Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Kerja Cerdas


×ptƒ#uäur ãNçl°; ÞÚöF{$# èptGøyJø9$# $yg»uZ÷uômr& $oYô_{÷zr&ur $pk÷]ÏB ${7ym çm÷YÏJsù tbqè=à2ù'tƒ ÇÌÌÈ   $oYù=yèy_ur $ygŠÏù ;M»¨Zy_ `ÏiB 9@ŠÏƒ¯U 5=»oYôãr&ur $tRö¤fsùur $pkŽÏù z`ÏB Èbqããèø9$# ÇÌÍÈ   (#qè=à2ù'uÏ9 `ÏB ¾Ín̍yJrO $tBur çm÷Gn=ÏJtã öNÍgƒÏ÷ƒr& ( Ÿxsùr& tbrãà6ô±o ÇÌÎÈ  
“Dan, suatu tanda [ke-Mahakuasaan Allah] bagi mereka, adalah bumi yang mati. KAMI hidupkan bumi itu. Kemudian, KAMI keluarkan dari bumi itu biji-bijian. Maka, dari hasil bumi itu mereka makan.33 Lalu, KAMI jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Juga, KAMI pancarkan pada bumi itu beberapa mata air,34 supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka, mengapakah mereka tidak bersyukur?35” (Qs.Yasin [36]: 33-35).

Bumi merupakan media kebangkitan umat manusia untuk menggapai ridlaNYA. Maka, manusia yang tidak dapat menjaga amanah Tuhan YME yang berupa bumi dengan segala kelengkapannya, ia pasti kelak dimintai pertanggung-jawaban olehNYA.
                Kuncinya, “Kerja Cerdas”. Kerja yang menjadikan masyarakat dan umat manusia menjadi: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Kerja yang menjadikan mereka yang bekerja hidupnya semakin SSB.
                Keberadaan bumi tidak untuk individual an sich. Tetapi, bumi harus dipergunakan di dalam pertemanan tanpa tepi dengan bingkai kebersamaan (ma’iah) dan ke-kita-aan (nahniah). Sehingga bumi benar-benar menjadi jalan pencapaian rahmatal lil alamin. Yakni, segenap penduduk bumi CC dengan “Rahmah Kemanusian & Ramah Lingkungan”.
                “Kerja Cerdas” membutuhkan semangat “ma’iah & nahniah” sekaligus, karena bumi ini adalah bumi kita bukan bumi milik sekelompok ras tertentu. Siapapun tidak dapat mengklaim bahwa mereka yang paling berhak atas bumi. Setiap manusia dari kehidupan umat manusia justru harus terikat dan mengikat kuat dengan Pertemanan Tanpa Tepi (PTT) yang terbingkai ke dalam koridor semangat hidup rahmatal lil alamin.
                Setiap orang yang hidup di dunia tidak boleh mengedepankan dan mengembangkan ananiah (egoisme). Ananiah adalah pangkal kerusakan diri sendiri sebab orang yang bersikap ananiah memiliki kecenderungan cinta dunia (hubbud dunya). Apabila seseorang sudah cinta dunia pasti ia serakah karena berhasrat hendak menguasai apa-apa yang dicintai.
                Keserakahan itulah yang menjadikan dunia mengalami krisis di semua lini. Bahkan, kerusakan berada di depan mata apabila para penduduk bumi ini serakah.
                Orang serakah mendahulukan haknya dibandingkan mendahulukan kewajibannya. Padahal hidup di muka bumi ini hendaknya secara seimbang lagi simultan mempraktekkan hak & kewajiban.

Sebatas Keperluan
                Seorang manusia pasti SSB jikalau ia CC dengan keseimbangan hidup meskipun kekayaan alam itu melimpah-ruah namun sebatas keperluan di dalam menggunakan. Manakala berlebih-lebihan di dalam menggunakan SDA pasti tata ekosistem mengalami persoalan serius yang berupa ketidak-seimbangan karena telah terjadi pengrusakan.
                Apabila para pemimpin dan para wakil rakyat di Indonesia ini cerdas, sudah tidak jamannya melakukan ekploitasi dan eksplorasi tambang. Sebab, Tuhan YME sudah menyediakan sumber energi buat kehidupan umat manusia yang jauh lebih murah dan sifatnya berkelanjutan. Sebut saja: sumber energi angin, sumber energi gelombang air laut, sumber energi sinar matahari, sumber energi bio-kompos, dan sumber energi bio-gas.
                Konteks Indonesia, semua sumber energi tersebut sudah tersedia karena memang sudah disediakan oleh Allah ta’ala sejak penciptaan bumi dan alam semesta. Para pendahulu kita sungguh cerdas sehingga tidak mau didekte oleh orang-orang asing yang sebenarnya berlaku culas di dalam menguras kekayaan alam Indonesia.
                Silahkan mereka yang berkuasa dan menjadi wakil rakyat suruh menjawab, apa sebenarnya keuntungan bagi bangsa dan rakyat Indonesia dengan maraknya penambangan di negeri kita. Mereka sangat menyengsarakan warga sekitar yang sebelum ada pertambangan sudah miskin di tambah adanya pertambangan menjadi lebih sengsara.
                Semangat Pembukaan UUD 1945 negara harus mampu memberikan jaminan untuk “Memajukan kesejahteraan umum” Sama sekali bohong besar. Padahal para pendiri bangsa Indonesia modern tersebut meletakkan garis perjuangan tersebut supaya para penguasa dan para wakil rakyat secara serius harus memikirkan nasib rakyat bangsa ini.
                Alfaqir yakin apabila setiap orang Indonesia CC dengan hasil SDA dalam negeri, juga CC dengan produk-produk dalam negeri, di dalam waktu yang sangat singkat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Hanya dengan semangat kemandirian bangsa Indonesia memiliki harga diri yang telah lama hilang sejak jaman rezim orde baru. Yang mana rezim tersebut mewariskan hutang dan rusaknya alam lingkungan. Ditambah pada orde reformasi mereka memimpin negara dengan sekadar coba-coba. Praktis Indonesia mengalami keterpurukan yang memalukan.
                Negara yang SDA-nya sangat kaya akan tetapi rakyatnya tidak makmur. Mengapa terjadi? Sebab, negara dipegang oleh orang-orang yang tidak amanah di dalam mengelola negara. Akibatnya, Indonesia benar-benar menjadi negara yang “salah kelola”.
                Bukti utama yang sangat mencolok bahwa negara Indonesia ternyata “salah kelola”. Sungguh aneh jika rakyat Indonesia harus makan: buah impor, sayur impor, daging impor, ikan laut impor, lucunya limbah dan barang bekas juga harus impor.
                Di sisi lain, hasil tambang; hasil hutan; dan hasil perkebunan harus diekspor ke negara-negara yang konon disebut maju.
                Sungguh sebuah pemandangan yang ironi. Semua itu terjadi sebab berkali-kali rakyat selalu memilih para pemimpin dan para wakil rakyat yang salah. 2014 nanti di dalam pemilihan umum rakyat harus cerdas di dalam menentukan pilihan supaya negara tidak “salah kelola” lagi.
                Setiap orang Indonesia harus sadar bahwa sangat mahal harga yang harus dikeluarkan hanya untuk “main-main” di dalam membawa negara.
                Setiap orang Indonesia harus malu jika mentalnya hanya menghendaki menjadi orang kaya, sementara tidak memikirkan bagaimana caranya orang lain dapat hidup kaya seperti dirinya.
                Setiap orang Indonesia harus paham benar bahwa banyak dari musuh negara yang tidak menghendaki Indonesia menjadi bangsa mandiri. Mereka tahu jika Indonesia menjadi bangsa dan negara yang mandiri maka mereka tidak dapat lagi mendekte Indonesia guna mengikuti segenap kemauan mereka.
                Alfaqir sangat yakin manakala segenap warga bangsa dan seluruh rakyat Indonesia menggunakan produk-produk dalam negeri, demikian juga hasil pertanian, perikanan, perkebunan, dan kemandirian energi. Maka, negara seperti: Singapura dan Malaysia bakal ambruk duluan.
                Sebuah kenyataan jika negara-negara Asean hidup dan lebih baik perekonomiannya sebab memanfaatkan keteledoran dan kecerobohan para pejabat negara dan para wakil rakyat Indonesia. Misalnya, salah urus hutan, salah urus laut, salah urus tambang, salah urus pertanian, salah urus perkebunan, dan masih banyak yang salah urus lainnya.
                Tidak hanya Asean akan tetapi Eropa dan Barat juga sangat tergantung dengan Indonesia.
                Itulah sebabnya, mulai saat ini bangsa Indonesia harus segera memiliki kemandirian energi, kemandirian pangan, kemandirian air, kemandirian ekonomi, dan kemandirian sains & teknologi.
                Jangan pernah menjual ke negara lain sebelum rakyatnya disejahterakan dan dimakmurkan lebih dahulu. Alfaqir yakin apabila Indonesia sebagai bangsa dan negara mau “uzlah”, pasca “uzlah” akan “Menjadi Diri Sendiri”. seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang sekarang memiliki GDP sangat besar. Sebut saja: China, Irlandia, dan Jepang.

Jangan Semua Dipolitikkan
                Eforia politik setelah tumbangnya rezim orde baru sudah saatnya diteruskan dengan pembangunan semesta di bumi Atala Nusantara.
                Para politisi harus lego legowo mau mengawal jalannya roda pembangunan yang menyejahterakan dan memakmurkan segenap rakyat Indonesia. Jangan malah terus asyik-masyuk bermain politik-politikan. Kapan membangun bangsa ini?
                Misalnya, masalah pendidikan dan kesehatan masyarakat biarkan keduanya berjalan sesuai dengan “fitrah” pendidikan dan kesehatan masyarakat. Sebuah fakta di lapangan jika masyarakat itu miskin maka mereka rentan dengan berbagai macam penyakit. Yang penyakit tersebut dikarenakan nalar pikir yang salah di dalam mengonsumsi makanan dan perilaku sehat masyarakat yang tidak tahu.
                Mengapa sampai terjadi? Karena negara tidak pernah memberikan kualitas pendidikan yang melahirkan orang cerdas.
Yang banyak dilahirkan dari lembaga pendidikan adalah para kuli yang terdidik. Bukan para ahli ilmu yang mencintai ilmunya sehingga mereka mencintai bangsanya sebagai perwujudan syukur dengan Tuhan YME.
                Negara juga tidak pernah bersungguh-sungguh di dalam memberikan jaminan kesehatan kepada segenap warga negara. Akibatnya, rakyat Indonesia panen penyakit. Sehingga menggembirakan negara-negara produsen obat dan anti virus. Di sisi lain negara membiarkan rakyatnya menjadi “kelinci” percobaan negara-negara maju.
                Pemandangan yang nyata sekaligus memilukan jikalau orang-orang Indonesia sekarang ini perilakunya sudah mengalami perubahan yang jauh dari nilai-nilai ketimuran.
Kita tidak usah menyalahkan siapapun. Bagaimanapun yang salah tetap para pemimpin dan para wakil rakyat. Sebab, negara tidak dapat memberikan jaminan apapun terhadap seluruh tumpah darah Indonesia.
Sangat mendesak sifatnya yang mana “Kerja Cerdas” harus segera dimiliki oleh segenap warga bangsa. Sehingga anugerah Tuhan YME yang berupa daratan, lautan, sungai, udara, api, hutan, dan tata ekosistem yang berupa Atala Nusantara dapat dikelola sesuai dengan kehendak Tuhan menganugerahkan kepada segenap bangsa Indonesia hingga akhir jaman [ ]

GreenKhutbah, Mengapa Tidak?


Khutbah Jum’at merupakan media mingguan kaum mukminin-muslim yang sangat cocok sebagai sarana mencerdaskan nalar pikir umat Islam. Meskipun kenyataannya masih banyak orang mengaku Islam tetapi tetap saja meninggalkan shalat jum’at dan khutbah jum’ah. Jika orang itu cerdas pasti mendatangi khutbah jum’at dan shalat jum’at, sebab secara keilmuan banyak hal yang didapatkan dari materi khutbah yang disuguhkan para khatib. Sekarang saat yang tepat para khathib untuk menambah penguasaan keilmuan, agar khutbah jum’atnya diminati oleh audein.

“GreenKhutbah” adalah terobosan yang sangat mendesak untuk dilakukan para khatib dari atas mimbarnya guna memberikan pencerahan sekaligus penyadaran, bahwa masalah lingkungan hidup adalah masalah kita semua. Karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan masa depan umat manusia.
“GreenKhutbah” harus dikemas secara tematik dengan penyampaian yang relatif sangat singkat. Dalam penyampaian yang sangat singkat tersebut audien harus diestimasikan mampu menerima dan mencerma materi khutbah tersebut. Karena materi masalah lingkungan maka sekuat tenaga khatib harus menghindari penggunaan kata-kata yang menjadikan audien sulit mencerna, atau menghafal. Ingat, masyarakat sudah terkadung latah dengan serba instan maka para khatib hendaknya menggiring audien untuk mau lagi belajar dan CC dengan ilmu yang dipelajari, meskipun ilmu itu didapatkan dari mimbar jum’at yang sangat singkat lagi padat. Maka, para khatib dituntut kepiawaian lahir-batin dalam membawakan “GreenKhutbah”.
“GreenKhutbah” menggiring manusia untuk sadar terhadap posisi setiap manusia terhadap lingkungan hidupnya. Kemudian, mengajak audein untuk terlibat aktif dalam merawat lingkungan hidup. Itulah sebabnya, seorang khatib ketika hendak menyampaikan tema-tema ekologis harus mau belajar dan menguasai istilah dan data empiris. Semua itu bertujuan untuk menghayati secara seksama terhadap meteri khutbah ketika menyampaikan khutbahnya.
Memang khatib tidak dituntut untuk menjadi orang yang “serba tahu”. Namun khatib harus menjadi orang “bijak” yang sangat memahami segenap apa yang disampaikan tanpa harus ada energi menggurui. Sebaliknya, seorang khatib harus menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Sehingga setelah jama’ah shalat jum’at usai para audien langsung mengmabil sikap nyata yang berupa aksi lapangan untuk menjalankan apa-apa yang sudah didengar dari “sang khatib” tersebut.
Misalnya, mengajak menanam dengan model polyback. Audiens setelah pulang jum’at langsung merespon dengan tindakan nyata mencari polyback dan mengisinya dengan tanah lalu menanami atau menyemai bibit yang dikehendaki. Inilah “Ngaji Laku” yang harus didorong untuk segera dilakukan pribumisasi “ngaji”.

Awali Dari Diri Sendiri
Karena khatib menyampai sesuatu yang baik-baik dan benar menurut al-qur`an dan al-hadis serta menurut ilmu pengetahuan dan al-hikmah. Tidak ada cara paling bijak melainkan “sang khatib” hendaknya mengawali lebih dahulu dari tema-tema ekologis yang hendak disampaikan, seperti: menanam, merawat bumi, hemat air, hemat energi, dan ramah lingkungan. Khutbah jum’at menjadi manjur apabila “sang khatib” sudah melakukan terlebih dahulu. Sebab, ketika menyampaikan khutbahnya benar-benar menghayati.
Ini, menjadi berbeda apabila “sang khatib” tidak melakukan tindakan ekologis lebih dulu. Audien merasakan apa-apa yang disampaikan dalam khutbah jum’at terasa hambar karena kurang penghayatan “sang khatib”.
Menjadi auto kritik positif apabila selama ini “sang khatib” yang cenderung tidak mau “belajar” maka dengan “GreenKhutbah” sangat dituntut untuk terus belajar, sebab kondisi lingkungan hidup yang terus melakukan “penyesuaian” dengan kehidupan umat manusia. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup sangat cepat, jikalau “sang khatib” tidak mau terus belajar dan senantiasa memahami perubahan yang terjadi dalam lingkungan hidup maka “GreenKhutbah” (Khutbah Hijau) yang disampaikan menjadi tidak relevan dengan kenyataan yang dialami oleh mad’u (audiens).
Secara visioner, khutbah tidak saja menyampaikan realitas keagamaan, akan tetapi secara integral juga menyampai realitas keberagamaan. Sehingga pesan Islam menjadi sangat aplikatif dan dapat dikerjakan oleh setiap orang Islam. dengan kata lain, khatib senantiasa mengajak untuk kembali hidup sejalan dengan jalan Allah dengan mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari “Rahmah Kemanusiaan & Ramah Lingkungan”.
Tidak saja materi khutbah dan para khatib dituntut melakukan penyesuaian paradigma dalam berkhutbah. Namun masjid juga harus mengalami “penyesuaian” supaya menjadi “GreenMasjid” (Masjid Hijau). Yaitu, masjid yang rimbun dengan banyak tanaman dan tumbuhan yang dapat menghasilkan oksigen dan air. Sehingga oksigen yang ada di ruangan masjid benar-benar bersih dan dingin, dengan demikian tidak butuh lagi alat pendingin udara (AC) atau kipas angin. Disamping itu, mata air yang ada di sekitar masjid juga tidak kering dikarenakan banyak pohon yang akarnya menjadi “bank air”.
Ini sangat kontras dengan kenyataan masjid-masjid yang ada di negeri ini. Utamanya, masjid-masjid baru yang didirikan dengan semangat “pokok ada masjid”, atau dengan prinsip “harus ada masjid”. Maka, pemandangan yang terlihat bermunculan masjid-masjid “kering” dan tidak memenuhi syarat sebagai masjid yang ramah lingkungan. Dan, hal itu berdampak pula pada “sepinya” pengunjung masjid terutama ketika shalat subuh berjama’ah. Karena masjid tidak lagi menjadi “magnet” bagi kaum muslimin-mukmin. Sangat disayangkan apabila masjid “sekadar” menjadi masjid kelompok tidak lagi menjadi “baitullah”.
Dewasa ini kaum muslimin sudah memasuki stadium 4 terkena sindrom “mahjub bil-masajid” (tersekat dengan masjid). Maksudnya, kaum muslimin tidak lagi menjadikan masjid sebagai “rumah damai” mereka. Sebaliknya, keberadaan masjid sekadar menjadi simbol, utamanya symbol kemegahan secara kapitalis.

Sang Khatib
Di era krisis ekologi seperti dewasa ini “sang khatib” tidak sekadar menjadi penyampai khutbah, atau pembaca khutbah, namun khatib harus mampu menjadi “blantik budaya” bagi umatnya. Sebab, umat yang hendak menerima pesan khutbah sudah banyak menerima informasi baik dari: buku, majalah, koran, jejaring sosial, dan internet.
Di era pemanasan global seperti sekarang ini, khatib harus mampu secara piawai menggiring jama’ahnya untuk mau “berdialog” dengan “sang khatib”. Jangan malah sebaliknya, “sang khatib” membuat jama’ahnya “malas” untuk mendatangi khutbahnya. Setidaknya, khutbah harus didesain ulang supaya jama’ah yang mendengarkan atau mengikuti khutbah tidak merasa dipasifkan.
Gagasan segar secara tematik, utamanya yang menyakut isu lingkungan hidup dapat menjadi “terapi” kegelisahan jiwa bagi para jama’ah. Jiwa yang gelisah seringkali menjadi tenang apabila ia tidak merasa sendirian, dan diberikan “tanggung jawab” berpikir dalam ikut serta memecahkan problematika masa depan umat manusia dan bumi. Selama ini khutbah jum’at hanya disampaikan secara monoton. Jama’ah dibiarkan saja mendengarkan apa-apa yang disampaikan “sang khatib”, dan di banyak kesempatan “sang khatib” tidak mengambil peran sebagai “guru” bagi jama’ahnya.
Itulah sebabnya, banyak jama’ah yang tertidur ketika mendengarkan “sang khatib” menyampaikan materi khutbah. Kebanyakan jama’ah di luar masjid sudah penat dengan kehidupan yang ruwet dan beban ekonomi keluarga yang menghimpit, maka ketika mengikuti khutbah, mereka seolah mendapatkan relaksasi yang menyegarkan jiwa.
Akan tetapi pasca mengikuti khutbah jum’ah, mereka tidak kuasa melakukan “perlawanan” terhadap diri sendiri. Akibatnya, banyak jama’ah justru mengalami pribadi pecah setelah mengikuti khutbah jum’ah atau khubat yang lain, dikarenakan mereka tidak diberi “ruang belajar” di dalam nalar pikir mereka. Sehingga dari waktu ke waktu terus-menerus bertanya-tanya namun tidak mampu menjawab setiap pertanyaan yang muncul dari dalam hatinya. Kondisi jiwa seperti ini sangat membahayakan jika mereka bertemu dengan orang yang salah dalam menjelaskan masalah agama.
Dengan bingkai pembelajaran yang jelas, yakni: teologis, humanis, dan ekologis. “Sang Khatib” dapat terus mengembangkan materi khutbah dalam rangka melakukan proyeksi sosial jama’ah untuk menjadi umat Islam yang: disiplin, amanah, sungguh-sungguh, dan saling menyayangi.
Apalagi dalam kerja ekologis sangat dituntut setiap mereka untuk CC dengan DASS (Disiplin, Amanah, Sungguh-Sungguh, Saling Menyayangi). DASS tidak dapat landing manakala tidak didasarkan dengan “Segitiga Kekuatan”: Menomor-satukan Allah, Jujur, dan Ikhlas. Itulah sebabnya, khatib tidak sakadar dituntut untuk mampu menjadi “blantik budaya” (culture broker) akan tetapi khatib juga harus piawai dalam memerankan dirinya sebagai seorang yang berkemampuan: leadership & interprenuership.
Karena khatib itu milik umat, maka antara: khatib, ulama, dan masyarakat harus berjejaring secara kuat lagi harmonis sehingga umat Islam secara umum sangat diuntungkan dalam rangka menjadikan umat Islam unggul di masa-masa mendatang. Memang secara personal tidak diragukan lagi mengenai keunggulan seorang mukmin. Namun secara peradaban harus tetap diakui peradaban Islam masih menjadi “permainan” orang Barat zionois.
Khatib dituntut pula menjadi “pendidik” yang kuat dalam memberikan inspirasi, motivasi, dan keteladanan. Itulah sebabnya, “GreenKhutbah” sangat menekankan khatib harus mampu melakukan amal kebagusan terlebih dahulu yang berupa: Mendahulukan orang lain (al-itsar); Melayani orang lain (good services); Berani berkurban (al-qurbah); dan Santun (al-adab). [ ]

Anjuran Qunut Nazilah


Syaikhusy Syuyukh PeNUS MTI al-Ibadah al-Islami K.R.A.Y. Omda Sidi Miftahul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil menganjurkan segenap shantri, murid, dan jama’ah serta kolega beliau untuk membiasakan qunut nazilah utamanya pada shalat-shalat jahr. Yaitu, shalat yang disuarakan seperti pada shalat: maghrib, isya`, dan subuh.
“Inilah era di mana umat manusia harus segera kembali merapatkan hati dan kehidupannya kepada Allah ta’ala. Siapapun tidak dapat mengadu atau curhat kepada yang lain. Sebab, yang mampu memberikan jalan keluar dari problem kehidupan umat manusia hanya Allah sendiri yang telah menciptakan mereka,” demikian nasehat Syaikhuna di suatu kesempatan pada Kajian Tafsir al-Lathîf setiap malam Rabu di ruang astana PeNUS MTI.
Ditambahkan, “Manusia tetaplah manusia. Manusia hidup dengan segenap keterbatasan yang dimiliki. Utamanya akal manusia. Jadi jangan sekali-kali manusia itu membanggakan akal mereka. Hanya orang bodoh yang membanggakan akal mereka. Orang cerdas senantiasa memadukan secara harmonis antara: akal, hati, ilmu, dan wahyu. Sehingga orang yang cerdas selalu hidup dengan keseimbangan yang adil. Orang cerdas memiliki harmonisasi hubungan dengan Allah, sesama umat manusia, dan alam lingkungan.”
Memang jika mau belajar dengan setiap terjadinya bencana alam, sebenarnya alam itu tidak dapat memberikan bencana kepada umat manusia jika tidak manusia itu sendiri yang menyebabkan alam menimbulkan bencana.
Apabila manusia mau menggunakan menejemen syukur  --pinjam istilah Syaikhuna--  justru umat manusia harus berterima kasih dengan terjadinya: banjir, puting beliung, gempa bumi, dan yang lain. Semua itu sangat dibutuhkan oleh alam dan umat manusia.
Seperti halnya umat manusia, alam juga dikaruniakan kemampuan untuk membersihkan dan memperbaiki diri sendiri.
Sebut saja Sungai Ciliwung. Ia memperbaiki dirinya dengan cara banjir bandang, apabila tidak terjadi banjir bandang siapa yang mampu membersihkan sungai terkumuh di Indonesia tersebut, terus menghabiskan dana berapa triliun untuk membersihakan dan menatanya.
Dengan banjir beberapa saat semua kotoran secara otomatis tergelontor sampai ke laut lepas.
Pasca banjir sungai menjadi bersih dan pasti akan dikotori lagi oleh orang-orang yang berhati hewan. Mengapa saya katakan berhati hewan sebab jika mereka manusia pasti hati nuraninya menyintai lingkungan hidupnya bersih.
Syaikhuna pernah mengatakan, “Hanya orang yang hatinya sakit yang membuang sampah di sembarang tempat. Perlu dipertanyakan kemusliman orang tersebut. Karena seorang muslim pasti CC dengan pitutur “Kebersihan itu sebagian daripada iman”.
Saatnya segenap shantri, murid, dan jama’ah PeNUS MTI melaksanakan anjuran Syaikhuna untuk berqunut nazilah. Terutama mereka yang menjadi takmir masjid, takmir mushalla, pengasuh pengajian, dan para imam di lingkungan mereka masing-masing.
Bagi yang belum dapat atau memiliki teks doa qunut nazilah dapat berhubungan langsung dengan Ca’ Zainal Abidin Arsalan shantri mukimer PeNUS MTI Grha 8.
Di negeri ini sudah tidak ada lagi yang dapat diharapkan maka berharaplah secara mutlak hanya kepada Allah swt. Negeri ini telah berubah menjadi negara yang “salah kelola” --meminjam istilah Syaikhuna—maka hanya dengan kembali kepada Allah ta’ala bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa dan negara seperti yang diamanahkan oleh Pembukaan UUD 1945  [ ]

·         Abdulhadi bin Abdulqadir Arsalan, shantri mukimer PeNUS MTI al-Ibadah al-Islami –Sedang mempersiapkan buku pertamanya Aurad Manhaj Subhiah. .

Nyarug

ilustrasi: dok.

Kaki merupakan anggota tubuh yang paling bawah bila kita sedang berdiri. Kaki juga sebagai penopang semua anggota badan seluruhnya agar bias tegak benrdiri. Namun kaki juga yang harus kesandung atau terantuk batu bila berjalan kurang hati-hati.
                Nyarug secara bebas bisa diartikan, suatu kegiatan mengambil dan atau memindahkan sesuatu agar tidak pada tempatnya, bisa juga dikatakan menggeser sesuatu dari tempat semula dengan menggunakan kaki. Bedanya dengan kesandung adalah, kalau nyarug ini kegiatan kaki yang disengaja sedang kalau kesandung tidak disengaja dan barang yang disandung kadang juga tidak sampai bergeser. Sama-sama perilaku kaki namun dampaknya sangat berbeda. Akibat kesandung, hampir semua anggota tubuh ikut merasakan, bahkan mata saja yang jauh dari kaki ikut meneteskan air mata. Namun kalau nyarug yang dilakukan, hanya kaki dan kepala saja yang merasakan. Artinya bahwa kaki berbuat nyarug tersebut jelas tidak secara reflek bergerak sendiri untuk nyarug. Namun karena nyarug merupakan perbuatan kesengajaan, maka jelas ada perintah dari kepala yang berisi otak sebagai pusat pengendali syaraf seluruh tubuh. Sehahingga kalau ada kaki nyarug sesuatu sudah jelas kepala tahu dan memang itu merupakan perintah dari saraf otak. Namun juga sudah menjadi kebiasaan pula kalau kaki nyarug sesuatu, tentu kaki pula yang disalahkan, bukanya kepala yang memerintahkan nyarug tersebut.
                Lakon “Nyarug” inilah yang baru digelar dalam pewayangan pemerintahan Indonesia dengan semangat pemberantasan korupsinya. Namun ternyata, dalam alur ceritanya banyak kesalahan pakem dan terkesan lambat dalam menuntaskan lakon tersebut. Tak jarang pula pementasanya bisa mandeg atau dihentikan begitu saja kalau sudah mengarah pada diri sang dalang dan keluarganya. Ironi memang, pementasan wayang pemerintahan Indonesia ini, ternyata sang dalang juga ikut bermain jadi wayang pula.
                Banyak kasus korupsi atau nyarug uang rakyat di negeri ini pementasannya menyalahi pakem dan terkesan mandeg di tengah jalan. Yang baru digelar dan masih hangat pementasanya adalah pagelaran korupsi proyek-proyek olah raga. Penetapan tersangka sudah diumumkan, namun belum juga dilakukan penahanan. Dalam kasus yang lain seorang bendahara partai besar juga sudah dijebloskan ke tahanan beserta isteri dan teman-temanya, termasuk mantan puteri Indonesia.
                Diakui atau tidak, kegiatan nyarugnya bersifat kemaruk alias murko bin tomak. Bagaimana tidak, seandainya nyarugnya dengan kaki satu saja, maka masih bisa tetap berdiri, karena nyarugnya dengan kedua kaki maka terjatuhlah tubuh ini. Hambalang iya, wisma atlit iya, padahal Century masih terkapar, lumpur Lapindo sesak nafas, simulator sim terseok-seok dengan banyaknya penyidik yang mengundurkan diri dan ditarik kembali ke institusinya, dan masih banyak lagi.
                Sudah menjadi lagu lama, bahwa kegiatan nyarug ini yang dipersalahkan dan dijadikan tersangka tetap saja para kaki, maka tidak segan dan malu sang kepala berani sesumbar untuk digantung di Monas. Sang kepala merasa bersih walau memang dirinya tahu dan mungkin atas perintahnya. Coba dibayangkan, orgnisasi sebesar itu, bendahara melakukan nyarug sedang kepala dan tangan tidak mengetahuinya, sangat lucu memang lakon nyarug kali ini. Sedang organisasi setingkat RT saja, semua keuangan baik yang masuk atau keluar dari seorang bendahara RT, tercatat rinci dan atas sepengetahuan serta persetujuan dari ketua RT. Maka tunggu saja saatnya rakyat tidak mempercayai lagi kinerjanya dan bersiaplah tumbang sebagai mantan organisasi besar. Tapi secara hukum alam memang demikian, kalau besarnya cepet maka matinya juga cepet. Seperti tumbuhan cangkok atau okulasi yang tidak tumbuh dari biji.
                Kegiatan korupsi adalah kegiatan nyarug yang penuh dengan unsur kesengajaan. Kaki nyarug hanya sebatas menjalankan perintah, bukan reflek yang tanpa sepengetahuan otak kepala. Karena masalah ini bukan kesandungnya kaki, maka kepala juga tidak ikut menangis melalui bola mata. Dan menurut kelaziman pewayangan kita, siapa yang nyarug  itulah tersangkanya. Sehingga sebenarnya para kaki yang sekarang jadi tersangka itu sedang nyarug masalah, bukan kesandung masalah. Maka tunggulah pagelaran wayang ini sampai selesai, kalau tidak keburu hujan lebat dan buyarrr…



Mendung di Kota Pahlawan


*Zaenal Abidin el-Jambey at-Tubany

Bukan keinginannya jika dia harus melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Tapi keadaanlah yang membuatnya melakukan ini semua. Seminggu lalu ketika dirinya pulang ke desa karena libur kuliah, hatinya benar-benar menjerit melihat keadaan kedua orangtuanya. Betapa selama ini ketika dia asyik dengan dunianya sendiri, ia lupa pada orang yang tiada henti mendoa dan berharap kepadanya. Ketika siang hari bapaknya harus bergelut dengan lumpur sawah berteman sengatan matahari. Punggungnya berkilau karena terlalu sering berjemur di bawah terik mentari. Sementara ibunya pun tak kalah hebat dibanding Bapaknya, setelah pekerejaan dapur selesai, jika tidak membantu sang suami, ibunya harus mencarikan rumput untuk ternaknya. Terkadang juga pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
 Air mata yang jarang keluar dari kelopak matanya hari itu mengalir deras tiada kuasa dia bendung. Kata-kata ibunya meruntuhkan sekat yang menghalanginya untuk menangis.
"Kim....mungkin kamu kaget melihat keadaan ibu dan bapak seperti ini. Sapi kami jual untuk biaya nebo menggarap sawah. Dan kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua tanaman padi yang ada di sawah mati. Memang bukan hanya milik kita saja. Kim Ibu dalam beberapa bulan ini harus pinjam ke sana kemari." Terang Ibunya dengan wajah muram. Ibunya yang dulu tampak kuat, kini tampak kerut-kerut di wajah sudah mulai menghampirinya.
Mendengar keterangan dari ibunya. Ingin rasanya Hakim menangis dan menjerit atas nasib yang selama ini menimpa keluarganya. Ia kadang heran mengapa dari dulu sampai sekarang keluarganya tidak kunjung keluar dari kesusahan. Padahal ibu dan bapaknya adalah orang yang baik. Bapaknya adalah seorang yang sangat jujur, lugu dan sabar. Ia masih ingat ketika salah seorang kerabatnya yang lama tidak pernah berkunjung ke rumahnya, tiba-tiba datang dan meminjam sepeda motor yang baru dibeli oleh Bapaknya dari hasil menjual sapi yang dimiliki. Dan betapa marah dirinya, karena ternyata orang itu membawa pergi sepeda motor itu dan tidak mengembalikannya. Di tengah kemarahan dirinya dan ibunya yang tampak sedih, Bapaknya justru berkata,
"Sabar, ini takdir Allah...mau bagaimana lagi, engko mesti diganti oleh Allah"
Itulah keheranan Hakim, orang yang begitu baik seperti Bapaknya tidak kunjung juga terbebas dari jerat kesusahan. Sambil tertunduk menahan sedih Hakim kembali mendengar Ibunya melanjutkan bicaranya, "Kini untuk biaya kuliahmu semester empat ini, Ibu dan Bapak terpaksa menggadaikan sawah kita." Kata Ibunya dengan suara purau sambil menyodorkan amplop kepada Hakim.
"Ini Kim uang 4 juta untuk biaya kuliahmu. Kemarin dari uang gadai itu dapat uang 6 juta, 2 juta rencananya mau Ibu belikan Sapi dan untuk biaya berobat Bapakmu. Ibu ndak masalah Kim, yang penting kamu kuliah seng temenan, jadilah orang yang berhasil, cukup Ibu dan Bapak yang susah, Ibu ndak rela kalau anak Ibu susah juga seperti orangtuanya."
Hakim tidak mengeluarkan sepatah kata pun, perlahan ia angkat wajahnya yang dari tadi menunduk, ia tatap wajah Ibunya, wajah itu semakin tua, dan tampak lelah. Hati Hakim bertambah sedih ketika melihat Bapaknya keluar dari kamar sambil batuk. Laki-laki berumur 52 tahun itu berjalan menuju kursi kosong di sebelah kanan Hakim sambil berkata,
"Kim...nek kuliah seng temenan. Engko Bapakmu nek gak ono sopo seng ngrawat Ibu lan adikmu iku. Seng pinter le...huk..hukkk" (Kim, kalau kuliah yang sungguh-sungguh, nanti kalau Bapakmu tidak ada siapa yang merawat Ibu dan adikmu. Yang pintar Le..huk..hukk.”
Sambil menahan tangis Hakim mengatakan kepada kedua orangtuanya, "Insya Allah Pak, Bu, Hakim juga sampon berusaha dengan sebaik mungkin untuk berprestasi. Dan uang ini Hakim ambil setengahnya saja Bu. Hakim insya Allah sudah ada uang untuk menutupi kekurangan biaya semester ini." Hakim membuka amplop putih itu, diambinya uang dua juta lalu ia serahkan kepada Ibunya kembali.
"Dapat uang dari mana kamu Le?" Tanya ibunya.
"Ibu tenang saja, Hakim akan mencoba mencari tambahan untuk uang kuliah dengan mengajar, atau pun mencoba mencari pekerjaan yang kiranya dapat meringankan Ibu dan Bapak."
"Syukurlah kalau begitu, tapi tetap kamu harus mengutamakan kuliahmu." Kata Ibunya dengan wajah sedikit berseri-seri. Mendung sedih yang dari tadi hinggap di wajah Ibu Maisarah dan Pak Narto itu, sedikit hilang mendengar penjelasan anaknya itu.
****
"Bro.....wah dari pada kita susah-susah cari kerja lebih baik seperti ini, tanpa modal, keuntungan kita banyak sekali. Sip... kamu bisa membayar biaya kuliah tanpa meminta kepada orangtuamu lagi." Kata laki-laki bertindik di kupingnya sambil sibuk menghitung lembaran uang di tangannya.
"Tapi apa kita akan begini terus Ran?"
"Tentu saja tidak Kim, kita begini kan terpaksa, terpaksa karena ndak punya uang, coba kita punya uang, apa kita akan melakukan perbuatan seperti ini, tidakkan?"
"Tapi selama kita melakukan hal ini, entah mengapa akhir-akhir ini rasanya hatiku dirundung gelisah terus Ran."
"Kim, Gusti Allah iku tahu mengapa kita begini, karena kita ingin mempertahankan hidup, jadi meski kita mencuri, itu dosanya tidak seberapa, dan yakin saja bahwa Gusti Allah akan memaafkan, lha yang merampas hak-hak manusia indonesia termasuk hakku dan hakmu untuk hidup layak saja mereka sama sekali tidak merasa berdosa, bahkan bangga dengan perbuatannya, sebagai pencuri kelas tinggi, dengan mengkorup harta rakyat."
"Tapi aku tidak ingin berlama-lama dengan semua ini Ran. Hati ku selalu gelisah setiap kali melakukan perbuatan ini"
”Itu pasti Kim. Pasti. Tapi kita kumpukan modal dulu lalu setelah itu kita buka usaha, kita mandiri kawan.”
”Kamu janji Ran.”
”Tentu..”
Angin sore berhembus membawa pesan-pesan ilahi, angin yang berhembus di setiap belahan bumi itu sebagian di antara membelai wajah Hakim yang gelisah akan langkah hidup yang dijalani selama ini. Di bawah teras rumah kecil itu ia termangu memandang langit yang seolah murung. Tapi terkadang pesan ilahi itu tidak dapat dibaca oleh manusia. Hanya mereka yang hatinya suci dan lembutlah yang bisa membaca berbagai pesan-pesan ilahi yang hadir memperingatkan manusia.

***
Pagi ini mentari tak kunjung muncul dengan sinarnya yang terang. Gerimis tipis pun yang turun dari tadi tak kunjung reda. Di depan gedung bercat putih biru itu beberapa mahasiswa tampak melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki gedung itu. Hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang masih duduk-duduk di teras depan gedung yang bertuliskan Fakultas Adab di papan depan itu, yang lainnya tampaknya sudah memasuki kelas masing-masing.
Matanya memandang ke sana kemari, memastikan tidak ada mata pun yang melihat dirinya. Kalau pun ada jangan sampai ia dicurigai, dengan mantap ia mengambil helm putih yang tampak baru itu. Hakim tersenyum melihat seseorang yang berjalan di depannya bersama dua orang temannya, senyum yang dibalas oleh sapaan merdu dari gadis berjilbab hitam, wajahnya tampak putih dengan balutan jilbab hitam itu,
”Mas Hakim, sedang apa ndak masuk tah, ini sudah jam masuk lo,?”
”Sebentar lagi ini ada urusan sedikit, nanti kalau telat tolong izinkan ya,?”
”Oh gitu ya sudah monggo Mas.....”
Mendapat sapaan gadis bernama Zahratul Umamah itu seolah ada setetes embun bening hinggap di hatinya. Hakim tersenyum. Secepatnya kakinya melangkah menuju pintu belakang Kampus, ia merasa sepertinya tidak ada orang yang memperhatikannya. Mungkin mereka berpikir bahwa helm itu adalah Helm Hakim sendiri. Hakim terus berjalan menyusuri gang-gang kecil menuju tempat kontrakannya. Sesampainya di kontrakanya, Randi telah siap untuk menyulap helm curian itu menjadi uang dengan menjualnya kembali.
***
Mendung menggantung di langit Surabaya perlahan setetes dua tetes air mulai berhamburan berpelukan dengan tanah. Beberapa hari ini sepertinya cuaaca di Surabaya tak begitu bersahabat, mentari selalu tertutup oleh mendung.  Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan satu detik ke depan masih merupakan teka-teki. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha. Hakim melangkah dengan ragu, tak seperti biasanya hatinya gelisah dan takut. Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Di parkiran Kampus dengan ragu dan bergetar ia ambil helm berwarna merah di bawah pohon jambu air itu. Ia tidak tahu bahwa pemillik helm itu masih berada di dekat situ, Hakim segera pergi, tapi
”Hai........ maling helm” Teriak seorang pemuda sambil berlari ke arah Hakim. Semua pasang mata tertuju pada Hakim. Hakim berhenti, tubuhnya kaku tak bergerak.
”Hai Mas, mau dibawa ke mana helm saya itu?” Tanya pemuda itu dengan membentak dan muka geram. Sementara para mahasiswa yang menyaksikan kejadian itu tiba-tiba sudah penuh mengerubngi Hakim dan pemuda pemilik helm.
”Oh...jangan-jangan helm-helm yang sering hilang dicuri oleh orang ini.” Teriak salah seorang mahasiswa.  Dengan suara bergetar kerena takut, Hakim menjawab,
”Endak Mas, saya tadi ha..hanya mau pinjam.”
”Kalau pinjam mengapa tidak izin saya Mas?” tanya pemuda pemilik helm.
”Halah ini......, ternyata yang mencuri helm saya kemarin” Teriak salah seorang yang ikut mengerubungi Hakim sambil menjotos kepala Hakim.
Ricuh semua yang mengerubungi Hakim memukul, menjotos dan menendang tubuh Hakim,
”Ya Alllah tolong......”Rintih Hakim sambil menahan sakit, mendengar rintihan Hakim pemuda pemilik Helm tak sampai hati, ia berusaha melerai para mahasiswa yang sudah terlanjur terbawa menggila karena emosi.
”Berhenti..stop stop....!!!!” Tolong jangan main keroyok begini rek. Lebih baik kita bawa ke Fakultas, jangan main pukul seperti ini. Hakim berjalan dikawal oleh para mahasiwa, wajah dan tanngannya tampak memar terkena pukulan. Hakim merintih, air matanya menetes, sekelebat wajah ibunya hadir di depannya.
” Bu...Pak...Dek” Katanya Lirih.
Seluruh Fakultas Adab geger melihat Hakim yang terkenal pendiam, ramah dan baik itu babak belur di kerubngi di ruang Loby. Melihat kejadian ini gadis berjilbab merah yang baru saja turun dari lantai atas itu tampak kaget bukan main melihat Hakim babak belur seperti itu. Ia adalah  Zahratul Umamah teman Hakim, matanya basah. Bebrapa dosen muncul mencoba menurunkan ketegangan.
”Semuanya harap tenang. Biar pihak Fakultas yang menangani semua ini.”
”Ini Pak pencuri helm-helm di Kampus kita selama ini.”
”Ya, ya makanya tolong jangan main hakim sendiri biar kami yang urus masalah ini.” Langit Surabaya semakin gelap tampaknya pagi  menjelang siang itu hujan akan membasahi bumi pahlawan, sementara Hakim merasakan kesedihan yang sulit untuk digambarkan, hujan mulai turun dan langit menangis.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya & Shantri Ma’had TeeBee Indonesia  Tinggal di Ma’had TeeBee Indonesia yang beralamatkan di Jl.Tambak Raga, Jl.Tambak Bening II 18-20, Simokerto, Surabaya Pusat (60142) (Contact Person 08563335017)  

Giring Nidji Siap Memberi Opini

Mas Giring - demikian orang-orang memanggilnya- melalui akun twitternya memberikan kabar baik kepada pimpinan redaksi majalah MAYAra bahwa dia siap memberi opini untuk majalah pesantren yang telah merambah berbagai belahan dunia ini.
Redaksi juga meminta ayah dari Zidane ini untuk memberikan komentar untuk cover majalah setelah sebelumnya ada beberapa tokoh internasional dan artis film yang memberi komentar. Semoga berkenan....

Ma'iyahkan Indonesia


"Perbedaan itu indah, bersama boleh beda."
Kebersamaan (ma’iyah) itulah sikap dan sekaligus perilaku yang harus menjadi habits baru buat Indonesia ke depan, baik sebagai bangsa maupun sebagai negara. Dan, tahun 1431 hijriah ini hendaknya menjadi awal dari perubahan tersebut. Sebab, hanya dengan kebersamaan, sebuah masyarakat –boleh dipahami sebagai umat atau rakyat—akan memiliki kekuatan jaringan sosial-budaya yang solid.
Ma`iyah adalah sifat kebersamaan. Sebuah penegasan, bahwa manusia diajak dan diteladani untuk memiliki kebersamaan dalam hidup di dunia yang singkat ini. Kebersamaan bukan berarti penyeragaman. Dalam penyeragaman tidak selalu yang diseragamkan itu dapat  bersama-sama. Karena manusia ditakdirkan oleh Allah ta’ala dengan segala keragaman yang dimiliki. Satu hal yang dikehendaki oleh Allah swt, sebagai Sang Penguasa kehidupan, manusia sebagai seorang hamba Allah, dia harus senantiasa “Meng-Allah-kan Allah” guna comitment and consistent (CC) dengan sikap mental dan perilaku “Menomor-satukan Allah”.
Sebaliknya, dalam ma’iyah (kebersamaan) terdapat kekuatan yang sinergi manakala dibangun dengan jejaring sosial-budaya dan agama. Artinya, manusia dalam bentuk yang bagaimana pun, atau yang bermodelkan apa pun, akan mampu bergaul dan hidup dengan suasana saling: memahami, memberi, dan melayani. Sebab, dalam sebuah kebersamaan (ma’iyah) perilaku yang kuat lagi menonjol secara sosio-anthropologis dan sosio-psikologis, adalah kuatnya dalam Berpikir Positif dan Memaafkan Orang lain.
Dapatlah dipahami pula, bahwa hidup manusia yang selalu berkomunitas ini harus benar-benar mampu menjadikan dirinya lebur dalam sebuah ma’iyah. Yaitu: Ma’iyatun billāh; Ma’iyatun fin-nās; dan Ma’iyatun ilal-‘ālam. Ketiga prinsip Trianggulasi Ma’iyah itu harus melebur dalam kehidupan bangsa Indonesia yang heterogen ini. Sehingga Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dapat berjalan tanpa harus terusik dengan kemodernan. Artinya, Indonesia yang modern ke depan tetap CC dengan Bhinneka Tunggal Ika tidak akan mengalami perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah. Sebaliknya, dengan ke-Bhinneka-an yang ada hal itu menjadi modal dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kehidupan yang serba modern. Semua itu terjadi karena masyarakat bangsa Indonesia CC dengan agamanya. Inilah sebuah konsep rahmatal lil alamin.
Ma’iyatun billāh. Kebersamaan seorang hamba dengan Allah. Ini sebuah potensi yang hebat lagi dahsyat, jika dikelola dengan baik dan benar. Seorang hamba secara terus-menerus senantiasa Berpikir Positif (husnudlan) dengan Allah ta’ala. Dan, ini jumbuh dengan firman Allah ta’ala, yang menyatakan bahwa Allah bersama hamba-Nya di mana pun. Sebagaimana dinyatakan dalam surat al-hadid ayat ke-4, “dan, Dia [Allah] bersama kalian di mana pun kalian berada; wa huwa ma’akum a’nama kuntum.”
Inilah sebuah Teologi Cinta yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-Allah-kan Allah.”
Ma’iyatun fin-nās. Kebersamaan dalam bermasyarakat. Sebuah potensi sosial-budaya dan agama yang hebat dan dahsyat, apabila dimenejemenkan dengan baik lagi benar. Di mana seorang manusia sebagai anggota masyarakat selalu Berpikir Positif (husnudlan) dengan sesama manusia (baca: orang lain). Dan, ini jumbuh dengan sabda Nabi saw, yang menyatakan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain; khairun nāsi anfa’uhum lin-nās.”
Inilah sebuah Teologi Perubahan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Me-manusia-kan manusia.”
Ma’iyatun ilal-‘ālam. Kebersamaan seorang hamba terhadap lingkungan. Seorang hamba yang menyatu dengan alam lingkungan di mana pun dia ditakdirkan hidup dan ada. Dia telah mampu dialog dengan lingkungannya. Sehingga lingkungannya pun “mau menerima”-nya.
Manusia yang merusak lingkungan. Dia pasti ditolak oleh lingkungan. Itu ditandai dengan lingkungan yang menjadikan manusia hidupnya tidak nyaman lagi aman.
Seorang hamba yang terus-menerus “dialog” dengan alam lingkungannya. Dia akan mampu melebur dengan alam lingkungannya. Ini yang alfaqir sebut dengan hablum minal-‘ālam (hubungan harmonis dengan alam lingkungan).
Inilah sebuah Teologi Lingkungan yang dipilari dengan sikap mental dan perilaku seorang hamba, yang selalu “Meng-alam-kan alam.”
Indonesia adalah Indonesia. Indonesia bukan Arab, bukan pula AS. Indonesia di tahun 2010 masehi harus menjadi bangsa yang mampu membawa kehidupan rakyatnya menjadi lebih: mandiri, sehat, sejahtera, dan bahagia. Indonesia yang mampu menjadikan rakyatnya gemar: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM). Indonesia yang mengamalkan: Giving not taking; Producing not consuming; dan Working not talking (GPW).
Semua itu dapat berjalan manakala ma’iyah menjadi habits baru bangsa Indonesia. Saatnya sekarang ini Indonesia di-ma’iyah-kan. Dan, bagi jama’ah ma’iyah harus benar-benar mengamalkan segenap hal yang telah alfaqir tulis.
Kata kunci yang harus dipegang teguh, bahwa seorang manusia di kehidupan dunia akan selalu hidup bersama dengan komunitasnya. Inilah manhaj ma’iyah buat bangsa dan masyarakat Indonesia. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang memiliki kekuatan jejaring kebersamaan. Kebersamaan dalam arti “Bersama Boleh Beda” (3-B). [ ]

Redaksi

Penanggung Jawab
Ma’had TeeBee Indonesia (MTI)

Pimpinan Umum: Emmal Muhammad Pimpinan Redaksi:  Arif Khunaifi  Redaktur Utama: Muhammad Ben Kafa; Abdul Wachid B.S; Yusuf Ahmad; Mahsun Maftuhin. Sek. Redaksi/Humas: Ferry Fadly Staf Redaksi: Fathurrahman, Nurhadi Peliput: Semua shantri mukim,  Editor: Fillah Korektor :  Mrs. Amy, Cik Dausy Fotografer: Emmel Muhammad Sponsor Rubrik: Zaenal Abidin Keuangan: Abdillah Idrus Hasani  Ware House: Muhibbin Distribusi: Abu Hikam  Kor.Lap: Virman, Opick, Kalim, Lukman, Thoifur, Bin Muslih, Fahruddin, Hubaib, Sahlut, Rukun. Mr.Lap: Ma'in, Abd Azis, Yayan, Manteb, Imam Pos, Sadjam, Sueb, Riawan, Rodliyah. Lay Out & Setting: Syafiq & Halilintar  

KONTRIBUTOR: 

Muhammad Muhajir (Jakarta); Abdul Wahid BS (Jogjakarta); Arifin (Semarang); Nurwiyah (Manukwari); Imam Syafi’i (Kep.Natuna);  Muallif (Bandung); Helmy Bakri (Aceh); Albina (Sabang); Novario (Jakarta); Mahrus Abdullah (Kep.Seribu); Tri Karyaningsih (Magelang); Angga (Makassar); Nurbudianto (Jayapura); Abu Macel (Mataram).

LUAR NEGERI:

Anis Hambali (Makkah); Lokeman Hazli (Kuala Lumpur); Kate Skillman (Michighan); Yusuf Ariansyah (California);Kazuya Abe (Jepang); (Hisnindarsyah, Kedah).



Jaringan Dakwah

MAYAra Bisa Anda Dapatkan di:

AL-MARKAZ MAYAra (031-3727618); SURABAYA METROPOLIS: Ust.Ali (031-7669550); KH.Chusnul Arifin (031-8287882); SURABAYA SELATAN:  KH.M.Munawir (031-7884129/08563029224); SURABAYA BARAT: Abah Rukun (031-7499179); Mas Riawan (031-7521667); SURABAYA UTARA: Ust.Sueb (081553131487); SURABAYA TIMUR: Ust.Ibnu Qosim (081553378184); GRESIK: Bp.Fatkhur Rahman (031-7507466), Ibu Mamik  (031-3981815), Mas Zainuddin/Mbak Indah (031-3954877/081553199835); SIDOARJO: Ust.H.Maftuh Ihsan (031-8962686), H.A.Abdillah,(031-8687600,8687500,08123142200); LAMONGAN: Bp.M.Hubeb Abdullah (Jl.Kaliwungu Tumenggungan 39 Lamongan); MOJOKERTO: Mbak Wita (08121622821), Ust.Subhan (0321-7175415); PASURUAN: Mas Zainul (0343-443352/085648422153) Ibu Siti Fatimah (0343-7739853); MALANG: Mbak Fitri K/Mimin, Jl. Argopuro Gg. Kec. No 16 Rt. 03/ Rw. 08 Lawang-Malang, (65211); BOJONEGORO: Bu Nur (085655266563); TUBAN: Kampus BENZEN (Hp.085732543419), H.Muayyat, (0356-631025), Ust.Mawardi (0356-324451,323398, 081335723085); JOMBANG: Mas Rizki Iqbal (0815573439); NGANJUK: Bp.DR.KH.Kharisudin Aqib, M.Ag, (0358-792799, 081335465017), Ibu Nur Khadijah (SMK Nasional Jl.Diponegoro 72 Nganjuk);  NGAWI: Mbak Primitha Sesalina ( Jl. A. Yani Gg. Podong 40 Ngawi) MADIUN: Bp.Joko (08123400221), Bp.H.Kriswoto (0351-453504, 453518), PT.MPM (0351-493120,493121,493122);   BLITAR: Bu Isti Utami (081803844677); PONOROGO: Bp.Sangkrah Mujiono (0352311830); KEDIRI: Bp.Khoirul Huda (71376034/8985191), Hj.Ny.Mochtar, Jl.Pandan 6 Kediri; TULUNG AGUNG: Bp.Setiaji (081913004888); BANYUWANGI: Mbak Ika (08124976078); JEMBER: M.Syakir (0331-3444131), Miskum (0811351957); PAMEKASAN: Bp.Drs.H.Ghazali (08123545209); SUMENEP: KH.Zawawi (08164285291); REMBANG: Hj.Masjoedi (Bu lek Sus: 081326431856), Yayan Djunaidi (0852231873411), Bu Hidayatun (0295) 5692402; BLORA: Bp.Zainal Arifin (08886555963), H.Chamdan (0296-531676, 531677); YOGYAKARTA: H.Iskandar W (0274-388855); SOLO: Bp.Teguh Martono (08122815955); DENPASAR: Imam Basuki (081338351956) DEMAK:  Bp.Jasman. Bumirejo, Karang Anyar RT.02 No.5 PEMALANG: Ust.Subhan (081391720537); PURWOKERTO: Bp.Subagyo (08156982064); BANDUNG: Mas Wawan (022-6073405), Ibu Rima ( 08179217335), Bp.Prof. H. Ahmad Slamet (Jl.Dr. Setiabudi 229 Bandung); TANGERANG: Mbak Sri Utami (08158203941); BEKASI:  Mas Gawok (Taman Beverli Jl. Palem Hijau V-23 Lippo Cikarang-Bekasi, 0818517154); KARAWANG: Bp.Ery Erawan (0267-431533); SERANG; Bp.Muhtar (08180282125) DEPOK: Mbak Dwi Ina Safitri (28129328945);  JAKARTA PUSAT: DR.H.Mahally Qudsy (0811945991); JAKTIM: Mbak Triana Lukianti (0818391311); JAKSEL: Mas Ade Bagus Setiadi (08156443596) DR.KH.Manarul Hidayat: 021-7802436; Mas Nove Zein, Lab.Pramita Warung Buncit 150; KEP.NATUNA: Mas Imam Syafi’i (0811319674); PONTIANAK: Bp.Choirun (085252263086); BALIKPAPAN: Bp.Darmanto (081578744351) MAKASAR: Bp.Agus Yuniardi (0812300011158); SORONG: Ibu Hj.Eka Kardiningsih (08124886098); JAYAPURA: Mas Budi  (081344524270);  KALBAR: Sudarmawan (08565043587) MEDAN: Ibu dr. Etti Gatot (08788463580); BENGKULU: Ust.M.Aliyani (081367524624); PALEMBANG: Sultan Iskandar Mahmud (0811783355); ACEH: Mas Hilmy Bakri (085260609287); SABANG: Ustadz Albina (085277562669); KUPANG NTT: Bp.Yusriadi (0811383279); BALI: Mas Joko Waluyo, Taman Nasional Jembrana (+6236561060) MANOKWARI: Mbak Nurwiyah, Trikora Wosi 57 Manukwari; (081248484648); MAKKAH: (+966532855721); JEDDAH: (+966505691067); SINGAPURA: (65) 62966757, Fax. (65) 62960596; MATARAM: Gus Fairuz (081917304760); Kep.SERIBU (P.KELAPA): M. Mahrus (08159983101);

Kontak Kami

MAYAra adalah majalah keilmuan yang diterbitkan oleh PeNUS MTI al-ibadah al-islami atau yang populer disebut Ma’had TeeBee Indonesia (MTI). Untuk mendapatkan majalah ini cukup Anda mendaftar menjadi donatur. Ketik nama, alamat dan besar donasi kirim ke 085730084784. Majalah akan dikirim ke alamat. Dana donatur digunakan untuk biaya cetak sebanyak-banyaknya sesuai dengan uang yang masuk dan juga untuk biaya operasional, selebihnya untuk para fakir miskin dan dluafa’. Redaksi juga menerima tulisan para pembaca dan donatur, Insya Allah kami sediakan imbalan yang pantas. Silahkan kirim ke alamat Redaksi Majalah MAYAra; Jl. Tambak Raga, Tambak Bening II/ 18-20, Simokerto, Surabaya Pusat (60142). Wartawan yang bertugas dibekali kartu PERS resmi. Dilarang menerima imbalan dari narasumber. MAYAra tidak mengeluarkan proposal bantuan. Hati-hati dengan penipuan.


AL-MARKAZ MAJALAH MAYAra:

Jl. Tambak Bening II No. 18-20, Tambakrejo, Simokerto, Surabaya Pusat (60142)

Telp Al-MARKAZ:
 (031) 3710838 

FAX:
(031) 3727618 

KontakREDAKSI:
03181441481 (Ust. Arif Khunaifi)

SponsorRUBRIK:

08563335017 (Zaenal Abidin) 

Humas:
085732315053 (ferry)

Visi & Misi

VISI MAYAra


1.  Mentradisikan Ma’rifatul Qur’an, Ma’rifatus Sunnah, Ma’rifatus 
Shalah, dan Ma’rifatullah dalam hidup keseharian mulai bangun 
tidur hingga tidur kembali.

2.  Mentradisikan gemar membaca, menulis, meniliti, dan menguasai 
sejarah.

3.  Menjunjung tinggi “Indahnya Perbedaan”

4. Memberdayakan kaum mukmin melalui tradisi formalitas 
administratif syar’i, sains, skill, dan kompetensi sunnah nabawiah.

5. Membangun jaringan (network) dengan seluruh kaum muslimin 
melalui pembangunan Pusat Perpustakaan, Rumah Sakit, 
Laboratorium, dan antar unit-unit ekonomi kaum muslimin.

MISI MAYAra

Mengajak dan memberikan keteladanan kepada segenap umat manusia, khususnya kaum mukminin untuk mengapresiasi dan meyakini ke-Mahabesaran dan ke-Mahakuasaan Allah.

Tentang MAYAra

Majalah MAYAra adalah majalah keilmuan yang diterbitkan oleh Ma'hadul 'Ibadah al-Islami atau yang popular disebut Ma'had TeeBee Indonesia (MTI). Nama Ma'had TeeBee sendiri merupakan singkatan dari Tambak Bening dengan huruf "T" dan "B" yang diucapkan dalam ejaan bahasa Inggris (baca: tibi, red). Ma'had TeeBee Indonesia (MTI) berada di Jl. Tambak Bening II, No 18-20, Tambak Rejo, Simokerto, Surabaya Pusat (60142). Ma'had TeeBee Indonesia (MTI) menerbitkan berbagai media guna menunjang dakwah Islam. Seperti dengan menerbitkan Buletin al-Fath, yang hadir setiap Jum'at berisi kajian-kajian hadis yang mencerahkan. Begitu pula dengan menerbitkan Majalah Donasi MAYAra yang terbit setiap satu bulan sekali.
 MAYAra terbit pertamakali pada bulan Juli 2002, awalnya majalah ini untuk kalangan sendiri, akan tetapi seiring berjalannya waktu, MAYAra kini telah berubah menjadi majalah yang bisa diterima oleh semua pihak, termasuk kalangan non muslim sekaligus. Bahkan telah merambah ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Jepang dan juga Arab Saudi. Menurut Prof.Dr. Suparto Wijoyo guru besar Unair dan MTI, Keunikan dari Majalah MAYAra ini ada di cover dan isinya. Lebih jauh pakar hukum lingkungan hidup itu mengatakan bahwa, jarang ada majalah yang cover-nya berbau alam. Ini menandakan bahwa segenap elemen yang ada di MAYAra, masih ada kepedulian terhadap lingkungan hidup.
 Awal dari lahirnya Majalah MAYAra, bermula dari perenungan yang dilakukan oleh KH. Miftahul Luthfi Muhammad atau yang akrab disapa Abuya  Luthfi (Pelayan MTI yang juga pimpinan umum MAYAra), ketika beliau sering diundang ceramah di berbagai tempat, beliau berpikir bahwa jika berceramah yang mendengarkan sangat terbatas. Belum lagi rata-rata kemampuan mendengar manusia normal itu hanya sekitar 20 menit. Dari situlah kemudian beliau berpikir bagaimana caranya, supaya pesan dakwah yang disampaikan itu dapat bertahan dalam waktu yang lama, bahkan ketika materi dakwah itu diperlukan, bisa dibuka kembali.
 Akhirnya, setelah shalat istikharah beliau membulatkan tekad untuk membuat sebuah majalah. Majalah dengan sistem donasi. Sasarannya majalah ini dapat dibaca oleh semua orang tanpa pandang golongan. Tidak ada label harga dan harus dibuat dengan lux. Bagi kebanyakan orang mungkin mustahil hanya bermodalkan keyakinan kuat ingin berdakwah di jalan Allah, dan hanya bermodalkan 1 juta rupiah, Majalah MAYAra yang saat ini (April 2011) oplagnya mencapai 12.000 eksemplar lebih ini bisa terbit.
 Dengan pertolongan Allah, pada bulan Juli 2002 Majalah yang diberi nama MAYAra yang berarti tidak melihat ini akhirnya terbit juga, meskipun dengan tampilan sangat sederhana. Di edisi perdana tersebut, jumlah halamannya hanya 10 lembar termasuk cover. Dengan oplagnya 500 eksemplar dan masih sangat terbatas segmen pembacanya.
 Seiring berjalannya waktu, setelah melewati tahun-tahun pertama yang sulit, sampai sekarang (April 2011) Majalah MAYAra yang telah berusia 9 tahun ini, semakin menunjukkan eksistensinya sebagai media cetak yang berorientase di bidang  ilmu pengetahuan, baik diniah maupun umum. Hal ini dapat dilihat dari penambahan-penambahan Rubrik yang sebelumnya tidak ada, seperti Rubrik Sains dan al-Qur’an, Falsafah Keseharian, Jelajah, Sebaiknya Anda Tahu dan lain sebagainya. Majalah MAYAra selalu komitmen dan konsisten dengan niat awalnya yakni terbit untuk dibaca, tidak ada tendensi lain. Ini dibuktikan dengan pembagian majalah secara cuma-cuma ketika dalam forum pengajian, seminar atau pun ketika ada tamu yang datang ke Ma’had.
 Satu lagi yang membuat majalah ini dapat diterima di semua kalangan, adalah adanya Rubrik ASBAL. Rubrik yang di dalamnya berisi pengetahuan-pengetahuan tentang Sejarah, utamanya yang ada dalam al-Qur’an, Teknologi, Bahasa, Etika dan lain sebagainya yang diperuntukkan untuk anak-anak. Dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak salah jika ada orangtua yang tidak terlalu merespon keberadaan Majalah MAYAra, akhirnya harus membaca juga, sebab sang anak meminta supaya dibelikan Majalah ini.