamba itu mendapatkan serba negatif dariNYA.
Itulah pentingnya sebuah keyakinan yang benar. Sebab, dari keyakinan yang benar. Bakal lahir optimisme yang benar. Inilah rangkai cara berpikir yang hendak melahirkan kehidupan manusia yang serba membahagiakan dan mengasyikkan.

Selalu Berpikir Positif
Hendaklah selalu berpikir positif. Dan, harus berusaha sekuat tenaga, agar keyakinan yang dimiliki selalu disertai dengan berpikir positif. Sangat berbahaya jika keyakinan seseorang itu diliputi dengan keburukan dan kejelekan. Maka, yang terjadi dan dialami orang tersebut adalah keburukan dan kejelekan.
Hati-hatilah dalam berbicara dan berpikir. Dari pembicaraan dan dari pikiran. Dapat lahir berbagai macam sikap optimisme pada diri seseorang. Sementara, sikap optimisme dapat membangun sebuah keyakinan yang mempengaruhi cara berpikir seseorang.
Masa depan seseorang. Bahkan, kehidupan seseorang sangat dipengaruhi dan diwarnai oleh cara berpikirnya. Apabila seseorang itu selalu berpikir negatif. Atau, selalu menafikan kebenaran. Maka, itulah yang terjadi.
Dengan membiasakan berpikir positif. Maka, hati menjadi jembar. Hati menjadi bermurah hati. Kejembaran dan kemurah-hatian hati seseorang merupakan kekayaan yang mahal harganya. Sebab, semua itu identik dengan masa depannya.
Sukses atau tidak. Bahagia atau tidak. Sejahtera atau tidak. Sehat atau tidak. Semua itu kembali kepada cara berpikir manusianya. Apabila Anda mau selalu berpikir positif. Maka, kehidupan dan masa depan Anda niscaya serba positif. Apabila Anda senantiasa berpikir negatif. Maka, kehidupan dan masa depan Anda bakal diwarnai dengan serba negatif.

Tinggalkan Ragu-Ragu
Ragu-ragu dapat menghilangkan keyakinan. Hilangnya keyakinan berarti kegagalan hidup. Itulah sebabnya, kayakinan Anda harus kokoh lagi kuat. Apa saja yang menjadikan diri Anda ragu-ragu harus ditinggalkan. Harus dibuang jauh-jauh. Harus dienyahkan dari dalam pikiran dan hati Anda.
Anda harus segara mencari segala sesuatu yang menjadikan Anda yakin kembali. Ragu-ragu dengan segenap duplikasinya, seperti: was-was dan khawatir. Lambat atau cepat pasti merusak keyakinan Anda.
                               
Kuasai Pikiran
Agar keyakinan Anda tetap kokoh. Kuasailah pikiran Anda. Jangan sebaliknya, Anda dikuasai oleh pikiran. Kemampuan Anda menguasai pikiran dapat melahirkan kerja cerdas. Bahkan berpikir jenius. Sebab, kemuliaan akal pikiran Anda hanya menjadi sarana supaya hidup manusia itu memiliki nilai dan kebenaran.
Tetapi sebaliknya, apabila pikiran Anda menguasai diri Anda. Anda bakal terseret pada segenap kemauan pikiran yang Anda pikirkan. Saat itu juga hilanglah keyakinan Anda.
Optimisme yang Anda miliki adalah rangkai berpikir. Sehingga diri Anda menjadi lebih berarti. Sebab, optimisme Anda mampu menjadikan Anda apa pun di muka bumi ini. Itulah sebabnya, Anda harus menjadi diri Anda sendiri. Tidak usah meniru. Sebab, Tuhan YME sudah melengkapi dengan segenap fasilitas kehidupan pada diri Anda.
Anda harus menjadi yang terbaik buat diri Anda sendiri. Tidak perlu malu. Tidak usah minder. Tunjukkan pada dunia, bahwa Anda adalah Anda. Orang lain bukan Anda.

Menjadi Diri Sendiri
            Tuhan YME menciptakan setiap makhluk di dunia ini memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Maka, tidak perlu saling berebut. Berebut tugas. Berebut pengaruh. Berebut kursi. Dan, berebut kekuasaan.
            Yang seharusnya difokuskan oleh setiap orang di dunia ini adalah, secara mandiri mempersiapkan diri sendiri menjadi yang terbaik buat dirinya. Semua itu dilakukan karena untuk menerima tugas dan amanah dari Tuhan YME. Ilmu pengetahuan dan keahlian menjadi sangat penting untuk dimiliki.
            Dengan ilmu pengetahuan dan keahlian. Seseorang dapat menerima setiap tugas kemanusiaan yang diamanahkan kepadanya. Dengan ilmu pengetahuan dan keahlian pula seseorang menjadi sadar, di mana di bumi ini ia ditakdirkan hidup dan menjadi apa saja.
            Sebut saja unta. Unta bakal hebat di padang pasir. Tetapi unta tidak hebat di dalam air. Beda dengan ikan. Ikan hebat di air. Namun ikan tidak hebat di padang pasir.
            Demikian halnya dengan Anda. Anda laksana “unta” atau “ikan”. Itu sangat tergantung dengan ilmu pengetahuan dan keahlian yang Anda miliki. Apabila Anda menguasai ilmu pengetahuan dan berkeahlian seperti “unta”. Maka, tempat Anda adalah padang pasir. Sebaliknya, jika Anda menguasai ilmu pengetahuan dan berkeahlian seperti “ikan”. Maka, tempat Anda adalah di dalam air.
            Maka, Anda tidak perlu cemas dengan masa depan Anda. Anda harus menjadi diri sendiri. Tidak boleh membebek siapa pun. Ilmu pengetahuan, keahlian, dan keyakinan yang Anda miliki. Yang nantinya dapat mengantarkan Anda menjadi apa saja.
            Didiklah diri Anda sesuai dengan kemampuan, kemauan, dan kebutuhan. Jangan paksakan diri Anda menjadi orang lain. Atau, menjadi sesuatu yang Anda sendiri tidak mampu. Anda sendiri tidak mau. Dan, Anda sendiri tidak butuh.

Renungan
·          Keyakinan yang kuat menjadikan Anda kuat. Lemahnya keyakinan pertanda lemahnya kehidupan seseorang.
·          Yakini segala sesuatu itu dengan disertai sikap optimis. Tidak ada optimisme yang hebat kecuali disertai dengan selalu berpikir positif.
·          Anda harus bangga menjadi diri sendiri. Sebab, Tuhan tidak pernah menciptakan duplikasi dalam hidup ini.
·          Keyakinan adalah seni berpikir. Optimisme adalah strateginya. Keberhasilan adalah buahnya.
·          Meyakini sesuatu sesaat itu lebih baik daripada meragukan sesuatu sesaat. Sebab, keduanya mampu menghasilkan kenyataan. [ ]


Sehat: Energi Manusia Yang Besar

Tuhan menyukai jika ada manusia yang minta dikaruniai hidup sehat. Sehat adalah energi yang besar bagi manusia. Manusia sehat berarti diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Apabila tidak melakukan kebaikan berarti manusia itu mengingkari nikmat yang dianugerahkan Tuhan padanya. Sehat merupakan energi yang mampu menjadikan manusia untu berubah menjadi lebih baik dan bermanfaat. Untuk sukses. Untuk mengabdi kepadaNYA. Untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Dan, untuk berbuat baik dengan sesama. [God likes people who ask if there is blessed with a healthy life. Healthy is a great energy for humans. Healthy human means given the opportunity by God to do good as much as possible. If not do good mean to deny that human blessings given by God to him. Healthy is an energy that can make man to change for the better and useful. In order to succeed. To serve Him. To maintain the environmental balance. And, to do good with each other].”  
Omda Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Ali al-Ya`quby al-Mutawakkily
Manusia dikatakan sukses apabila hidupnya: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Untuk menuju kehidupan yang sukses. Manusia harus sehat. Sehat dan kesehatan merupakan energi yang besar dalam kehidupan ini. Apalah arti harta melimpah jika hidup tidak sehat. Apalah arti memiliki kekuasaan apabila hidup tidak sehat. Apalah arti ilmu yang banyak jika hidup tidak sehat. Jawabannya sangat sederhana, “Manusia mengalami labilitas ketika dililit rasa sakit. Manusia hidupnya terbebani jika fisik dan ruhaninya tidak sehat.”
Tidak hanya itu. Ada beberapa penyakit yang memiliki bawaan tertentu. Marah, misalnya. Atau, rasa curiganya tinggi. Maka, orang yang sakit hidup menjadi tidak indah dan bugar. Hilangnya keindahan dan kebugaran dalam hidup. Menurunkan energi kehidupan yang berakibat pula. Tidak suksesnya seseorang dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Karenanya, seorang mukmin harus bersyukur dengan dikaruniai 4 kenikmatan yang melingkupi kehidupannya. Sehingga hidupnya menjadi sukses. Yakni, menjadi seorang mukmin yang dianugerahiNYA: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB).

4 Nikmat Mukmin
Apabila Anda mengaku beriman kepadaNYA. Anda harus bersyukur dengan anugerahNYA yang berupa nikmat: Iman; Islam; Sehat; dan Waktu luang. Banyak orang yang diberi harta melimpah tak mampu bersyukur. Banyak orang yang diberi ilmu tetapi tidak dapat bersyukur. Banyak orang diberi kekuasaan namun juga tak mau bersyukur. Hanya orang yang memiliki: Iman; Islam; Jasmani-ruhani sehat; dan Waktu luang, yang mampu bersyukur.
Manusia yang pandai bersyukur. Pertanda jika ruhaninya sehat. Orang yang ruhaninya sehat niscaya memiliki tubuh yang sehat. Sehat jasmani dan sehat ruhani adalah modal dasar untuk menjadi orang sukses yang utuh.
Banyak orang yang sebenarnya salah memahami makna sukses. Tidak tepat. Jika sukses hanya dipahami banyak harta. Memiliki kekuasaan. Menjadi pemimpin. Bisnisnya menghasilkan banyak duit. Sukses itu tidak sekadar sukses material. Sukses finansial. Sukses sosial. Sukses spiritual.
Tetapi, yang disebut sukses ya meliputi semuanya. Sehat jasmani-ruhani. Sejahtera dhohir-batin. Bahagia dunia-akhirat. Jadi, untuk konteks dunia sukses yang sebenarnya tidak ada.
Bagi mukmin muslim hendaknya selalu berikhtiar dhohir-batin, kerja keras, tawakal, dan selalu memiliki azzam untuk sukses yang sebenarnya. Yaitu, sukses seperti yang alfaqir sebutkan: Sehat jasmani-ruhani; Sejahtera dhohir-batin; dan Bahagia dunia-akhirat.

3 Energi Sukses
Pertama. Sehat. Sehat adalah energi yang besar bagi orang yang sukses. Tidak disebut sukses apabila orang itu sakit. Apalagi sakit yang menaun. Seperti: diabet, jantung, rematik, obesitas, vertigo, maag, ambeien, stroke, dsb.
Energi menjadi terkuras karena merana dan menderita, atau bahkan sedih dengan penyakitnya. Energi yang dimiliki tidak lagi diberdayakan untuk melakukan perubahan, guna menjadikan hidup lebih maju.
Kedua. Sejahtera. Sejahtera adalah energi yang besar bagi kehidupan orang yang sukses. Bagaimana disebut sukses apabila rumah tangganya hancur. Tidak ada kesejahteraan bagi orang yang rumah tangganya hancur. Apa artinya uang, kekuasaan, status sosial yang tinggi, jabatan, titel, dan penghormatan dari publik. Tidak ada artinya.
Energinya menjadi terkuras. Tersedot dengan problematika keluarga yang menjadikan beban dalam hidupnya. Di mana tidak? Hidupnya menjadi galau. Serba was-was. Muncul kekhawatiran. Dihinggapi rasa curiga yang berlebihan. Sungguh semua itu menyedot energi. Akibatnya, kehilangan kekuatan untuk berubah, maju, dan sukses.
Ketiga. Bahagia. Bahagia merupakan energi yang besar yang mampu mendorong seseorang menjadi sukses dalam hidupnya. Siapa pun orang yang hidupnya tidak bahagia. Sangat sulit menjadi orang sukses. Sebaliknya, siapa pun orangnya yang hidupnya bahagia niscaya segera menjadi orang sukses.
Orang bahagia adalah orang yang hidup tanpa beban. Hidupnya mengalir seperti sungai hingga ke hilir, dan akhirnya ke samudera. Semua takdir kehidupan dijalani dengan berpikir positif. Hatinya dipenuhi dengan keindahan. Sehingga hidupnya serba indah. Serba positif. Luwas, luwes, dan mendalam cara berpikirnya. Sehingga hidupnya menjadi jembar. Tidak mandeg. Tidak jumud. Tidak stagnan. Sehingga energi yang didapatkan senantiasa positif. Energinya sangat besar. Sehingga mampu mendorong terjadinya lompatan-lompatan, guna melakukan perubahan yang lebih maju dan progres.
Apabila Anda berazzam ingin sukses. Miliki dulu ketiga energi sukses tersebut di atas. Insya Allah, sukses Anda sukses yang utuh. Tidak seperti yang Anda lihat sekarang. Sukses yang ada di TV-TV. Atau, sukses yang ada di media-media itu. Itu sukses yang menipu. Mulai sekarang Anda harus hati-hati dalam mengakses informasi. Jangan sampai informasi yang Anda dapatkan menjadi racun dalam cara berpikir dan keimanan. Sehingga Anda kehilangan ketiga energi sukses tersebut.
                               
Santai Serius Sukses
Kerja keras, okey. Ngoyo jangan dong. Tuhan YME sudah menetapkan segala sesuatu bagi kehidupan para hambaNYA. Ketetapan Tuhan tidak pernah salah. Mengapa harus dipikirin?! Emangnya gue pikirin?! Santai saja. Semua sudah diatur Tuhan YME. Dia itu Mahamengatur segala sesuatu. Seperti orang tidak percaya dengan Tuhan saja. Mengerahkan akalnya untuk menjadi “tuhan” mereka.
Santainya Anda bukan berarti malas. Bukan berarti lemah. Tidak pula Anda berarti loyo. Santainya Anda adalah akibat kuatnya keyakinan Anda dengan Tuhan YME. Bahwa, Tuhan YME itu Mahamengatur. Sehingga kerja keras Anda tidak menjadikan Anda sombong. Tidak menjadikan Anda lupa daratan. Seolah keberhasilan Anda karena kerja keras Anda.
Ingat, semangat Anda yang membabi-buta. Atau, semangat Anda yang membaja sekalipun. Tidak bakal mampu merubah takdirNYA. Tidak akan pernah mampu menembus benteng takdirNYA.
Itulah sebabnya, Anda harus serius dalam berdoa. Serius dalam mendekatkan diri denganNYA. Serius dalam mengabdi kepadaNYA. Serius dalam mencintaiNYA. Sehingga kerja keras Anda bagian dari kemurahan hati Anda di jalanNYA.
Anda tidak usah risau dengan keadaan Anda hari ini. Terima apa adanya. Tak perlu khawatir. Jangan cemas. Tidak usah dirisaukan. Biarkan berjalan apa adanya. Begitu saja kok repot!

Renungan
·          Kesuksesan seseorang karena kemurah-hatian dalam menyukuri nikmat: Iman; Islam; Sehat; dan Waktu luang.
·          Hati laksana raja. Hati yang sehat. Laksana raja yang adil. Maka, tubuh menjadi sehat. Sehingga tidak ada lagi: stress, tukak lambung, dan beban hidup yang membelit.
·          Sukses di dunia apabila manusia itu dianugerahi kemauan dan kemampuan berperilaku murah hati.
·          Berpikirlah sesuai kemampuan. Bekerjalah sesuai kekuatan. Beribadahlah sekemampuan. Apabila tidak mampu mengerjakan seluruhnya. Jangan ditinggalkan semuanya.
·          Barangsiapa memiliki jasmani-ruhani sehat. Berarti dia memiliki 1/3 kesuksesan. Tinggal berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan. [ ]