Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Hemat Kertas, Hijau Hutan Kita

Syaikhul Islam yang sekaligus sebagai al-Hujjatul Islam, al-Imam Ghazali r.hu salah seorang ulama yang ilmuwan di dunia Islam. Awalnya dia tidak dapat lepas dari buku. Karena memang dia seorang penulis. Tetapi, Allah ta’ala mendidik Imam Ghazali dengan quantumBELIEVING (Lompatan Keyakinan) yang dahsyat. Sehingga mengalami konversi agama secara internal. Di mana dia lebih ber-Islam dari sebelumnya yang ilmuwan dan pengusaha.
Ketika Imam Ghazali memutuskan untuk tajarrud. Yaitu, meninggalkan dunia bisnis dan kampus. Setelah sembuh dari stroke yang cukup lama. Guna melalang buana melakukan “silaturahmi ilmiah” di dunia riadlah dan pendidikan irfani. Dia dirampok. Aneh, rampok itu meminta buku kesayangannya. Tidak mau diberikan uang atau bekal lainya yang lebih berharga ketimbang buku.
Berat hati untuk memberikan buku kesayangan itu kepada si perampok. Tetapi, dia mendapatkan ilham dari Allah ta’ala dengan meyakinkan kegalauan hati mengenai buku yang diminta si perampok. Di mana alam bawah sadar (albasa)-nya berkata, “al-Ilmu lā fīl kutūb, mā fīl qulūb; ilmu itu tidak berada di dalam buku-buku, [tetapi] segala sesuatu itu [termasuk ilmu] berada di dalam hati.”
Itulah sebabnya, model pendidikan pesantren khususnya, dan dunia pesantren pada umumnya, sangat dekat dengan model menghafal (hafalan, red) dan memahami (pemahaman, red). Sehingga ada adigium yang disampaikan guru kami saat itu, “Ngaji tidak mengerti tidak apa-apa. Yang penting kamu paham dengan apa yang kamu kaji.” Jadi, sejak berdirinya pesantren sekitar tahun 1600-an. Dunia pesantren telah mengajak masyarakat dan umat manusia untuk menghemat penggunaan kertas.
Untuk konteks sekarang, apabila “ajaran” Imam Ghazali tersebut diterapkan. Betapa hutan kita benar-benar “perawan” dan hijau kembali.
Sebenarnya, jika umat manusia itu biasa-biasa saja di dalam menggunakan kertas, dan mengelola sumber daya hutan. Insya Allah, hutan kita tidak akan mengalami krisis yang sangat memprihatinkan seperti dewasa ini. Karena mereka yang berbisnis di wilayah hutan tamak. Maka, yang terjadi adalah Perubahan Perilaku yang konsumtif. Sebab, mereka mengejar target produksi per bulan, per tahun, dan cepat kembalinya dana investasi. Lalu, hutanlah yang menjadi kurban sifat dan sikap eksploitatif para manusia tamak tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan kertas nasional yang sekitar 5,6 juta ton/tahun. Diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah besar yang mahal dan tidak dapat tercukupi dari Hutan Tanaman Industri (HTI) Indonesia. Ironisnya, kita lihat di sekeliling kita banyak kertas. Seperti: dokumen, kemasan produk yang berlebihan, koran, majalah, brosur/leaflet/katalog produk, surat-surat, produk-produk sekali pakai, dll. Yang dengan enaknya banyak orang yang membuang begitu saja. Tidak menghemat dengan melakukan daur ulang. Padahal dengan memakai kertas bekas sebagai bahan baku kertas baru. Sejumlah pohon, bahan kimia, air, dan energi dapat dikurangi penggunaannya.
Jika kita tidak mulai memperbaiki pola konsumsi kertas sejak saat ini. Akan terjadi kebiasaan dan ketergantungan untuk selalu menggunakan kertas dalam jumlah besar. Hal ini tentunya akan memberikan tekanan secara terus-menerus kepada bumi kita, dan memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan, khususnya hutan kita.
Jika sebuah organisasi terdiri dari 100 orang dapat menghemat 3 lembar kertas setiap hari. Dalam setahun ada 156 batang pohon yang dapat diselamatkan. Mari kita terus menghemat penggunaan kertas, hingga pada titik yang paling optimal hematnya. Sehingga hutan kita kembali menghijau. Kuncinya, lakukan Perubahan Perilaku (Behavior Transformation) dengan segera setelah membaca tulisan ini. Insya Allah, hidup kita semakin: Bersih; Benar; dan Tidak merusak hutan.
Saatnya kita commitment and consistent (CC) dengan 3-R. Yakni: reduce (mengurangi); reuse (menggunakan kembali); dan recycle (mendaur uang). Dalam rangka menghemat penggunaan kertas di semua sektor. Menghemat kertas berarti pula menghemat: pohon; minyak; energi listrik; dan air.  Kalau kita menghemat 1 ton kertas. Berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4100 Kwh listrik, dan 31.780 liter air. Fakta yang luar biasa bukan?!
Memang setiap orang tidak bisa menghemat kertas sebanyak 1 ton. Tetapi kalau setiap orang melakukan penghematan minimal 1 lembar kertas per hari. Pasti di seluruh dunia berton-ton kertas yang dapat dihemat bukan? Caranya:
1.     Jangan mudah membuang kertas. Periksa dahulu, apakah masih bisa digunakan untuk keperluan lain.
2.     Kumpulkan kertas bekas tidak terpakai. Lalu, serahkan, atau jual kepada pemulung.
3.     Bila mem-print out gunakan kertas print, jika hasil ketikan sudah sempurna. Edit ketikan di komputer Anda sampai akurat sesuai dengan keinginan. Baru di print.
4.     Bila memungkinkan print hasil kerja Anda secara bolak-balik pada selembar kertas.
5.     Gunakan kertas bekas dengan sekreatif mungkin. 
6.     Maksimalkan peran media elektronika sebagai sarana penunjang penghematan dalam penggunaan kertas.
7.     Tinggalkan Cara Berpikir kapitalisme dan neo-liberalisme, khususnya di dalam mengonsumsi (menggunakan, red) kertas.
Berapa lembar kertas yang dihasilkan dari sebatang pohon? Mari kita perkirakan dengan hitungan berikut ini. Ada sebuah lahan yang ditanam pepohonan berkayu keras. Lebarnya 8 kaki. Panjang 4 kaki. Tinggi 4 kaki. (3 kaki kira-kira sama dengan 1 meter, red). Apa saja yang bisa dihasilkan oleh lahan ini? Ternyata pohon-pohon itu bisa menghasilkan 1000-2000 pon kertas, atau 1/2-1 ton kertas, atau 942.100 halaman buku, atau 4.384.000 perangko, atau 2700 eksemplar koran.
Jadi, berapa banyak jumlah pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan kertas yang ada di seluruh dunia? Bisa dibayangkan, kalau manusia tidak menanam pohon kembali. Maka, hutan-hutan pasti gundul dan terciptalah padang pasir-pasang pasir baru. Masihkah Anda sebagai seorang yang beriman berlaku boros dalam menggunakan kertas??? [ ]

BONEK

Siapa yang tidak kenal Bonek. Bonek adalah komunitas penggembira sepak bola Surabaya. Mengapa alfaqir katakan penggembira, karena tidak ada ikatan struktural dengan Persebaya. Mereka hanya terikat secara emosional. Buktinya, Bonek tidak saja tinggal di Surabaya. Tetapi, di mana-mana di seluruh Indonesia, khususnya Jawa Timur.
Bonek adalah kependekan dari bondo nekat. Artinya, berbekal tekad. Seperti diyakini para Bonek. Tanpa bekal apa pun dia bisa “mengawal” kesebelasan kesayangan mereka ke mana pun berlaga. Dan, di banyak kesempatan terjadi ekses negatif. Inilah citra yang melekat pada Bonek.
Benarkah demikian? Bonek selalu berperilaku buruk?! Tidak seluruhnya benar pernyataan seperti itu. Bonek juga manusia. Mereka juga memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan. Di antara mereka yang “cocok”. Mereka memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Misalnya, antara Bonek dengan Viking, penggembira bola asal Bandung, yang selalu “mengawal” Persib di setiap laga.
Tetapi, jangan tanya. Viking tidak dapat akur dengan The Jack. Juga, antara Bonek dengan Pasopati (Solo), Arema (Malang), dan LA mania (Lamongan). Mengapa terjadi? Karena di antara mereka masih belum ada kecocokan.
Sebenarnya yang harus dibenahi jangan suporternya melulu. Superter itu ibarat daun dari sebuah pohon yang besar. Apa artinya jika sekadar “menata” daun. Lalu, membiarkan dahan, ranting, pohon, dan akarnya. Sebab, pokok persoalan yang sebenarnya adalah pada PSSI.
Di mana PSSI sebagai “input” persepak-bolaan nasional tidak pernah profesional lagi serius dalam melakukan tugas pembinaan. Sehingga potensi saling “bermusuhan” tidak lagi sportif. Namun sudah mengarah kepada ketidak-adilan. Akibatnya, mereka yang dirugikan membuat “ulah” supaya mendapatkan perhatian dari PSSI.
Apabila PSSI itu “input”, maka suporter itu adalah “out put”. “Out put” selalu tergantung dari “input”. Ditambah lagi “mesin” prosesnya yang tidak bagus. Bagaimana dapat melahirkan “out put” yang bagus, jika “mesin” prosesnya tidak bagus. Maka, tepat sekali jika ada gagasan untuk merombak tubuh PSSI. Sekaranglah saat yang tepat untuk memulai pembenahan PSSI sampai ke akarnya. Terutama ya harus mengeluarkan siapa saja orang-orang yang tidak layak diserahi amanah untuk mengelola PSSI. Siapa yang menilai, biarkan  masyarakat sepakbola Indonesia yang melakukan. Pemerintah/Menpora harus segera menampung aspirasi mereka. Lalu, secara transparan dan jujur menempatkan orang-orang yang amanah lagi profesional yang telah disepakati masyarakat sepak bola Indonesia.
Ingat, olah raga yang memiliki segmen terbesar di negeri ini adalah sepakbola. Sampai-sampai jam-jam malam kaum muslimin Indonesia tidak lagi dilalui dengan shalatul lail. Tetapi dihabiskan di depan TV dengan kurratul qadam fil lail. Sungguh aneh masyarakat kita, jika menunggu waktu shalatul lail. Tidak kuat. Namun jika menunggu kesebelasan kebanggaannya berlaga, betapa kuatnya. Malah banyak yang melakukan doping supaya tetap bisa jaga.
Yang harus dibina tidak hanya Bonek. Tetapi semua insan persepak-bolaan di Indonesia harus dicerahkan. Bahwa, olehraga sepakbola, adalah sekadar permainan olahraga yang dituntut sportifitas tinggi. Ada kalah. Ada menang. Karena bola itu memang bundar. Di samping terus diajarkan mengenai falsafah permainan sepak bola. Yang orang Suroboyo menyebutnya “bal-balan”. Sehingga dengan bermain sepakbola, siapa pun yang terlibat semakin: Iman; Takwa; dan Qurbah kepada Allah ta'ala.
Itulah sebabnya, menurut alfaqir, yang pertama-tama mendapatkan pembinaan dan pencerahan justru para pengurus persepak-bolaan. Sebab, para suporter sebenarnya adalah orang atau komunitas yang ada di luar struktur. Mereka itu sekadar penggembira. Bergembira jika jagonya menang. Dan, marah jika kesebelasan yang dijagonya kalah. Sedangkan ekspresi kekalahan dan kemenangan itulah yang seringkali meminta kurban. Jika masyarakat pecinta bola itu sadar. Tidak perlu terjadi korban di setiap ada even pertandingan.
Sebuah langkah baik jika diusahakan untuk menebar pesona secara nasional. Baik para pemain, pengurus, dan penontonnya; sehingga komunitas persepak-bolaan Indonesia kembali bergairah. Meski peringkat Bonek naik ke ranking II menurut penilaian FIFA. Masih menjadi tuntutan sekaligus harapan, bahwa suporter Indonesia harus menjadi kebanggaan siapa pun secara nasional.
Semua itu bisa diatur, apabila para tokoh persepak-bolaan mau mendengar setiap masukan dari masyarakat. Sebab, telah menjadi prinsip umum, bahwa siapa pun tidak menghendaki jagonya kalah. Dan, setiap manusia yang akalnya waras, selalu berusaha menjadi pemenangnya.
Akan tetapi hukum ini tidak menjadikan siapa pun serba boleh melakukan apa pun. Tidak demikian. Sebaliknya, karena rasa kecintaan terhadap bola. Mereka harus sadar, bahwa dalam permainan selalu bergantian. Ada kalah. Ada menang.  Siapa pun harus dapat mengendalikan diri. Tidak usah menyalahkan siapa pun. Semua itu harus dibangun melalui keteladanan para pengurus dan tokohnya.
Belajar dari kasus demi kasus. Maka, masyarakat sepakbola Indonesia harus merasa perlu untuk segera melakukan pencerahan sekaligus membangun kekeluargaan sepakbola Indonesia. Beda pendapat itu lumrah. Terjadi gesekan di sana-sini itu bagian dari dinamika hidup berkelompok.
Karenanya, ke depan masyarakat sepakbola nasional hendaknya mengagendakan:
1.         PSSI harus segera melakukan perombakan total pengurusnya.
2.         Memisahkan PSSI dari interes politik praktis.
3.         Menanamkan nilai-nilai agama, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada segenap penggembira bola.
4.         Mencari titik temu guna menyamakan visi-misi mengenai persepak-bolaan nasional.
5.         Dipahamkan bahwa sepak bola merupakan sarana untuk mengangkat ekonomi kerakyatan (marketable).
6.         Jangan menjadikan suporter “kendaraan” politik untuk kepentingan sesaat.
Ke-6 poin di atas harus segera diwujudkan. Sebab, olahraga sepakbola adalah sarana yang paling cepat guna membangun kembali nasionalis para generasi muda. Para suporter itu manusia, maka mereka harus dimanusiakan. Sesuatu yang sangat mendesak sifatnya, harus segera ditemukan “bahasa” yang pas buat menjadikan mereka kembali mencintai tanah airnya melalui bola. Tidak boleh ditawar lagi, setiap pengurus sepakbola dan para pemain bola di Indonesia harus bangga sebagai orang Indonesia.
Insya Allah, dari sini bakal muncul benih tumbuhnya jiwa nasionalis yang sejati. Dan, rupanya tidak sekadar melalui sepakbola. Tetapi melalui apa saja, sebagai orang Indonesia, setiap jengkal, setiap peluang, dan setiap saat; harus melahirkan semangat dan jiwa nasionalis guna mencintai negerinya, Indonesia. Sebuah “surga dunia” yang bernama Atlantis yang telah ditemukan

ekoISLAM

Dinul Islam memiliki prinsip ajaran yang indah lagi harmoni. Yaitu, rahmatal lil alamin. Yang mana mulai dari gagasan, nilai, ajaran, dan praksis sosial yang ditawarkan kepada setiap umat manusia; utamanya kaum muslimin-mukmin benar-benar dapat dibumikan alias diamalkan oleh segenap umat manusia yang akalnya waras. Di mana al-Islam sebagai ad-din senantiasa mendorong kepada umat manusia, agar selalu menglami Perubahan Perilaku ke arah yang lebih berguna lagi bermanfaat buat sesama. Maka, di dalam ajaran rahmatal lil alamin terdapat prinsip pemberdayaan yang hebat lagi dahsyat. Yang menurut istilah alfaqir disebut Prinsip Trianggulasi. Yakni: Meng-Allah-kan Allah; Me-manusia-kan manusia; dan Meng-alam-kan alam.
Dalam tulisan ini alfaqir hendak memfokuskan pada masalah “ekoISLAM”. Di mana dinul Islam juga dengan Teologi Islam mengajarkan Teologi Lingkungan yang paling lengkap menurut alfaqir. Itu yang alfaqir katakan sebagai “ekoISLAM: Ramah Lingkungan Dengan Meng-alam-kan Alam.” Dengan kata lain, dinul Islam disamping mendorong terjadinya Revolusi Ruhani, juga mendorong terjadinya Revolusi Hijau. Terbukti banyak ayat al-qur`an dan teks al-hadis yang mengajarkan, atau memberikan landasan hukum dan dorongan moral, agar kaum muslimin-mukmin benar-benar selalu berada dalam “thawaf hijau”. Di mana seorang muslim-mukmin ditakdirkan hidup, hendaknya selalu melakukan: Pemeliharaan; Penjagaan; dan Penanaman atas tetumbuhan.
Tidak salah jika dikatakan, kalau lingkungan rusak berarti ada korelasi positif dengan rendahnya iman. Iman yang rendah ditandai dengan “tidak menomor-satukan Allah”. Yang terjadi? Sesorang yang imannya rendah bakal “menghalalkan” segala cara. Termasuk mengekploitasi alam dan lingkungan. Sungguh ironis, bangsa Indonesia yang banyak ulama. Dan, merupakan bangsa muslim terbesar di dunia mengalami masalah di bidang lingkungan.
Akibat menghalalkan segala cara itulah, lalu muncul nafsu serakah pada diri orang yang lemah iman. Jadi, tidak dapat menjadi parameter jika orang pergi haji berkali-kali pasti imannya bagus. Harus dibuktikan, apakah seseorang itu sudah berperilaku dan bersikap mental “meng-alam-kan alam” atau belum?
Tidak ada untungan di haji berkali-kali tetapi masih memalak hutan dan merusak tumbuhan serta lingkungan. Haji mardlud itu; insya Allah. Sekali lagi simbol keimanan dan keislaman seorang muslim-mukmin manakala seseorang itu telah dapat berperilaku ihsan terhadap alam dan lingkungan. Logikanya sangat sederhana. Seseorang yang takut kepada Allah ta’ala. Pasti takut melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. Merusak alam dan lingkungan sangat dilarang oleh-Nya. Dan, tidak yang membangkang dengan perintah Allah dan rasul-Nya, kecuali orang-orang kafir dan munafik.
Apabila hal itu dikaitkan dengan kenyataan di negeri kita. Mayoritas penduduk Islam. Tetapi, alam dan lingkungan menjadi rusak dan tereksploitasi. Berarti memiliki benang merah dengan terjadinya “kekafiran kultural” dan “kemunafikan struktural”. Dan, yang harus bertanggung jawab adalah para penguasa. Mulai dari tingkat bupati sampai presiden. Tidak saja kaum umara yang harus bertanggung jawab dengan hancurnya alam lingkungan. Namun kaum ulama, cerdik-pandai, ilmuwan, shantri, dan insan kampus juga harus bertanggung jawab.
Apa gunanya jika negeri ini banyak orang berilmunya, tetapi hanya pandai merusak alam lingkungan, atau mungkin mereka tidak pernah sadar terhadap terjadinya perusakan lingkungan, baik secara kultural dan struktural. Betapa sangat mengerikan jika banyak spesies hewan dan tumbuhan sudah mulai banyak yang hilang dan langka.
“Menghijaukan Indonesia” tidak dapat ditunda-tunda lagi. Mulai saat ini harus segera digerakkan. Di mana ada bumi Indonesia mari segera ditanami. Itulah sebabnya, Ma’had TeeBee Indonesia menetapkan Program Pesona Hijau Negeri Kita pada tanggal 7 Maret 2010. Yang diawali penanamannya di Laboratorium Dakwah Ma’had TeeBee. Yaitu, di bukit-bukti sekitar Dusun Nganget, Desa Kedungjambe, Kec.Singgahan, Kab.Tuban, Jawa Timur. Murni alfaqir menggerakkan segenap komponen masyarakat untuk segera sadar, bahwa menanam satu pohon setiap saat bagian dari implementasi rahmatal lil alamin yang paling nyata. Telah menjadi kenyataan, satu pohon yang ditanam lalu hidup, maka telah menyumbang kepada kehidupan umat manusia di dunia ini. Coba renungkan, tidakkah dunia ini bulat? Maka, menanam di bumi manapun sangat bermanfaat buat kehidupan umat manusia se-dunia.
“Revolusi Hijau” harus segara dimulai dari diri sendiri. Lalu, dari dalam keluarga kita masing-masing. Kamudian, berkembang mengajak siapa saja yang berada dalam menejemen hidup kita. Betapa lebih hebat lagi, dan itu insya Allah, bagian dari jihad setiap manusia. Apabila sekali senggama suami-isteri setelah 7 jam diikuti dengan menanam satu pohon (utamanya, tanaman keras).
Pernahkah berpikir, jika alam dan lingkungan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan diri kita. Jika jawabanya, manusia memiliki hubungan sangat erat dengan alam dan lingkungan. Mengapa seseorang acap kali melalaikan hubungan itu. Bisa dibanyangkan jika manusia sudah tidak lagi akur dengan alam dan lingkungannya. Akibat yang nyata adalah manusia itu pasti tidak sehat. Seseorang yang sudah tidak lagi mau menyapa alam dan lingkungan, sama halnya telah menelantarkan hak-hak alam dan lingkungan.
Seorang mukmin tidak boleh menelantarkan hak-hak atas alam dan lingkungan hidupnya. Sungguh itu perbuatan yang sangat aniaya. Memang manusia butuh hidup. Tetapi, dikehidupan umat manusia tidak boleh serakah. Di jaman modern ini keserakahan itu dikemas dengan istilah-istilah yang seoalah cerdas. Padahal sebenarnya terdapat pembusukan di dalamnya. Yakni: kapitalisme, neo-liberalisme, sosialisme, dan masih banyak isme-isme yang lain. Yang notabene-nya sangat menjijikkan. Di sisi lain, Allah ta’ala telah menawarkan tata kehidupan dan Cara Berpikir yang paling bersih, sehat, dan tidak menyakiti siapa pun. Sayang masih ditolak oleh para manusia yang lebih enjoy dengan hawa nafsunya. [ ]

Mengapa Harus Nikah Sirri?



Ajaran Islam jelas, yakni triple i: iman-islam-ihsan. Yang dalam prakteknya diproses dengan: qur’an-hadis-ilmu. Sehingga output dari kemusliman seseorang hidupnya semakin: sehat-sejahtera-bahagia (SSB). Dengan modal triple i dan SSB itulah seorang mukmin-muslim memiliki kualitas hidup yang akhlakul karimah, adabul musthafawiah, dan rahmatal lil alamin. Dalam konteks kehidupan dunia hendaknya seorang mukmin-muslim selalu CC (commitment and consistent) dengan pengamalan nyata dan praktek lapangan yang berupa: budi pekerti yang mulia, tatakrama yang terpilih, dan hidup yang menebarkan kasih-sayang dalam jejaring Persaudaraan Tanpa Tepi di seluruh dunia.
Di mana posisi nikah sirri? Dalam ajaran Islam yang ada  ajaran mengenai nikah atau menikah. Adapun mengenai istilah sirri, yang berarti rahasia. Adalah tradisi baru yang ada di tlatah Indonesia, khususnya Jawa.
Konon “nikah sirri” sekadar untuk membedakan antara nikah yang tercatat di KUA (Kantor Urusan Agama) dan nikah yang tidak tercatat di KUA. Tetapi, sudah sah menurut Islam. Memang jika dikaji secara seksama, “nikah sirri” lalu berkembang sejalan dengan waktu dan jelajah sosial-geografis. Yang menarik dalam “nikah sirri” terdapatnya kepentingan biologis, budaya, dan agama yang terus berkembang yang menyertai perjalanannya.
Tidak usah bertele-tele. Kembalikan saja kepada prinsip menikah. Menikah itu untuk mendapatkan sekaligus merasakan ketenangan. Seorang mukmin setelah menikah harus lebih tenang. Di samping merasakan ketenangan yang nyata, juga menjadi lebih aman. Maka, jika Cara Berpikir ini yang dikedepankan, insya Allah dapat lebih arif dan bijaksana dalam memahami fenomena “nikah sirri”.
Apabila Cara Berpikir tersebut di atas yang terjadi, maka “nikah sirri” merupakan sebuah model pendekatan baru dalam kehidupan masyarakat muslim di suatu komunitas. Karenanya, keberadaan “nikah sirri” adakalanya berdampak positif, dan boleh jadi membawa dampak negatif dalam kehidupan umat manusia.
Jika menggunakan setting Cara Berpkir Islam. Apabila seorang muslim menikah hendaknya menjadikan diri dan keluarga pasangan yang menikah harus semakin: iman-islam-ihsan yang ditandai dengan kehidupan yang semakin SSB.
Dengan demikian pasangan yang baru menikah tersebut harus juga melakukan pribumisasi ajaran Islam yang berupa: akhlakul karimah, adabul musthafawiah, dan rahmatal lil alamin. Yang menjadi pertanyaan, adakah semua itu dalam praktek “nikah sirri”?
Apabila jawabannya memang ada. Berarti “nikah sirri” memiliki manfaat tertentu bagi seseorang secara subyektif. Jika jawabannya tidak. Mengapa harus menyelenggarakan praktek “nikah sirri” yang lebih banyak madlaratnya. Tidakkah sebagai seorang mukmin-muslim harus selalu CC dengan hadis Nabi saw, “Min husni islāmil mar’i tarkuhu mā lā ya’nih”.
Namun berdasarkan kenyataan di lapangan. Praktek “nikah sirri” lebih banyak tidak manfaatnya ketimbang aspek kemanfaatannya. Di mana di dalam “nikah sirri” yang menjadi “korban” selalu pada pihak ibu dan anak. Padahal dalam praktek ajaran Islam tidak ada yang harus menjadi korban dari sebuah praktek ajaran Islam.
Sekaranglah saat yang tepat untuk memiliki Cara Berpikir yang benar lagi lurus di dalam ber-Islam. Sehingga kemusliman kita melahirkan kehidupan yang SSB.
Mari “nikah sirri” dianalisis dengan SSB. Dari aspek huruf S yang pertama, yakni “sehat”. Apakah dalam praktek “nikah sirri” melahirkan para pelakunya memiliki kesehatan ruhani? Dari huruf S yang kedua, apakah dalam praktek “nikah sirri” dapat menjadikan pelakukan semakin sejahtera hidupnya? Dari huruf B, apakah praktek nikah sirri dapat menjadikan si pelaku hidupnya semakin bahagia?
Contoh satu saja dari huruf S yang pertama, yakni sehat. Sebagian besar mereka yang melakukan praktek “nikah sirri” lebih banyak “menyembunyikan sesuatu”. Yang sesuatu itu menjadi tabu jika diungkapkan. Berarti mereka yang melakukan “nikah sirri” dalam hatinya menyimpan: rasa malu, rasa takut, rasa khawatir, rasa marah, dan bentuk gejolak jiwa negatif lain. Yang kesemuanya dapat memunculkan hormon kortisol di dalam darah.
Apabila hormon kortisol sudah keluar dari sarangnya, yakni hati. Tinggal menunggu seri berikutnya dari munculnya berbagai macam penyakit di dalam tubuh. Dari sini awal seseorang mengidap penyakit di tubuhnya. Ditambah lagi pola makan dan pola hidup yang salah. Maka, mudah sekali orang itu terserang berbagai macam penyakit, akibat dari Cara Berpikir yang salah tersebut. Sampai di sini dapat disimpulkan orang yang melakukan praktek “nikah sirri” hidupnya tidak sehat, insya Allah.
Ber-Islam-lah dengan elegan. Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Tidak usah aneh-aneh dan neko-neko. Memang kaum muslimin-mukmin diberikan ruang gerak untuk melakukan ijtihad atau olah pikir. Semua itu harus dikembalikan kepada aspek kemanfaatan dalam hidup ini.
Jika memang dapat menambah percepatan keyakinan dalam hal semakin: iman-islam-ihsan; ya kita harus mengejarnya dan mengamalkan. Juga, jika sebuah amalan ibadah itu dapat menjadikan hidup semakin SSB; ya mari diamalkan dengan semangat triangle force (Menomor-satukan Allah; Jujur; dan Ikhlas). Sehingga dari waktu ke waktu hidup kita benar-benar CC dengan: Meng-Allah-kan Allah; Me-manusia-kan manusia; dan Meng-alam-kan alam.
Kita semua harus paham bahwa di dalam praktek nikah harus mewujudkan kehidupan yang benar-benar membumikan nilai-nilai: hablum minallāh; hablum minan nās; dan hablum minal ā’alam; wa-llahu a’alam. [ ]

Ma'iyahkan Indonesia



Kebersamaan (ma’iyah) itulah sikap dan sekaligus perilaku yang harus menjadi habits baru buat Indonesia ke depan, baik sebagai bangsa maupun sebagai negara. Dan, tahun 1431 hijriah ini hendaknya menjadi awal dari perubahan tersebut. Sebab, hanya dengan kebersamaan, sebuah masyarakat –boleh dipahami sebagai umat atau rakyat—akan memiliki kekuatan jaringan sosial-budaya yang solid.
Ma`iyah adalah sifat kebersamaan. Sebuah penegasan, bahwa manusia diajak dan diteladani untuk memiliki kebersamaan dalam hidup di dunia yang singkat ini. Kebersamaan bukan berarti penyeragaman. Dalam penyeragaman tidak selalu yang diseragamkan itu dapat  bersama-sama. Karena manusia ditakdirkan oleh Allah ta’ala dengan segala keragaman yang dimiliki. Satu hal yang dikehendaki oleh Allah swt, sebagai Sang Penguasa kehidupan, manusia sebagai seorang hamba Allah, dia harus senantiasa “Meng-Allah-kan Allah” guna comitment and consistent (CC) dengan sikap mental dan perilaku “Menomor-satukan Allah”.
Sebaliknya, dalam ma’iyah (kebersamaan) terdapat kekuatan yang sinergi manakala dibangun dengan jejaring sosial-budaya dan agama. Artinya, manusia dalam bentuk yang bagaimana pun, atau yang bermodelkan apa pun, akan mampu bergaul dan hidup dengan suasana saling: memahami, memberi, dan melayani. Sebab, dalam sebuah kebersamaan (ma’iyah) perilaku yang kuat lagi menonjol secara sosio-anthropologis dan sosio-psikologis, adalah kuatnya dalam Berpikir Positif dan Memaafkan Orang lain.
Dapatlah dipahami pula, bahwa hidup manusia yang selalu berkomunitas ini harus benar-benar mampu menjadikan dirinya lebur dalam sebuah ma’iyah. Yaitu: Ma’iyatun billāh; Ma’iyatun fin-nās; dan Ma’iyatun ilal-‘ālam. Ketiga prinsip Trianggulasi Ma’iyah itu harus melebur dalam kehidupan bangsa Indonesia yang heterogen ini. Sehingga Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dapat berjalan tanpa harus terusik dengan kemodernan. Artinya, Indonesia yang modern ke depan tetap CC dengan Bhinneka Tunggal Ika tidak akan mengalami perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah. Sebaliknya, dengan ke-Bhinneka-an yang ada hal itu menjadi modal dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kehidupan yang serba modern. Semua itu terjadi karena masyarakat bangsa Indonesia CC dengan agamanya. Inilah sebuah konsep rahmatal lil alamin.
Ma’iyatun billāh. Kebersamaan seorang hamba dengan Allah. Ini sebuah potensi yang hebat lagi dahsyat, jika dikelola dengan baik dan benar. Seorang hamba secara terus-menerus senantiasa Berpikir Positif (husnudlan) dengan Allah ta’ala. Dan, ini jumbuh dengan firman Allah ta’ala, yang menyatakan bahwa Allah bersama hamba-Nya di mana pun. Sebagaimana dinyatakan dalam surat al-hadid ayat ke-4, “dan, Dia [Allah] bersama kalian di mana pun kalian berada; wa huwa ma’akum a’nama kuntum.”
Inilah sebuah Teologi Cinta yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-Allah-kan Allah.”
Ma’iyatun fin-nās. Kebersamaan dalam bermasyarakat. Sebuah potensi sosial-budaya dan agama yang hebat dan dahsyat, apabila dimenejemenkan dengan baik lagi benar. Di mana seorang manusia sebagai anggota masyarakat selalu Berpikir Positif (husnudlan) dengan sesama manusia (baca: orang lain). Dan, ini jumbuh dengan sabda Nabi saw, yang menyatakan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain; khairun nāsi anfa’uhum lin-nās.”
Inilah sebuah Teologi Perubahan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Me-manusia-kan manusia.”
Ma’iyatun ilal-‘ālam. Kebersamaan seorang hamba terhadap lingkungan. Seorang hamba yang menyatu dengan alam lingkungan di mana pun dia ditakdirkan hidup dan ada. Dia telah mampu dialog dengan lingkungannya. Sehingga lingkungannya pun “mau menerima”-nya.
Manusia yang merusak lingkungan. Dia pasti ditolak oleh lingkungan. Itu ditandai dengan lingkungan yang menjadikan manusia hidupnya tidak nyaman lagi aman.
Seorang hamba yang terus-menerus “dialog” dengan alam lingkungannya. Dia akan mampu melebur dengan alam lingkungannya. Ini yang alfaqir sebut dengan hablum minal-‘ālam (hubungan harmonis dengan alam lingkungan).
Inilah sebuah Teologi Lingkungan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-alam-kan alam.”
Indonesia adalah Indonesia. Indonesia bukan Arab, bukan pula AS. Indonesia di tahun 2010 masehi harus menjadi bangsa yang mampu membawa kehidupan rakyatnya menjadi lebih: mandiri, sehat, sejahtera, dan bahagia. Indonesia yang mampu menjadikan rakyatnya gemar: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM). Indonesia yang mengamalkan: Giving not taking; Producing not consuming; dan Working not talking (GPW).
Semua itu dapat berjalan manakala ma’iyah menjadi habits baru bangsa Indonesia. Saatnya sekarang ini Indonesia di-ma’iyah-kan. Dan, bagi jama’ah ma’iyah harus benar-benar mengamalkan segenap hal yang telah alfaqir tulis.
Kata kunci yang harus dipegang teguh, bahwa seorang manusia di kehidupan dunia akan selalu hidup bersama dengan komunitasnya. Inilah manhaj ma’iyah buat bangsa dan masyarakat Indonesia. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang memiliki kekuatan jejaring kebersamaan. Kebersamaan dalam arti “Bersama Boleh Beda” (3-B). [ ]

Ternyata Rokok Tidak Haram

Di banyak kesempatan alfaqir banyak ditanya, “Mengapa tidak merokok?” Dengan enteng alfaqir jawab, “Bagi alfaqir rokok tidak bermanfaat.” Mengapa alfaqir jawab demikian, karena memang tidak ada nash yang kuat mengenai dalil rokok. Yang ada sekadar ijtihad ulama, antara yang pro rokok dengan yang anti rokok. Jadi, rokok dan merokok benar-benar masalah yang diperselisihkan. Atau, yang lazim dikenal masalah khilafiah. Karenanya, di banyak kesempatan pula mereka yang mempertanyakan mengenai alfaqir tidak merokok selalu diam dan sangat memahami keputusan alfaqir tidak merokok. Karena sifatnya sangat subyektif, yakni tidak manfaat buat diri alfaqir.
Itu sangat berbeda, jika alfaqir menjawab dengan produk-produk fikih. Seperti: makruh dan haram, misalnya. Persoalan menjadi panjang dan pasti muncul perdebatan yang tidak berujung pangkal. Sebab, masing-masing secara subyektif membela pendapatnya. Ini yang alfaqir hindari, yakni meninggalkan perdebatan yang tidak perlu.
Sebagai contoh, jika dijawab, “Hukum merokok adalah makruh.”
Makruh itu artinya perbuatan tersebut lebih baik ditinggalkan. Maka, akan dikejar dengan pertanyaan, “Makruh dari sisi mana?” Apabila makruh dari sisi bau mulut yang dianalogkan dengan bau bawang putih. Maka, jika rongga mulut secepatnya dibersihkan setelah merokok. Selesai persoalan. Karena makruhnya rokok disebabkan meninggalkan bau mulut yang tidak sedap; wa-llahu a’alam.
Boleh jadi. Makruhnya karena belum memiliki penghasilan. Sehingga untuk membeli rokok harus menggunakan uang pendidikan. Atau, harus menghutang untuk beli rokok. Maka, ini dapat dijawab, merokok tidak makruh lagi jika si perokok diberi rokok temannya. Pokoknya sangat banyak lagi perselisihan-perselihan yang timbul.
Dan, lebih dahsyat lagi, jika merokok dihukumi haram. Maka, orang yang merokok akan bertanya, “Dari sisi mana rokok dapat dikategorikan haram?”
Bagaimana dapat divonis haram masalah rokok. Wong rokok itu masalah aktual. Artinya, di jaman Nabi saw tidak ada rokok seperti rokok di jaman modern. Konon bahasa Arab rokok saja tidak ada. Dan, dalil secara sharih sendiri di dalam al-qur`an dan al-hadis juga tidak ada.
Bagi mereka yang menganut pendapat, bahwa rokok itu haram. Dengan asumsi rokok itu mengakibatkan penyakit. Ada lagi yang mengatakan, rokok mengakibatkan kematian. Ada juga yang berpedapat asap rokok menjadi racun bagi para perokok pasif. Benarkah demikian?
Jika alasan pengharaman rokok itu karena: mengakibatkan penyakit; mengakibatkan kematian; dan asapnya menjadi racun bagi orang yang berada di sekitar si perokok. Hal ini dapat dianalogkan, bahwa setiap hal yang mengakibatkan penyakit, yang mengakibatkan kematian, dan asap yang menjadi racun bagi orang-orang adalah haram.
Ini Cara Berpikir yang sangat berbahaya. Jika illat hukum pengharaman rokok seperti di atas. Maka, orang makan daging kambing bisa menjadi haram. Gara-gara dalam daging kambing sekarang ini banyak mengandung purin. Sedangkan purin yang tinggi berakibat pada tingginya kolesterol dalam darah. Kolesterol yang tinggi dapat mengakibatkan gangguan pada koroner. Adapun koroner yang bermasalah sangat rawan dengan serangan jantung.
Atau, knalpot sepeda motor atau knalpot mobil menjadi haram keberadaannya. Karena gas emisi yang dihasilkan knalpot jauh lebih membahayakan dibandingkan dengan asap rokok.
Yang jelas, masalah rokok sampai kapan pun adalah masalah khilafiah. Karenanya, justru menjadi arogan jika masalah yang ikhtilaf tersebut ditetapkan menjadi sebuah vonis hukum baru.
Jika memang tidak hukum yang sharih terhadap sesuatu. Biar saja berjalan apa adanya. Yang penting tetap terus memberikan pencerahan kepada segenap umat manusia, agar hidup: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Tidak adanya dalil yang sharih pada rokok bukan berarti Allah atau Rasulullah saw lupa. Tetapi memang demikianlah takdir yang ada. Justru di situ manusia dengan kemampuan akal dan kecerdasan yang dimiliki mampu menetapkan pilihan-pilihan yang bermanfaat. Tidaklah Nabi saw telah bersabda, “Tanda kebagusan seorang muslim manakala telah mampu meninggalkan segenap hal yang tidak bermanfaat buat dirinya.”
Marilah kita ber-Islam dengan menyayangi orang lain. Di mana dinul Islam dijadikan Motivasi Kecerdasan guna bersikap memberikan pelayanan dan mendahulukan kepentingan orang lain (itsar). Jika Anda telah belajar qur’an, hadis, dan ilmu, jangan lupa pahami isi Piagam Madinah. Sehingga kita akan dikaruniai hidup menjadi mukmin-muslim yang berilmu: Luwas; Luwes; dan Mendalam. Di samping CC dengan: Tidak syirik; Menjadi ahli derma; dan Selalu memikirkan kebagusan orang lain.
Sangat disayangkan jika umat Islam negeri ini terlalu sering bergelut pada masalah-masalah yang tidak prinsipil. Lalu, serta-merta melalaikan yang sangat prinsip. Yaitu, Persaudaraan Mukmin-Muslim Tanpa Tepi. Sebuah jejaring rahmatal lil alamin yang membangun komunikasi sosial dua arah. Yang sama-sama CC dengan cinta dan kasih-sayang di dalam melakukan pribumisasi Islam, baik dengan pendekatan akulturasi budaya dan asimilisasi budaya.
Karenanya, kewajiban setiap mukmin-muslim negeri ini adalah menciptakan kerukunan dan persatuan-kesatuan. Sehingga benar-benar terwujud sebuah Persaudaraan Tanpa Tepi dengan pilar Prinsip Trianggulasi: Meng-Allah-kan Allah; Me-manusia-kan manusia; dan Meng-alam-kan alam.
Yang perlu diketahui, salah satu penyumbang mengapa kaum muslimin tidak rukun dengan sesama saudara muslim lain. Karena “kuwalat” dengan lingkungan hidup yang tidak dijaga. Di mana lingkungan hidup yang seharusnya dijaga, diberdayakan, dan dilestarikan. Dengan tamak manusia Indonesia yang konon beragama justru mengeksploitasinya.
Seorang mukmin berarti orang yang: Mengimani Allah dan rasul-Nya; Menyayangi sesama umat manusia; dan Melestarikan alam lingkungannya. Inilah embrio Prinsip Trianggulasi yang harus terus digulirkan dan disyiarkan ke segenap negeri ini. [ ]

Agama dan Budaya

Agama adalah bentuk kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang, yang seseorang itu sangat meyakini bahwa totalitas kehidupan ini adalah hasil dari kreasi Allah jalla jalaluh. Seseorang yang beragama yakin benar, bahwa sumber dari segala sumber dalam kehidupan karena adanya ke-Mahakuatan Allah ta’ala yang tidak tertandingi oleh siapa pun dan apa pun.  
Budaya adalah Cara Berpikir seseorang, agar dirinya dapat hidup di dunia ini dengan: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Sehingga lahirlah banyak model kebudayaan yang intinya tetap sama, yakni terdapatnya kualitas hidup manusia yang SSB.
Budaya identik dengan “Seni Berpikir”. Di mana orang yang berbudaya benar-benar seseorang yang telah berhasil menjadikan dirinya hidup enjoy. Kehidupan seseorang dikatakan enjoy apabila telah mampu mengamalkan di kehidupan ini dengan memiliki kualitas dan kuantitas “Seni Berpikir” dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dari “Seni Berpikir” tersebut lahirlah Cara Berpikir. Dan, dari Cara Berpikir itu seseorang atau umat manusia mempunyai pola hidup dan tata perilaku yang sejalan dengan Cara Berpikir yang dimiliki. Maka, kehidupan seseorang lebih dikarenakan akibat Cara Berpikir yang dimilikinya. Termasuk baik dan buruk perilaku seseorang juga dikarenakan Cara Berpikir yang dimilikinya. Dari simpul-simpul Cara Berpikir itulah umat manusia menjadi berbudaya dan berperadaban.
Posisi agama sangat berguna dalam mengendalikan nafsu umat manusia, agar Cara Berpikir yang dimiliki tidak mengikuti hawa nafsu. Tetapi mengarahkan dan memberikan motivasi kecerdasan supaya umat manusia memiliki Cara Berpikir yang selaras dengan wahyu Allah ta’ala. Sehingga semua yang dilakukan dan diaktifitaskan oleh seorang manusia benar-benar melahirkan kehidupan yang rahmatal lil alamin. Yakni, sebuah jaring kehidupan umat manusia yang: Meng-Allah-kan Allah; Me-manusia-kan Manusia; dan Meng-alam-kan Alam (Prinsip Trianggulasi, red). Dengan kata lain, seorang yang beragama hendaknya melahirkan budaya di kehidupan ini dengan kualitas dan kuantitas: “Seni” di dalam Meng-Allah-kan Allah; “Seni” di dalam Me-manusia-kan manusia; dan “Seni” di dalam Meng-alam-kan alam. Demikianlah dinul Islam mengajarkan tata pola kehidupan seorang yang beriman kepada Allah azza wa jalla dengan: Hablum minallah; Hablum minan nas; wa Hablum minal alam.
“Seni” dalam pemahaman yang luas adalah manifestasi dari Cara Berpikir seseorang. Tidak adanya “seni” dalam kehidupan seseorang. Berarti pula lenyapnya Cara Berpikir seseorang dalam kehidupannya. Maka, sudah seharusnya apabila seseorang itu beragama, dia pasti “cerdas” lagi berbudaya. Dan, inilah dasar dari lahirnya akhlak dan adab pada diri umat manusia.
Jadi, jelas sudah bahwa dekaden dan merosotnya akhlak dan adab umat manusia, juga dikarenakan Cara Beragama yang tidak tepat. Sehingga lahirlah Cara Berpikir yang melenceng jauh dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Sekarang saat yang tepat untuk melakukan pembenahan konstruksi Cara Beragama dengan menjadikan agama sebagai motivator kecerdasan. Sehingga eksistensi agama lebih progresif. Dengan demikian lahirlah banyak produk budaya yang menjadikan kehidupan umat manusia lebih SSB.
Agama diposisikan sebagai pusat budaya (center of culture). Dengan demikian lahir produk budaya relijius yang membawa umat manusia pada kehidupan lebih: berkah; baik; benar; dan penuh kasih sayang. Itulah sosok manusia beragama. Manusia yang progresif karena memiliki akhlak dan adab kasih sayang yang menjadikan dirinya memiliki kearifan-kearifan. Yang mana dengan kearifan tersebut kehidupannya lebih SSB .
Sebaliknya, jika agama tidak mampu melahirkan produk budaya. Maka, agama menjadi kering dari sentuhan relijius. Akibatnya, budaya berdiri sendiri dengan menafikan agama dari proses perjalanannya. Ini sangat membahayakan sebab budaya tersebut pasti melahirkan peradaban umat manusia yang anomali nilai. Sehingga manusia menjadi terasing dengan dirinya sendiri. Manusia menjadi lupa terhadap dirinya sendiri. Puncaknya umat manusia lupa dari mengingat Allah ta’ala. Di mana manusia tenggelam dengan kehendak hawa nafsunya. Manusia mencintai dunia dan segala isinya. Di antara manusia hidup dengan saling berkhianat dan adu domba. Maka, dunia berisi dengan manusia tamak dan para pecintanya. Inilah awal dari kehidupan dunia yang rusak dan porak poranda.
Ketika dunia menjadi rusak akibat polah tingkah umat manusia yang mengikuti hawa nafsunya. Tidak ada cara untuk menetralisir kecuali dengan memaksimalkan peran agama dan budaya dalam kehidupan ini. Di sinilah pentingnya agama dan budaya. Yaitu, agama yang melahirkan produk budaya yang berupa: Teologis; Humanis; dan Ekologis (THE).
Artinya, agama menjadi dasar yang kokoh di dalam lahirnya masyarakat yang: berbudaya tauhid (telogis); berbudaya saling menyayangi (humanis); dan berbudaya melestarikan alam (ekologis).
Seharusnya semua itu dimiliki oleh masyarakat bangsa Indonesia. Sebab, bangsa Indonesia adalah bangsa yang relijius. Bangsa yang menjadikan agama sebagai dasar falsafah negara. Seperti termaktub dalam Pancasila sila ke-1, dalam UUD 1945 pasal 29 ayat ke-1, juga dalam Pembukaan UUD 1945. Bangsa yang masyarakatnya memiliki kesadaran keagamaan dan keberagamaan yang melahirkan kecerdasan budaya. Yang mana itu ditandai dengan terdapatnya kebiasaan-kebiasaan bagus, boleh jadi hal itu merupakan kearifan-kearifan lokal, yang menjadikan bangsa ini kaya dengan budi pekerti dan tatakrama. Bangsa besar karena memiliki akhlak dan budaya yang adi luhung dengan mengedepankan Prinsip Trianggulasi.
Sehingga sangat memalukan apabila bangsa Indonesia menjadi bangsa koruptor, bangsa ruwet, bangsa yang alamnya rusak, bangsa yang masyarakatnya lupa dengan dirinya. Maka, Indonesia memetik multi krisis seperti sekarang ini.
Dengan kata lain, negera Indonesia gagal di dalam mengapresiasi agama dan budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya. Dan, masyarakat bangsa ini juga gagal di dalam melakukan pribumisasi agama dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga lahir budaya-budaya yang sangat jauh dari nilai-nilai THE. Maka, mayoritas bangsa Indonesia yang penduduknya memeluk agama, di situ mayoritas pula hidup dalam wilayah yang tidak SSB.
Di sinilah para pengabdi negara harus bertanggung jawab. Mereka harus mampu mengoptimalkan eksistensi agama dan budaya menjadi lebih strategis. Maksudnya, agama harus didesain mampu melahirkan kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Kaum agamawan tidak lagi berada dalam menara gading. Sebaliknya, mereka harus mampu memberikan good services dalam kehidupan umat manusia. Ketinggian ilmu seseorang benar-benar dintandai dengan sikap mental dan perilaku good services. Mereka terukur dengan biasaan baik yang berupa sejauhmana mereka melakukan good services.
Apabila kaum agamawan masih minta dilayani, maka agama tidak akan pernah melahirkan budaya seperti yang alfaqir paparkan dalam tulisan ini.
Apabila kita mengaku sebagai orang yang beragama. Maka, harus mampu menunjukkan sikap mental dan perilaku budaya kita dalam kehidupan sehari-hari. Apakah masih mendahulukan kebencian? Atau, sudah mampu mendahulukan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari?
Sudah barang tentu yang dapat menjawab adalah diri kita sendiri. Iya bukan?!! [ ]

SENYUM & OPTIMIS

Oleh: Drs Nadjib Sulhan
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menikmati hidup ini. Tahun 2010 telah berlalu dan berganti tahun 2011. Pergantian tahun menunjukkan bahwa usia manusia telah bertambah. Ini artinya masa kehidupan di dunia semakin berkurang.
Banyak pengalaman yang dijumpai pada tahun 2010. Ada pengalaman yang menyedihkan ada pula yang membahagiakan. Berbagai bencana mendera bangsa hingga banyak yang tak berdaya. Begitu juga yang kita alami, kadang suka kadang duka. Apapun yang pernah terjadi adalah pengalaman dan pelajaran agar manusia terus memperbaiki diri.
Biarkan kesedihan dan ujian di masa lalu itu datang berantai.  Pelajari apa yang sudah terjadi. Kita masih mempunyai keyakinan bahwa waktu terus berjalan maju dan tidak akan surut ke belakang. Pandang hidup ini ke depan dengan penuh optimis. Tersenyum dengan penuh keyakinan.
Thomas Alfa Edison pernah berkata, ”Senyum itu cepat meresap masuk ke dalam diri Anda dan menjadikan Anda merasa senang dan dapat membangkitkan spirit.” Ini menunjukkan bahwa remaja yang optimis terpancar pada aura wajahnya. Wajah yang senantiasa tersenyum melambangkan remaja yang mempunyai masa depan. Sedangkan remaja yang selalu cemberut dalam dirinya ada belenggu untuk sukses.
Cobalah kita renungkan ajaran rasulullah setelah bangun tidur. Ketika bangun tidur kita diajari untuk selalu  berdoa kepada Allah. Doa yang mengandung nilai-nilai rasa syukur dan optimis dalam hidup ini.

     Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah mematikan kami dan hanya kepada-Nyalah kami kembali. (HR Muslim ).

        Doa yang kita baca ketika bangun tidur merupakan ungkapan rasa syukur. Setelah semalaman kita dimatikan sementara, dilupakan dengan urusan dunia, tiba-tiba di pagi hari itu dibangunkan kembali. Tidak sulit bagi Allah untuk membuat seseorang tidur selamanya, tetapi dengan kasih sayangnya, umur manusia ditambah dengan cara dibangunkan kembali.
        Orang-orang yang optimis, bangun tidur penuh dengan kegembiraan, penuh dengan keyakinan untuk melangkah. Di wajahnya pun tersungging senyum kemenangan. Sementara orang-orang yang pesimis, bangun tidur penuh dengan beban. Agenda yang ada di kepala justru membuat seseorang malas bangun. Takut menghadapi kenyataan di depan mata.
        Apa sebenarnya yang dirasakan saat bangun tidur? Apakah kita ini  tergolong yang ingin segera bangun atau justru yang malas? Bagi orang  yang ingin segera bangun, apa alasannya? Begitu pula, jika seseorang malas bangun apa alasannya? Diri sendiri yang tahu bagaimana sikap terhadap hari-hari yang dijalani.
        Awal yang indah saat bangun tidur akan membuka hati untuk melangkah selanjutya.           Orang-orang yang optimis  adalah orang-orang yang menyenangkan dan suka tersenyum. Untuk itu bukalah hari-harimu dengan senyum. Apa saja akan mudah didapatkan jika hatimu tentram dan senang. Itu semua ditandai dengan senyum ketulusan dan  kejujuran penuh optimis.
Senyum itu pekerjaan yang ringan dan bernilai ibadah, namun demikian perlu untuk dilatih. Tidak semua orang memiliki senyum yang tulus. Jika sejak masa kecil dan masa remajanya tidak terlatih untuk tersenyum, maka senyum menjadi barang yang mahal.
        Senyum sangat terkait dengan hati. Hanya hati yang menyimpan rasa cinta yang bisa senyum tulus. Hati yang penuh optimis yang memiliki senyum. Apa sih sebenarnya yang membuat orang enggan untuk tersenyum? Sebenarnya senyum menjadi cermin seseorang. Orang yang susah tersenyum adalah orang-orang yang sudah mulai kehilangan cinta, orang yang mulai kehilangan rasa empati, kehilangan rasa peduli pada sesama dan kedilangan rasa optimis dalam menapaki hidup.
                Senyum memberikan peluang seseorang untuk membangun citra diri. Aura senyum dapat mengungkap tabir hati. Batapa indahya orang yang membiasakan tersenyum. Karena senyum keramahan rasulullah Muhammad saw, beliau menjadi pemimpin yang dicintai. Tidak ada manusia yang senyumnya melebihi senyum rasulullah. beliau adalah manusia yang murah senyum. Dan senyum yang sitebar adalah senyum ketulusan, senyum kejujuran, senyum yang mampu membangun masa depan dengan penuh optimis.   

WASPADAI KELIHAIAN NAFSU

Bagian nafsu dalam kemaksiatan begitu jelas dan nyata, sedang bagian nafsu dalam ketaatan sangat samar nan rapi. Dan tentu saja mengobati penyakit nafsu yang samar merupakan kesulitan tersendiri”
                                                                (Syarah Hikam II/4 baris ke-26)


Nafsu bagaimanapun juga nafsu. Watak dasarnya sangat sulit berubah. Ia tidak mengenal lelah dan putus asa untuk memperoleh bagiannya, di samping ia begitu cuek terhadap hak-hak yang harus dipenuhinya. Jangankan dalam kemaksiatan, dalam ketaatanpun tidak sungkan-sungkan ia selipkan kepentingannya dengan begitu rapi hingga nyaris tidak terdeteksi. Hanya bagi mereka yang mawas diri dan sudi meneliti gerak-gerik hati sajalah yang dapat merasakan kebenaran watak jelek nafsu ini.
Jika anda begitu semangat dan merasakan kelezatan suatu ibadah tapi tidak demikian dengan ibadah yang lain yang semestinya keutamaannya lebih banyak; misalnya anda begitu semangat dalam menuntut ilmu namun enggan berbakti kepada orang tua, atau anda sangat menikmati berpuasa sunnah namun malas membaca al-Qur’an maka itu merupakan indikasi bahwa dalam ibadah yang penuh semangat tersebut terselip  kepentingan nafsu anda.
Untuk mendeteksi ke-nimbrung-an nafsu dalam ibadah diperlukan keteletian tersendiri dan tidak boleh diremehkan begitu saja. Karena terkadang seakan-akan nafsu memperlihatkan bahwa yang ingin ia peroleh adalah taqarrub ilallah, padahal ujung-ujungnya tidak lain hanyalah perhatian manusia kepada anda dan ketenaran kesholehan anda di kalangan mereka. Maka tidak ada kata lain kecuali jangan pernah berhenti mencurigai nafsu; Diceritakan dari Abu  Muhammad al-Murta’isi, ia berkata, “Aku mencari argument untuk bertajrid (fokus beribadah), namun ternyata semua itu rasa-rasanya telah terkontaminasi oleh nafsuku yang turut ambil bagian di dalamnya. Ceritanya begini: “Suatu hari ibu menyuruhku menuangkan segelas air minum untuknya. Lalu nafsuku merasa enggan melakukannya. Dari situ aku ketahui bahwa nafsu mulai nimbrung dalam keinginanku fokus beribadah. Buktinya, jika nafsuku benar-benar telah tunduk diajak beribadah tentu menuangkan segelas minuman untuk sang ibu tercinta bukanlah hal berat, karena hal itu juga merupakan perintah syari’at. Lalu kenapa aku malah ingin melakukan ibadah yang lain, bukankah semuanya adalah ibadah yang tidak boleh dipilah-pilah dan dipilih-pilih.” Wallahu a’lam

BUKTI MA'RIFAT, FANA' DAN CINTA

مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهَدَهُ فِي كُلِّ شَيْئٍ وَمَنْ فَنَي بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْئٍ وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ شَيْئًا

"Barangsiapa mengenal (makrifat) Allah Yang Maha-haq niscaya menyaksikan-Nya pada segala sesuatu. Barangsiapa sirna (fana) dengan-Nya niscaya tidak tidak memperhatikan segala sesuatu selain-Nya. Dan barangsiapa cinta (mahabbah) kepada-Nya niscaya tidak mengutamakan segala sesutu."
Syarh Hikam II/9; baris ke-2

Inilah standar bagi  ketiga maqam (derajat suluk); yaitu maqam ma'rifat (mengenal Allah), maqam fana' (sirna dengan atau karena fokus pada Allah) dan maqam mahabbah (mencintai Allah). Karena begitu mulianya, ketiga maqam tersebut sangat digandrungi oleh siapa pun sehingga tidak sedikit dari kalangan berilmu yang mengklaim telah mencapai salah satunya, entah karena ambisi yang begitu tinggi atau karena dorongan nafsu yang terselubung. Dan dari kalangan awam (pesuluk pemula) juga ada yang merasa telah menapakinya, atau percaya begitu saja kepada orang yang mengaku-ngaku telah mampu mencapai  maqam-maqam itu. Tentu saja untuk kalangan awam ini, faktor yang paling dominan adalah karena kebodohannya semata. Maka lalu muncullah orang-orang yang berbuat dan bersikap aneh-aneh; ada yang mengaku menjadi nabi, wali atau Imam Mahdy.
Karenanya mengenal dengan baik dan benar terhadap standar-standar baku ketiga maqam tersebut sangat dibutuhkan; Bahwa orang yang telah mencapai maqam makrifat pasti akan melihat (syuhud) Allah dibalik segala sesuatu dan setiap peristiwa. Tatkala melihat buah-buahan, ia tahu bahwa Allah-lah yang menciptakannya, tatkala merasakan kelezatan makanan dan minuman, ia mengerti bahwa Allah-lah yang mewujudkannya. Tatkala terjadi suatu peristiwa (yang menyenangkan maupun yang menyusahkan), ia sadar bahwa Allah-lah yang menghendakinya. Alhasil, baginya tidak sesuatupun dan satu pun peristiwa yang lepas dari kehendak-kuasa-Nya. Orang yang telah sampai ke maqam fana' tentu perhatiannya sama sekali tidak tertuju dan bertumpu kepada makhluk. Tidak pernah menyandarkan segala bentuk keinginan dan harapan kepada selain Allah. Fokus perhatiannya hanya kepada-Nya semata, tidak yang lain. Dan orang yang telah menapaki maqam mahabbah akan senantiasa mementingkan Dzat yang dicintainya, Allah 'Azza wa Jalla. Di hatinya segala sesutau selain-Nya tidak akan memperoleh tempat untuk diutamakan atau dipentingkan. Pokoknya hanya Allah; dari, karena dan untuk-Nya semata.
Jadi jika kita merasa atau melihat orang lain mengaku telah mengaku telah mencapai salah satu atau ketiga maqam tersebut, tetapi tidak sesuai dengan standar yang telah dipaparkan di atas maka itu hanyalah pengakuan kosong belaka.Wallahu A'lam

Kearifan Lokal

*Prof. Dr. Abdu A’la


Akhir-akhir ini degradasi moralitas sosial mewabah akut menjangkiti masyarakat bangsa. Kebiadaban nyaris melekat dalam hidup keseharian kita. Ambil contoh, kekerasan seakan-akan telah menjadi jalan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi.
Dalam konteks degradasi moral itu pula, kita melihat maraknya “tradisi” korupsi, aji mumpung dan sejenisnya yang dilakukan beberapa oknum pejabat dan pengusaha yang hingga saat ini belum mengalami penurunan berarti. Bancaan uang negara dan rakyat terus dilakukan oleh tikus-tikus penjahat berkrah putih ini. Memperkokoh kondisi ini, politik kekuasaan dalam beragam bentuknya menjadi model anutan banyak kalangan di sembarang lembaga dan organisasi. Dengan kekuasaan yang dibungkus berbagai label, mereka melakukan hampir segalanya; merugikan rakyat dan mengeruk keuntungan untuk diri sendiri.
Menyikapi kondisi Indonesia kekinian, kita mungkin agak berlebihan jika menganggap negara ini negara anarkis, negara keserakahan, dan negara kekuasaan. Namun realitas di sekitar kita hampir seutuhnya mengarah kepada anggapan itu. Persoalan ini yang seharusnya dibincang dengan serius untuk menata kembali keindonesiaan kita.

Indonesia Masa Lalu
Keragaman bangsa Indonesia dari sisi etnis, suku, budaya dan lainnya sejatinya juga menunjuk kepada karaktreristik masing-masing. Pada saat yang sama, kekhasan itu pada umumnya memiliki kearifan yang pada masa-masa lalu menjadi salah satu sumber nilai dan inspirasi dalam merajut dan menapaki kehidupan mereka.
Sejarah menunjukkan, masing-masing etnis dan suku memiliki kearifan lokal sendiri. Misalnya saja (untuk tidak menyebut yang ada pada seluruh suku dan etnis di Indonesia), suku Batak kental dengan keterbukaan, Jawa nyaris identik dengan kehalusan, suku Madura memiliki harga diri yang tinggi, dan etnis Cina terkenal dengan keuletan. Lebih dari itu, masing-masing memiliki keakraban dan keramahan dengan lingkungan alam yang mengitari mereka.
Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.
Namun dari waktu ke waktu, nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna substantifnya. Lalu yang tertinggal hanya kulit permukaan semata, menjadi simbol yang tanpa arti. Bahkan akhir-akhir ini budaya masyarakat hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, menampakkan diri sekadar pajangan yang sarat formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan.
Tentu banyak faktor yang membuat kearifan lokal dan budaya masyarakat secara umum, kehilangan geliat kekuatannya. Selain kekurangmampuan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal mereka, faktor lainnya adalah pragmatisme dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit masyarakat. Kepentingan subjektif diri mengantarkan mereka untuk “memanfaatkan” kearifan lokal. Mereka menggunakannya secara artifisial, tapi sekaligus menghancur-leburkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya.
Pada gilirannya, masyarakat luas yang struktur dan hubungannnya masih bersifat patron-client “meneladani” sikap dan perilaku elit mereka. Pada sisi itu bencana budaya mulai berkecambah dalam masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak mampu lagi melihat, apalagi menyelesaikan, secara arif hampir persoalan yang menimpa mereka. Krisis demi krisis lalu menjadi bagian hidup bangsa.

Rekonstruksi Kearifan Lokal
Kendati tidak menjamin persoalan akan selesai, rekonstruksi kearifan lokal sangat niscaya untuk dilakukan. Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya untuk kembali kepada jatidiri mereka melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya mereka.
Dalam kerangka itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal. Sebagai misal, keterbukaan dikembangkan dan kontekstualisasikan menjadi kejujuran dan seabreg nilai turunannya yang lain. Kehalusan diformulasi sebagai keramahtamahan yang tulus. Harga diri diletakkan dalam upaya pengembangan prestasi; dan demikian seterusnya. Pada saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu dibumikan dan disebarluaskan ke dalam seluruh masyarakat sehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan sekadar menjadi identitas suku atau masyarakat tertentu.
Untuk itu, sebuah ketulusan, memang, perlu dijadikan modal dasar bagi segenap unsur bangsa. Ketulusan untuk mengakui kelemahan diri masing-masing, dan ketulusan untuk membuang egoisme, keserakahan, serta mau berbagi dengan yang lain sebagai entitas dari bangsa yang sama. Para elit di berbagai tingkatan perlu menjadi garda depan, bukan dalam ucapan, tapi dalam praksis konkret untuk memulai.
Dari ketulusan, seluruh elemen bangsa, masing-masing lalu merajut kebhinnekaan, menjadikannya untaian yang kokoh dan indah. Dengan untaian yang menyatukan satu dengan yang lain, mereka  bersama-sama menyelami kehidupan secara arif dan bijak. Di sana pijar-pijar lampu kehidupan pasti akan menerangi menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai dan penuh keadilan. (MAYAra Geographic)

*Penulis adalah cendikiawan Muslim Indonesia

Bohong, Awal Kehancuran!

*Drs. Najib Sulhan, MA


Sore itu ada telepon berdering kencang sekali. Seorang anak menghampiri dan hendak mengangkatnya. Sebelum telepon diangkat, ibunya sempat titip pesan, ”Nak, kalau ada yang menanyakan ibu, bilang  kalau ibu tidak ada di rumah.” Ternyata dugaan ibu tidak salah. Telepon itu menanyakan ibu. Dengan santainya, anak ini menyampaikan kalau ibunya tidak ada di rumah.
Setelah telepon itu ditutup, si anak menyampaikan kepada ibunya, ”Bu, saya sudah menyampaikan kalau ibu tidak ada di rumah.” Ibu ini tersenyum dan memberikan dukungan atas apa yang dilakukan oleh anaknya.
Persoalan di atas kelihatan sepele, hanya persoalan telepon. Mungkin saja orang yang menelepon  tidak tahu, bahkan sudah tidak mau peduli. Justru yang menjadi persoalan besar adalah ketika orangtua dengan sengaja mengajarkan kebohongan kepada anaknya sendiri.
Mungkin bagi orangtua hal itu biasa, bukan persoalan besar. Namun bagi anak, ini adalah hal yang luar biasa. Anak telah mendapatkan pelajaran dari orangtuanya sendiri, bahwa bohong itu boleh, bohong itu tidak apa-apa. Bisa saja anak memiliki persepsi bahwa bohong perlu dilakukan.
Kadang kita sering berpikir, kapan kebohongan itu mulai bersemi pada diri anak. Padahal anak ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat al-A'raf ayat 172,  “Dan Ingatlah, ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman): Bukankan Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, Engkaulah Tuhan kami, kami menjadi saksi.”
Jawaban itu ada pada diri setiap orangtua. Sejak kapan kata-kata bohong itu diajarkan, saat itulah anak mengenal kebohongan. Justru anak mengenal kebohongan lebih banyak dari lingkungan yang paling dekat dengan dirinya, yaitu orangtua.
Dalam beberapa peristiwa, justru kebohongan adalah awal dari terjadinya kehancuran. Bahkan boleh dibilang bahwa kebohongan adalah salah satu sifat orang yang munafik. Sekali berbohong dan tidak diketahui, maka esoknya akan melakukan kebohongan yang lebih besar. Dalam urusan pekerjaan, ketika sudah mulai ada kebohongan, maka suasana tidak akan kondusif. Begitu juga di dalam rumah tangga, ketika kebohongan sudah mulai bersemi, maka akan berdampak pada kurangnya keharmonisan keluarga.
Orang yang biasa berbohong, ketika melakukan kesalahan, sulit untuk mengakui kesalahannya. Justru yang dilakukan untuk menutupi kesalahan adalah dengan mencari-cari alasan sebagai bentuk pembenaran.
Ada sebuah kata bijak yang perlu kita renungkan bersama, ”99% kegagalan berasal dari orang yang mempunyai kebiasaan membuat alasan”. Ini artinya, alasan adalah suatu kebohongan yang  menjadi belenggu seseorang. Semakin banyak berbohong, maka akan semakin lemah dan tidak berdaya.
Sebaliknya, kejujuran menjadi kunci sukses. Rasulullah Muhammad saw menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia adalah karena memiliki sifat siddiq, selalu benar. Apa yang ada di dalam hati, diucapkan, dan dilakukan selalu serasi. Tidak ada kebohongan.
Dalam beberapa penelitian tentang orang-orang sukses, jujur menempati urutan yang paling tinggi. Ini menunjukkan bahwa kunci sukses bukan pada kepandaian, nilai dalam ijazah, tetapi mental yang akan menentukan semua. Bahkan hasil penelitian di Harvard University menunjukkan bahwa 85% keberhasilan seseorang ditentukan oleh mentalnya. Sementara 15% ditentukan oleh kepandaian dan kemampuan mereka.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Majalah MAYAra