Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Ibadah Kurban Mengajarkan Untuk Menjadi Orang Indonesia Yang Penuh Cinta Kasih Lagi Satun

Khutbah Nasional Pesantren Nusantara
 Ma’had TeeBee Indonesia (MTI)

Oleh:
Omda Romo Ajar (RA) Sidi Miftahulluthfi Muhammad bin Zain bin Aly al-Ya’quby al -Mutawakkily




اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ۷×
اَللهُ أَكْبَرُ كبيرا و الحمد لله  كثيرا
و سبحان الله بكرة و أصيلا

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ هَذَا الْيَومَ مِنْ أَعْظَمِ اْلأَيَّامِ
أَشْـهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ 
وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَـمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ  
اَللَّــهُمَّ  صَلِّ  عَلَى  سَـيِّدِنَا مُحَــــمَّدٍe فِى اْلأَوَّلِيْنَ وَ اْلآخِرِيْنَ،  وَ عَلَى  آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً
أَمَّا بَــعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ أُوصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّ هَذَا الْيَومَ يَومٌ عَظِيمٌ
شَرَّفَهُ اللهُ وَعَظَّمَهُ وَسَمَّاهُ يَومَ الْحَجِّ  اْلأَكْبَرِ، فَعَظَّمُوا مَا عَظَّمَ اللهُ مِنْ حُرْمَةِ يَومِكُمْ هَذَا بِاْلإِيثَارِ لِطَاعَتِهِ وَالتَّرَوُّعِ عَنْ مُسَاخَطِهِ وَمُخَالَفَتْهِ، قَالَ اللهُ I فى سورة الكوثر؛




Bismillãhi mã sya`allãh,
lã quwwata illa billãh,
Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Inilah suasana pagi yang indah, sejuk, nyaman, dan menggembiraan setiap orang yang tidak mengalami kelainan jiwa. Di mana jiwa-jiwa yang sehat. Pagi ini merefleksikan bahwa hatinya memang benar-benar sehat. Hal itu ditandai dengan berkumpulnya kita di bumiNYA. Bersimpuh. Bersila. Duduk sama rendahnya. Di atas tikar, atau koran. Ada juga yang menggunakan sejadah. Bahkan, tidak sedikit, yang berada di trotoar-trotoar, atau jalan raya.
Anehnya, kita semua rela melakukan hal ini. Mengapa dapat terjadi? Karena kita mendahulukan iman ketimbang akal rasional. Iman yang membawa kita ke tempat ini. Demikianlah, apabila hati itu senantiasa diisi sekaligus dihiasi dengan: Tauhidullah; Taqwallah; Tawakkal ‘ala-llah; dan Ikhlasun niat dalam kehidupan sehari-hari.
Hati dan jiwa yang sehat. Setiap kali mendengar kumandang atau pekikan takbir, niscaya bulu kudu’ dan hatinya senantiasa bergetar serta jiwa-jiwa kemukminannya bergemetar. Di sebabkan sadar bahwa pada Idul Adh-hã terdapat peristiwa bersejarah, yang mahadasyat yang dididikkan Allah SWT kepada segenap umat manusia. Yakni, peristiwa keimanan yang terbingkai ke dalam ibadah qurban.
Di mana umat manusia diajarkan untuk selalu: bersabar, bersyukur, dan berpikir positif. Sehingga takdir Allah azza wa jalla dapat dijalankan dengan penuh kebanggaan, apa pun yang sedang dilakoninya. Seperti, yang telah dilakonkan oleh Nabiullah Ibrahim as dengan putra kesayangan beliau, Nabiullah Isma’il as.

Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Kita semua harus sadar sesadar-sadarnya. Bahwa, apa-apa yang dilakonkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il, adalah wujud pembelajaran sifat kepada seluruh umat manusia, khususnya warga bangsa ini, agar benar-benar menjadi orang Indonesia yang CC (commitment & consistent) dengan sikap mental dan perilaku cinta-kasih lagi santun dalam kehidupan sehari-hari; di mana pun, kapan pun, ketika menjadi apa pun.
Itulah sebabnya, para bapak pendiri bangsa ini mendorong terjadinya praktek agama, dengan meng-idiologi-kan pesan dan nilai agama ke dalam Pancasila, yakni pada sila pertama, “Ke-Tuhan-an yang Maha Esa”.
Tujuannya, sangat sederhana, agar pesan-pesan langit dapat segera membumi. Di-azzam-kan, dengan semangat meng-esa-kan Allah ta’ala. Maka, sila ke-2 sampai sila ke-5, benar-benar dapat dilaku-amalkan oleh segenap warga negara Indonesia. Yang sudah barangtentu, dimotori atau diteladani dari para: eksekutif-nya, legeslatif-nya, dan yudikatif-nya. Sehingga warga masyarakat bangga di dalam melakukan keteladanan-keteladanan kepada para tokohnya.
Budi pekerti yang mulia. Dan, tatakrama terpilih yang dilakonkan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il. Adalah, buah dari sikap mental dan perilaku keduanya di dalam meng-esa-kan Allah, atau “Meng-Allah-kan Allah”, guna CC di dalam “Menomor-satukan Allah”.
Namun semua menjadi bubrah tatanannya. Ruwet. Tidak jelas. Terbukti semakin banyak orang tidak mau mengakui kesalahan. Yang terjadi justru malah mencari kambing hitam. Anehnya, kesalahan dilakukan secara rame-rame. Bareng-bareng. Berjama’ah lagi. Mereka sudah tidak malu lagi. Semua itu terjadi karena syaraf warga masyarakat negeri ini, sebagian besar sudah terkena wabah virus “Keuangan yang mahakuasa”.
Money is everything. Uang adalah segala-galanya. Posisi Allah azza wa jalla begitu saja di kesampingkan. Celakanya lagi. Sistem sudah mengajari masyarakat negeri ini. Apabila menghadapi suatu masalah gunakan akal kalian. Mengapa tidak diajarkan kepada masyarakat, “Apabila menghadapi masalah seraplah dengan iman kalian.”
Apabila warga bangsa, pemerintah, dan negara CC dengan Pancasila. Setiap terjadi problem apa pun selalu menggunakan parameter iman. Sebab, Pancasila telah meng-idiologi-kan ke dalam sila “Ke-Tuhan-an yang Maha Esa”. Bahwa, problematika seberat apa pun, pasti mendapatkan jalan keluar, apabila CC dengan meng-esa-kan Allah.

Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Ayyuhal ikhwah,
Setelah kita menunaikan shalat Idul Adh-hã. Segera datangi tempat-tempat penyembelihan hewan qurban. Sebab, di tempat itu terdapat banyak hikmah yang dapat diserap, guna melahirkan energi baru dalam mengisi sisa umur kita.
          Apalah arti pembagian daging qurban. Pembagian itu layak ditasarufkan kepada fakir, miskin, atau orang-orang yang merasa fakir dan merasa miskin. Akan tetapi yang diperoleh dari prosesi Idul Adh-hã. Mulai takbir semalam. Shalat id berjama’ah. Memotong hewan qurban. Kemudian, membagi daging qurban. Semuanya merupakan rangkaian pembelajaran sifat yang melahirkan hikmah.
          Seperti diketahui bahwa pilar hikmah itu, ada dua: Pertama. Cinta (habba) & Kedua. Kelembutan (hinãn). Kedua pilar hikmah tersebut terdapat dalam drama sosial, antara cinta seorang ayah dengan kelembutan seorang putra.
          Dalam konteks Indonesia, utamanya dalam perspektif kebangsaan; penguasanya penuh dengan cinta kasih di dalam menjalankan amanah kepemimpinannya, sedangkan rakyatnya dengan penuh kelembutan sepakat untuk ikut andil dalam proses bernegara, berbangsa, dan berpemerintahan.
          Meski hanya dengan tindakan yang sangat sederhana. Yakni, “tidak bohong dan tidak ngentit”. Mari awali dari diri kita masing-masing. Tanamkan dalam alam bawah sadar hingga lahir mindSET: “tidak bohong dan tidak ngentit”.
          Kelihatannya memang sepele. “Tidak bohong dan tidak ngentit”. Perlu diketahui, hancurnya bangsa Indonesia hingga mengalami multi krisis yang menahun seperti sekarang ini. Lebih dikarenakan, bohong dan ngentit sudah menjadi tradisi masyarakat yang konon terkenal relijius-spiritual. Akibatnya, mereka lupa dengan Allah ta’ala yang telah menciptakannya. Logikanya, jika seorang hamba itu lupa dengan Rabb-nya. Maka, pasti hamba tersebut lupa dengan dirinya sendiri. Sebagaimana difirmankanNYA, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat buat hari esok [akhirat]. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahamengetahui apa yang kalian kerjakan.18 Dan, janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Kemudian, Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.19 Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung20” (Qs.al-Hasyr [59]: 18-20).

Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Wahai saudaraku yang alfaqir banggakan, mari melalui pembelajaran sifat dari Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il. Segera amalkan sikap mental dan perilaku: Cinta Kasih & Santun.
Betapa rugi hidup di dunia yang hanya sekali. Tetapi hati dipenuhi dengan: iri, dengki, tamak, arogan, bengis, kasar, dendam, marah, dan lawwamah. Apabila cinta kasih & santun diamalkan dalam kehidupan sehar-hari. Yang dimulai dari diri dan anggota keluarga kita. Niscaya kehidupan orang itu: Sehat fisik-psikis; Sejahtera dhohir-batin; dan Bahagia dunia-akhirat. SSB inilah parameter keberhasilan di Indonesia.
          Dalam kehidupan sebuah keluarga. Keluarga dikatakan sukses, apabila kepala keluarga tersebut mampu melahirkan: keluarga yang sehat; keluarga yang sejahtera; dan keluarga yang bahagia.
          Dalam konteks kenegaraan. Sama. Negara dikatakan sukses. Dan, kepala pemerintahan dikatakan berhasil dalam pelasaknaan pembangunan nasional, apabila seorang kepala negara atau kepala pemerintahan mampu menciptakan kehidupan rakyatnya: yang sehat, yang sejahtera, dan bahagia. Sebagaimana dinyatakan dalam “Manajemen al-Fatihah”.

Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Semenjak negara Indonesia diterpa badai krisis pada  tahun 1998 hingga detik ini. Belum ada tanda-tanda multi krisis tersebut berakhir. Sudah saatnya bangsa dan masyarakat Indonesia membangun karakter dan jatidirinya, dengan CC terhadap “5 Pilar Kemajuan Indonesia”. Yakni: 1).Agama; 2).Pancasila; 3).UUD 1945; 4).NKRI; dan 5).Bhinneka Tunggal Ika.  
Selama ini “5 Pilar Kemajuan Indonesia” tidak pernah dilaku-amalkan dengan sungguh-sungguh lagi benar. Sehingga banyak orang Indonesia yang sudah tidak lagi mencintai negerinya, sebagai anugerahNYA. Akibatnya, banyak warga bangsa yang mengalami kelainan jiwa. Buktinya, banyak orang sudah merasa kesulitan untuk dapat: Menomor-satukan Allah; Jujur; dan Ikhlas. Padahal hanya orang gila yang tidak lagi memperhatikan sikap mental dan perilaku: Menomor-satukan Allah, Jujur, dan ikhlas. Sehingga mereka asyik-masyik dalam perilaku-perilaku yang jauh dari koridor “5 Pilar Kemajuan Indonesia”.
          Alfaqir yakin dengan seyakin-yakinnya. Apabila “5 Pilar Kemajuan Indonesia” itu dilaku-amalkan dengan dengan dasar: cinta, kelembutan, memaafkan orang lain, berpikir positif, jujur, ikhlas, dan senantiasa menomor-satukan Allah. Dalam waktu dekat bangsa Indonesia pasti menemukan jatidiri dan karakter aslinya.
Nilai-nilai luhur, seperti: gotong-royong, gugur gunung, adat bersendikan syara’, berbantal ombak-berselimut angin-berpajung Allah, dan masih banyak kearifan lokal di negeri ini yang sebenarnya masih tetap relevan dengan kemodernan. Tetapi, dengan alasan modern, atau modernisasi. Segenap kearifan lokal, kearifan budaya, kearifan lingkungan, bahkan bahasa daerah sudah banyak yang punah. Padahal sejak lama bangsa Indonesia berprinsip, “Menjaga nilai-nilai lama yang masih bagus, tetapi menerima nilai-nilai baru yang lebih bagus; al-muhafadhatush shalih wal- akhdu bil-jadîdil ashlah.”
          Lima belas abad silam baginda Nabi saw telah mengingatkan kita, “Bila dunia ini laksana air yang menempel di telunjuk jari yang dicelupkan ke dalam lautan.” Sebagaimana difirmankanNYA, Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian, tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning. Kemudian, menjadi hancur. Di akhirat [nanti] ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNYA. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Qs.al-Hadid [57]: 20).

Allãhu akbar 2x
Allãhu akbar wa li-llãhil hamd.

Wasiat khatib dari atas mimbar. Hati-hati dengan syahwat samar. Jangan sekali-kali kemanusiaan kita menjadi tawanan nafsu syahwat.
Seorang ‘abdullah harus selalu mempertajam adab dan akhlak. Dengan membiasakan mengedepankan perilaku sabar dan perilaku syukur, karena hendak menuju pencapaian hidup ukhrawi yang hakiki.
        Marilah kita mengoreksi diri, dalam rangka bercermin dan muhasabah ‘alan nafs atas segala tindakan, dan aktifitas yang telah kita lakukan selama ini.
Tidak usah menyalahkan orang lain, apalagi mencari ‘kambing hitam’. Saatnya sekarang ini semua kambing, baik hitam maupun putih yang memenuhi syarat qurban, untuk dijadikan sebagai hewan kurban.
Sebentar lagi darah-darah hewan qurban tersebut akan membasahi bumi pertiwi yang sangat kita cintai ini. Sebagai sarana kita untuk mendekatkan diri denganNYA.
        Kita harus selalu bersyukur karena ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Terlebih menjadi orang Indonesia yang memiliki cinta-kasih lagi santun di dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Karenanya, apa pun atau apa saja yang menjadikan diri kita tidak memiliki cinta-kasih lagi santun dalam berperilaku. Semata karenaNYA. Mari ditinggalkan bismillahRR, la quwwata illa billah.

وَ إِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِوا لَهُ وَ اَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ، قَالَ اللهُI فِى سُورَةِ الْكَوثَرِ؛
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
!$¯RÎ) š»oYøsÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
وَ نَفَعَنِي وَإِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ،
وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ أَنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،
وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ،
أَقُولُ قَولِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
فَيَا فَوزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ -,

*Khatib adalah Pelayan di Ndalem Kasepuhan PeNUS MTI, juga Guru Besar Luar Biasa pada PeNUS MTI bidang ilmu-ilmu Islam, Sejarah Dunia dan Kesehatan Lingkungan. 

Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.




LAPAR, DAHAGA, BIANGLALA

Selain lapar dan dahaga
Selain derita dan nestapa
Apa yang kuperoleh dari masokisme ini
Apa yang kuraih selain perih ini?

Aku tarawih tak berasa tarawih
Aku tadarus tak menggerus rakus yang lebih
Aku jamaah subuh tak ngurangi maksiat kambuh
Aku dengan keakuan yang tak sembuh-sembuh

Aku shalat lalu sujud
Tapi pikiran dan perasaanku saling berebut
Meminta ruang untuk dimanjakan
Meminta waktu untuk pesta perayaan

Aku begitu gembira
Lebaran sebentar lagi tiba
Kesakitan-kesakitan badan dan jiwa
Akan jadi merdeka

Tetapi, tetapi di sudut sunyi ruhani
Di dalam lapis hati yang paling inti
Ada seorang ibu tua serba putih
Kepadaku ibu itu menagih

"Anakku, betapa gerimis senja
Tatkala engkau berdiri di jendela
Tubuh mungilmu kuseka dengan airmata
Engkau pernah bertanya

"Ibu, kenapa aku harus lapar dan dahaga
Sedang gerimis senja itu tak pernah dahaga
Sedang tanah ini tak pernah lapar
Sedang hujan siapkan makanan air menghantar?

"Anakku, dalam lapar dan dahaga yang sempurna
Kelak engkau akan mampu terbang ke sana
Meniti tangga-tangga bianglala
Dan bidadari yang berterbangan itu akan menyambutmu di surga."

Dan kini barulah kungerti
Di tiap lapis-lapis bianglala hidup ini
Ada lapar dan dahaganya sendiri
Yang meminta diri untuk menahan diri

Hingga kelak
Aku tersungkur
Dan hanya
Memeluk bianglala

Yogyakarta, 7 September 2010


BERGANTUNG

Ketika kuangkat tanganku dalam takbiratul ikhram
Betapa aku ngrasa tak pantas
Berharap meminta yang pas
Tersebab aku telah tenggelam

Ketika hadir di pengajian-pengajian
Betapa semua dan segala kata
Menghunjam ke dalam lubuk hati yang jelaga
Tersebab aku tersindir sendirian

Tetapi, tetapi, kepada siapa lagi
Aku berharap keselamatan
Tengadahkan tangan akan rejeki
Jika bukan kepada-Mu, Tuhan?



Yogyakarta, 27 Agustus 2010



Rindu Ibu


Ibu,
di ambang bulan, di ramadhan ini
di dini hari di saat subuh menanti
kulayangkan fatihah berkali kepadamu
mataair airmata bermuara
                                       diharubiru rindu

Ibu,
di pintu bulan, di ramadhan ini
di pagi di saat subuh berganti mentari
kutelponkan ungkapan ampun nurani kepadamu
batu-batu kali batu-batu hati terkikis
                                       tersedu airmata rindu



Yogyakarta, 21  Agustus 2009

Pendidikan Akhlak Lewat Kisah



Oleh: D. Zawawi Imron
Di Indonesia dulunya, dongeng merupakan cerita yang hidup di tengah-tengah masyarakat agraris. Bila bulan purnama datang dengan bentuknya yang bundar keemasan, anak-anak menggelar tikar di halaman rumah. Nenek atau kakek mendongeng di atas tikar dengan dikelilingi oleh cucunya. Kemudian angin sepoi bertiup mendesirkan daun-daunan. Sungguh, peristiwa yang romantis! Pada saat seperti ini, kerekatan dan kekerabatan menemukan bentuknya dengan berintikan jalinan kasih sayang antara generasi tua dan generasi penerusnya. Dongeng yang kadang-kadang berupa fable yang mengisahkan tentang satwa akan sangat membantu rasa sayang pada binatang dan juga cerita tentang manusia yang bisa menjadi contoh teladan bagi kehidupan. Tidak kurang pentingnya adalah cerita tentang para rasul dan nabi serta ketauladanan para sahabat yang mulia. Cerita-cerita yang mengandung ajaran akhlak mulia seperti itu sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian anak-anak dan para santri. Bahkan dalam pengajian-pengajian kisah teladan yang mengandung hikmah perlu disampaikan untuk memberi pencerahan.
Dalam penelitian, dongeng ternyata menyimpan banyak kearifan moral yang bisa mengetuk dunia rohani manusia, termasuk anak-anak, untuk melihat kehidupan di dunia ini dengan pandangan yang bertumpu pada hati nurani. Sebab, pada umumnya ajaran yang terdapat pada dongeng adalah kejujuran, kasih-sayang sesama manusia, dan kasih-sayang pada makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan.
Seorang pengamat Barat, Lewis Caroll mengatakan bahwa dongeng adalah “tanda kasih”. Berkisah dan mendongeng adalah memberi hadiah – tanda kepedulian dan keterbukaan. mendongeng adalah memberi kesadaran pada pendengar tentang pengertian dan perasaan takjub, misteri dan penghormatan pada kehidupan. Karena itu, saya sangat gembira pada usaha anak-anak muda yang berupaya menghidupkan kembali dongeng-dongeng dengan mengadakan lomba dongeng. Usaha seperti itu tidak lain adalah wujud dari kepeduliaan para warisan budaya yang sengaja diorientasikan kepada tantangan masa depan dengan mengetengahkan tema mencintai kemanusiaan, satwa dan tumbuh-tumbuhan.
Ketika banyak orang-orang yang sudah tidak peduli kepada budaya warisan leluhurnya, sementara kearifan dari luar juga tidak diraup, maka upaya melestarikan kearifan tradisional yang masih relefan dengan masa depan dan perkembangan jaman sudah tentu punya nilai yang sangat berharga, karena menunjukkan bangkitnya tanggung-jawab kebudayaan. Usaha ini saya nilai sebagai langkah pertama yang harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Saya berharap semoga generasi muda yang tampil hendak merevitalisasi warisan budaya itu tetap tegar dengan tanggung-jawabnya dan terus melangkah menuju hari esok dengan senyum optimis. Kata pepatah lama, biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu – berbantal ombak berselimut angin menuju cita-cita mulia. Semoga usaha kebudayan ini mendapat sambutan dari masyarakat terutama untuk kembali mengangkat dongeng sebagai salah satu bentuk sastra lisan yang nuansa-nuansanya akan sangat berguna dalam memperkokoh jati diri kebudayaan bangsa dalam era globalisasi yang penuh tantangan.
Dengan diupayakan dongeng sebagai ungkapan kasih-sayang tentu saja para ibu dan guru diharapkan bisa dengan senang menghadiahkan dongeng kepada anak-anak tercinta. Ungkapan kasih-sayang berupa dongeng nantinya akan membentuk watak dan karakter berdasarkan pesan-pesan budi pekerti yang terkandung di dalam dongeng. Tidak ada salahnya kalau anak-anak yang kini masih hijau dan senang dongeng nantinya menjadi teknolog dan teknolokrat yang berakhlak mulia, yang merasa berhutang budi kepada orang tua dan guru yang mendidiknya. Bukankan akhlak mulia itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tentram? Kita tidak ingin kehilangan warisan budaya yang berharga. Apalagi, kita memandangnya masih sangat relevan dengan pembangunan jati-diri bangsa yang menuju hidup mulia.

SALAFI WAHABI DIGUGAT ULAMA SEJAGAD



Rasanya tak ada kata jera buat salafi wahabi untuk selalu mengklaim sebagai aliran islam paling baik dan benar dalam mendakwahkan islam. Merasa paling sesuai dengan alqur'an dan as-sunnah yang diteladankan oleh gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw. Bahkan, tak jarang menyerang segala bentuk pemahaman yang dianggap tidak sejalan.
Dalam praktek keagamaan dan keberagamaannya golongan ini sangat mudah membid'ah dan mengafirkan. Tak heran jika kemudian perjuangan dakwah Salafi Wahabi di masyarakat selama ini, selalu mendapat kecaman dimana-mana. Kalau suatu faham atau aliran dibantah satu-dua orang, itu biasa. Mungkin atas dasar iri, tidak suka, atau sentiment. Tapi jika yang membantahnya adalah ribuan ulama dan itu mayoritas, apalagi dari berbagai negara, madzhab dari masa ke masa, maka ada tanda tanya besar yang perlu dipertanyakan. Ada apa dengan Salafi Wahabi? Kenapa digugat ulama sejagad?
Perlu anda ketahui, bahwasanya selain kerasnya yang menonjol golongan ini terkenal dengan pemahamannya terhadap al-qur'an dan hadis yang letterleg (tekstual) dan menafikan arti majazi (makna kiasan). Padahal al-qur'an dan hadis itu mengandung makna tersurat dan tersirat. Sehingga, banyak ayat atau hadis yang artinya mereka serupakan (tasybih) secara hakiki antara Allah dengan makhluk-Nya. Kemudian, kalau diamati lebih mendalam aliran ini sangat keras melawan yang namanya ajaran tashawwuf, tawassul, tabarruk (pengambilan berkah), permohonan syafaat, ziarah kubur, majelis-majelis dzikir dan masih banyak lagi yang lainnya.
Islam itu terlalu luas untuk dipahami oleh segelintir orang. Islam sangat toleran, dan moderat. Penyampainya sendiri harus memiliki kadar keilmuan yang luas, luwes lagi mendalam. Tidak bisa kalau hanya berpandu terhadap satu ulama saja. Berbagai referensi ulama harus kita pelajari agar dalam praktek keagamaan dan keberagamaan kita tidak bermata kuda. Hal ini  yang tidak di ajarkan oleh kaum Salafi Wahabi terhadap pengikutnya. Pengikut Salafi Wahabi hanya di doktrin untuk berpegang terhadap fatwa ulama sesama Salafi Wahabi. Ini yang menyebabkan kaum salafi berislam layaknya robot tanpa ada unsur hati. Naudzubillah
Menyaksikan rentetan fenomena ini membuat Syaikh Idahram bergejolak hatinya. Dengan latar keilmuan yang mumpuni ia berusaha untuk mengupas tuntas apa itu Salafi Wahabi? dan bagaimana sepak terjangnya? Maka lahirlah buku fenomenal ke tiga dari Trilogi tentang Salafi Wahabi “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, Mengenal dan mengkritisi penyimpangan tokoh-tokoh utama mereka” sebagai kelanjutan dari 2 buku sebelumnya yang laris manis dipasaran. Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren dengan ketebalan 338 halaman. Ditulis secara ringkas, jelas dan lugas serta pedas karena mengkritisi semua kerancuan dan penyimpangan-penyimpangan aliran Salafi Wahabi dan ulama-ulamanya, disertai pula gugatan ulama dunia dari berbagai generasi dengan bidang keilmuan yang berbeda.

Puisi-Puisi L.K. Ara





SUDUT JAKARTA


Masih ada sudut Jakarta
Yang sukar dilupa
Saat sinar senja
Berpendar diatas laut Jakarta
Dan kau tergesa berlari kesana
Menyaksikan keindahan tak terperikan

Lihatlah baris syair
Mengalir di atas  warna keemasan senja
Rasakan getar
Menggantikan gelisah dan risau
Melembutkan
Menyejukkan
Di suatu sudut Jakarta
Yang sukar dilupa

Setelah aku pergi
Kubayangkan kau masih disana
Menyulam syair diatas permadani emas
Merapikan yang terbengkalai
Sebelum hari usai

Sekali waktu bila kita ketemu
Kau sudah siap dengan sulaman itu
Dan aku mungkin masih termangu
Pada sudut yang sukar dilupakan itu


Banda Aceh, 15 Feb 2011

RENCONG TAK BERSARONG


Puisi dengan ratusan rencong tak bersarong
Telah digelar di ruang pameran
Orang-orang memandang heran
Seorang anak bertanya
Apakah rencong
Selalu tak bersarong

Disebuah dinding
Ada gambar mata air
Kerbau dan padi
Serta ada juga berdesakan
Pedagang dengan perut buncit

Didinding itu juga
Ada rakyat kecil
ada sawah kering
semua mati
ada sumur kering
mati
air susunya dihabisi

Puisi dengan ratusan rencong tak bersarong
Dengan mata berkilau
Mendekat gambar-gambar
Apakah ia dapat menahan sabar


Banda Aceh, 9/3/2011



PENYEBAR WANGI

Seorang yang kerjanya menyebar wangi
Di tanya mengapa ia menyebar wangi
Yang ditanya hanya diam

Dari hari ke hari
Ia menyebar wangi
Dari kampung ke kota
Kerjanya hanya menyebar wangi
Dari rumah kerumah
Ia menyebar wangi
Kepada anak dan orang dewasa
Ia menitipkan wangi

Dari mana kau mendapat wangi
Tanya seseorang
Yang ditanya hanya diam

Diambilnya daun
Dipetiknya bunga
Dikupasnya kulit kayu
Digalinya akar
Wangipun tersebar
Wangi  betambah tambah
Ketika diperciki embun
Wangi harum wangi harum

Esoknya ketika seseorang
Akan memberi hadiah kepada penyebar wangi
Atas jasanya selama ini
Seseorang menunjuk
Kearah orang ramai
Yang mengusung jenazah
Penyebar wangi
Ke kuburan

Seorang yang kerjanya menyebar wangi
Sudah memenuhi panggilan  Illahi

Banda Aceh, 2/3/2011

 L.K.Ara adalah sastrawan Asal Aceh


Tamak Sumber Keburukan


مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ دُلٍّ إِلاَّ عَلىَ بِدْرٍ طَمَعٍ
Tidak bertunas dahan-dahan kehinaan, kecuali karena benih-benih ketamakan

Dinul Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya menjadi hina. Tidak satu pun kalamullah dan hadis Nabi saw yang mewartakan mengenai hal itu. Sebaliknya, Allah dan rasulNYA hendak mengangkat manusia dari kehinaan. Pun pula, al-qur`an dan al-hadis memberikan banyak pedoman dan tips yang sangat strategis, agar siapa saja yang mengamalkan dengan benar lagi lurus hidupnya tidak hina.
Guru kita, Syaikh Ibnu Atha`illah asy-Syakandari r.hu, melalui nasehatnya di atas mengingatkan kita. Demikian hal itu pernah diingatkan Allah dan rasulNYA. Supaya kita tidak menjadi manusia yang tamak. Rakus. Merebut hak orang lain. Lalu, diambil begitu saja secara sombong lagi penuh arogan. Orang yang berperilaku seperti itu hidupnya tidak akan merasakan kemuliaan. Justru yang didapatkan adalah kehinaan. Hidup serba terhina.
Tamak. Sungguh penyakit hati yang sangat membahayakan pemiliknya. Orang yang berhati tamak. Pasti memiliki perilaku tamak. Rumah tangganya pasti rusak. Bahkan, negara menjadi rusak karena dipegang dan dijalankan pemerintahan oleh orang-orang yang berhati tamak.
Perhatikan kehidupan di sekeliling Anda. Rusaknya darat, laut, dan udara. Hancurnya pendidikan. Carut-marutnya perpolitikan. Terjadinya monopoli dalam perdagangan. Dan, masih banyak yang lain, yang menjadikan kehidupan masyarakat tidak: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Semua itu akibat lahirnya perilaku tamak.
Korupsi merajalela. Disebabkan, ketamakan para koruptor. Akibatnya, bangsa tersebut menjadi hina di mata bangsa-bangsa lain.
Kapitalisme dan materialisme adalah dua benih yang dapat melahirkan seseorang yang meyakininya menjadi tamak. Yang pasti orang yang mengidap penyakit kapitalisme dan materialisme. Seenaknya sendiri dalam mengumpulkan modal dan materi. Hanya berpikir buat diri sendiri. Egoisme. Ananiah. Tidak menghiraukan orang lain.
Celakanya lagi. Sekarang ada penyakit baru, yaitu neo-liberalisme. Bagi orang yang terkena penyakit sadis ini. Dia berpaham, bahwa hidup ini harus selalu beruntung secara materi dan modal semakin menumpuk, sekalipun tidak memiliki modal. Pokoknya maunya untung terus. Cara apapun ditempuhnya. Persis seperti yang dilakukan bangsa Cromagnon dan keturunannya hingga detik ini.
Bagi seorang mukmin muslim. Apabila bibit-bibit tamak terasa mulai ada. Cepat-cepatlah melakukan riadlah. Olah batin. Latihan jiwa. Jiwanya dilatih. Latihan yang terpusat pada kesehatan dan kekuatan jantung. Di samping secepat kilat mencari nasab darahnya. Sehingga dapat belajar sejarah dan perjuangan para leluhur. Yang salah ditinggal dan dibuang jauh-jauh. Yang baik lagi benar. Cocok dengan qur`an, hadis, dan ilmu pengetahuan. Diamalkan dengan semangat: Triple I: Rukun Iman; Rukun Islam; dan Laku Ihsan.
Semangat pengamalan Triple I dengan dasar bermurah hati dan cinta. Semata mengharapkan ridlaNYA [ ]