Blogger news

Majalah MAYAra adalah majalah donasi internasional yang berbasis keilmuan tanpa memandang golongan bermodalkan persaudaraan. Bersama Boleh Beda. Allahu Akbar...!!!

Sahabat Muadz Bin Jabal

Berkomentar sahabat Ibnu Mas'ud r.hu, "Mu'adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh dengan agama-Nya. Dan, kami menganggap Mu'adz serupa dengan Nabi Ibrahim as."
Tidak salah kiranya, jika sahabat Ibnu Mas'ud berkomentar seperti di atas. Sebab, Mu'adz memang menjadi kesayangan Nabi saw. Seperti disabdakan Nabi saw pada suatu ketika secara khusus kepada sahabat Mu'adz,
يَامُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي َلأُحِبُّكَ، فَلاَ تَنْسَ أَنْ تَقُوْلَ فِى عَقِبِ كُلِّ صَلاَةٍ: اَللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عَبَادَتِكَ
"Wahai Mu'adz, demi Allah aku sungguh sayang kepadamu. Maka, jangan lupa setiap selesai shalat mengucapkan, (اَللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عَبَادَتِكَ) wahai Allah, bantulah saya untuk selalu ingat dan syukur, serta beribadah dengan ikhlas kepada Mu."

Tiga hal yang ditekan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Mu'adz, yang hakekatnya juga kepada segenap umat manusia, khususnya kaum muslimin. Yaitu, senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam hal: dzikrullah, syukur, dan ibadah kepada-Nya.
Ketiga hal itu oleh sahabat Mu'adz dipegang dengan erat. Dan, dia amalkan dengan senang hati. Paham benar apa yang telah menjadi kehendak Rasulullah saw atas kehidupannya. Hingga suatu ketika Nabi saw bertanya kepada sahabat Mu'adz,
كَـيْفَ اَصْـبَحْتَ يَامُعَاذُ؟ ٌَقَالَ: اَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا حَقًّا يَارَسُـوْلَ اللهِ، قَالَ النَّـبِيُّ: إِنَّ لِكُلِّ حَقٍّ حَقِيْقَةٌ فَمَا حَقِيْقَةُ اِيْمَانِكَ؟ قَالَ مُعَاذٌ: مَا اَصْـبَحْتُ صَحَابًا قَطُّ إِلاَّ ظَنَنْتُ اَنِّـي لاَ اُضْـبِحُ وَلاَ خَـطَوْتُ خُطْوَةَ إِلاَّ ظَنَـنْتُ اَنِّـي لاَ اُتْبِـعُهَا غَيْرَهَا وَكَـأَنِّي اَنْظُرُ إِلىَ كُلِّ اُمَّةٍ جَاثِـيَةٍ تُدْعَى إِلـىَ كِتَابِهَا وَكَـأَنِّي اَرَى اَهْلَ الْجَنَّةِ فِى الْجَنَّةِ يَتَنَـعَّـمُوْنَ وَاَهْلَ النَّارِ فِـى النَّارِ يُعَـذَّبُوْنَ، فَقَالَ لَهُ الرَّسُـوْلُ: عَرَفْـتَ فَالْزَمْ
"Bagaimana keadaanmu pagi hari ini, wahai Mu'adz?" "Pagi hari ini saya benar-benar telah beriman, wahai Rasulullah," jawab Mu'adz. "Setiap kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula. "Maka, apakah hakikat keimananmu?" Sahabat Mu'adz menjawab, "Setiap berada di pagi hari. Sayang menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan, setiap berada di waktu sore. Saya menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan, tidak ada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali saya menyangka tidak akan diiringi lagi dengan langkah lainnya. Dan, seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan, seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa salam neraka. Maka, sabda Rasulullah saw, "Memang kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan."


Beberapa Nasehatnya
1.        Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu. Kenalilah kebenaran itu dengan kebenaran pula. Karena kebenaran itu mempunyai cahaya.
2.        Wahai manusia capailah ilmu dengan dzikrullah. Dan, carilah ilmu yang bermanfaat.
3.        Beribadahlah dengan cermat, dan jangan berlebih-lebihan di dalam melakukannya.
4.        Nasehat sahabat Mu'adz kepada salah seorang yang bertanya kepadanya, "Apakah anda bersedia mematuhinya bila saya ajarkan?" tanya sahabat Mu'adz. "Sungguh, saya amat berharap akan menaati engkau!" jawab orang itu. Lalu, sahabat Mu'adz menasehatinya, "Puasa dan berbukalah! Lakukanlah shalat dan tidurlah! Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa. Janganlah kamu mati kecuali dalam beragama Islam. Jauhilah doa orang yang teraniaya!"
5.        Ilmu itu mengenal dan beramal. Seperti dinasehatkan, "Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai. Tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dahulu."
6.        Iman dan dzikrullah, ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa.

Wafat Di Usia Muda
Sahabat Mu'adz bin Jabal r.hu wafat dalam usianya yang relatif masih muda. Yaitu, di usianya yang ke-33 tahuan. Sebuah usia yang masih sangat produktif.
Itulah Allah swt jika telah berkehendak. Tak pandang bulu usia, atau apa pun. Di saat seorang hamba harus menghadap, dia harus menghadap; kapan pun.
Saat-saat sekaratul maut sahabat Mu'adz mengahadapkan wajah dan pandangan matanya ke arah langit. Seolah ada sesuatu yang ditatapnya. Dia bermunajat kepada Allah jalla jalaluh, seraya berkata, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini saya takut kepada Engkau. Tetapi hari ini saya mengharapkan ridla-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan. Tetapi hanyalah untuk menutupi haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan, dan ketaatan."
Lalu, diulurkan tangannya. Seolah menjabat tangan seseorang. Di saat yang bersamaan ia menjemput mautnya, seraya berkata, "Selamat datang, wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan." Seketika itu juga ruh sahabat Mu'adz berpisah dengan raganya berjalan menuju alam barzah, untuk menghadap Allah, meninggalkan dunia fana. Innâ lil-lâhi wa innâ ilaihi râji'ûn. []

Pendidkan Islam Gagal?

Insiden 26 Jumadil Awal 1429 (1 Juni 2008), sungguh menjadikan kaum muslimin Indonesia prihatin. Di mana tidak prihatin?! Sesama saudara muslim melakukan bentrok fisik. Kedua tokohnya saling menghujat dan mencaci. Penyebabnya, tidak adanya dari masing-masing pihak, dalam mengendalikan hawa nafsu mereka. Mengapa harus terjadi?
Lebih mengerikan lagi, "insiden Monas" itu ditindak-lanjuti dengan psy-war di daerah-daerah. Yang berupa pemaksaan kehendak, intimidasi, teror, dan provokasi. Mengapa semua itu dapat terjadi. Menurut alfaqir jawabannya, "Karena republik ini telah gagal mendidik warga bangsanya."
Yang harus membuat kita sangat berduka, ternyata lembaga pendidikan Islam yang ada di negeri ini telah "gagal", di dalam melahirkan Perubahan Perilaku (Behavior Transformation).
Out put dari lembaga pendidikan Islam ternyata tidak secara otomatis menjadi Human Capital Investment (investasi modal manusia) yang bagus. Dengan kata lain, lembaga pendidikan Islam yang ada belum mampu mencetak para pelaku agama yang menjadi social capital (modal sosial) buat masyarakat manusia. Lembaga pendidikan Islam yang ada baru mampu melahirkan "manusia kardus" (human in box). Yaitu, manusia yang sangat premordial dan sangat sekterian. Bukan manusia yang berkepribadian rahmatal lil 'alamin (human elyon).
Terbukti mereka, khususnya para tokoh agamanya. Tidak lagi memiliki Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Intuisi (Emotional and Intuitional Quotient) yang bagus. Sehingga mereka sangat bangga dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Boleh jadi karena di antara mereka telah terjadi saling mendengki; wa-llâhu a'lam.
Logikanya sangat sederhana. Kiblatnya sama. Shalatnya sama. Takbirnya sama. Rabb-nya sama. Nabi dan rasul-nya sama. Qur`an-nya sama. Ruku' dan sujud-nya sama. Menyembah Allah yang sama. Sama-sama muslim Indonesia. Insya Allah; yang membedakannya paling-paling karena kepentingannya saja. Tidakkah ini hawa nafsu. Tidakkah kita dilarang mengikuti hawa nafsu. Tidakkah Allah telah mengecam para manusia yang telah menuhankan hawa nasunya?! Maka, jawaban atas pertanyaan, mengapa "insiden memalukan" itu sampai terjadi. Hal itu dikarenakan telah tertanam rasa kedengkian yang sangat mendalam di antara yang bertikai. Jika seorang manusia itu Ilmu Pengetahuan Diniah-nya mapan, niscaya secara dewasa ia akan dikaruniakan kemampuan dan kemauan untuk dapat mengendalikan rasa dengki tersebut terhadap sesama muslim khususnya, dan sesama bani Adam pada umumnya.
Apabila mereka memiliki Emotional and Intuitional Quotient (E.In-Q) bagus. Tidak mungkin terjadi "adu mulut" di depan publik, baik yang disiarkan melalui TV. Atau, yang dilangsir berbagai media massa. Hingga akhirnya menyulut kekerasan fisik atas nama Islam. Pertanyaannya? Lalu, siapa yang mengenang?! Mereka semua lupa, bahwa apa yang telah diperbuatnya itu telah menodai Islam sebagai agama yang cinta damai, agama yang anti-kekerasan, dan agama rahmatal lil 'alamin.
Manakala para tokoh agama saja perilaku Islam-nya sangat rendah. Bagaimana dengan para pengikutnya, muridnya, keluarganya, dan fans-nya. Sungguh mengerikan! Ternyata Islam dirusak oleh para tokoh Islam sendiri dari dalam. Mau mengakui atau tidak, inilah kenyataannya. Dan, kita harus berdoa kepada Allah swt, semoga tidak termasuk umat Islam yang ikut melakukan perusakan Islam dari dalam; na'udzu billâhi min dzâlik.
Bagaimana dengan pendidikan Islam kita selama ini? Ada mata pelajaran akhlak Islam, adab Islam, tafsir qur`an, hadis, sirah nabawiah, ushul fikih, ilmu fikih, dan yang lainnya. Yang intinya semua mengarah pada terbentuknya akhlak Islam. Sebagaimana pengangkatan Muhammad bin Abdullah sebagai nabiullah dan rasulullah; semata untuk menyempurnakan akhlak jahiliah menjadi akhlak Islam.
Alfaqir yakin, para tokoh Islam yang terlibat dalam "insiden Monas" tersebut sangat mengerti dan memahami mata pelajaran dan arah misi Islam tersebut. Yang menjadi pertanyaan mengapa insiden itu harus terjadi?
Jawabannya, tidak lain –insya Allah; wa-llâhu a'lam--  mereka tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Terutama nafsu dalam berkelompok. Alfaqir yakin, apabila mereka mau mengembalikan kepada hati nurani mereka, dan berpandu kepada Neraca Syariat. Insiden memalukan tersebut tidak akan pernah terjadi.
Segenap umat Islam Indonesia. Bahkan, seluruh umat Islam se-dunia, hendaknya mau menjadikan "insiden memalukan" tersebut sebagai sarana Pembelajaran Sifat (Character Learning). Sehingga di masa-masa mendatang tidak pernah terulang lagi; insya Allah.
Yang jelas kita harus terima kasih kepada Allah azza wa jalla. Di mana Allah telah memberikan pendidikan langsung. Bahwa, yang namanya memukuli orang itu ternyata tidak baik. Saling memaki sesama muslim itu, ternyata tidak baik. Ternyata gelar kehormatan apa pun tidak menjamin akhlak Islam seseorang itu bagus. Ternyata simbol-simbol keislaman yang dipakai seorang muslim, tidak menjamin fakih-nya ilmu agama dan ketinggian budi pekerti Islam-nya.
Karenanya, marilah kita melakukan Behavior Transformation (Betra). Sehingga tidak meniru-niru mereka, jelas itu sangat nista lagi memprihatinkan. Kita harus segera CC 100% dengan Neraca Syariat. Dan, harus segera merapatkan shaff sosial kaum muslimin mukmin. Segera mengakhiri keterkotakan di antara Persaudaraan Islam yang lahir, hidup, dan insya Allah wafat di republik ini. Tunjukkan pada dunia, bahwa kita benar-benar memiliki CC terhadap Neraca Syariat, Ilmu Pengetahuan Diniah, budi pekerti yang mulia, tatakrama yang terpilih, dan kebenaran.
Buat lembaga pendidikan Islam yang ada di negeri ini. Segera benahilah cara pengajaran dan cara mendidik. Begitu juga buat para ulama, ustadz, dan kiai segera lakukan redesign atas pengajaran dan pendidikan keagamaan dan keberagamaan. Telah terbukti model pengajaran dan pendidikan yang dilakukan selama ini, tidak banyak melahirkan out put yang signifikansi dengan akhlak Islam dan adab Islam. Jadikan masjid sebagai base camp. Jaga hati dan perut dengan baik dan benar. Cerahkan akal pikiran dengan ajak kembali melakukan pengagungan terhadap Allah azza wa jalla. Dan, tanamkanlah iman-islam-ihsan dengan baik dan benar. Sehingga umat Islam akan mendulang kejayaan yang berupa: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia, insya Allah. []


Manusia Makhluk Sosial

Oleh: Redi Panuju
Meskipun secara ragawi manusia itu adalah pribadi-pribadi yang independent, namun bukan berarti ia dapat lepas tanggung jawab kepada lingkungannnya. Tanggung jawab individu tidak hanya pada ruang lingkup dirinya sendiri, namun juga kepada orang lain. Anak, istri, famili, komunitas, dan bahkan bangsa. Dan karena itulah, manusia itu mutlak disebut sebagai mahluk sosial.
      Apakah agama kita mengakomodir konsep ini? Jawabannya sangat iya. Agama kita misalnya mengenal konsep tanggung jawab dalam keluarga. Itu sudah dasar yang menandai bahwa orang mukmin pastilah mahluk social. Seorang suami diwajibkan menafkahi anak dan istri serta keluarga yang kurang mampu. Orang tua diberi amanah untuk mendidik anaknya dengan baik, sebab kata Allah dalam al-Qur’an seorang anak kelak akan menjadi Nasrani, Yahudi, atau Majusi, sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Demikian sebaliknya, seorang anak juga memiliki kewajiban untuk menghormati kedua orang tuanya. Jadi, dalam satu keluarga saja, masing-masing anggota sudah terikat dengan konsep kesosialan.
       Selanjutnya, keluar dari unit keluarga, individu sudah terkait dengan lingkungan yang lebih luas lagi. Dalam bertetangga, Rasulullah SAW memberi teladan persaudaraan yang baik dengan sesama tetangga. Bahkan sampai sedetil-detilnya. Bila seseorang masak makanan yang aromanya tercium oleh tetangganya, maka wajib baginya untuk membagi makanan itu hingga sang tetangga bukan hanya merasakan aromanya namun juga ikut menikmatinya.
      Latar belakang mengapa seorang mukmin wajib membayar zakat, tak lain dimaksudkan sebagai mekanisme transformasi sosial dan ekonomi supaya tidak terjadi kesenjangan di antara umat. Di dalamnya terkandung semangat saling tolong-menolong. Yang kaya menolong yang lemah dengan hartanya dan si miskin menolong si kaya dengan memberi sarana beramal shalih. Itulah bukti bahwa islam sebagai agama bukan hanya mengakomodir konsep tersebut, namun sekaligus justru mengimplementasikannya.
     Keberadaan individu mengimplentasikan karakter sosialnya itu hanya mungkin terjadi bila seseorang mampu mengatasi keegoisannya. Seseorang punya spirit sosial bila sudah mampu menganggap bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan lingkungannya. Spirit ini dapat otomatis mengejawantah bila seseorang punya jiwa berkorban untuk orang lain. Peduli pada orang lain itu artinya sebuah pengorbanan; pengorbanan waktu, materi, pikiran, perasaan, kesabaran, dan sebagainya. Jadi, bila berkorban belum menjadi satu dengan jiwanya, orang pasti akan cenderung tersiksa.
      Keadaan psikologis dimana berkorban justru menjadi sumber kebahagiaan bukanlah sesuatu yang terbentuk tanpa proses. Awalnya pasti butuh latihan. Dari yang semula punya kebiasaan bersedekah seribu sehari, lantas meningkat menjadi sepuluh ribu, meningkat menjadi seratus ribu, dan seterusnya. Kelak bila sedekah sudah menjadi kebiasaan (habit), maka tak ada yang berat dalam berkorban. Bahkan, ketika keadaan membuat dirinya tak mampu berkorban untuk orang lain, ia justru merasa tersiksa dan merasa berdosa. Itulah karakteristik jiwa kesosialan.
      Karena jiwa sosial itu sebuah proses, maka tidak mungkin juga langsung dalam bentuknya yang murni. Mungkin awalnya hanya sekedar balas budi kepada orang yang pernah berbuat baik kepada kita. Mungkin pada awalnya hanya karena tak enak sama tetangga. Atau bisa jadi pada awalnya hanya karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Pada babakan awal seperti ini, biarlah berlangsung.
      Kalau kebetulan diantara kita sedang berada dalam proses itu, maka kita menyadari bahwa berkorban demi pamrih seperti belumlah sampai pada tataran kesejatian jiwa mahluk sosial. Kesejatian baru terwujud bila mampu meruntuhkan atribut-atribut yang berbau riy’a dalam interaksi tersebut.
       Orang cenderung menjadi individualistis acapkali disebabkan takut akan mengalami kerugian dan menghadapi kefatalan ketika berkorban untuk orang lain. Padahal kenyataannya, belum pernah terjadi orang jatuh miskin hanya gara-gara bersedekah. Allah justru menjanjikan akan membalas dengan pahala yang berlipat bagi orang yang bersedekah. Balasan tersebut dapat ditunaikan ketika masih hidup di dunia maupun setelah di akherat. Secara ilmiah pun janji Allah ini dapat dipertanggung jawabkan. Orang yang suka berderma pasti disenangi orang. Karena disenangi orang maka jaringan sosialnya menjadi luas. Nah, jaringan social ini dapat menjadi peluang untuk pelbagai macam kegiatanya, baik itu yang bersifat politis, ekonomi, maupun psikologis.
      Kalau ada hadist yang mengatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan mendatangkan rejeki, maka penjelasan ilmiahnya ada pada fungsi social networking itu.
      Memang menjadi aneh, bila banyak orang yang justru menjadikan lingkungan sosialnya sebagai musuh. Dimana-mana dan kapan saja yang dicari adalah lawan. Penipuan, penggelapan, pengkianatan, fitnah, intrik, penyerobotan atas hak orang lain, dan semacamnya itu adalah modus operandi yang sering dipakai oleh mahluk individualis yang anti social. Tak ada kamus tolong menolong, kasih-mengasihi, ingat-mengingatkan. Tidak ada. Dalam kamus manusia individualis: “di dunia ini tak ada yang gratis. Semua ada harganya, semua ada kalkulasinya!”
      Jadi, mengapa mesti kita menunda untuk mengoptimalkan spirit sosial dalam diri, toh manfaatnya akan kembali juga kepada yang bersangkutan. Sedangkan dari segi agama merupakan investasi jangka panjang, yang pasti tak ada ruginya, sebab semuanya akan diklaim saat di akherat kelak. Allah tak akan menelip amal kebaikan seseorang, sebab telah dijanjikan sebiji sawi saja amal itu Allah mencatatnya dengan baik.  **** 




Menyembuhkan Kudis

Penyakit kulit yang satu ini sering terjadi di masyarakat, terutama yang kurang menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Penyakit kudis di dalam ilmu kedokteran disebut dengan skabies, banyak istilah nama untuk penyakit kulit yang satu ini misalnya; The Itch, gudik, budukan, atau gatal agogo. Mitos dikalangan masyarakat beranggapan penyakit kudis adalah penyakit anak pondokan (anak yang menuntut ilmu dan bermukim di pondok pesantren) tapi tidak semua anak yang bermukim di pondok pesantren terkena kudisan, semuanya tergantung higiene pribadi santrinya dan lingkungannya.
Skabies atau kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap hewan parasit Sarcoptes scabei var.hominis. Pada penyakit ini timbul bintik menyerupai bintik alergi dengan dijumpai bintik berisi cairan, dengan garukan karena gatal dapat timbul luka gores sampai dengan luka disertai infeksi. Garukan karena gatal yang timbul akibat sensitisasi terhadap sekret (lendir) tungau yang sudah lebih sebulan setelah menetap di kulit (infestasi).
Untuk lebih mengenal ciri-ciri orang yang terkena penyakit kudis diantaranya ;
1.        Gatal timbul pada malam hari (pruritus nocturnal) dikarenakan aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
2.        Sering ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota keluarga atau satu lingkungan tempat tinggal.
3.        Timbul bintik berisi cairan sampai sudah terjadi infeksi pada daerah yang mempunyai lapisan kulit yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian dalam, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, daerah puting payudara, pada lipatan pantat, daerah pusar, pantat, daerah kelamin, dan perut bagian bawah. Pada bayi biasanya pada telapak tangan dan telapak kaki, bahkan bisa keseluruh permukaan kulit. Pada remaja dan dewasa dapat juga timbul pada kulit kepala dan wajah.
Penyakit kulit ini sangat menular, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara kontak langsung (kulit bersentuhan dengan kulit) misalnya; saat berjabat tangan, tidur bersama, dan berhubungan seksual. Sedang secara tidak langsung biasanya melalui benda yang digunakan penderita dipakai oleh orang lain misalnya; pakaian, handuk, sprei, bantal dan sebagainya. Untuk menghindari penyakit menular ini, dalam Shahih al Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Rasuilullah saw bersabda : “ Janganlah orang sakit ikut makan bersama orang sehat.” Karena tidak diinginkan yang berpenyakit berbaur dengan yang sehat agar penyakit kudis dan sejenisnya tidak menular melalui kontak kulit, pakaian dan sebagainya.
Penunjang munculnya penyakit ini antara lain sosial ekonomi rendah, higiene yang buruk, sering berganti pasangan seksual, dan perkembangan demografis serta ekologik.
Banyak jenis obat secara medis untuk penyakit ini, obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik (tidak beracun), tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh, dan harganya murah.
Pengobatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, tidak hanya penderita saja, akan tetapi seluruh anggota keluarga atau semua orang yang satu tempat tinggal dengan penderita serta pasangan seksualnya harus diobati.  Selain obat-obatan, untuk menghindari penularan dan pengobatan menjadi sempurna, pakaian, handuk, sprei, selimut penderita harus direbus untuk mematikan tungau penyebab penyakit kudis.
Bila anda atau saudara, teman atau yang lainnya menderita penyakit kudis yang mempunyai ciri-ciri diatas segera berobat ke dokter atau puskesmas terdekat. 

Waktu Yang Paling Berharga

Waktu terbaik bagimu ialah saat kamu menyaksikan kefakiranmu (kepada Allah) dan kamu dikembalikan kepada kehinaanmu (tanpa-Nya)
(Syaikh Ibnu ‘Atha’illah al-Assakandari r.hu, Syarhul Hikam Juz I hal 75 baris ke-4)


Beragam kesibukan menghiasi kehidupan manusia. Ada yang sibuk bekerja hingga lupa beribadah, ada yang bersantai ria seakan hidup hanya di dunia saja, ada yang sibuk beribadah hingga malas bekerja dan ada pula yang beribadah tapi juga rajin bekerja. Masing-masing melakukan karena menurut mereka itulah cara terbaik dalam mengisi hidup ini; Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka masing-masing” (Qs.al-Mukminun: 53). Jadi, beda kepala beda pula pandangan tentang waktu yang dianggap paling berharga atau yang terbaik.
Dari bebagai pandangan tentang waktu terbaik tersebut secara garis besar terdapat dua golongan. Golongan pertama yaitu; orang bangga karena dia merasa kesuksesannya berkat usaha, kerja keras dan jerih payahnya semata, dia lupa bahwa ada campur tangan Allah di balik semua itu. Golongan kedua adalah kebalikan golongan yang pertama; orang yang menyadari bahwa kesuksesannya tidak lepas dari pertolongan dan kasih sayang Allah swt. Karena tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya, manusia bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Lalu dia tidak lupa dan senantiasa merasa butuh terhadap-Nya. Baginya semua usaha, kerja keras dan perjuangan sebenarnya adalah karunia-Nya juga.
Waktu yang diisi dengan kesadaran akan kefakiran kepada Allah inilah sebenarnya waktu yang paling berharga karena mengembalikan manusia kepada eksistensi aslinya sebagai makhluk (ciptaan), bukan Khalik (pencipta). Menyadari bahwa semua sebab dan wasilah kesuksesan dan kebahagiaan merupakan anugerah dan kebaikan-Nya semata, tiada sedikitpun hak baginya atas semua itu; sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Dawud dan Sulaiman as, mereka berkata: ”Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (Qs.An-Naml:15). Sehingga dia pun tidak merasa sombong dan congkak, sebaliknya malah senantiasa tawadlu’ dan bersyukur kepada-Nya. Wallahu A’lam.

Periode Dakwah Muhammad SAW



Awal perjalanan dakwah Islam di jaman Nabi saw ada dua: Periode Dakwah Islam Diam-Diam dan Periode Dakwah Islam Terbuka. Inilah periodisasi dakwah Islam pada awal perjalanan dakwah yang dilakukan Nabi saw di Makkah. Banyak hal di dua periode tersebut para sahabat awal mengalami suka-duka dan romanika dalam mendukung dakwah Islam Nabi saw. Maka, tercatat banyak nama-nama sahabat nabi yang terlibat secara intensif, dan selalu mendampingi beliau saw dalam menunaikan tugas dakwah.

Islamnya Abu Bakar r.hu
Sahabat Abu Bakar bin Abi Qahafah at-Taimiy adalah kawan karib Nabi saw sejak lama. Dia dikenal sebagai anak muda yang jujur, ramah, ahli nasab, pedagang yang ulet, akhlaknya bagus. Setelah mengetahui bahwa sahabatnya menjadi nabiullah yang rasulullah. Sontak dia mengimaninya, dan membelanya dari serangan masyarakat Quraisy. Tercatat, keislaman sahabat Abu Bakar adalah urutan ketiga setelah sahabat Ali dan sahabat Zaid.
Keislaman sahabat Abu Bakar. Tanda dakwah Islam mulai melangkah keluar. Terang-terangan. Sahabat Abu Bakar sangat getol mengajak kolega dan para temannya secara terbukan untuk menjadi mukmin-muslim.

Islamnya Ustman bin Afffan r.hu
Sahabat Usman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah diajak sahabat Abu Bakar untuk memeluk Islam. Maulah dia dengan takdir Allah ta’ala. Sahabat Usman lahir pada tahun Gajah ke-6. Dia sempat menjadi menantu Nabi saw. Yaitu, menikah dengan Ruqayyah binta Muhammad saw. Dikarunia seorang anak lelaki (diberinya nama Abdullah). Namun wafat di waktu bayi.
Sahabat Usman juga pernah hijrah ke Habasyah. Takdir menetapkan, bahwa dia harus merawat istrinya yang sakit keras. Sehingga dia tidak dapat bergabung dengan laskar Badar. Hingga akhirnya, istrinya wafat sekembalinya dari Habasyah.

Islamnya Zubair bin Awwam r.hu
Nama lengkap sahabat Zubair, adalah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Abdull-uzza bin Qushaiy. Panggilan akrabnya Abu Abdullah. Terambil dari nama putra sulungnya, yang bernama Abdullah.
Dari garis ibu. Sahabat Zubair memiliki garis dari Ibunda Shafiyah binta Abdulmuthallib bin Hasyim.
Sahabat Zubair memeluk Islam pada usia 12 tahun. Dia sepantaran dengan usia sahabat: Ali bin Abi Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Sa’ad bin Abi waqqash r.hum.
Tercatat sahabat Zubair orang pertama yang menghunus pedang guna melindungi dakwah Islam Nabi saw. Dia wafat pada usia 67 tahun, setelah dibunuh Umairah bin Jirmuz sesaat setelah dialog meninggalkan Perang Jamal. Perlu diketahui, sahabat Zubair bersama sahabat Thalhah dan Ibunda A’isyah r.ha memimpin Perang Jamal, guna memerangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw.

Islamnya Abdurrahman bin Auf r.hu
Nama lengkapnya Abdurrahman bin Auf. Berasal dari bani Zuhrah bin Kilab. Nama aslinya Abdu Amr. Ada yang mengatakan Abdul Ka’bah. Setelah memeluk Islam diganti Nabi saw menjadi Abdurrahman.
Sahabat Abdurrahman bin Auf lahir tahun Gajah ke-10. Termasuk kaum muslimin gelombang pertama dan kedua yang pernah hijrah ke Habasyah.
Sekembalinya dari Habasyah. Langsung mengikuti hijrah Nabi saw ke Madinah. Sahabat Abdurrahman wafat di usia 75 tahun. Tepatnya pada tahun 31 hijriah. Di makamkan di Pemakamanan Baqi’, Kota Madinah.

Islamnya Sa’ad bin Abi Waqqash r.hu
                Nama lengkapnya Sa’ad bin Abi Waqqash bin Abdi Manaf bin Zuhrah Uhaib. Ayahnya adalah paman Ibunda Aminah binta Wahab. Ibu kandung Nabi saw. Dia biasa dipanggil Abu Ishaq. Dia juga termasuk 10 orang yang sudah dijamin pasti masuk surga.
                Secara khusus, dia pernah didoakan Nabi saw, agar memanahnya selalu tepat sasaran dan doanya mustajabah. Sampai-sampai Nabi saw bersabda, “Hati-hatilah terhadap doa Sa’ad!”
                Sahabat Sa’ad wafat di jaman pemerintahan Mu’awwiyah bin Abi Sofyan.

Islamnya Thalhah bin Ubaidillah r.hu
                Nama lengkapnya Thalhah bin Ubaidillah bin Ustman bin Umar. Berasal dari bani Taim bin Murah. Ibundanya asal Hadramaut. Namanya Sha’bah binta Abdullah bin Ahmad. Dari bani Khazraj. Nama panggilannya Abu Muhammad al-Fayyadh. Wafat dalam Perang Jamal di usia 60 tahun.

Islamnya Abu Ubaidah r.hu
                Sahabat Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah orang ke-9 yang memeluk Islam. Hampir semua peperangan diikutinya setelah menjadi muslim. Pada Perang Uhud pertama. Dialah orang yang mencabut dua paku baja yang menempel kedua pipi Nabi saw. Hingga kedua taringnya lepas.
                Dia termasuk salah satu dari 10 orang yang diberi kabar mengenai kepastiannya, sebagai penduduk surga. Wafat di Jordan, wilayah Syam, dalam usia 58 tahun sebab wabah penyakit pada tahun 18 hijriah. Makamnya ada di Jordan.

Islamnya Abu Sahnah r.hu
                Nama lengkapnya Abdullah bin Abdul Asad. Asal dari bani Makhzum. Ibunya bernama Barrah binta  Abdulmuthallib bin Hasyim. Bersama istrinya, Ummu Salamah binta Abu Umayyah, ikut dua kali hijrah ke Habasyah. Dia orang ke-10 yang masuk Islam.
                Sekembalinya dari hijrah dia bergabung dengan laskar Badr. Takdir menentukan dia harus terluka dalam Perang Badr. Akibat infeksi luka-lukanya dia wafat pada tahun ke-3 hijriah. Atas jasa-jasanya. Dalam rangka ikut mendidik dan mengasuk beberapa yatimnya. Nabi saw menikahi bekas istrinya, Ummu Salamah r.ha.

Islamnya Arqam bin al-Arqam r.hu
                Sahabat Arqam adalah sahabat ke-11 yang masuk Islam. Dia berasal dari bani Makhzum. Rumah sahabat Arqam benar-benar mencatat banyak kejadian penting. 40 orang sahabat Nabi saw berbai’at Islam di rumahnya. Termasuk yang terakhir adalah sahabat Umar bin Khaththab r.hu. Dakwah secara sembunyi-sembunyi adalah di rumah sahabat Arqam. Rumah sahabat Arqam berada di Bukit Shafa.
                Sahabat Arqam wafat berbarengan dengan wafatnya sahabat Abu Bakar r.hu. Dalam usia 80 tahun.

Islamnya Sahabat Yang Ke 12, 13, 14
                Secara berurutan yakni sahabat: Usman bin Madz’um bin Habib bin Wahab. Berasal dari bani Jumah. Disertai dengan dua orang saudara lelakinya: Qudamah dan Abdullah. Dia orang Muhajirin pertama kali yang wafat di Madinah. Dua juga pernah mengikuti dua kali hijrah ke Habasyah. Yang sekembalinya langsung bergabung dengan laskar Badr.
                Dia juga orang Muhajirin pertama yang jenazahnya di kebumikan di Pemakaman Baqi’. Catatan penting. Pada masa jahiliah dia orang yang mengharamkan dirinya meneguk arak.

Islamnya Sahabat Ubaidah r.hu
Nama lengkapnya Ubaidah bin al-Harits bin al-Muthallib bin Abdi Manaf. Dia orang ke-15 yang masuk Islam. Usianya 10 tahun lebih tua dari Nabi saw.
Dia ikut hijrah ke Madinah bersama dua orang saudaranya, Thufail dan Hasan.

Islamnya Sahabat Sa’id bin Zaid r.hu
                Nama lengkapnya Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail. Berasal dari bani Adhiy bin Ka’ab. Ia putra paman sahabat Umar bin Khaththab r.hu. Sekaligus menjadi iparnya. Dikarenakan ia menikah dengan Fathimah binta al-Khaththab, saudara perempuan sahabat Umar.
                Wafat di Madinah pada masa Kekhalifahan Mu’awwiyah bin Abi Sofyan (51 hijriah). Dalam usia 70 tahun. Dia termasuk salah seorang dari 10 orang yang dijamin pasi masuk surga. Peristiwa yang dialami Sa’id menjadi sebab sahabat Umar masuk Islam.

Islamnya Sahabat Umair bin Abi waqqash r.hu
                Sahabat Umair adalah orang ke-17 yang masuk Islam. Saat itu usianya 16 tahun. Dia saudara lelaki sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash.
                Sebab, terlalu muda Nabi saw tidak mengijinkan bergabung dengan laskar Badr. Namun sahabat Umair yang tergolong remaja itu tidak diperkenan Nabi saw ikut ke medan Badr. Dia terus merengek kepada Nabi saw. Akhirnya diijinkan Nabi saw. Takdir menetapkan dirinya menjadi syahid Badr termuda.

Islamnya Sahabat Abdullah bin Mas’ud r.hu
                Masuk Islamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud bersamaan dengan sahabat Sa’id bin Zaid r.hu. Dia orang ke-18 yang masuk Islam. Tercatat dua kali peperangan yang pernah diikutinya. Yakni: Perang Badr dan Hudaibiyyah. Karena fisiknya yang sakit-sakitan. Tidak memungkinkan untuk selalu terut serta dalam setiap pertempuran.
                Wafat di Madinah dalam usia 60 tahun. Di makamkan di Pemakaman Baqi’.

Islamnya Sahabat Mas’ud bin al-Qariy r.hu
                Nama lengkapnya Mas’ud bin Rabi’ah bin Amr. Masuk Islam sebelum Nabi saw berdakwah di rumah sahabat Arqam r.hu. Terut serta dalam Perang Badar. Wafat pada tahun 30 hijriah.

Islamnya Sahabat Salith bin Amr r.hu
                Sahabat Salith adalah orang ke-20 yang masuk Islam. Dia termasuk dalam rombongan hijrah yang gelombang pertama. Pada tahun 6 hijriah pernah diutus Nabi saw. Untuk menemui dua orang penguasa Yamamah, agar mau memeluk Islam. Yakni: Haudzah bin Ali al-Hanafiy dan Tsimarnah bin Atsal al-Hanafiy.
                Wafat pada tahun ke-14 hijiriah.

Islamnya Sahabat Ayyasy r.hu
                Namanya Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Saudara seibu dengan Abu Jahal. Masuk Islam sebelum Nabi saw mulai berdakwah di rumah sahabat Arqam r.hu. Dia orang ke-21 yang memeluk Islam.
                Bergabung dalam rombongan hijrah ke Habasyah bersama istrinya, Asma binta Salamah. Lalu, ikut dalam rombongan hijrah ke Madinah. Dia wafat di Makkah.

Islamnya Sahabat Amir bin Rabi’ah r.hu
                Nama lengkapnya Amir bin Rabi’ah bin Anz bin Wa’il. Semua hijrah pernah diikutinya bersama istrinya. Pun pula dengan setiap peperangan selalu dia ikuti. Wafat pada tahun ke-33 hijriah.
                Tercatat dia orang ke-22 yang masuk Islam.

Islamnya Dua Saudara Jahsy r.huma
                Inilah dua orang sahabat nabi yang tercatat dalam urutan ke-23 dan ke-24 masuk Islam. Yakni: Abdullah bin Jahsy dan saudaranya Abu Ahmad bin Jahsy r.huma.
                Abdullah gugur sebagai syahid pada Perang Uhud. Semua hijrah pernah diikutinya.
                Takdir menetapkan. Saudaranya yang bernama Ubaidillah bin Jahsy ketika hijrah ke Habasyah murtad. Dia memeluk Nashrani. Hingga meninggal di Habasyah. Janda Ubaidillah yang bernama Habibah binta Abu Sufyan yang tetap muslimah dinikahi Nabi saw.

Islamnya Sahabat Ja’far bin Abi Thalib r.hu
                Nama panggilannya Abu Abdullah. Dia orang ke-25 yang masuk Islam. Dia salah seorang sahabat yang wajah dan perilakunya mirip Nabi saw. Usianya 10 tahun lebih tua adiknya, Ali bin Abi Thalib kw.
                Sekembalinya dari hijrah ke Habasyah. Khaibar jatuh. Dia gugur sebagai syahid di Perang Mu’tah.

Islamnya Sahabat Khalid bin Sa’id r.hu
                Nama lengkapnya Khalid bin Sa’id bin al-Ash bin Umayyah. Istrinya dari bani Khuza’ah. Turut serta hijrah saudaranya yang bernama Amr bin Sa’id bin al-Ash.
                Meski harus dihajar ayahnya. Khalid tetap memilih jalan Islam. Sebab, ia yakin dengan mimpinya. Bahwa, yang dapat menyelamatkan kehidupannya adalah Nabi saw. Demikian dia memahmi makna mimpinya.
                Setelah konsultasi dengan sahabat Abu Bakar r.hu. Dengan langkah mantap dia menemui Nabi saw. Kedatangannya disambut hangat oleh Nabi saw. Lalu, berbai’at Islam dengan Nabi saw.
*****

                Demikian perkembangan dakwah Islam pada awalnya. Yang terus diikuti dengan semakin banyaknya orang Makkah bergabung dalam dinul Islam. Memang masyarakat Quraisy membenci Islam sebab curiga lebih dahulu. Namun setelah mereka paham dinul Islam itu apa? Dan Muhammad itu siapa? Lalu, pokok-pokok ajaran Islam itu bagaimana? Setelah mereka memahaminya akhirnya mereka dengan suka rela bergabung dalam dinul Islam.
                Adalah tugas kita semua. Jangan menjadikan dinul Islam menjadi agama penuh tanda tanya. Buka seluas-luasnya. Jangan buat orang-orang dan masyarakat penuh curiga. Sebaliknya, tunjukkan bahwa bersama Islam kehidupan menjadi lebih ramah, sehat, sejahteran, dan bahagia [ ]

Stop Pengiriman TKW

Kebijakan pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) sungguh memalukan. Meski dengan pengiriman TKW negara meraup keuntungan 100 trilyun per tahun. Sungguh sudah saatnya diberhentikan kebijakan pengiriman TKW tersebut. Karena hal itu bertentangan dengan Pancasila sila ke-2, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Juga bertenangan dengan pasal 27 ayat ke-2, “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Dan, pasal 34 ayat ke-1&2, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (1). Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan (2).”
Fokus mengenai kebijakan pengiriman TKW sangat tidak manusiawi. Negara tidak menjadikan mereka sebagai warga negara. Mereka diperlakukan seperti budak. “Dijual” begitu saja oleh para cukong. Kemudian, dibawa ke negara-negara yang membutuhkan. Mereka para calon majikan dengan seenaknya sendiri “memesan” TKW tersebut dengan melakukan “transaksi” persis seperti yang terjadi di pasar budak yang pernah terjadi pada masa-masa awal kenabian Rasulullah saw.
Negara sama sekali tidak mengawal dan memberikan perlindungan hukum. Ingat, kebijakan TKW sudah ada sejak rezim Soeharto, ketika itu menteri tenaga kerjanya Soedomo. Jika dipandang perlu Pak Soesilo BY selaku presiden dan DPR sebagai wakil rakyat memanggil Soedomo untuk ditanyai, “Mengapa harus ada kebijakan TKW?”
Apa yang muncul dipikiran Pak Harto ketika menetapkan kebijakan TKW. Sedikit banyak Pak Domo pasti tahu, insya Allah.
Perhatian pemerintah terhadap TKW baru beberapa bulan saja karena ada tekanan dari masyarakat, lantaran terdapatnya kekuatan arus informasi. Namun berapa korban yang harus merasakan kepahitan dan bahkan penderitaan seumur hidup. Apa yang dilakukan negara? Padahal dengan sebutan yang manis mereka dikatakan sebagai “pahlawan devisa”. Apa dharma bhakti dari negara buat para “pahlawan devisa” tersebut. Padahal presiden dan anggota DPR tahu. Semua orang Indonesia tahu, bahwa menghormati pahlawan adalah salah satu tanda bangsa yang besar.
Banyak negara miskin di bawah Indonesia. Banyak negara lebih terbelakang ketimbang Indonesia. Banyak negara yang dasarnya tidak monotheisme. Tetapi negara-negara itu tidak sampai menjual warga negaranya ke negara asing.
Omong kosong jika negara tidak dapat menyetop pengiriman TKW ke luar negeri. Tidak menyelesaikan masalah sekalipun “dikawal” dengan segudang kebijakan. Saatnya negara berani memutuskan untuk hidup mandiri. Mengelola anugerah Tuhan YME bumi dan laut yang sangat kaya ini. Negara harus memberikan perhatian ekstra kepada sektor laut, pertanian, peternakan, dan perikanan. Utamanya sektor laut pemerintah belum berusaha sungguh-sungguh menggarapnya. Padahal di dalam laut sangat banyak cadangan devisa yang dapat dihasilkan.
Mengapa mereka kaum perempuan kelas bawah tergiur menjadi TKW. Mereka sangat instan. Ingin punya duwit gede. Mereka tidak salah. Otak mereka setiap hari disuguhi pemandangan di TV dan media masa yang lain, bahwa menjadi orang yang banyak duit itu enak. Sementara, mereka melihat sekitar komunitasnya tidak ada yang mau hidup susah, ke sawah misalnya, atau ke ladang misalnya. Maunya cepat dapat uang dan segera dapat menikmatinya.
Sisi lain pemerintah tidak mendukung sektor pertanian dan kelautan. Padahal wilayah terbesar negeri kita itu perairan laut, dan daratannya sebagian besar tanah pertanian. Di kedua wilayah ini tidak terjadi “perputaran uang”, maka logis jika warga masyarakat tidak lagi melirik kedua sektor tersebut sebagai mata pencaharian mereka. Mereka tidak salah kan. Yang salah tetap pemerintah. Dan, DPR lebih salah lagi sebagai wakil rakyat tidak pernah mengetahui problem: kesehatan, kesejahteraan, dan kebagiaan masyarakat yang diwakilinya.
Dari segi pandangan agama. Seorang perempuan dibiarkan keluar rumah untuk bekerja. Itu sudah salah. Mereka keluar tanpa mahrom. Mereka kerja tidak dengan suami. Akibatnya, problem penyakit tua umat manusia melingkupi kehidupan mereka. Suami yang ditinggal di rumah nyleweng. Mereka yang bekerja di tanah orang mengalami “perbudakan”.
Memang ada sepenggal kisah yang “manis” dari para TKW. Alfaqir sendiri sangat sering bareng dengan para TKW ketika pergi atau pulang ke Saudi. Atau, yang di Hongkong, Singapura, Malaysia, Korsel, Taiwan, dan Abu Dhabi.
Akan tetapi jika diprosentasi lebih banyak cerita yang tidak enak. Wong menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Negara sendiri saja banyak yang mengalami “tragedi” kemanusiaan, apalagi menjadi PRT di Negara lain yang adat dan Cara Berpikir nyata-nyata sangat berbeda.
Alfaqir tidak membandingkan dengan Negara-negara miskin, bahkan Negara-negara terbelakang yang tidak mengirimkan TKW ke luar negeri. Namun Presiden RI dan DPR RI dan segenap ulama harus malu, jika kaum perempuan bangsa Indonesia menjadi “budak” di Negara lain.
Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati, menghargai, dan menjaga aurat kaum perempuannya. [ ]

Wajak Suku Tertua di Dunia?

Fosil Homo Sapiens di temukan di Tulung Agung

Anda tahu Desa Wajak. Yang jaman dahulu dikenal dengan Suku Wajak? Wajak di era modern menjadi Wajak Kidul dan Wajak Lor. Wajak adalah ikut wilayah Campur Darat. Campur Darat adalah daerah yang ada di Tulungagung. Tulungagung nama sebuah kabupaten yang ada di Jawa Timur. Sekilas orang hanya mengenal Wajak. Wajak yang ada di Tulungagung titik. Tidak ada yang tahu, jika Wajak menyimpan banyak cerita, kisah, lagenda, dan sejarah peradaban umat manusia. Bahkan sangat terkait erat dengan awal penciptaan umat manusia, dan surga bumi (jannatul ardl).
Di antara yang sangat masyhur, yakni sekitar 500 ribu sampai dengan 1 juta tahun yang lalu. Pernah hidup manusia Wajak (Homo Wajakensis). Atau, yang dikenal dengan Homo Sapiens (Orang Cerdas). Prototipe manusia model baru. Yang memperbaharui manusia sebelumnya. Yakni, manusia yang berjalan bongkok (Homo Meghantropus Paleo Javanicus) dan manusia yang berjalan tegak (Homo Phitecantropus Erectus). Yang pertama diperkirakan hidup antara 1,5 juta sampai 2 juta tahun yang lalu di sekitar sangiran, Solo dan yang kedua hidup antara 1 juta sampai dengan 1,5 juta tahun yang lalu di seputar Trinil, Ngawi.
Alfaqir katakan Homo Sapiens sebagai model manusia baru. Karena memang memperbaharui keberadaan para homo yang tidak berakhlak lagi tidak bertatakrama. Seperti diketahui, Homo Megantropus dan Homo Pithecantropus, wataknya buruk. Suka berperang. Suka membunuh. Suka melakukan kekerasan. Suka mengikuti hawa nafsu. Mereka nyata-nyata manusia. Yang meminjam istilah para mufasir, menyebutnya sebagai banul jann. Bukan kera seperti yang dituduhkan Darwin kepada mereka. Hanya perilaku dan cara hidup mereka yang mirip dengan hewan. Karena mereka mengutamakan hawa nafsu ketimbang akal budinya. Kekacauan demi kekacauan terjadi di mana-mana. Kehidupan masyarakat menjadi serba menakutkan. Tidak ada ketenangan sama sekali.
Hingga akhirnya. Tuhan memanggil para malaikat. Yang tujuannya tidak lain, Tuhan memberitahukan kepada para malaikat, bahwa Tuhan hendak menciptakan manusia baru. Benar-benar baru. Yang kemudian, mengemban amanah menjadi khalifah Tuhan di muka bumi (Qs. [2]: 30). Meski malaikat “sedikit” bertanya, sekaligus memberikan pernyataan, bahwa di bumi sudah ada manusia (man) dengan sifat dan sikapnya yang buruk. Namun Tuhan memberikan jaminan, bahwa manusia khalifah yang hendak diciptakan ini, bakal mampu melakukan persemakmuran di muka bumi. Sebab, manusia khalifah selalu taat dan monoloyalitas dengan Tuhan. Dan, kelebihan manusia khalifah itu dikaruniai akal budi.
Jika data arkeologis menjawab dengan temuan fosil Homo Sapiens di Wajak. Maka, dapat menjadi wacana baru, bahwa Nabi Adam as hidup dan berkomunitas di Wajak. Adam secara personal yang berarti manusia tanah. Yang kejadiannya sangat revolusioner lagi spektakuler. Lalu, dengan Ibunda Hawa as melakukan tugas reproduksi melalui sperma bertemu ovum. Sehingga terbentuklah sebuah komunitas Adam. Yaitu, manusia yang diturunkan dari Bapak Adam dan Ibunda Hawa. Maka, terbentuklah masyarakat Suku Wajak.
Tidak salah. Jika Imam Ibnu Katsir r.hu berkomentar, bahwa Nabi Adam as turun di Hindia. Para sejarahwan dan para arkeolog yang murni ilmuwan. Seperti: Arysio Santos, Stephen Oppenheimer, dan Robert Dick-Read menyatakan dengan terang-terangan. Jika yang dimaksud Hindia adalah Indonesia.
Terbukti juga. Colombus dulu mencari Hindia. Lalu, kesasar sampai ke Karibia. Banyak data sejarah yang menunjukkan, jika sebenarnya yang hendak dituju Colombus adalah Indonesia. Dengan fokus incaran Pulau Maluku (Mollucca).
Tidak hanya itu. Kehebatan Suku Wajak yang lain. Hanya dengan bermodalkan parahu sampan, dan membawa bibit padi berbulu. Berani mengarungi samudera nan luas. Hingga hijrah ke Afrika dan daratan Eropa. Para ahli bahasa dan sastra juga mencatat, bahwa Suku Wajak juga hijrah ke Pulau Ainu dan Pulau Jumono yang berada di Jepang. Maka, tidak mengherankan jika struktur bahasa di kedua suku tersebut, menggunakan struktur dasar bahasa Sunda, Jawa, dan Papua Nugini. Hijrah Suku Wajak itu terjadi antara tahun 100 ribu-500 ribu tahun yang lalu.
Tidaklah mengherankan jika alfaqir mengatakan, bahwa Wajak adalah suku tertua di dunia. Hijrahnya orang-orang Wajak, utamanya didorong dengan terjadinya musibah letusan tiga gunung berapi: Gunung Toba, Gunung Dompo, dan Gunung Krakatau. Yang letusannya, hampir semuanya menciptakan gelombang tsunami yang sangat besar. Meski jarak letusan antara satu gunung yang satu dengan lainnya ratusan ribu tahun silam. Akan tetapi ternyata sangat mempengaruhi tata kehidupan manusia yang hidup di bumi. Bahkan, pengaruhnya tetap dapat kita rasakan hingga detik ini. Wa-llahu a'lam

Siapa Ibu RA.Kartini?



Bangsa ini ditakdirkan Allah ta’ala pernah memiliki pejuang perempuan dari kaum ibu. Namanya Kartini. Dia seorang mukminah-muslim yang hebat. Saat itu dia salah seorang yang sadar benar. Jika bangsanya tidak boleh kehilangan mental kebangsaan dan bangga sebagai orang Indonesia. Dengan gigih pula. Ibu Kartini meladeni sepak-terjang kaum misionaris dan zending di negerinya. Utamanya, setelah dia mendapatkan wangsit pada tanggal 17 Agustus 1902 dari surat al-baqarah ayat ke-257. Dengan getol. Setelah mendapat wangsit tersebut Ibu Kartini menyuarakan “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Minadl-dlulumāti ilan-nūr). Sehingga banyak kolega Ibu Kartini. Yang kebanyakan orang-orang Belanda. Merasa gusar dengan perubahan (konversi) Ibu Kartini terhadap Islam. Mereka khawatir jika Kartini menjadi seorang islamis. Yang tidak dapat lagi mereka “mainkan”, atau dinina-bobokkan.
Ibu Kartini yang dilahirkan tanggal 21 April 1879. Memiliki jiwa kritis sejak kecil. Dia cerdas. Bahkan jenius. Sehingga fenomena sosial yang tidak cocok dengan al-qur`an yang dipelajari selalu dipertanyakan pada awalnya kepada guru ngajinya. Lalu, jika sudah mantap dengan dalilnya. Dia menentangnya. Contoh, kebijakan Amangkurat I. Yang menurut Ibu Kartini berlaku keluar dari Islam. Yakni, membolehkan seorang pria beristri sesuka hatinya. Sehingga pada waktu itu banyak dijumpai satu laki-laki dengan puluhan perempuan. Utamanya, keluarga Keraton Surakarta.
Menurut Kartini. Apa yang dilakukan Amangkurat I. Lebih karena dia berkiblat pada Cara Berpikir Belanda. Penjajah. Feodalisme. Sehingga harus mengorbankan kaum perempuan. Itu pula yang menjadi sebab, mengapa Amangkurat I melepaskan gelar sultannya. Dia tidak mau bergelar sulthan. Namun dia buat gelar sendiri “susuhunan”. Dengan double “su”. Dia hendak menunjukkan bahwa kedudukannya lebih tinggi dari para ulama. Sehingga tidak mengherankan pula di jamannya telah terjadi pembantaian 6000 ulama.
Bagi Ibu Kartini. Adat yang menyelisihi al-qur`an harus ditentang. Termasuk keberadaan penjajah harus dia tentang. Sebab, tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dikampanyekan al-qur`an. Memang cucu KH.Mudirono dan murid KH.Shaleh Darat, Mranggen, Demak, Jateng ini. Luar biasa cepatnya menangkap pelajaran al-qur`an yang diterangkan gurunya.
Maka, para koleganya yang sebagian besar orang Belanda. Terkagum-kagum dengan kecerdasan Kartini. Sekaligus mereka khawatir dengan keberadaannya. Sehingga banyak cara dan jalan guna “menyingkirkan” Kartini dengan sangat halus dan pelan-pelan dari ranah perjuangannya.
Dalam berjuang Kartini sendirian. Tidak menggunakan yayasan, atau lembaga-lembaga yang lain. Secara emosional. Ibu Kartini banyak dimotivasi oleh kakak lelakinya. Yang bernama Sosrokartono. Yang bergelar Raden Mas Panji (RMP). Sosrokartono adalah putra bangsa Indonesia yang menguasai 26 bahasa dunia secara aktif. Wartawan perang Eropa. Dan, menguasai seni pengobatan Timur dan Eropa, juga pengobatan herbal.
Sebagai adik Sosrokartono pula yang menjadikan Belanda ketakutan. Sehingga pernah ditawari untuk  melanjutkan studi ke Belanda. Namun Ibu Kartini memberikan kursi tugas belajar ke Belanda tersebut kepada koleganya di dalam negeri. Yakni, KH.Agus Salim.
Memang ayahanda Kartini, Bupati Jepara asli Madura, jadi Kartini itu jawamud anak keturunan Jawa-Madura, pernah mengingatkan Kartini. Bahwa, hanya sedikit dari teman Belandanya yang benar-benar tulus ikhlas dalam menyayangi Kartini. Lalu, dipesankan kepada Kartini, supaya selalu hati-hati dan waspada.
Apabila negara ini mau adil dengan sejarah bangsanya. Sebenarnya pelopor pembaharuan pendidikan dan pembelajaran negeri ini adalah Ibu Kartini. Pelopor pergerakan dan pemberdayaan kaum tertindas adalah Kartini. Dan, daiah muslimah pertama yang menggunakan media baca-tulis adalah Ibu Kartini. Memang ada Cut Mutiah, Cut Nyak Dien, dan Dewi Kartika. Namun ketiganya tidak membangun visioner ke depan mengenai pendidikan, perjuangan, dan pemberdayaan. Sedangkan Kartini menunjukkan mengenai hal itu. Namun demikian ketiga beliau para ibunda negeri tersebut tetap merupakan pahlawan-pahlawan yang hebat bagi kita semua dan bangsa Indonesia. Seperti halnya RA. Kartini.
Maka, bangsa ini harus malu apabila tidak memiliki visi yang jelas dalam mencintai Indonesia. Kartini belum haji. Nyantrinya singkat. Tidak punya gelar sarjana. Tetapi beliau mampu membawa bangsanya keluar dari dhulumat kepada nur. Dari kegelapan penjajahan kepada cahaya kemerdekaan. Dari petangnya kekafiran menuju kepada cahaya keimanan.
Karenanya, siapa pun harus malu jika sebagai orang Indonesia yang masih suka: ngentit, mark up dana proyek, korupsi, dan tidak menyintai Indonesia. Harus malu pada diri sendiri. Bagaimana tidak malu? Seabrek fasilitas ternyata hanya digunakan untuk merugikan orang lain. Merugikan bangsa dan agamanya. Sementara, Ibu Kartini miskin fasilitas dapat membawa bangsa berubah menjadi seperti sekarang ini. Tunjukkan pengabdian kalian sebagai anak negeri. Segera [ ]